Home » , , , , , » Konflik Asmara dalam Kacamata Slavoj Žižek Tentang Cinta

Konflik Asmara dalam Kacamata Slavoj Žižek Tentang Cinta

Oleh: Gusti Aditya

Apa yang anda perbuat jika pasangan anda sudah menampakan raut wajah tertekuk dan tak mengeluarkan sepatah kata apa pun? Dan juga apa yang anda lakukan ketika anda memiliki visi hidup dan keinginan yang berbeda terlihat sangat ekstrem dengan kekasih anda? Biasanya orang lemah akan mengambil satu pilihan, yakni pergi; cari pacar lagi.

Dalam hal ini, saya akan mencoba menjelaskan semuanya sesuai dengan pandangan Žižek mengenai prihal cinta. Seperti biasa, pandangannya amat dipengaruhi oleh aliran filsafat sekaligus psikoanalisis yang selama ini ia dalami.

Si Filsuf Politik Paling Berbahaya dari Barat

Pria yang lahir di Ljubljana, Slovenia, 21 Maret 1949 ini adalah seorang filsuf psikoanalitik Slovenia, kritikus budaya, dan sarjana Marxis. Dia adalah seorang peneliti senior di Institut Sosiologi dan Filsafat di Universitas Ljubljana. Karyanya terletak di persimpangan dari berbagai disiplin ilmu, termasuk filsafat kontinental, teori politik, kajian budaya, psikoanalisis, kritik film, dan teologi.

Žižek menggunakan contoh dari budaya popular untuk menjelaskan teori Jacques Lacan dan menggunakan psikoanalisis Lacanian, filsafat Hegelian serta kritisisme ekonomi Marxis untuk menginterpretasi dan berbicara secara ekstensif perihal fenomena sosial mutakhir, termasuk krisis finansial global yang saat ini terjadi.

Baru tahun 1989-lah setelah penerbitan bukunya yang ditulis dalam bahasa Inggris, The Sublime Object of Ideology, Žižek mendapat pengakuan internasional sebagai teoritikus sosial. Sejak saat itu, ia terus-menerus mengembangkan statusnya sebagai intelektual konfrontasional.

Tulisannya mencakup banyak topik termasuk subjektifitas, ideologi, kapitalisme, fundamentalisme, rasisme, toleransi, multikulturalisme, hak asasi manusia, ekologi, globalisasi, Perang Irak, revolusi, utopianisme, totaliterisme, posmodernisme, budaya pop, opera, sinema, teologi politik, and agama.

Atas berbagai karyanya, Žižek mendapat sebutan sebagai filsuf politik paling berbahaya di Barat (http://www.zizekstudies.org)

Mencintai yang Tak Dapat Dicintai

Bagi Žižek, cinta adalah suatu untuk mencintai yang seolah “tak dapat dicintai”. Cinta lahir dari kebebasan, dan tidak pernah dapat diperintahkan, apalagi dipaksakan (Reza A.A Wattimena).

Di dalam dunia sehari-hari, kita sering mendengar kata-kata luhur, seperti toleransi, kasih universal, dan kesetaraan antar manusia. Menurut Žižek, di balik keluhuran kata-kata ini, ada keengganan yang tersembunyi, yakni keengganan untuk bersentuhan dengan “yang lain”, yang tak terduga, dan traumatik.

Pada titik ini, Žižek, sebagaimana dibaca oleh O'Dwyer, mulai berbicara soal hakekat dari manusia, apa artinya menjadi manusia. Tentu saja, seperti bisa langsung ditebak, konsep Žižek tentang manusia bernuansa ganjil dan gelap. Ia tidak berbicara tentang kemanusiaan universal yang bersifat luhur dan mulia, melainkan tentang manusia yang berbeda, yang lain, yang tak terduga, yang tak tertebak, yang mengancam stabilitas sosial yang sudah ada, manusia yang penuh dengan ketidakpastian dan kontradiksi pada dirinya sendiri.

Kata Žižek, untuk mencintai orang lain, selama orang lain itu tidak mengganggu hidup kita, cukup jauh dari kita, dan ada jarak yang terus memisahkan saya dengan mereka. Namun, itu bukanlah cinta. Itu hanya tawar menawar. Cinta yang sejati bisa terlihat, ketika orang masuk ke dalam hidup kita tanpa jarak, tanpa rencana, dan kita bisa tetap mencintainya.

Ayo, Marah Saja Padaku!

Anda pasti pernah merasakan pacaran. Setidaknya anda pernah merasakan pacaran sebanyak sekali dalam hidup anda. Setiap manusia di muka bumi ini juga tahu bahwa unsur terpenting dalam pacaran adalah rasa cinta. Namun anda jangan tanyakan pada saya mengenai definisi cinta, karena sudah ada ratusan pemikir dan ilmuwan mencoba mendefinisikan arti kata itu, namun tak ada yang sungguh bisa menjelaskannya.

Setelah pacaran, tentu sebuah konflik tak akan pernah lepas dari keseharian anda bersama pasangan anda. Dengan adanya konflik, seakan hubungan anda telah diberi garam, micin dan perasa lainnya sehingga hubungan tersebut menjadi lebih berwarna. Kalau tidak ada hasrat, tidak ada konflik, tidak ada api, bagaimana bisa merasakan sulitnya membangun sebuah pondasi cinta milik anda?

Jika telah mengucap cinta, berarti anda sudah siap dalam suatu keadaan yang traumatis, yang tak terduga, dan yang mengancam kita dengan perbedaan yang ia tawarkan. Barangkali perbedaan pendapat dalam sebuah hubungan adalah hal yang wajar seperti apa yang diungkapkan oleh Žižek, kita perlu untuk siap pada yang tak terduga, tak tertebak, yang mengancam kita untuk mengubah segala hal yang kita pegang selama ini.

Dalam hubungan pacaran, mudah sekali untuk mencintai orang yang memberi kita kedamaian. Mudah sekali juga untuk mencintai orang yang memberikan kita kebahagiaan. Namun, realitas tidak seperti itu. Banyak pasangan berpisah, karena mereka tidak siap pada yang tak terduga, yang mungkin muncul di dalam hubungan mereka.

Di tengah cuaca Kota Jogja yang sendu-sendu unyu ini Žižek mengajak kita untuk berkontemplasi secara komprehensif mengenai hubungan percintaan yang memerah tenaga ini.

__________________________________

Referensi:

https://rumahfilsafat.com/2012/06/07/mencintai-yang-tak-dapat-dicintai/#more-2354

http://www.zizekstudies.org

http://www.philosophynow.org/issues/77/Žižek_on_Love

Mybllshtprspctv®

0 komentar:

Post a Comment

close
Banner iklan disini