Home » , , » [Buku] Resensi Novel Weeping: Under This Same Moon

[Buku] Resensi Novel Weeping: Under This Same Moon


Ditinggal ke Vietnam oleh dia selama satu bulan tidak lah mudah. Menengok berbagai latar belakang negaranya, semakin membuat hati ini tidak tenang. Belum lagi, setelah membaca buku ini, perasaan was-was kian tak terkendali. Buku yang aku maksud adalah Weeping: Under This Same Moon karya novelis besar, Jana Laiz.

Buku ini saya dapatkan tatkala kami mengisi hari-hari sebelum ia berangkat ke Vietnam. Buku ini terdelip dalam rimba bazar buku tahunan di sebuah toko buku besar di kotaku. Harganya pun hanya Rp. 5000,00,- saja. Buku ini seakan menjadi permata di tengah batu bara, walau menurut dia, buku ini biasa saja.


Novel ini mendapat banyak sekali penghargaan. Salah satunya mendapat gold medal dalam penghargaan Book of the Year 2008 dari majalah Fore Word. Lalu Notable Book 2009 dari International Reading Association dan Six-City Valley Read Section 2010 dari Arts Reach Alliance.


Judul                        : Weeping: Under This Same Moon
Penulis                     : Jana Laiz
Penerjemah              : Utti Setiawati
Penerbit                   : PT Gramedia
Genre                       : True Story
Tahun terbit             : 2008
Jumlah halaman      : 331 halaman
ISBN                        : 978-979-27-9353-6
Harga                       : Rp. 5.000,-

Sinopsis Singkat

Ditulis berdasarkan kisah nyata dua gadis remaja dari kebudayaan berbeda yang bertemu sehingga mengubah arah hidup mereka secara dramatis.

Gadis pertama ialah Mei. Gadis ini adalah seorang seniman yang kehidupannya dikacaukan oleh Perang Vietnam. Orangtuanya yang tertekan mengirimnya pergi untuk melarikan diri dengan cara membahayakan dalam eksodus ribuan pengungsi Vietnam yang dikenal dengan sebutan "Manusia Perahu". Dalam kata-kata Mei, kita mengetahui bahaya yang dia hadapi saat menjaga dua adik kandungnya dalam perjalanan laut yang penuh rasa lapar, dahaga dan perampasan, meninggalkan semua yang dia cintai, mencari tempat aman bagi keluarganya.


Kedua ialah Hannah. Gadis ini adalah siswa SMA berusia 17 tahun yang pemarah dan berkebangsaan Amerika. Tidak punya teman, menderita gangguang emosi, canggung dalam kehidupan sosial-kecintaannya menulis dan kondisi lingkungan hanya membuat Hannah semakin tersisih. Lewat suaranya, kita seolah masuk ke kepalanya, untuk menemukan jiwa lembut dibalik semua kemarahan dan kekacauan. Saat tahu tentang kondisi buruk "Manusia Perahu", Hannah tergerak untuk bertindak.

Takdir mempertemukan Mei dan Hannah dalam selebrasi kebudayaan dan bahasa, makanan dan persahabatan, dan yang terutama penyelamatan kedua gadis muda ini dari keputusasaan mereka sendiri.

Novel ini terdiri dari 58 Bab yang setiap babnya memiliki sudut pandang dan setting penulisan yang berbeda antara pihak Mei dan pihak Hannah dengan waktu yang sama ketika berlangsungnya perang Vietnam (kurang lebih sekitar tahun 1969).

Bab 1-21 menceritakan tokoh bernama Mei, dia anak pertama di keluarganya yang bernama phoung dan memiliki adik (saya sendiri tidak dapat memastikan berapa) yang jelas ada enam, dua adik ikut bersama Mei dalam pelariannya dan tiga adik lainnya menyusul kemudian. Sampai Bab 21 ini terdiri dari 4 setting cerita, yang pertama kediamannya di Vietnam, situasi yang mencekam menunggu kehadiran pria misterius yang akan membawa Mei dan 2 adiknya dalam pelarian pertamanya.

Bagian 1 dalam novel ini

Pada mulanya keluarga phoung merupakan keluarga yang bahagia dengan kondisi yang saya bilang cukup mapan, akan tetapi hal itu berubah ketika terjadi perang, selama beberapa minggu Mei dan keluarganya terus diselimuti rasa ketakutan sebelum pria misterius itu datang, orang tua Mei takut, kalau pelarian anaknya dapat berujung kematian, sedangkan Mei dan adik-adiknyapun takut, menghadapi dunia luar jauh dari orang tua dan kampung halamannya.

Pada akhirnyapun pria misterius itu datang menjemput Mei dan dua adiknya yang bernama Tuan dan Linh, perpisahan yang menyedihkan tergambar pada saat itu sampai pada akhirnya, Mei dan dua adiknya berada di atas kapal yang kecil untuk menampung banyak orang untuk melakukan ekspedisi ke kamp pertama yang mereka tidak ketahui dimana adanya sebelum mereka dibawa ketempat pengungsiannya.

