Home » , , , , , » Catatan Orang Sakit

Catatan Orang Sakit


Sebenarnya semua ini sudah terjadi tat kala aku mengunjungi Angkor Wat. Rasanya lemas, pegal dan aku merasa ada yang salah dengan tubuh ini. Semua semakin menjadi kala aku berada di langit, dengan turbulensi dan awak kabin maskapai yang bercakap seperti Upin dan Ipin. Rasanya lemas bukan main, tubuhku panas hingga mataku merasakan semua dan sulit dibuka. Nafasku sesak, entah lah, setelah sampai Jogja, semua hilang.

Walau sudah agak ringan, namun tak semuanya hilang begitu saja. Sesak nafas masih terasa dan kadang kala pusing pala Gusti di kepala masih terasa. Pernah suatu saat, ketika aku berada di alam suwung bernama perpustakaan, aku tak sadarkan diri. AC yang berhembus, semprot parfum ruangan yang keluarnya bertempo hingga komat-kamit mahasiswa tua yang sedang mengetik skripsi, membuatku tak sadar, ya, tertidur saking nyamannya.

Bukan bermaksud malas ke dokter, tetapi aku malu dengan semua. Sedari sekolah dasar hingga menengah pertama, aku terlalu banyak aleman. Takutnya sakit ini hanya berasal dari pikiranku saja. Seperti apa yang dikatakan oleh Freud, pikiran sebagai evidensi dari kerja pikiran tak sadar dan membuktikan suatu keberadaan pikiran tersebut.

Hingga titik puncaknya malam ini. Ketika aku menuliskan tulisan ini dengan suasana yang mengharu-biru. Semua nampak gelap, sesak dan aku kehilangan arah karena aku berdiam diri di kamar kecilku dengan keadaan gelap tanpa cahaya sentir lenga patra. Badanku lemas, berasa seperti tanpa tulang. Tubuhku panas, berasa seperti dislemot lenga. Ah, untungnya aku masih bisa menulis tulisan ini.

Bila ia baik akan melahirkan dia alam bahagia, bila ia jahat ia akan terlahir di alam yang menderitakan.

Teringat tokoh idola saya, Nietzsche, yang mengalami penderitaan berupa sakit yang demikian hebatnya. Nietzsche menyikapi sakitnya dengan begitu gemilang. Nietzche tidak menyikapi sakitnya dengan sikap pasrah, tetapi ia menerima dan mengolah rasa sakit itu menjadi suatu konsolasi bagi seluruh kehidupannya.

Begitu halnya dengan saat ini, tetapi sakit ini tidaklah seberapa jika dibandingkan dengan Frederich Nietzsche. Betapa dalamnya pengalaman orang yang mengangkat refleksi tentang sakit berdasarkan pengalamannya sendiri jika dibandingkan dengan mereka yang hanya sekedar mengamati pengalaman sakit. Apa lagi jika orang tersebut masih merasakan sakit.

Para Penjenguk yang Tak Terduga

Malam ini begitu pening. Aku hanya menatap nanar eternit yang sudah banyak bercak air karena bocor. Hingga suatu ketika, ada yang mengetuk kamar kecil ini.

"Kau sedang sakit?" Ujarnya sembari membuka pintu. Ah, betapa kagetnya saat yang mengetuk pintuku adalah Tan Malaka. "Menyerah? Dasar lemah! Kau tahu, saat saya berada di Tiongkok apa yang saya alami? Saya merasakan sakit hingga rasanya seperti mau mati!" Lanjutnya dengan lantang.

"Selama saya sakit, saya banyak mengalami masa indah dan penuh suka cita dari kaum buruh Tiongkok. Nak, saat itu saya hampir mati! Hampir mati karena sakit yang saya derita! Namun beruntung saya memiliki kawan dari Tiongkok yang baik. Mereka memberikan obat, lebih dari itu mereka memasakan makanan yang menyegarkan.

"Nak," ia menepuk pundakku. "Maknailah sakitmu. Hidupmu masih panjang, simpati dan solidaritas kepada perjuangan revolusi sudah di depan mata. Bangkitlah dan lahap buku-buku itu," Kemudian ia pergi meninggalkan kamarku, pintunya masih terbuka.

"Hahaha sungguh bergelora. Sedari depan soedah terdengar begitu lantang!" Bung Karno?! Mataku terbelalak namun mulutku tak bisa bercakap apa-apa. "Bicara apa oerang toea jang berdjiwa muda tadi? Madilog kah? Atau moengkin tjerita dia ketika sakit? Baiklah, ijinkan saya joega bertjerita.

"Wahai pemoeda, begadang kah malam ini? Sama seperti saya ketika mempersiapkan proklamasi. Kau tahu, kala itu pula saya terkena gejala malaria. Siapa peduli jika di pundak ini  sudah bersemat berjuta-juta semangat dan harapan rakyat Indonesia untuk merdeka. Tetapi itu bukan yang petama, di Pulau Ende dalam pengasingan, saya hampir tewas terkena malaria hingga akhirnya dibawa ke Bengkulu.

"Pemoeda, bangunlah. Begadanglah. Di Ende, saya mendapatkan banyak inspirasi saat saya menjadi tahanan Belanda, menjadi orang buangan. Jadikan sakit ini sebagai pengalaman-pengalaman yang bersifat eksistensial untuk menghasilkan berupa karya," kemudian ia pergi dengan senyuman khasnya.

