Home » , , » S-21, Killing Fields dan Khmer Merah: Ironi Sebuah Surga (Bagian I)

S-21, Killing Fields dan Khmer Merah: Ironi Sebuah Surga (Bagian I)

Sumber Gambar

Tulisan ini saya khususkan untuk seluruh korban pembantaian di desa Choeung Ek Kamboja dan seluruh narapidana penjara S-21 Tuol Sleng. Semoga Tuhan meberikan tempat yang indah bagi mereka.

PERINGATAN!!! Lemah mental, penulis sarankan jangan melanjutkan membaca

Kamboja adalah negara destinasi terakhir dalam kunjungan kami. Suasananya nampak berbeda dengan Vietnam, lebih enak dan sejuk, namun masih kalah sejuk dengan Laos. Negara ini membuat saya jatuh cinta karena keramahan warganya. Senyum dan tawa adalah hal yang biasa di setiap penjuru kota. Di sini pun padat akan budaya dan sejarah. Selain itu negara ini juga menjunjung tinggi para pahlawannya. Pol Pot, Hilternya Kamboja, seakan menjadi sebuah oase di antara ramahnya warga Kamboja. Ia adalah seseorang yang tidak pernah dilupakan di Kamboja. Cerita rezim Pol Pot adalah salah satu cerita yang menjadi sorotan bagi penelitian saya di negara ini.

Ada tempat lain di Kamboja yang saya kunjungi selain Angkor Wat, yaitu Tuol Sleng Genocide Museum dan Choeung Ek Genocidal Center. Tempat ini merupakan sebuah rajutan sejarah penting dari masa kelam Negara Kamboja selama di bawah payung Khmer Merah. Benar saja, sebelum mengunjungi Choeung Ek Genocidal Center, saya terlebih dahulu singgah di penjara S-21 Tuol Sleng yang berjarak sekitar 15 menit. Ya, kedua tempat ini ternyata memiliki keterikatan yang sangat kuat.

Khmer Merah Sorotan Dunia

Bendera Kamboja di masa pemerintahan Khmer Merah

Dunia terenyak oleh berbagai tindakan yang dilakukan oleh kelompok ini. Jika saat ini Kamboja terkenal dengan objek wisata dan bir khmer-nya, maka dahulu negara ini menjadi sorotan dunia karena Khmer Merah yang sempat menjadi fenomena dunia internasional. Lalu apa yang mereka lakukan hingga dunia melirik tajam kepada mereka?

Khmer Merah atau Khmer Rouge; Khmer Krahom adalah sebuah nama dari suatu kelompok bersenjata yang kemudian merangkap menjadi partai politik berhaluan komunis yang muncul ketika Perang Vietnam sedang getol-getolnya memerah darah berlangsung. Pasca berakhirnya Perang Vietnam di tahun 1975, dengan kemenangan pihak komunis, Kamboja dikuasai oleh Khmer Merah dan negara tersebut kemudian bertransformasi menjadi negara komunis yang menutup diri dari pergaulan internasional. Riwayat Kamboja di bawah rezim Khmer Merah sendiri tidak berlangsung lama. Hal ini terjadi karena pasca berhasilnya invasi Vietnam ke Kamboja pada tahun 1979.

Semasa menjadi penguasa Kamboja, Khmer Merah sangat melegenda karena gaya pemerintahannya yang begitu bengis. Selain menghapuskan praktik kepemilikan individu dan mengisolasi diri dari dunia internasional, Khmer Merah mencoba mengubah Kamboja menjadi negara pertanian murni dengan cara memaksa jutaan rakyatnya menjadi buruh tani. Bukan hanya itu, Khmer Merah juga menolak penggunaan teknologi modern dengan dalih agar Kamboja bisa menjadi negara mandiri yang tidak tergantung pada dunia luar. Adapun hal yang paling diingat dari Khmer Merah adalah karena semasa kelompok ini berkuasa, sekitar 1/5 rakyat Kamboja harus tewas akibat kombinasi dari bencana kelaparan, penyakit dan pembantaian sistematis.

