Home » , » 'Manusia Perahu' Juga Manusia

'Manusia Perahu' Juga Manusia

Sumber Gambar

Bisa dibayangkan bagaimana jika kita hidup berbulan-bulan di atas perahu kayu yang retak dan atau tidak muat untuk menampung puluhan, bahkan ratusan orang sekaligus. Tanpa persediaan makanan, bahkan yang lebih memprihatinkan dan menyayat hati adalah perjalanan mereka tanpa tujuan yang jelas.

Itulah secuil gambaran saya setelah membaca novel Weeping Under This Same Moon karya Jana Laiz. Bagaimana seorang anak bernama Mai memperjuangkan hidupnya bersama kedua saudaranya di sebuah kapal dan terusir dari negara yang selama ini dia tinggali.

Nampaknya topik ini luput dari perbincangan hangat saya selama di Vietnam. Di mana saya baru mengerti topik ini sedari referensi novelyang dia beri untuk saya. Sebuah dosa besar memang saat mendatangi Vietnam Selatan atau sekarang adalah HCMC, namun tidak membahas isu mengenai tragedi kemanusiaan yang membuat perut saya ngilu karena membacanya.

Sekelumit Sejarah "Mengapa 'Mereka' Ingin Pergi?"

Setelah perang kemeredekaan melawan Perancis yang disebut perang Indocina I, kemudian dilanjutkan dengan perang saudara antara Vietnam Utara melawan Vietnam Selatan yang disebut perang Indocina II serta perang yang terjadi akibat invasi Vietnam ke Kamboja disebut perang Indocina III berlalu. Keadaan yang selalu berada dalam perang menjadikan situasi tidak aman yang dirasakan oleh masyarakat Vietnam dan keselamatan merekapun tidak terjamin.

Keadaan yang seperti itu menimbulkan inisiatif dari masyarakat Vietnam untuk meninggalkan negaranya. Namun, tidak hanya faktor perang saja yang menimbulkan pemikiran dari masyarakat Vietnam Selatan untuk mengungsi, tetapi juga karena adanya re-edukasi (semacam indoktrinasi) yang merupakan kebijakan pemerintahan Ho Chi Minh (Ismayawati, 2013: 1).

Kebijakan re-edukasi merupakan suatu cara yang dilakukan oleh pemerintah Ho Chi Minh untuk menyebarkan pengaruh ideologi komunisnya di Vietnam Selatan. Kebijakan tersebut dinilai harus dilakukan karena Vietnam Selatan sebelumnya berada dalam pengaruh Amerika Serikat yang memiliki ideologi yang berbeda dengan Vietnam Utara yang bukan tidak mungkin bahwa pengaruh dari Amerika Serikat.

Revolusi selalu menelan anak-anaknya sendiri.  -Tempo, edisi 28 Agustus 1982.

Selain adanya penerapan kebijakan re-edukasi, terjadi pula konflik antara Vietnam dengan Kamboja. Konflik tersebut muncul karena cita-cita dari Ho Chi Minh untuk menyatukan Indocina dalam pemerintahannya. Hal tersebut ditentang oleh Kamboja yang pada saat itu dipimpin oleh Pol Pot yang berasal dari bangsa Khmer. Pol Pot merupakan seorang yang anti-Vietnam seperti kebanyakan bangsa Khmer lainnya.

Akibat dari adanya kebijakan re-edukasi dan beberapa kejadian tersebut, banyak rakyat Vietnam yang melarikan diri ke luar negeri untuk menghindari nasib yang buruk yang akan menimpa mereka. Menengok para tentara atau rakyat Vietnam khusunya Vietnam Selatan yang berjuang melawan rezim Saigon pada waktu perang saudara di Vietnam, mereka malah dibuang dan dimasukkan ke dalam penjara.

Bagi rakyat Vietnam, daripada menjadi korban dari perang, lebih baik mereka meninggalkan negaranya. Hal tersebut dilakukan oleh orang-orang Vietnam yang ingin mendapatkan hidup yang lebih tenang dan memilih meninggalkan negaranya. Dengan menggunakan perahu, mereka mengarungi Laut Cina Selatan dan masuk ke beberapa negara Asia Tenggara secara ilegal.

Manusia Perahu: Suatu Pesan

Munculnya manusia perahu Vietnam tidak terlepas dari situasi dan kondisi yang terjadi di Vietnam kala itu. Keadaan yang tidak aman secara politis serta keselamatan masyarakat Vietnam khususnya Vietnam Selatan (khususnya lagi keturunan Cina, dalam novel yang saya sebutkan di atas) yang tidak menentu mengakibatkan terjadinya pengungsian yang dilakukan oleh masyarakat Vietnam ke beberapa negara di sekitar Asia Tenggara seperti Thailand, Filipina, Malaysia, Singapura serta Indonesia.

