Home » , , » Literasi ala Tresti

Literasi ala Tresti

Sumber Gambar

Minggu pagi, seperti biasa hanya memanaskan motor dan langsung menuju rumah si dia untuk melakukan kegiatan rutin di minggu pagi, ke toko buku. Bukannya tidak senang, namun aku sebal saat Tresti mengumbar senyumnya untuk buku-buku yang menurutku tak pantas untuk disenyumi sekali pun.

Jujur saja, lemari bukuku sudah penuh sesak oleh buku ya karena wanita yang satu ini. Kadang aku merasa tertantang kala dia meresensi sebuah buku dengan cara yang berbeda. Dia meresensi cukup dengan kedua mulutnya dan tatapan bahagia sembari mengacak-acak rambutku.

Tresti juga yang mengajariku untuk mengunjungi rak buku dengan label best seller. Biasanya aku lebih doyan mengkonsumsi buku-buku kiri atau biografi tokoh yang aku kagumi. Tresti seakan betah berlama-lama di rak berlabel best seller yang entah isinya itu mengenai apa.

Entah apa yang spesial di rak ini. Aku bingung harus tertawa atau meratapi kebingungan yang ada. Namun nampaknya aku harus lah bingung. Karena dalam kebingungan lah libido mencari jawaban atas kebingungan tersebut meningkat.

Aku tengok rak bertuliskan best seller yang terpampang di bagian depan. Aku bertambah bingung saat buku-buku Tere Liye, Ahmad Rifai Rifan bahkan hingga buku kiat-kiat lolos SBMPTN pun dipajang dengan jelas di rak tersebut. Ada buku meraih kesuksesan juga di pojok atas.

     "Kamu suka?" Tanyaku kepada dia.
     "Iya. Aku mau beli yang ini, ya?" Ia menatapku penuh harap dan nampak sangat bersemangat.
     "Apa itu?"
     "Buku."
     "Maksudku tentang apa."
     "Ini buku terbarunya Tere Liye. Kamu harus baca deh..." Ia pun terlelap dalam kalimatnya yang kalap.

Baiklah, apa yang salah dengan sebuah buku? Terlebih ini merupakan sebuah selera. Tresti suka novel seperti itu, ya sudah, itu adalah haknya dia. Urusanku jika aku tak menyukai selera baca dia, namun bukan sebuah alasan yang logis jika aku jadi tak menyukai yang membaca, terlebih ini adalah Tresti.

     "Aku belum menentukan pilihan nih?"
     "Komik aja?"
     "One Piece belum ada yang keluar. Temenin dulu ke rak yang lain yuk?"
     "Boleh, yuk."

Aku berjalan menuju rak sebelahnya. Ah, lelucon lagi, rak itu dipenuhi buku strategi sukses Bob Sadino, sebelahnya buku-buku motivasi Mario Teguh dan sebelahnya sudah buku-buku beternak lele. Apakah aku tersesat?

Bahkan di perpustakaan fakultas ku, walau lebih kecil dari toko ini, rasanya sudah berada di surga. Buku-buku Marxis tertata rapih, buku mistik kejawen pun ada, novel-novel macam karya Pramoedya, Sartre hingga Tolstoy pun nampak menggoda. Ya, walau menurutku, perpus ini koleksinya masih jauh dari kata lengkap.

     "Kamu nyari bukunya siapa, sih?"
     "Yang unik."
     "Contoh?"
     "Kamasutera barangkali, hehe."
     "Aku tak suka."
     "Hahaha," aku memegang pundaknya. "Oh iya, kita bisa dimasukan dalam orang-orang elite di negara ini, lho."
     "Nah, aku suka saat kamu membual. Ayo ceritakan semua. Aku mendengarkanmu."
     "Hahaha, jadi...

     "Sewaktu aku ada serangkaian acara seminar dengan UNESCO, aku menemukan sebuah data yang menarik. Hanya 1 dari 1000 orang yang membaca buku di negri ini. Hanya 27 halaman dari mungkin buku setebal 200 halaman yang dibaca seorang anak setiap tahun. Membaca buku seolah menjadi hobiyang langka di Indonesia.

     "Minat membaca buku fisik beralih menuju ke platform yang lebih ringkas semacam artikel blog atau lini masa media sosial. Dengan tingkat melek huruf di atas 90%, seperti sebuah anomali jika minat terhadap buku timpang sedemikian besar kan, Tres? Terlebih, harga buku yang dapat dikatakan tidak murah. Aku bisa makan 6x di burjonan untuk satu buku Tere Liye ini."

     "Hemm..." Tak ada statement yang ia layangkan kepadaku seperti biasanya. Ia hanya memeluk buku yang telah ia pilih tadi erat-erat.

     "Kau tahu, bahwa membaca buku adalah investasi yang tidak langsung terlihat hasilnya? Tak seperti upload foto di instagram yang hasilnya akan kita peroleh hanya dengan hitungan detiknya saja. Membaca adalah modal dalam membangun sebuah pemikiran.

     "Jogja bukan hanya tercipta oleh tetabuhan perang, namun juga terbentuk dalam narasi kata-kata. Jogja dengan kota pelajarnya, sudah dianggap Warga Indonesia sebagai episentrum buku-buku menarik. Namun sebagai warga asli Jogja, aku masih merasa ragu akan hal itu.