Membahas sejarah Khmer Merah, maka mau tidak mau kita harus membahas riwayat hidup dari Pol Pot selaku pendiri dan pemimpin kelompok yang bersangkutan. Lahir dengan nama asli Saloth Sar pada tahun 1925, Sar berhasil meraih beasiswa untuk kuliah di Perancis pada tahun 1949. Saat berada di Perancis inilah, Sar mulai berkenalan dengan orang-orang yang menganut ideologi kiri. Saking terlalu asyiknya Sar berkecimpung di dalam dunia mereka, Sar tidak bisa lagi fokus menyelesaikan studinya tepat waktu sehingga ia terpaksa pulang ke Kamboja pada tahun 1953.

Pol Pot, tokoh penting Khmer Merah

Kamboja pada tahun tersebut baru saja memperoleh kemerdekaannya dari Perancis dan berdiri sebagai negara monarki konstitusional dengan haluan politik yang netral. Situasi tersebut lantas mengundang rasa tidak suka dari Partai Revolusi Rakyat Kampuchea (PRRK), partai komunis merangkap kelompok bersenjata yang sudah berdiri di Kamboja sejak tahun 1951 dan memiliki hubungan dekat dengan kelompok komunis di Vietnam Utara. Dan seperti yang sudah bisa diramalkan, Sar langsung bergabung dengan PRRK dan bahkan sukses menempati posisi sekretaris jenderal PRRK pada tahun 1962.

Tahun 1963, Sar dan sejumlah anggota PRRK melarikan diri ke dalam belantara Kamboja karena khawatir akan ditangkap oleh aparat Kerajaan Kamboja. Ketika sedang berada di dalam hutan inilah, Sar melihat penduduk setempat yang pola hidupnya masih primitif. Sar merasa terkesan dengan keberhasilan mereka mencukupi kebutuhan hidupnya sendiri walaupun tidak bersentuhan dengan peradaban modern, sehingga ia pun terinspirasi untuk mengubah Kamboja menjadi negara yang mandiri tanpa harus bergantung pada teknologi modern dan campur tangan negara-negara luar. Memasuki tahun 1966, PRRK mengganti nama resminya menjadi "Partai Komunis Kampuchea", namun kelompok tersebut oleh pihak-pihak luar lebih dikenal dengan sebutan "Khmer Merah".

Tahun 1970, timbul kudeta militer yang dilakukan oleh Jenderal Lon Nol sehingga Kamboja yang awalnya berbentuk kerajaan berubah menjadi republik dengan nama "Republik Khmer". Perubahan tersebut juga diikuti dengan berubahnya sikap Kamboja atau Khmer dari yang awalnya netral menjadi pro Blok Barat. Sebagai wujud dukungannya terhadap Blok Barat, Lon Nol memberi izin kepada pasukan AS dan Vietnam Selatan untuk beroperasi di wilayah Khmer supaya bisa menghancurkan markas-markas rahasia kelompok komunis Indocina (utamanya Vietkong) yang berlokasi di Khmer. Pada periode ini pulalah, Sar mengganti namanya menjadi Pol Pot.

Kombinasi dari lengsernya raja Kamboja yang dikenal dengan rakyat kecil dan banyaknya rakyat Kamboja yang menjadi korban pemboman pesawat-pesawat AS lantas menjadi amunisi baru yang berhasil dimanfaatkan oleh PRRK untuk mencari simpatisan tambahan. Hasilnya, dalam waktu singkat Khmer Merah berhasil menguasai sebagian besar wilayah Khmer dan hanya masalah waktu bagi mereka untuk menguasai ibukota Phnom Penh. Tahun 1975, Khmer Merah akhirnya berhasil menduduki Phnom Penh, sekaligus menegaskan status mereka sebagai penguasa baru Khmer.

Hal yang menarik dari negara Kampuchea adalah kendati negara tersebut mengusung ideologi komunisme dan menerapkan gaya pemerintahan yang sangat otoriter, Kampuchea ternyata mendapat dukungan dari AS dan negara-negara Blok Barat karena AS membutuhkan Khmer Merah untuk melemahkan Vietnam, negara sekutu Uni Soviet di Asia Tenggara. Dukungan serupa juga datang dari Republik Rakyat Cina yang sejak dekade 60-an memiliki hubungan yang kurang baik dengan Uni Soviet. Kebetulan, Khmer Merah juga memendam rasa tidak suka kepada Vietnam karena Khmer Merah curiga kalau Vietnam berusaha menjadikan Kampuchea sebagai negara bawahannya.