Para pengungsi Vietnam ini disebut juga dengan manusia perahu karena mereka mengarungi lautan dengan menggunakan perahu. Mereka terombang-ambing dengan perasaan tak menentu. Hanya ada dua pilihan, hidup atau mati. Mati pun ada beragam caranya: kelaparan, terkena penyakit, kapal karam hingga dibunuh oleh bajak laut pun cara yang tersedia untuk mereka menutup mata.

Kedatangan para pengungsi tersebut menjadi permasalahan internal bagi negara-negara Asia Tenggara. Hal tersebut ternyata menimbulkan masalah untuk dunia internasional. Sehingga permasalahan orang-orang Vietnam ini menjadi tanggung jawab PBB.

Untuk mengatasi permasalahan tersebut diadakan pertemuan antar Menteri Luar Negeri negara-negara Asia Tenggara untuk mengatasi dan mencari solusi terhadap permasalahan manusia perahu Vietnam tersebut. Hasil dari pertemuan tersebut merumuskan beberapa keputusan yang tertuang dalam Bangkok Statement.

Bangkok Statement yaitu salah satunya negara-negara Asia Tenggara yang disinggahi oleh para pengungsi Vietnam menyediakan sebuah tempat untuk mengelola para pengungsi tersebut dan badan PBB yang bertugas menangani masalah pengungsi yaiu UNHCR (United Nation High Commissioner for Refugee) ikut aktif dalam menyelesaikan permasalah tersebut dengan membuat suaka.

Dalam hukum internasional mengenai pengungsi, latar belakang terjadinya pengungsi dibedakan dalam dua jenis yaitu pertama ialah pengungsi karena bencana alam (natural disaster) yang artinya pengungsi pada prinsipnya masih dlindungi oleh negaranya yang ke luar untuk menyelematkan jiwa mereka. Kedua ialah pegungsi karena bencana yang dibuat oleh manusia (man made disaster) yang artinya ialah pengungsi ini ialah pengungsi yang kel uar dari negaranya karena menghindari tuntutan (persekusi) dari negaranya.

Apa yang dilakukan Indonesia?

Indonesia menerima, tentu saja. Namun permasalahannya adalah Indonesia menganut politik bebas aktif yaitu bebas untuk tidak memilih salah blok (non-blok) dan aktif dalam usaha menciptakan perdamaian dunia. Namun disini ada baiknya jika politik bebas aktif yang dianut Indonesia akan bijaksana apabila mengambil sikap akomodatif ke luar namun meningkatkan kewaspadaan yang lebih besar ke dalam negeri dalam menghadapi berkembangnya kekuatan komunis dan berusaha memberikan isi lebih konkrit kepada doktrin ketahanan nasional terutama melalui usaha peningkatan taraf hidup rakyat (Moertopo, 1976: 313).

Belum lagi kedatangan manusia perahu Vietnam ke Indonesia membuat alergi bangsa ini seakan kambuh karena pengaruh komunis yang di bawa oleh para manusia perahu tersebut. Namun pada akhirnya, Indonesia pun menerima dikarenakan Vietnam merupakan negara yang berada di Asia Tenggara yang artinya masih saudara dengan Indonesia serta atas dasar kemanusiaan.

Menengok pula salah satu tujuan Bangsa Indonesia adalah peran serta Indonesia dalam rangka mewujudkan perdamaian dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial. Indonesia yang menginginkan suatu keadaan yang tenang dan damai serta ingin mewujudkan perdamaian dunia khususnya di wilayah Asia Tenggara, Indonesia beranggapan dengan membantu manusia perahu Vietnam.

Penyelesaian permasalahan pengungsi Vietnam juga tertuang dalam Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 38 Tahun 1979 tentang Koordinasi Penyelesaian Masalah Pengungsi Vietnam Di Indonesia. Dalam Keputusan Presiden jelas bahwa peran Indonesia dalam mengatasi permasalahan pengungsi Vietnam di Indonesia nyata.

Pulang Galang lah tempat yang dipilih oleh Indonesia untuk membuat kamp. Pemilihan pulau Galang sebagai tempat memproses para pengungsi Vietnam tersebut karena wilayah Pulau Galang merupakan tempat yang strategis dan memenuhi persayaratan yang sangat cocok sebagai tempat pemrosesan. Dari segi geografis sangat memudahkan akses karena berdekatan dengan Singapura dan Malaysia. Belum lagi tanahnya luas untuk membuat kamp serta aksesnya memudahkan untuk mengantar logistik.

Barak-barak sebagai tempat tinggal bagi pengungsi yang didirikan di Pulau Galang, juga terdapat fasilitas-fasilitas lain yang sengaja dibangun untuk menunjang kehidupan para pengungsi selama di sana. Kegiatan mereka pun berjalan seperti biasanya. Pagi hari mereka diajarkan Bahasa Inggris oleh yayasan Save The Children and The Experimental in International Living (STC-EIL) yang dikontrak dan dibiayai oleh UNHCR.

