Home » , , , , » Apa yang Salah, Montella?

Apa yang Salah, Montella?



Desember tahun lalu mungkin menjadi salah satu bulan terbaik untuk penggemar Milan di seluruh jagat raya, tidak terkecuali sang arsitek Vicenzo Montella. Milan berhasil mengunci gelar Super Coppa Italia setelah berhasil menakluklan Si Nyonya Tua Juventus lewat drama adu penalti.

Gelar yang mengantarkan Milan mengoleksi total 7 trophy Super Coppa hingga menyandingkan Milan bersama Juventus yang sama-sama mengoleksi 7 gelar. Raihan yang mengantarkan Montella meraih gelar pertamanya dalam karir kepelatihan profesional. Sekaligus mengakhiri puasa gelar Milan setelah terakhir kali di dapat 2011 silam.

Sebuah pencapaian yang menjadikan Montella begitu di puja kala itu karena dengan keterbatasan pemain, Montella berhasil meracik tim ini begitu solid di belakang dan kuat di depan dengan berbagai variasi yang Milan tampilkan selama musim ini. Variasi yang menjadikan Milan lebih ‘enak’ di tonton daripada Milan era sebelumnya dalam periode 4 musim ke belakang.

Namun laksana sebuah kehidupan, roda memang selalu berputar, begitu pula pencapaian Milan bersama Montella yang harus tercoreng setelah jeda Natal. Pergantian tahun seperti pergantian peruntungan untuk Milan. Milan yang selalu tampil apik, perlahan mengalami penurunan di berbagai aspek. Salah satunya adalah konsistensi bermain.

Januari menjadi bulan yang tidak bersahabat bagi Milan. Selepas jeda Natal, rentetan hasil buruk diraih selama bulan ini. Catatan 3 kali kekalahan beruntun, 1 hasil imbang serta hanya mencatat 2 kemenangan di semua kompetisi adalah hasil yang Milan raih dalam medio Januari.

Bahkan dalam 4 pertandingan terakhir tercatat Milan selalu kebobolan dibawah menit 30. Bukti bahwa tingkat konsentrasi bermain di awal pertandingan menjadi masalah selepas jeda Natal. Permasalahan yang belum juga dapat Montella selesaikan hingga laga terakhir melawan Udinese yang berujung dengan kekalahan.

Dengan berbagai hasil negatif selama periode Januari mengharuskan Milan turun ke posisi 7 klasemen sementara, tertinggal 8 poin dari Napoli di pos ketiga yang merupakan batas play-off Liga Champions zona Italia. Milan juga harus rela melepas mimpi untuk back to back gelar setelah takluk oleh Juventus di babak 8 besar Coppa Italia di Juventus Stadium dengan skor akhir 2-1. Tentu bukan barang baik bagi Montella maupun Milan yang mentargetkan lolos kompetisi Eropa musim depan.

Lantas, “Apa Yang Salah, Montella?”

Selepas pergantian tahun Milan selalu telat panas dalam beberapa pertandingan terakhir. Terbukti dengan gelontoran 7 gol lawan yang bersarang ke gawang Gigio Donarumma adalah bukti tingkat konsentrasi pemain Milan di awal laga sangat kritis. Bahkan saat menghadapi Napoli dalam tempo kurang dari 9 menit, Gigio sudah harus memungut bola 2 kali dari gawangnya. Hal yang tentu sangat berbahaya untuk posisi Milan yang mentargetkan kompetisi Eropa musim depan.


Tidak adanya alternatif lain setelah magic Suso sudah bisa di tebak oleh lawan juga masalah lain yang harus di hadapi. Entah apa yang di pikirkan Montella tetap memaksakan Suso bermain walau hasilnya nyata tidak maksimal. Tetapi tidak adanya opsi lain di bench, selain nama Keisuke Honda, yang sejatinya bukanlah seorang winger adalah problema lain yang tentu sangat mengganggu Montella untuk mendapatkan solusi.

Ketergantungan yang juga begitu kentara kepada peran Bonaventura juga sangatlah terasa. Gol krusialnya terkadang selalu menyelamatlan Milan dari hasil buruk. Namun dengan masuknya Bonaventura ke meja perawatan yang mengharuskan sang pemain absen hingga akhir musim tentu sangat membuat Montella harus memutar otak karena tanpa Bonaventura, Milan selalu kesulitan dalam urusan mencetak gol.

Montella juga seharusnya mulai berfikir mengubah formasi pakem yang selalu menggunakan pola dasar 4-3-3 yang sudah 3 kali kalah beruntun, untuk menciptakan perbedaan dalam skema Milan selama bermain. Walau dalam prakteknya di lapangan formasi ini selalu berubah dalam setiap momen, tetapi merubah formasi adalah hal yang mungkin memanglah Milan butuhkan saat ini. Karena dengan begitu alur serangan Milan akan lebih bervariasi.

Harus menepinya pemain belakang seperti De Sciglio, Luca Antonelli hingga Davide Calabria ke meja perawatan, serta tinggal menyisakan nama Leonel Vangioni juga problema yang harus Montella hadapi. Ditambah Milan justru melepas Rodrigo Ely untuk di pinjamkan ke tanah matador adalah masalah dalam lini pertahan Milan. Berkurangnya stok pemain dalam pos ini tentunya sangatlah membuat Montella pusing bukan main. Stok pemain menipis dan kualitas perbedaan permainan sangat kentara adalah masalah lini pertahanan Milan.

***

Saya akan mengakhiri tulisan ini dengan mengutip salah satu serial pahlawan terkenal di era 90an, Kamen Rider.

“Jika aku tidak berubah, maka aku akan kalah”.

Well, walaupun masalah Milan sangatlah kompleks tetapi semoga Januari kelam ini segera berakhir. Solusi demi solusi akan segera datang, Milan kembali ke jalur kemenangan dan menemukan bentuk permainan terbaiknya. Adanya perubahan signifikan baik dalam moral maupun skema di lapangan jika Milan tidak ingin larut dengan hasil ini.

Bangkitkan Milan, coach.
Dengan skema dan upgrade kualitas pemain walau ditengah keterbatasan.
Kami mempercayakan Milan padamu, coach!
Forza Milan. Forza Montella!

___________________________________

Referensi:

Skysports, Serie A TIM.

Mybllshtprspctv®

0 komentar:

Post a Comment

close
Banner iklan disini