Penjara Sekolah Tuol Sleng

Malang betul, dahulu sekolah kemudian diambil alih Khmer Merah menjadi sebuah penjara tak beradab. Kini menjadi musium sekaligus saksi mata bengisnya kekejaman tempo lalu.
Tak lama usai berkuasa, negara Khmer diubah namanya menjadi "Kampuchea Demokratik". Tahun di mana Khmer Merah berkuasa ditetapkan sebagai tahun nol. Sementara untuk mewujudkan ambisinya menciptakan negara agraris yang mandiri dan tanpa kesenjangan sosial, Khmer Merah merelokasi paksa jutaan penduduk Kampuchea ke lahan-lahan pertanian yang tersebar di seluruh negeri untuk dijadikan buruh tani. Akibat relokasi paksa ini, banyak penduduk Kampuchea yang terpisah dari keluarganya sendiri. Rakyat Kampuchea juga diperintahkan memanggil sesama penduduk dengan sebutan "saudara", sementara Pol Pot selaku pemimpin Kampuchea sendiri menyandang gelar "Saudara Nomor 1".

Kebijakan Khmer Merah belum sampai di situ. Buku-buku dimusnahkan karena dianggap bisa meracuni pikiran rakyat Kampuchea. Konsep kepemilikan individu dan sistem transaksi memakai uang tidak lagi diakui.  Bahkan memetik buah liar juga dianggap sebagai tindakan yang terlarang karena kegiatan tersebut dianggap bertentangan dengan prinsip kepemilikan bersama yang diinginkan Khmer Merah. Penggunaan obat-obatan modern dilarang dan rakyat Kampuchea yang sakit hanya diperbolehkan menggunakan obat-obatan tradisional.

Selama Khmer Merah berkuasa, banyak penduduk Kampuchea yang ditangkap dan disiksa hingga tewas oleh aparat negara mereka sendiri. Salah satu kompleks penjara sekaligus tempat penyiksaan yang paling terkenal adalah Tuol Sleng, Phnom Penh. Menurut kesaksian dari orang-orang yang pernah ditahan di Tuol Sleng, anggota Khmer Merah akan menempatkan para tahanan di sejumlah sel, lalu kemudian membawa mereka ke ruangan lain untuk disiksa sambil diinterogasi. Ada pula kasus di mana tahanan wanita melahirkan di dalam penjara karena tidak diperbolehkan meninggalkan selnya, lalu kemudian bayinya diambil paksa oleh anggota Khmer Merah dan dibanting hingga tewas.

Foto korban Tuol Sleng yang kini menjadi penghormatan

Selain menjadikan sisa-sisa anggota pemerintahan lama dan orang-orang yang tidak sejalan dengan mereka sebagai target penangkapan dan pemusnahan, Khmer Merah juga menargetkan orang-orang yang berkacamata (mungkin dianggap karena berpendidikan tinggi seperti pejabat Pemerintah, serta pelajar, dokter, guru, mahasiswa. Ada pula buruh, biarawan, insinyur. Bahkan, ribuan Aktivis Partai) dan yang bisa berbahasa asing karena menganggap mereka sudah dicuci otaknya oleh pemikiran bangsa asing.

Bukan hanya itu, Khmer Merah juga menargetkan para penganut agama dan orang-orang dari etnis minoritas semisal etnis Vietnam yang banyak mendiami kawasan perbatasan Kampuchea bagian timur. Maraknya aksi penyiksaan massal, kerja paksa dan tidak tersedianya obat-obatan modern membuat banyak rakyat Kampuchea yang harus kehilangan nyawanya. Jumlah rakyat Kampuchea yang meninggal selama Khmer Merah berkuasa diperkirakan mencapai 2 juta jiwa!