Setting yang kedua berada di atas kapal dalam perjalanannya ke kamp, tidak jelas berapa lama waktunya akan tetapi saya bisa menyebutnya mungkin berminggu-minggu. Peristiwa yang tidak mengenakkan tergambarkan jelas disini, ketidakpercayaan antar penumpang, kondisi kapal yang kotor dan bau karena banyaknya lendir dari muntahan-muntahan penumpang, badai dan terpaan air laut ke dalam kapal, sampai nasi belatung yang terpaksa mereka makan. Setting yang ketiga ada di kamp tepatnya di Malaysia, situasinya tidak terlalu baik, akan tetapi lebih baik daripada di atas kapal.

Di Kamp, kondisi Mei dan dua adiknya sangat berbeda, mereka terlihat kurus dan pipi yang tirus dengan pakaian yang compang-camping, ada peristiwa yang mengenakkan disini dan ada juga yang tidak mengenakkan, contoh yang tidak mengenakkan ketika Mei dan kedua adiknya terserang penyakit dan yang mengenakkan ketika mereka mendapat kabar bahwa mereka akan sesegera mungkin ke tempat tujuannya yaitu Amerika.

Di kamp tidak ada kegiatan khusus menarik yang dilakukan oleh mereka hanya seperti kegiatan pengungsi-pengungsi yang biasa. Setting yang terakhir adalah perjalanan Mei dan kedua adiknya ke Amerika, dari mulai suka duka mereka di atas kapal, ketika transit terlebih dahulu di Hong Kong, sampai akhirnya mereka tiba di Amerika dan disambut oleh seseorang yang bertanggung jawab atas pengungsian mereka.

Pada Bab selanjutnya yakni Bab 22 -35 menceritakan tokoh utama lainnya pada novel ini yaitu seorang gadis remaja berusia 17 tahun bernama Hannah, setting yang ada pada tokoh ini hanya pada satu tempat yaitu kediamannya di Amerika. Sampai Bab 35, diceritakan kehidupan seorang Hannah yang terbilang memiliki sifat yang berbeda diantara remaja yang lain, sebetulnya dia memiliki kepribadian yang baik, akan tetapi kepribadian yang baik itu dinilai buruk oleh orang-orang sekelilingnya, terutama teman-teman SMAnya.

Bagian 2 dalam novel ini

Hannah sangat membenci sekali SMAnya dan beberapa guru yang mengajar, beberapa kasus juga dia sempat dikucilkan dari lingkungannya. Hannah memiliki pola makan yang buruk, dia menjadi kurus karena jarang sekali makan, latar belakang keluarganya bisa saya katakan mapan dan tidak ada kesulitan ekonomi sama sekali, mungkin karena ayah Hannah sendiri merupakan orang yang hemat, sama seperti Hannah, biarpun tidak sama seperti ibunya yang bisa dikatakan boros.

Kebanyak hal yang diceritakan disini hanyalah kehidupan seorang gadis yang terkesan sinis dan skeptis pada lingkungannya, padahal di akhir bab 34 -35 nanti, kita akan melihat apa yang dimaksud dengan bekerja sukarela yang ditunjukkan Hannah ketika melihat berita "Manusia Perahu" yang menjadikan Amerika sebagai tempat tujuannya.

Bagian 3 dalam novel ini

Bab 36-58 bisa dikatakan klimaks dari novel ini. Pada bab-bab ini terjadi pergantian dua sudut pandang antar kedua tokoh utama secara bergantian. Pada Bab ini diceritakan kisah pertemuan Mei dan Hannah, kedua tokoh ini memiliki sifat yang sekiranya dapat menginspirasi para pembaca, Mei sebagai seorang kakak yang bertanggung jawab terhadap adik-adiknya dan mampu beradaptasi dengan lingkungannya dengan baik serta Hannah sebagai seorang remaja "labil" yang ternyata memiliki kecintaan terhadap sesamanya. Lalu bagaimana kisah selanjutnya?

Kelebihan dan Kekurangan

Novel ini adalah salah satu novel favorit saya karena ceritanya sesuai ekspektasi saya, sangat menginspirasi sekali betapa ketidaktahuan kita akan orang yang sangat berterimakasih ketika kita membantunya, menjadikan semangat tersendiri untuk bekerja secara sukarela dapat diceritakan pada novel ini.

Kekurangan novel ini terlihat pada bab-bab yang menjelaskan tokoh bernama Hannah, cerita-cerita awal yang ada cukup membuat saya bosan karena hanya menceritakan seputar kehidupan seorang remaja yang merasa terkucilkan di SMAnya dan kehidupannya sendiri ketika di keluarga. Semua nampak klise mungkin karena hal-hal seperti ini sudah akrab di keseharian kita.

Kesimpulan

Novel ini akan mengajak kita berbicara, merenung dan berkaca bahwa hidup kita selama ini jauh dari kata layak. Mungkin bisa dikatakan kita adalah orang yang beruntung, tidak seperti Mei dan keluarganya, pada kisahnya juga patut disadari bahwa seberat apapun cobaan yang didapat manusia, percayalah bahwa Allah selalu memberikan jalan terhadap kita.


Mybllshtprspctv®

0 komentar:

Post a Comment