Home » , , » Logika dan Perspektif dari Berbagai Literatur

Logika dan Perspektif dari Berbagai Literatur


Logika adalah suatu ilmu pengetahuan tentang prinsip-prinsip dan norma-norma penyimpulan yang dipandang dari aspek yang benar (sahih). Ada yang berpendapat bahwa logika adalah ilmu dalam lingkungan filsafat yang membahas prinsip-prinsip dan hukum-hukum penalaran yang tepat. Ada juga yang menandaskan bahwa logika adalah ilmu pengetahuan (science) tetapi sekaligus merupakan kecakapan atau keterampilan yang merupakan seni (art) untuk berpikir secara lurus, tepat, dan teratur. Dalam hal ini, ilmu mengacu pada kemampuan rasional untuk mengetahui, sedangkan kecakapan atau keterampilan mengacu pada kesanggupan akal budi untuk mewujudkan pengetahuan ke dalam tindakan. Selain itu, ada juga ahli yang berpendapat bahwa logika adalah teknik atau metode untuk meneliti ketepatan berpikir. Jadi logika tidak terlihat selaku ilmu, tetapi hanyalah merupakan metode. Ada pula yang mengatakan bahwa logika adalah ilmu yang mempersoalkan prinsip-prinsip dan aturan-aturan penalaran yang sahih (valid).

Berdasar dari pengertian logika yang diuraikan di atas, dapat dikatakan bahwa logika merupakan cabang filsafat yang mempelajari, menyusun, mengembangkan, dan membahas asas-asas, aturan-aturan formal, prosedur-prosedur, serta kriteria yang sahih bagi penalaran dan penyimpulan demi pencapaian kebenaran yang dapat dipertanggungjawabkan secara rasional. Di samping itu, logika juga sebagai sarana ilmu, seperti halnya dengan matematika dan statistika, karena semua ilmu harus didukung oleh penalaran logis dan sistematis yang merupakan salah satu syarat sifat ilmiah. Dengan demikian logika berfungsi sebagai dasar filsafat dan juga sebagai sarana ilmu pengetahuan lainnya. Logika dapat dibagi dalam dua cabang pokok yaitu logika deduktif dan logika induktif. Masing-masing dari kedua hal tersebut akan diuraikan pada subbab yang membahas tentang berbagai jenis logika.

Batasan Logika dari Para Ahli

Dewasa ini bidang penalaran logika telah banyak mendapat perhatian dari para pakar. Diantara sekian banyak pakar itu adalah sebagai berikut:

A. E. Sumaryono (1999:71) “Logika adalah ilmu pengetahuan dan keterampilan untuk berpikir lurus”.

B.Jan Hendrik Rapar (1996:10) “Logika adalah cabang filsafat yang mempelajari, menyusun, mengembangkan, dan membahas asas-asas, aturan-aturan formal, prosedur-prosedur serta kriteria yang sahih bagi penalaran dan penyimpulan demi mencapai kebenaran yang dapat dipertanggungjawabkan secara rasional”.

C.Louis O. Kattsoff (1987:28) Logika ialah ilmu pengetahuan mengenai penyimpulan yang lurus. Ilmu pengetahuan ini menguraikan tentang aturan-aturan serta cara-cara untuk mencapai kesimpulan, setelah didahului oleh suatu prangkat premise.

D. Bakhtiar (2004:212) Logika adalah sarana untuk berpikir sistematik, valid dan dapat dipertanggungjawabkan. Karena itu, berpikir logis adalah berpikir sesuai dengan aturan-aturan berpikir, seperti setengah tidak boleh lebih besar daripada satu

Dengan memahami beberapa definisi ahli tersebut di atas, maka dapat disimpulkan bahwa logika adalah cabang filsafat yang membahas metode penalaran yang sah dari premis ke konklusi.

Unsur-Unsur Logika

Mengkaji dari berbagai literatur, dapat dipahami bahwa logika mempunyai unsur-unsur sebagai berikut:

a. Term

Yaitu gagasan atau sejumlah gagasan, terdiri dari term subjektif (S), term predikat (P), dan term antara (M)

b. Proposisi

Disebut juga putusan, keputusan, judgement, pernyataan, kalimat logika. Proposisi ialah kegiatan atau perbuatan manusia di mana ia mengiakan atau mengingkari sesuatu tentang sesuatu. Proposisi menunjuk pada tegasnya pernyataan atau penyangkalan hubungan antara dua buah pengertian.