•••

Dilarang berbicara, senyum dan tertawa apa lagi.

Semua terekam di Museum Genosida Tuol Sleng, sebuah museum yang menyimpan kenangan dan gambaran drama terkeji dan paling biadab dalam sejarah tragedi kemanusiaan di benua Asia. Lalu bagaimana Khmer Merah menggunakan penjara, atau dapat disebut sebagai sekolah karena bangunan ini sebenarnya adalah sebuah sekolah, sebagai kepentingan mereka? 

Langkah kaki saya terhenti tatkala melihat puluhan pengunjung yang tertunduk lesu ketika mengitari musium. Jika di Jogja, saat mengunjungi Musium Dirgantara akan banyak anak-anak yang tertawa riang, di sini pemandangan nampak berbeda. Saya faham dan mengerti, karena bangsa saya pun pernah merasakan kekejaman yang sama. Saya merasa iba dan geram mengenai perang. Perang tidak hanya membinasakan umat manusia namun juga akan menghancur-leburkan suatu kebudayaan!

Yang membuat pusing kepala adalah awalnya museum ini merupakan bangunan sekolah menengah atas bernama Ponhea Yat. Semasa pemerintahan Lon Nol, nama sekolah diubah menjadi Tuol Svay Prey High School. Setelah kekuasaan di Kamboja jatuh ke tangan Pol Pot, pada tahun 1975 sekolah ini diubah menjadi sebuah penjara tempat interogasi dan penyiksaan tahanan yang dituduh sebagai musuh politik Khmer Merah.

Keadaan tempo lalu. Sumber Gambar

Pada masa itu, penjara ini merupakan penjara terbesar di Kamboja dengan tembok seng berlapis dan dilingkari kawat berduri yang padat. Penjara ini dikenal dengan sandi rahasia S-21 yang memiliki arti Security Office 21. Jika dari depan, bangunan museum ini, yang juga sebagai bangunan penjara, berbentuk huruf U dan memiliki empat gedung. Masing-masing gedung terdiri dari tiga lantai.

Pertanyaannya adalah, mengapa sekolah yang diubah menjadi penjara ini tergolong dalam sebuah tragedi yang bengis? Seperti yang disinggung di bagian depan, pada perjalanannya musium yang asal mulanya bangunan penjara ini tidak hanya dijadikan tempat penyiksaan tahanan dari luar kamboja saja, tetapi juga penduduk setempat. Sehingga cukup beralasan jika kemudian apa yang dilakukan oleh Rezim Pol Pot ini dianggap sebagai tragedi kemanusiaan paling keji dan biadab di Benua Asia.

Apa yang dilakukan oleh para penjaga penjara yang juga adalah antek Khmer Merah jauh di luar ambang waras pikiran manusia pada umumnya. Para serdadu penjaga penjara dan juga pengurus penjara ini berhasil dicuci otaknya untuk menyiksa dan membunuh tahanan dengan tanpa rasa bersalah dan penyesalan sedikit pun. Bahkan diantara para tahanan tersebut adalah orang tua dan saudara kandung mereka sendiri.

Gedung-gedung ini diberi nama A, B, C, D dan semuanya memiliki cerita kelam tentang kekejaman Pol Pot. Kelima bangunan di kompleks tersebut diubah pada bulan Agustus 1975, empat bulan setelah Khmer Merah memenangkan perang saudara, sekolah tersebut diubah menjadi penjara dan tempat interogasi pusat. Khmer Merah mengganti namanya menjadi "Penjara Keamanan 21" atau "Kompleks (S-21)" dan pembangunan dimulai dengan menyesuaikannya dengan Penjara untuk narapidana.

Sekeliling bangunan ditutupi dengan Kawat Berduri dan dialiri listrik, ruang kelas diubah menjadi penjara kecil yang disekat dengan tembok beton dan ruang penyiksaan, dan semua jendela ditutup dengan jeruji besi dan kawat berduri untuk mencegah tahanan kabur dari tempat tersebut. Walau dapat dikatakan tidak mungkin para narapidana tersebut dapat melarikan diri.

Penjagaan super ekstra bagi para narapidana agar tak kabur.

