Home » , , » Mas Agus, Aku Padamu

Mas Agus, Aku Padamu

Ganteng, ya?
“Secara ksatria dan dengan lapang dada, saya menerima kekalahan saya dalam pemilihan gubernur DKI Jakarta. Sekali lagi saya secara ksatria dan lapang dada menerima kekalahan saya dengan lapang dada,”
Pilkada Jakarta telah usai. Berbagai media mulai dari cetak hingga elektronik menelurkan berbagai hasil survei sedari berbagai lembaga. Hasilnya serupa walau berbeda nol dan koma. Paslon nomor dua nampak memimpin perolehan suara namun tak mengungguli jauh paslon nomor tiga. Bagaimana dengan paslon nomor satu? Jangan ditanya lagi, nomor satu nampaknya belum bisa diterima oleh Warga DKI Jakarta untuk menempati singgasana.

Memang, hasil resmi dari KPU belumlah rilis. Bahkan mereka belum sama sekali menghitung perolehan suara secara resmi. Kata remaja jaman sekarang, Rakyat Indonesia itu keponya tidak ketulungan. Hanya doa yang dapat dipanjatkan jika semua hasil survey tersebut meleset. Apa salahnya berdoa?

Mas Agus, jujur saja sedari benak saya yang paling dalam, saya kagum dengan anda. Mas Agus nampak bagai sebuah oase dari pemandangan klise golongan muda Indonesia. Golongan muda masa kini yang hanya sibuk berkarir dan menciptakan prodak berupa anak, lha kok Mas Agus dengan sangarnya melepas jabatan dari TNI dan kemudian memilih berkecimpung di dunia politik yang terkenal bengis ini kemudian bertujuan membangun sebuah daerah otonomi yang sulit ditaklukan ini.

Mas Agus yang masih muda ini kok ya sudah berani dengan gagah berani bertempur menggunakan senjata seadanya maju ke depan untuk perang melawan pasangan-pasangan yang jauh lebih senior dibadingkan dirinya. Terlihat di beberapa sesi debat kemarin, seakan berkata benar karena pendukungnya bersorak sorai tanpa mengerti apa yang ia ucap, padahal ia dalam kondisi tertekan yang sangat luar biasa.

Bukan kejutan jika nantinya ia bakal kalah, lho. Berbagai lembaga survei sudah memprediksi bahwa Mas Agus kalah jam terbang dan kalah kredibiltas sudah menghantuinya sejak awal. Lantas apakah ia menangis dan pulang perang? Bagi Mas Agus, pantang pulang sebelum menang terpancar jelas sedari gaya bahasa tubuhnya. Mas Agus adalah pembuka pintu gerbang berupa semangat pantang mundur bagi remaja-remaja muda yang ingin merasakan bara panas politik di Nusantara ini.

Tulisan-tulisan saya yang sudah bergentayangan di berbagai surat kabar di Jakarta pun berkata serupa. Semua berupa opini mentah dan murah dari saya menyebutkan Mas Agus akan memperoleh angka dikisaran 20% sedangkan paslon dua dan tiga akan berbagi angka sisanya. Benar bukan?

Pengalamannya berdialektika langsung dengan warga DKI Jakarta selama kampanye, berbagai nyinyiran di media massa (termasuk tulisan saya di salah satu situs), penampilannya di tiga debat cagub, dihajar habis-habisan oleh rival politiknya, paling tidak itu semua adalah pengalaman berharga dan membuat Mas Agus mulai dikenal publik, tidak saja di DKI Jakarta, tapi Indonesia secara luas dan menyeluruh.

Bukan Mas Agus yang salah langkah, namun lawannya saja yang terlalu kuat. Paslon nomor dua memperlihatkan kemampuannya mengelola Jakarta dengan berbagai sentuhan yang indah. Terlibat kasus, bahkan tak meruntuhkan popularitasnya, malah semakin banyak yang bersimpati. Paslon dua juga membuktikan mengelola Jakarta dari aspek tata letak hingga menurunnya banjir yang kerap menghantui warganya.