Tiba-tiba ada seorang bapak-bapak tua yang masuk kamarku dan kemudian duduk di pinggir kasurku. "Saya tidak percaya bahwa kombinasi kimiawi yang paling sederhana pun tak akan pernah mau mengakui penjelasan yang mekanisme," Aha! Simbah Schopenhauer rupanya. Ah, lebih baik aku hanya diam dan mendengarkan kegalauannya saja.

"Bodoh jika ada yang bilang jika kesadaran, intelek atau rasio sebagai hakikat jiwa. Di bawah intelek sesungguhnya terdapat kehendak yang tidak sadar, suatu kekuatan hidup yang abadi, suatu kehendak yang kuat. Kalau intelek adalah alat yang membantu mengendalikan kehendak, yang di ibaratkan," aku hanya mengangguk-angguk padahal tidak mengerti.

"Sakitmu ini!" Ia menunjuk dahiku dengan kasarnya. "Sakitmu ini adalah kehendak untuk hidup, dan kehendak untuk memaksimumkan kehidupan, sedangkan musuh abadi dari kehendak untuk hidup adalah kematian. der Wille zur Leben, pegel aing, mulih heula ah. Gws ea," ia pergi dan aku hanya terdiam dibuatnya.

"Bonsoir!" Siapa lagi ini? Kali ini seorang pria menggunakan jas dengan cerutu di tangan kanannya. Seperti detektif saja. "Nama saya Albert Camus," ia membungkukan badan. Sangat sopan dan terkesan romantis. "Engkau sedang sakit? Bahkan langit pun temaram karena demammu."

"Harapan yang menghalangi manusia pasrah kepada kematian dan yang hanya berupa kegigihan buat hidup." -Sampar, Albert Camus.

"Hei, akankah engaku memilih hidup yang singkat di bumi kemudian dicerabut lagi? Atau, apakah engkau akan berkata tidak, terima kasih? Kamu hanya punya dua pilihan ini. Itulah aturannya. Dengan memilih hidup, kamu juga memilih mati," Aku hafal kata-kata itu karena aku pernah membaca novel karangan beliau.

"Saya pernah ikut sebuah klab bola di kampus. Nahasnya, penyakit tuberkulosis yang saya derita mengenyahkan karir saya di dunia olahraga," ia masih di depan pintu dan kini mulai menyalakan cerutunya. "Ketika kamu memilih hidup, bagaimanakah kamu ingin menjalani kehidupan itu? Sementara kamu tahu bahwa suatu saat kamu akan mati," lanjutnya.

"Saya telah membuat sebuah novel yang kata para ahli sastra, novel tersebut sangat menggambarkan pemikiran saya. Judulnya La Peste atau Sampar. Kau tahu sampar? Sampar adalah penyakit menular yang terjadi pada hewan maupun manusia. Bagaimana pada saat itu Kota Oran saya porak-porandakan dengan ribuan bangkai tikus. Menyeramkan bukan?

"Saya memasukan absurdisme di dalamnya. Kota Oran, Aljazair adalah kota yang tenang, menjadi absurd karena memang penyakit Sampar bukanlah akibat dari suatu sebab. Tetapi Sartre, menyebut kalimat saya terlalu berpulau-pulau, karena ada kekosongan di antara kalimat-kalimat itu.

"Well, kamu pasti akan mati, dan kamu pasti tak berbahagia. Karena bila Tuhan ada, tidak perlu kamu terlempar ke dunia bagai terlempar ke sungai. Tak ada alasan untuk menderita, apalagi untuk mati? Semuanya absurd."

Memaknai Sakit dan Hidup Setelah Mati

Tiba-tiba aku terbangun. Suhu tubuhku kian panas dan batuk-batukku bertambah parah. Daya analisis dan kemampuan nalar langsung meredup. Bagaimana jika memaknai kemudian aku mati? Rasanya konyol, seperti hendak menanam, dalam beberapa waktu kemudian badai menghancurkan tanaman tersebut.

Sumber Gambar

Kemudian aku membuka sebuah buku studi agama dan betapa senangnya ketika aku teringat bahwa kehidupan setelah mati itu ada. Namun apakah itu semua benar dan pasti? Kita membutuhkan pendekatan yang bergerak dari agama, mitos sampai dengan ilmu pengetahuan, guna memberikan beberapa kemungkinan jawaban.

Seperti hendak jajan di sebuah warung, di berbagai peradaban dunia, kita bisa dengan mudah menemukan adanya konsep tentang hidup sesudah mati. Seperti permen, banyak namun variannya berbeda, begitu pula dengan konsep tesebut. Jika kita berbuat baik, tentu akan diberi ganjaran yang baik pula, begitu pun sebaliknya.

Konsep ini banyak ditemukan di berbagai cerita mitologis di hampir semua peradaban dunia. Pandangan ini kemudian dilanjutkan oleh agama-agama dunia dengan konsep surga dan neraka. Juga ada semacam entitas absolut yang berperan sebagai hakim bagi setiap orang, setelah ia meninggal.

Lebih baik aku memaknai sakit ini meskipun beberapa orang terdekat menganggap remeh apa yang sedang terjadi padaku. Biarlah bagaimana akhirnya, yang penting aku memaknai melalui tulisan ini. Ya, meskipun kehidupan setelah mati adalah suatu kemungkinan, walaupun, dari sudut pandang ilmu pengetahuan, kemungkinannya cukup rendah.

Mybllshtprspctv®

0 komentar:

Post a Comment