Selanjutnya siang hari hingga sore hari, para pengungsi mengikuti kegiatan yang diadakan di pelatihan keterampilan ataupun ada juga beberapa dari pengungsi yang melakukan olahraga.Sedangkan untuk malam harinya para pengungsi ada yang memnafaatkan waktu untuk berkunjung ke warung kopi ataupun menonton video (Ismayawati, 2013: 130).

Dalam kesehariannya, para pengungsi Vietnam ini dibiayai oleh UNHCR termasuk segala kebutuhannya perhari baik itu dari segi kebutuhan pokok seperti makan ditanggung oleh UNHCR. Para pengungsi Vietnam ini juga mengikuti kegiatan sosial. Kegiatan tersebut merupakan inisiatif dari para pengungsi untuk mengisi waktu luang seperti menyibukkan diri bercocok tanam, mengikuti kegiatan pramuka, mengikuti pelatihan bahasa, dan lainnya.

Pada tanggal 7 Mei 1996 diadakan Rapat Koordinasi Politik dan Keamanan (Rakor Polkam) di Jakarta untuk membahas mengenai masalah pengungsi Vietnam dan diputuskan dibentuklah Komando Tugas (Kogas). Hal ini dikarenakan permasalahan para pengungsi ingin dikirim ke negara ketiga dan tidak ingin dipulangkan, sehingga mereka yang tidak lolos penyaringan untuk dikirim ke negara ketiga melakukan kekacauan.

Tugas utama dari Kogas ini adalah untuk mempercepat pengembalian manusia perahu dari Pulau Galang dan Tanjung Pinang. Jumlah manusia perahu yang tersisa 4.570 orang yag pada umumnya rata-rata berasal dari kelompok aliran keras (mantan militer, politisi dan pelaku kriminal) yang cenderung menolak untuk dipulangkan ke negara asalnya.

Sudahkah Berhenti....?

Nampaknya pertanyaan tersebut masih berputar di kepala saya. "Apakah masih ada manusia yang bernasib serupa dengan manusia perahu Vietnam di belahan dunia yang lain?". Tentu saja masih, namun dengan cara yang penyiksaan yang berbeda dan pelaku yang tak serupa.

Kejadian ini seakan memberikan pesan bagi kita, warga dunia. Kita dituntut untuk berkontemplasi untuk apa kita hidup di dunia ini. Apakah untuk saling menyakiti atau malah saling merangkul untuk mencapai suatu kondisi di mana si hitam menggandeng si putih? Bukankah indah jika melihat si bule bercakap-cakap sembari tersenyum kepada si cina? Adakah yang lebih mahal dari sebuah perdamaian?

Apa yang dapat Anda lakukan untuk mempromosikan perdamaian dunia? Pulanglah dan cintai keluarga Anda. –Bunda Teresa.

Manusia perahu Vietnam seakan memberikan pelajaran bagi kita bahwa perdamaian akan menembus suatu dimensi di mana perbedaan warna kulit, etnis, ideologi bahkan agama akan ditembusnya. Lebih jauh lagi, perdamaian akan menciptakan sebuah pola pikir baru dan manusia-manusia yang terlingkupi di dalamnya akan sering mengucapkan "aku bahagia" ketimbang "aku ingin membunuh dia, karena dia berbeda".

Sekotor-kotornya sampah, jauh lebih kotor manusia yang menganggap ras, etnis, agama dan ideologinya lah yang terbaik ketimbang yang lain.

___________________________________

Referensi:

Djamhari, S.A. 2007. Prajurit TNI Dalam Tugas Kemanusiaan Galang 96. Jakarta: Pusat Sejarah TNI.

Ismayawati, I. 2013. Manusia Perahu. Jakarta: PT Kompas Media Nusantara.

Moertopo, A. 1976. Studi Wilayah: Jilid Pertama. Jakarta: BAKIN.

Poesponegoro, M.D. dan Notosusanto, N. 2007. Sejarah Nasional Indonesia. Jilid VI. Jakarta: Balai Pustaka.

Sardiman AM. 1983. Kemenangan Komunis Vietnam dan Pengaruhnya Terhadap Perkembangan Politik di Asia Tenggara. Yogyakarta: Liberty Yogyakarta.

T.N. 1998. Perlindungan Pengungsi (Refugee) Menurut Hukum Internasional.E-Journal Universitas Negeri Sebelas Maret,  45 (12), hlm. 2-3.

http://ometrasyidi92.blogspot.co.id/2014/11/manusia-perahu-kajian-historis-terhadap.html?m=1 diakses pada 19 Februari 2017. Pukul 6:03 WIB.

Mybllshtprspctv®

0 komentar:

Post a Comment

close
Banner iklan disini