Paslon nomor tiga dapat dikatakan sedang naik daun. Karirnya terus meroket sedari beliau menjabat sebagai Rektor Universitas Paramadina dan kapabilitas beliau mulai dicium Presiden Jokowi dan dijadikan sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia. Pelik memang, sedang jaya-jayanya, beliau digantikan oleh Muhajir Effendy. Ternyata e ternyata, beliau dipinang oleh Partai Gerindra untuk calon yang menjabat sebagai DKI satu.

Nah, inilah awal petaka bagi Mas Agus, hmm bukan petaka-petaka amat sih. Jalannya adalah suratan takdir yang tak boleh dihindari. Barangkali ini merupakan jumping stone bagi Mas Agus yang harus tetap melaluinya dengan sabar dan tawakal, dan sekarang Mas Agus telah melaluinya. Siapa yang tahu jika keberhasilan dan kesuksesan besar telah menanti digerbang sana, Mas. Tersedia beberapa jalan, salah satunya ya kursi Indonesia satu yang haram Mas Agus lewatkan.

Asumsi orang di luar sana bilang, engkau hanya boneka Pepo yang sedang haus akan perhatian kekuasaan. Padahal itu benar salah kan, Mas? Mas Agus harus lepas dari bayang-bayang Pepo yang begitu digdaya dan begitu menghibur di sosial media twitter miliknya. Kok saya yakin ya, Mas, jika Mas Agus mampu lebih baik dari Peponya Mas? Mas Agus hanya butuh wejangan berupa peta perpolitikan yang ada, itu semua agar Mas Agus tidak tersesat di hutan perpolitikan Indonesia yang sangat rimbun bak jembut mawut ini.

Entah apa yang ada di otak manusia-manusia yang mencemooh Mas Agus (saya termasuk golongan itu tida?). Mereka seakan hanya bermain lidah tanpa mengerti bagaimana cara menggunakan lidah. Mereka meneriaki tanpa paham apa yang sedang diteriaki seperti pendukungmu, Mas. Ayolah membuka mata bahwa anak golongan muda ini memiliki potensi!

Pengorbanan melepaskan posisi di TNI tak akan sia-sia. Tentu saja tidak dan saya sebagai pengamat politik mengatakan seperti itu. Tuhan telah memiliki cerita berbeda tentangmu. Ada rahasia besar dibalik ceritamu yang begitu pelik ini. Saya yakin, ada rahasia istimewa yang telah disembunyikan Tuhan kepadamu, dan tinggal bersabar saja untuk memetiknya lain waktu.

Ya, Mas Agus memang kalah, namun mas Agus tetaplah figur yang saya hormati dan menarik. Terima kasih telah memberikan teladan yang baik kepada saya. Terimakasih juga telah memberi hiburan wawasan baru seperti rumah geser dan kota terapung kepada saya yang masih belajar ini.

Jika Jakarta memang belum bersedia menerimamu saat ini, siapa tahu Indonesia lah yang akan memanggilmu. Tentu, lawannya Mas Agus adalah Cagub DKI yang gagal diputaran kedua nanti. Hmm Ahok deh, Mas, kayaknya. Siapkan program yang lebih matang lagi, Mas Agus. Negara melayang seperti Skypiea ala One Piece misalnya.

Eh, Mas, jika ingin menjadi Indonesia satu, siapin dana Haji sana bagi para petinggi, masak Umroh lagi? Masak sama kayak Ahok? Apa lagi Ahok umrohin marbot-marbot Masjid yang sebenarnya lebih layak dan lebih membutuhkan untuk menerima uluran bantuan seperti itu. Hehe.

Apapun kata orang, apapun cibiran orang, apapun fitanah orang mengenai dirimu, engaku tetap membanggakan. Mas Agus adalah panutanque yang maha haqiqi.


Mybllshtprspctv®

0 komentar:

Post a Comment