Home » , , , , » Bengawan Solo dan Lagu Gesang yang Sudah Usang

Bengawan Solo dan Lagu Gesang yang Sudah Usang

Sumber Gambar
Musim kemarau
Tak seberapa airmu
Dimusim hujan
Air meluap sampai jauh
Manusia begitu bergantung kepada alam, namun pada saat yang bersamaan, mereka malah merusaknya. Manusia begitu membutuhkan air untuk sumber kehidupannya, namun mereka tak mengerti bahwasannya apa yang sedang mereka perbuat malah mempercepat kematian mereka.

Jika serakah memaknai alam, terutama air dalam konteks di sini, secara tidak baik, maka keseimbangan jagat raya akan goyang. Tercermin pula bahwa manusia yang semena-mena memperlakukan air, barangkali karena dia memiliki money power sehingga bisa sepuasnya mengkonsumsi air, sesungguhnya itu adalah sikap anti-sosial yang tak menghargai makro kosmos.

Sosial, Budaya dan Politik dari Sebuah Sungai

Barangkali ironi tersebut juga terjadi kepada sungai terpanjang di Pulau Jawa, Sungai Bengawan Solo. Bagaimana sebuah lagu ciptaan Gesang yang menjadi pembuka, menunjukan bahwa betapa dipujanya sungai yang berhulu di Desa Jeblongan, Kecamatan Karangtengah, Kabupaten Wonogiri ini.

Sungai Bengawan Solo adalah pusat peradaban Pulau Jawa. Sebenarnya terdapat beberapa tulisaan yang menelaah tentang peran Bengawan Solo. Sebut saja Stamford Raffles dengan karyanya yang berjudul The History of Java dan ada Naar Oorspronkelijke Stukken karya P.H. van der Kemp. Namun semua hanya berbentuk narasi singkat saja.

Sumber Gambar
Bengawan Solo pun banyak dijadikan situs untuk memperoleh data otentik mengenai fosil maupun artefak masa neolitik. Di bantaran sungai dan daerah sudetan, banyak ditemukan fosil berupa tulang binatang laut, binatang darat purba, tengkorak manusia homo soloensis, hingga peralatan untuk bertahan hidup manusia purba seperti beliung persegi (Kompas, 2009: 51).

Dinamika budaya Bengawan Solo juga dapat dikatakan kaya-raya. Kehidupan budaya di tepian sungai terekam dalam sumber data tekstual pertama yang memberitakan aktivitas manusia adalah Prasasti Telang, dikeluarkan Rakai Watukura Balitung dari Mataram. Pokok isinya mengenai penetapan Desa Talang, Mahe dan Paparahuan berkaitan dengan pembuatan jembatan.

Dalam panggung sejarah Jawa, Bengawan Solo memainkan peran yang penting. Mulai dari sektor ekonomi, politik, religi, kesenian, budaya hingga transportasi pernah melintas di sungai yang mengkoyak Jawa bagian Utara hingga Selatan ini. Karena banyaknya aspek itulah yang membuat suatu ikatan daerah-daerah yang dilewatinya.

Demikian pula, jika ditelusuri dan dihubung-hubungkan, proses budaya yang berlangsung di daerah aliran Bengawan Solo sejak jaman prasejarah, masa Hindu-Buddha, masa perkembangan Islam, masa kolonialisme hingga kemerdekaan, akan menunjukan suatu keterkaitan berupa benang merah yang merajut dinamika ragam kehidupan manusia Jawa lintas jaman.

Itu perahu riwayatmu dulu
Kaum pedagang slalu naik itu perahu

Belum lagi urgensi Bengawan Solo bagi masyarakat yang dilewatinya. Dalam catatan Raffles, atas perintah Susuhanan tiap tahunnya pada musim penghujan mengirimkan sekitar sepuluh perahu menuju Gresik. Memang, Bengawan Solo dengan perahu-perahunya memberi akses bagi daerah-daerah pedalaman di Jawa Tengah dan Jawa Timur menuju laut. Aneka hasil bumi dari daerah pertanian yang subur diakses langsung menuju laut.

Sumber Gambar
....Sedari dulu jadi perhatian insani

Bengawan Solo memang selalu menjadi perhatian, dari masa ke masa selalu menjadi sebuah daya tarik mulai dari peneliti, ilmuan, dan lainnya. Bukan hanya dari kaum cerdas pandai saja, Bengawan Solo pun juga menjadi perhatian makhluk hidup lainnya.

Contoh saja lembah sungai ini menjadi tempat yang subur bagi tumbuhnya tanaman tropis. Kandungan unsur asam dalam lembah sungai yang bersenyawa dengan basa dari gunung-gunung berapi yang dilintasi Bengawan Solo beserta anak-anak sungainya menghasilkan garam-garam tanaman yang amat dibutuhkan oleh tanaman.

Temuan lumpang dan lesung di daerah bantaran Bengawan Solo, tepatnya di daerah Ngulang menjadi bukti bahwa basis perekonomian sedari dulu adalah pertanian. Budi daya padi-padian di tempat itu juga didukung oleh topografi yang relatif datar, banyak mata air yang dialiri Bengawan Solo.

Kini Tak Seindah Lagu Ciptaan Gesang

Musim kemarau
Tak seberapa airmu
Dimusim hujan air..
Meluap sampai jauh
Mata airmu dari Solo
Terkurung gunung seribu
Air meluap sampai jauh
Dan akhirnya ke laut

Bengawan Solo adalah sebuah kehidupan.  Bagaimana Almarhum Gesang menggambarkan dengan begitu indah dan begitu sempurna. Apakah salah? Nampaknya tidak. Karena pada jamannya Gesang menciptakan lagu ini, Bengawan Solo memang begitu indah dan selalu membuat jatuh cinta setiap orang yang memandang.

Sungai yang menghubungkan dua provinsi,  Jawa Timur dan Jawa Tengah,  nampaknya sekarang sedang mengalami persoalan yang serius. Bukan hanya aspek alam dan vegetasi saja, lebih dari itu terancamnya bidang sosial dan budaya patut diberi sirine merah tanda bahaya.

Sumber Gambar
Sedimentasi di bagian hulu disebabkan tanah tak tertahan lagi oleh tumbuhan berakar kuat. Sebaliknya, di bagian tepi mudah tererosi karena telah berubah menjadi ladang jagung dan ketela. Lebih ke hilir, masalah kian kompleks, masalah limbah pabrik menurunkan kualitas air Bengawan Solo.

Di kawasan hulu tersebut justru didominasi tanaman semusim, seperti kacang tanah,  ketela rambat, atau jagung. Sistem terasering yang salah juga menyumbangkan permasalahan serupa. Erosi di kawasan hulu akhirnya berdampak pada masalah kedua,  yakni sedimentasi yang terjadi di Waduk Gajah Mungkur dan Bendungan Colo.

Erosi lalu muncul lah masalah ketiga, yakni maraknya penambang pasir,  terutama yang dilakukan secara masif dengan mesin-mesin berat. Lubang-lubang besar di dalam sungai dapat menyebabkan ketidak stabilan tebing dan dapat menyebabkan longsor.

Pendangkalan sungai, waduk mau pun bendungan, dapat memunculkan masalah keempat, yaitu banjir di lembah Bengawan Solo. Yang terbaru, terhitung Desember 2017, adalah banjir di daerah Lamongan dan Bojonegoro. Namun beberapa daerah berpengaruh seperti Ngawi dan Wonogiri juga mengalami hal yang sama.

Masalah kelima adalah pencemaran. Dahulu, sungai menjadi halaman depan suatu pekarangan, kontemporer ini malah menjadi halaman belakang. Bengawan Solo menjadi kolam tempat sampah raksasa bagi masyarakat di sekitarnya. Berbagai jenis limbah, seperti limbah rumah tangga, limbah pabrik tekstil, pabrik kimia dan limbah lainnya.

Limbah organik masuk sungai ini.  Sebut saja kotoran babi, kotoran hewan ternak lainnya hingga bangkai-bangkai hewan juga tercebur di sungai ini. Limbah plastik juga memiliki peran yang banyak dalam menyebabkan banjir. Sampah-sampah plastik yang menempel di pohon-pohon Bengawan Solo menandakan tanda tanya besar di benak kita.

Banyaknya limbah menimbulkan permasalahan keenam, yaitu menyangkut bahan baku untuk sejumlah instalasi pengolahan air minum yang tak memenuhi syarat. Dampak dari buruknya kualitas air minum adalah kesehatan manusia.

Ketujuh adalah hilangnya kearifan lokal di sekitar Bengawan Solo. Contoh saja Kedung Bacin yang menyimpan suatu tradisi menangkap ikan yang dihadiri oleh Bangsawan Nagari Surakarta Hadiningrat (Kasunanan). Namun kini hanyalah kenangan menengok Kedung ini,  kini hanyalah genangan air yang berwarna coklat keruh.

Ketujuh masalah ini, jika ditengok, semua berasal dari dari ulah manusia. Solusi yang penulis sarankan hanyalah satu, harus muncul suatu kesadaran dari semua lapisan masyarakat yang dilewati sungai yang dahulunya cantik ini. Pelibatan masyarakat secara menyeluruh juga berguna sebagai media penyadaran akan pentingnya sebuah air.

Maafkan kami, Bapak Gesang, sungai yang dahulu anda gambarkan begitu indah, kini hanya menjadi lautan sampah yang mengalir dari hulu menuju hilir.  Lebih kompleks lagi, bukan hanya permasalahan limbah, kemanusiaan dan budaya pun kini mulai tergerus dengan begitu cepatnya.

Air mataku dari Solo
Bercampur sampah seribu
Limbah menggenang sampai jauh
Akhirnya ke maut
Sungaimu masih meluap, wahai legenda

_________________________________

Referensi:

Laporan Jurnalistik Kompas. 2007. Ekspedisi Bengawan Solo. Jakarta: Kompas.

Mybllshtprspctv®

0 komentar:

Post a Comment