Home » , , » Bersetubuh dengan Tuhan

Bersetubuh dengan Tuhan



Malam ini badanku gerah. Sungguh tak mengerti mengapa bisa gerah padahal di luar hujan dan badai menerjang begitu gila. Genting-genting rumahku beterbangan hingga terlihat langit yang nampak gelap. Tiupan angin membuat sang pohon bersembah ke tanah yang mulai dipenuhi oleh genangan air mani hasil persetubuhan langit dengan badai.

Tubuhku masih saja panas. Padahal sudah aku ceburkan ke dalam air hujan. Kemudian aku keringkan tubuhku dan aku teringat gadis itu yang tanpa busana di hadapanku. Aku rindu saat itu dikala badai datang. Menggelikan.

Bagaimana aku melampiaskan semua kala dia tak ada? Semua bermuara bagai gejolak yang tiada henti mengiris libido yang sedang tinggi ini. Ayolah berpikir.....Tuhan! Ya, benar, aku lampiaskan kegelisahanku akan badai dan libido ini kepada Tuhan saja. Tuhan, tubuhku panas dan lemas, jadi Tuhan pasrah saja, ya.

Aku mulai merayuNya dengan dzikir namaNya yang asmaul husna, sedemikian banyaknya. Kusebut perlahan-lahan namaNya yang besar dan namaNya yang maha estetika nan begitu seksi untuk sekedar diucap. Kubisikkan sifatNya lewat tarian jari-jari tasbihku dalam hembusan angin yang kian memporak-porandakan. Mulutku komat-kamit ingin segera saja aku mencium diriNya.

Tuhan, aku merangsangMu di sepertiga malam yang begitu gerah namun hujan deras bergentayangan di luar sana. Lalu aku yang membuka pakaianNya dalam kesenyapan. MerangsangNya dengan gerakan takbirku. Membuatku mendesah dengan desahan Al-Fatihah yang menusuk langit gelap. Aku lalu hampir orgasme saat aku rukuk di hadapanNya. Dan benar-benar aku mencapai klimaks ketika aku sujud dibawah harum sukma kebesaranNya.

Hujan semakin deras, badai semakin menggila dan tubuhku malah kian panas. Aku tak henti-hentinya mencumbu Dia dengan bisikan-bisikan ayat. Sampai aku tajalli hingga mahabbah ku membawaku pada hulul. Aku nikmati setiap penggal tubuhMu dengan doa-doa yang selalu aku peruntukan kepadaMu. Aku tersadar bahwa eksistensi di dunia ini adalah berkat kehebatan rahimMu.

Oh, Tuhan. Mengapa aku seperti ini di kala badai menghimpit ketenangan? Mengapa aku bertungkus lumus tatkala aku membutuhkanMu? Bisakah aku mengingatmu kala aku dalam kondisi bahagia? Kala senyum lepas tanpa ada bisikan duka?

Air mani ini menetes untukMu, Tuhan. Air mani berupa butiran air yang terakumulasi sedari pelupuk mataku yang menetes hingga pipi.


Mybllshtprspctv®

0 komentar:

Post a Comment