C. Penarikan simpulan

(penyimpulan) disebut juga dengan penalaran. Ada dua macam penyimpulan atau penalaran, yaitu deduksi dan induksi. Deduktif yaitu penyimpulan dari hal yang bersifat umum menjadi kasus bersifat individu. Sedangkan induktif yaitu penyimpulan dari kasus-kasus individual nyata menjadi konklusi yang bersifat umum.

Objek Logika

Objek adalah sesuatu yang merupakan bahan dari penelitian atau pembentukan pengetahuan. Setiap ilmu pengetahuan pasti mempunyai objek yang dibedakan menjadi dua, yaitu objek material dan objek formal. Objek material dari sesuatu adalah hal yang diselidiki dari sesuatu itu, mencakup yang konkret dan yang abstrak. Objek formal adalah sudut pandang dari objek itu disorot sebagai pembeda dengan objek lainnya.

Objek material sesuatu ilmu pengetahuan mungkin saja dapat sama untuk beberapa ilmu pengetahuan, namun ilmu-ilmu itu berbeda karena objek formalnya. Sebagai contoh: psikologi, sosiologi, dan pedagogik memiliki objek material yang sama, yaitu manusia. Akan tetapi , ketiga ilmu itu berbeda karena objek formalnya yang berbeda. Objek forma psikologi ialah aktivitas jiwa dan kepribadian manusia secara individual yang dipelajari lewat
tingkah laku, objek formal sosiologi ialah hubungan antar manusia dalam kelompok dan antar kelompok dalam masyarakat, sedangkan objek formal pedagogik ialah keegiatan manusia untuk menuntun perkembangan manusia lainnya ke tujuan tertentu.

Perlu dicatat di sini bahwa yang pantas menjadi objek material suatu ilmu ialah suatu lapangan, bidang, atau materi yang benar-benar konkret dan dan dapat diamati. Hal itu perlu ditegaskan karena kebenaran ilmiah adalah kesesuaian antara apa yang diketahui dengan objek materialnya. Jika objek material itu abstrak dan tidak dapat diamati, tentu saja apa yang diketahui (pengetahuan) tidak mungkin dapat dicocokkan dengan objeknya. Dengan demikian, tidak mungkin dapat dicapai kebenaran yang merupakan kesesuaian pengetahuan dengan objeknya itu.

Kendatipun logika modern telah dikembangkan, logika Aristoteles diteruskan oleh Thomas Hobbews (1588 – 1679) dan John Loek (1632 – 1704). Francis Bacon (1561 – 1626) mengembangkan logika induktif, sedangkan Gottfried Wilhelm Leibniz (1646 – 1716, George Boole (1815 – 1864), John Venn (1834 – 1923), Dan Gottlob Frege (1848 – 1925) dikenal sebagai para pelopor logika simbolik. Kemudia, filsuf besar Amerika Serikat, Charles Sanders Peirce (1839 – 1914) yang pernah mengajar logika di John Hopking University, melengkapi logika simbolik lewat karya tulisnya yang sangat banyak. Ia menafsirkan logika selaku teori umum mengenai tanda (general theory of signs) dan melahirkan dalil yang disebut dalil Peirce (Peirce’s law ) Logika simbolik simbolik mencapai puncaknya lewat karya bersama Alfred North Whitehead (1861 1947) dan Bertrand Arthur William Dussel (1872-1970) berjudul Principia Mathematica, berjumlah tiga jilid dan ditulis pada tahun 1910 – 1913. Logika simbolik diteruskan oleh Ludwing Wittgenstein 911889 – 1951), Ruddolf Carnap (1891 – 1970), Kurt Godel (1906 – 1978, dan lain-lain.

__________________________________________________

Referensi:

Asmoro Achmadi.2011. Filsafat Umum (Edisi Revisi). Jakarta: Rajawali Pers
Drs.Surajiyo.2010.

Surajiyo. 2010. Filsafat Ilmu dan Perkembangannya Di Indonesia. Jakarta: Bumi Asara

http://www.slideshare.net/septianraha/makalah-logika.ht

Mybllshtprspctv®

0 komentar:

Post a Comment

close
Banner iklan disini