Home » , , , , » Aku, Kau dan (Kenangan) Kita

Aku, Kau dan (Kenangan) Kita

Sumber Gambar

Oleh: Galih Rio Pratama

Jangan tanya kenapa aku begitu rapuh, tanyakanlah hatimu yang semudah itu membuatku jatuh lalu pergi dengan sangat jauh.
Jangan tanya kenapa begitu seringnya aku memperhatikanmu,
tanyakan saja perasaanmu yang tak pernah sadar dengan semua perhatianku yang begitu besar.

Jangan tanya sedalam apalagi kepercayaan yang ku punya,
tanyakan saja pada isi kepalamu yang selalu menerka-nerka dengan semua alasanmu seakan aku lah yang salah.
Jangan tanya juga tentang mengapa aku bertahan,
Jika aku masih terus peduli denganmu, maka seharusnya kamu paham siapa seseorang yang kupilih.

Kalau dirimu saja enggan untuk melihat bagaimana aku bisa bertanya perihal rasa—teruntuk hatimu sendiri yang tak kamu pedulikan.
Kamu sadar kehadiranku untuk apa, namun kamu tak pernah sedikitpun mengerti saat aku membutuhkanmu nyatanya kamu tak pernah ada.


Haruskah kita tetap seperti ini?
Atau malah kamu menginginkan setiap kepergianmu adalah hal yang biasa?
Sebab saat ini aku selalu saja dihadapkan pada pilihan yang sulit.
Entah meninggalkanmu aku akan bahagia atau mungkin kamu lah yang akan lebih dulu bahagia.

Saat tak adalagi apapun tentangmu, kemudian luka menyebar, lalu menyadarkan sesuatu yang baru saja hilang.
Aku hanya tak ingin terlalu sering mengusir rindu yang terlanjur datang.
Ketika yang menghangatkan perasaan ini sudah berlalu, ada hal-hal terus memacuku untuk mengingatmu.
Mengertilah, setidaknya agar harapanku selalu membaik, agar tangisku berkurang karena sikapmu.

Sekali lagi,
Haruskah kita tetap seperti ini?
atau mungkin kita hanyalah kisah
yang memilih berpisah,
dari segala hal yang pernah singgah.
Meski akhirnya satu diantara kita menghentikan langkah,
untuk tak lagi bersama dalam satu arah.

Semoga sadarmu tak membutuhkan waktu yang lama. Percayalah, bertahan paling sulit adalah ketika kita selalu memaklumi kesalahan yang sama dari orang yang sama.
Aku disini untuk menyatukan kamu menjadi kita, tanpa adalagi luka juga airmata.

Terkadang, mencintaimu membuatku tahu.
Bahwa hati bisa patah sampai seribu keping lalu kembali bersatu untuk sekadar patah lagi.

Kau pernah datang membawa suka cita yang kemudian kau remuk-redamkan seenaknya saja.
Tapi tak apa, terluka satu kali aku masih baik-baik saja.
Asal jangan kehilanganmu. Itu saja.

Pernah hati ini berkata cinta, yang kemudian kau jawab dengan duka bahwa kau tak bisa.
Aku tersenyum kala kau mengatakannya.
Seharusnya aku tahu, bahwa sejak awal kau kepadaku hanya pura-pura saja.

Sayang sekali, aku terlalu asyik bermain dengan duga.
Imajiku terlalu liar sempurna, membayangkan kau dan aku bisa bersama.
Padahal aku hanya bercinta  dengan harapan-harapan kosong belaka.

Aku ingin pergi. Namun tak bisa tinggalkanmu sendiri.

Tapi tunggu! Ah, maaf aku lupa.
Hatimu kini sudah ada yang punya.
Nafasmu kini sudah untuk dirinya.
Tubuhmu kini sudah erat memeluknya.
Aku pergi saja, ya?
Tenang, aku baik-baik saja. Hatiku hanya terlalu patah. Rinduku hanya terlalu parah . Tangisku hanya terlalu basah.
Itu saja.

-Yogyakarta, 2/2/2017

Mybllshtprspctv®

1 komentar: