Marhaen Belok Kiri?

Sumber Gambar

Nama Marhaen menjadi legenda dalam sejarah panggung dunia politik Indonesia. Presiden pertama Indonesia lah yang telah menciptakan suatu ideologi bernama Marhaenisme. Lantas, siapa atau dari manakah nama Merhaen?

Marhaen hanya lah seorang petani sederhana yang ditemui Soekarno secara tidak sengaja ketika ia bolos kuliah di Bandung sekitar tahun 20an. Padahal, pertemuan itu dilakukan secara tidak sengaja dan percakapan pun tak dapat dihindarkan.

     "Siapa pemilik sawah ini?" tanya Soekarno.
     "Saya juragan. Ini tanah turun temurun. Diwariskan dari orangtua," jawab petani itu.
     "Lalu bajak dan cangkul itu, apa punyamu?" Tanyanya kembali.
     "Iya, gan."
     "Lalu hasilnya untuk siapa?"
     "Untuk saya gan, hasilnya hanya cukup untuk hidup sehari-hari," kata petani itu.

Sumber Gambar

Lantas Soekarno mendapatkan sebuah ilham karena pemahaman bahwa para petani berusaha di atas tanah yang sangat kecil miliknya sendiri, mereka korban feodalisme, diperas para bangsawan selama berabad-abad. Rakyat dipaksa mengikuti pola ekonomi imperialisme dimana hanya bisa memenuhi kebutuhannya sekadar untuk makan. Padahal, tanah dan alat adalah milik mereka.

Hingga munculah Marhaenisme. Soekarno menempatkan Rakyat Indonesia yang tertindas, terbelakang, bernasib malang dengan sebutan Marhaen. Karena perjuangan rakyat tergambar jelas dalam sosok petani yang bernama Marhaen. Lebih jelasnya, Soekarno mengembangkan bahwa seorang Marhaen adalah orang yang memiliki alat-alat yang sedikit, orang kecil dengan milik kecil, dengan alat-alat kecil dan sekadar cukup untuk dirinya sendiri.

"Bangsa kita yang puluhan juta jiwa, yang sudah dimelaratkan, bekerja bukan untuk orang lain dan tidak ada orang bekerja untuk dia. Perkataan Marhaenisme adalah lambang dari penemuan kembali kepribadian nasional kami," tegasnya.

Ketika berbincang tentang Marhaenisme dalam tataran ideologi, barangkali Marxisme-Komunisme sering kali diletakkan untuk menjadi salah satu pembanding. Dalam telaahnya, titik pijak kelahiran ideologi yang dicetuskan Soekarno dilandaskan pada aspek kemanusiaan, sedangkan Marxisme menekankan aspek alienasi manusia dari alat produksi.

Lantas, apakah Marhaenisme ala Soekarno berhaluan kiri? Nampaknya kita harus menelaah berdasarkan komparasi yang lebih terstruktur. Memang, keduanya sama-sama kiri dalam artian menentang exploitation de I’homme par I’homme. Keduanya sama-sama pula lahir dalam satu rahim berupa kehidupan sosial yang tertindas oleh kepemilikan kapital atau borjuasi.

Salah satunya, titik tolak dari sebab musabab penindasan, menurut pemikiran Karl Marx, karena adanya ploretarisasi. Kepemilikan modal oleh kaum borjuis menciptakan pola ekonomi kerja-upahan, sehingga kelas pekerjaatau buruh tidak mampu mengembangkan kapasitas kerjanya untuk menghasilkan nilai lebih. Di satu pihak, borjuis, menikmati jerih payah pekerjanya tanpa harus bekerja secara berlebih.

Sekali dua uang dengan penjabaran Soekarno di atas, bahwa ada sebuah lembah kemelaratan, meski beberapa petani memiliki alat produksi, bahkan tidak perlu mempekerjakan orang lain. Seorang petani yang memiliki kapital, berupa sebidang tanah dan alat-alat produksi lainnya tetap hidup dalam lingkaran kesengsaraan, lalu terjadi pauverising oleh pola ekonomi kapitalistik.

Maka, sejak lahir dan sampai saat ini, Marhaenisme dan Marxisme tetaplah anti-kapitalisme. Sejak dalam kandungan dan diejakulasikan, kedua ajaran ini menolak pola hidup yang tidak adil. Borjuis semakin kaya, meski tidak terlalu bekerja, karena ia yang memiliki modal berupa alat-alat produksi. Petani tetap miskin, walau ia memiliki alat produksi sekali pun.

Ditelaah dalam dunia ideologi yang masif, Marhaenisme belum teruji dalam praktik membangun Sosialisme Indonesia. Soekarno pada masa kekuasaanya lebih menjadi penyeimbang daripada menjadi pimpinan dengan otoritas penuh untuk merealisasikan cita-cita revolusi Indonesia dengan identitas ideologi Marhaenisme.

Akhirnya, gagasan Nasakom (Nasionalis, Agamis, dan Komunis) lebih dipopulerkan sebagai obat mujarab stabilitas pemerintahan Soekarno. Sedangkan Revolusi Sosial masih dalam blueprint yang jauh dari praktik, itu pun masih dalam teks-teks lawas tanpa ada pengembangan.

Di pihak lain, Marxisme-Komunisme, mampu bertahan dalam tataran politik kekuasaan dan sosial-ekonomi di seluruh penjuru dunia. Kendati Uni-Soviet sebagai simbol komunisme dunia runtuh pada tahun 1990 dan terklaim bahwa ideologi Komunisme telah menabrak suatu bongkahan es yang besar dan telah karam.

Soekarno sendiri pernah menyatakan pada Sidang Paripurna Kabinet Dwikora pada tahun 1965 menyatakan bahwa Pancasila sendiri itu kiri. Pancasila itu diciptakan untuk menentang kapitalisme dan imperialisme. Pancasila diciptakan juga untuk menentang exploitation I'homme par I'homme dan exploitation nation par nation. Pernyataan itu dikemukakan Soekarno untuk menjawab gerakan antikomunisme dengan bersenjatakan Pancasila. Maka dari itulah Pancasila itu diciptakan untuk mewujudkan masyarakat sosialistis di Indonesia.

__________________________________

Referensi:

Anonim. 2016. Ribut PKI, Presiden Soekarno: Pancasila itu Kiri!. https://m.tempo.co/read/news/2016/05/17/078771697/ribut-pki-presiden-sukarno-pancasila-itu-kiri diakses pada 14 Februari 2017

Mybllshtprspctv®

0 komentar:

Post a Comment

close
Banner iklan disini