     "Memang banyak penerbit menarik di kota ini seperti Narasi, Warung Arsip, Oak, Metabook, Circa, Octopus, Ganding, Gambang, EA Books, Kendi, Interlude, Alpha Centauri, dan deretan penerbit lain, namun masyarakat Jogja masih asik tercebur dalam belantara dunia buku mainstream.

     "Aku seperti tak hanya melihat kelatahan dalam toko-toko anak hits saja. Misal toko itu bagus, unik, photogenic dan makanannya biasa saja, tetapi banyaknya review di instagram, menjadikan toko baru tersebut mendapat perhatian lebih dari anak hits lainnya.

     "Begitu pula dengan buku. Ingat buku Dilan yang aku berikan padamu tempo itu? Di tahun 2014 buku tersebut tak banyak mendapat perhatian, namun lihatlah tahun ini. Itu semua berkat gelombang dahsyat yang bernama sosial media. Apakah buruk? Ah, tidak sepenuhnya."

     "Titik tekan kamu menjabarkan minat baca di awal tadi apa? Apakah kamu ingin bilang jika buku-bukumu itu yang terbaik?"

     "Bukan begitu. Berliterasi adalah sarana untuk mengenal dunia yang serba berubah dan tak menentu ini. Berliterasi juga menjadikan orang memiliki rujukan dan argumen yang lebih berbobot ketika bertemu persilangan pendapat. Berliterasi menjadikan Albert Einstein sedemikian cerdas. Tengoklah, Tres, koleksi buku founding fathers Sukarno dan Hatta. Niscaya kita malu karena yang kita koleksi dengan antusias masih sebatas buku-buku di rak bestseller. Aku tak menyebutkan bahwa bacaanmu selama ini kurang bergizi, lho."

     "Aku suka saat engkau berbicara. Orang lain akan menganggap perkataanmu laksana badai, namun aku menganggap perkataanmu adalah gulali yang sangat manis dan siap dimakan kapan pun," Tresti nampak menyusun argumen.

     "Namun, sayangku, manusia adalah makhluk yang kompleks. Organisme yang sifat dan kepribadiannya kapan saja bisa berubah. Sebagai aktor di dalam sebuah peradaban, pembangunan manusia tidak selesai hanya pada statistik berliterasi. Tidak cukup dengan seberapa banyak halaman-halaman buku yang dilahap atau seberapa banyak koleksi di rak. Lihatlah manusia di zaman batu, bahkan mereka mampu berhubungan seksual lebih dulu sebelum teks Kamasutra diciptakan.

     "Engkau menyebutkan bahwa Bung Karno melahap buku-buku beratnya. Benar?" Ia menunjuk daguku.

     "Iya, sayang, aku menyebutkan hal itu tadi."

     "Sayang, buku-buku hanyalah jembatan penghubung value yang satu dengan value yang lain. Bung Karno itu tak hanya membaca satu buku. Orang yang banyak membaca buku, pada saat yang sama harus "membaca" naskah yang makro kosmos berikan. Hingga lahirlah manusia yang lebih baik dan tidak stagnan." Ia melihatku terus hingga membuatku takut.

     "Setuju, sayang. Namun, jika ingin mengerti antropologi, mana tak akan cukup dengan membaca karangan Koentjaraningrat saja. Menjadi filsuf yang hebat, tak cukup jika membaca bukunya Louis O Kattsoff. Dan..."

     "Stop!" Ia menyilangkan tangannya. "Aku anak pertanian, tak faham apa yang anda ucapkan, sayang. Mari saya bawa anda dalam tataran ilmu pertanian. Ibaratnya manusia adalah tanah kering. Buku adalah hujan, sementara alam adalah metode bercocok tanam dan komposnya. Lalu apakah hujan sangat berpengaruh kepada tanah kering? Tanah tak akan tertanam, tumbuh, dan melembaga jika tak ada tunas. Tunas adalah value tersebut, sayang.

     "Orang yang membaca banyak buku seperti anda belum tentu membuat anda lebih "bertunas" ketimbang mereka yang tidak membaca. Sementara, bisa saja 1000 orang yang karena berbagai alasan lebih mendesak dalam hidupnya sampai tidak sempat membaca buku pun bukan berarti mereka tidak intelek, sayangku. Masing-masing punya value sendiri dalam mikro kosmosnya.

     "Sayang, aku membaca buku yang menurutmu tidak berkelas ini bukan berarti aku tak mengambil nilai apa pun di dalamnya. Sungguh, bahkan aku berani berbicara seperti ini di depanmu ya karena aku membaca buku yang kamu anggap remeh-temeh ini. Contoh saja aku pernah membaca buku cerita milik Tania berjudul Kancil dan Harimau. Di mana harimau yang digdaya, dapat dikalahkan oleh kancil yang cerdik."

Aku hanya diam karena aku sudah tak bisa menanggapi dia. Aku rasa berpura-pura memilih buku secara acak adalah suatu cara yang tepat untuk mengalihkan dari sorot matanya yang tajam.

     "Katanya ndak doyan buku best seller, lha itu kok ngotak-atik buku best seller?" Ah, sial. Ternyata media pengalih perhatianku adalah rak best seller itu lagi. "Mumpung di toko buku, Ditya ndak mau beli? Bukunya Sokrates barangkali?"

"Ah, liat kamu belanja buku saja itu adalah hal terindah dalam pengalaman makro kosmos ku."


Mybllshtprspctv®

0 komentar:

Post a Comment