Setelah tiba di S-21, tahanan itu difoto dan diharuskan untuk memberikan biografi rinci mereka, dimulai dengan masa kecil mereka dan terakhir dengan penangkapan mereka. Setelah itu, mereka dipaksa untuk membuka pakaian mereka, dan harta benda mereka disita. Para tahanan kemudian dibawa ke sel mereka. Mereka dibawa ke sel yang lebih kecil dengan ukuran 10x16 yang disekat dengan dinding beton. Mereka ditahan di sel besar secara masal yang terikat dengan potongan panjang batang besi.

Difoto dan memberikan informasi mereka.

Para tahanan tidur dengan kepala di arah yang berlawanan. Mereka tidur di lantai tanpa tikar, kelambu atau selimut. Mereka dilarang berbicara satu sama lain. Hari-hari mereka di penjara mulai pada pukul 4:30 pagi ketika tahanan diperintahkan untuk membuka pakaian mereka untuk diperiksa. Para penjaga memeriksa untuk melihat apakah jeratan itu longgar atau jika tahanan memiliki benda tersembunyi yang mereka bisa gunakan untuk melakukan bunuh diri.

Selama beberapa tahun, beberapa tahanan berhasil membunuh diri mereka sendiri, sehingga para penjaga sangat hati-hati dalam memeriksa jeratan dan sel. Para tahanan mendapatkan makan satu mangkuk kecil bubur nasi dan sup encer dua kali sehari. Minum tanpa meminta izin penjaga mengakibatkan mereka dipukuli.

Penjara tersebut memiliki peraturan yang sangat ketat, Penganiayaan berat yang ditimpakan kepada setiap tahanan yang mencoba tidak mematuhi. Hampir setiap tindakan harus disetujui oleh salah satu penjaga penjara. Mereka kadang-kadang dipaksa makan kotoran mereka dan minum air seni mereka. Kondisi tidak higienis di penjara menyebabkan penyakit kulit, kutu, ruam, kurap dan penyakit lainnya.

Dari tahun 1975 sampai 1979, diperkirakan 17.000 orang dipenjarakan di Tuol Sleng. Perkiraan lain menunjukkan angka setinggi 20.000, meskipun jumlah sebenarnya tidak diketahui. Setiap satu hari, 1.000-1.500 tahanan dibunuh dan disiksa. Mereka berulang kali disiksa dan dipaksa untuk menyebutkan anggota keluarga dan rekan dekat, yang nanti pada saat gilirannya ditangkap, disiksa dan dibunuh.

Pol Pot dan Sebuah Renungan

Perang menyeret manusia ke situasi ekstrem, di mana insting bertahan diri menjadi dominan seraya dengan mendungnya akal budi komunikatif untuk mencapai kesaling pengertian. -Jürgen Habermas

Selesai sudah penulis menulis sekelumit sejarah memilukan dari negara tetangga dekat kita. Bagaimana pada saat itu, manusia di Kamboja tidak diperlakukan layaknya manusia. Mereka bahkan dipandang lebih hina dari pada seekor hewan sekali pun.


Pol Pot adalah sebuah contoh penggunaan Marxisme yang masih menjadi ideologi dasar dan terutama bagi mereka yang baru saja lepas dari kungkungan rezim otoriter militeristik dimana Marxisme masih memukau seperti surga yang nyata di dunia dengan teori-teori pembebasannya. Padahal, di Eropa, Marxisme digunakan sebagai alat analisa pemikiran. Artinya peran Marxisme lebih berlaku pada perdebatan-perdebatan intelektual filsafat dalam melahirkan berbagai varian.

Pol Pot, menurut pendapat saya, adalah salah satu contoh manusia yang gagal menerapkan nilai Marxisme dalam dirinya. Pol Pot memang menjalani serangkaian percobaan untuk menjadi sebuah masyarakat sosialis. Namun, Pol Pot menekankan kemandirian, gerakan ini lantas berubah dari dari akar komunis menjadi bersifat nasionalisme Kamboja. Elemen Therewada Buddhisme juga membantu gerakan semakin menjauh dari ideologi komunisnya.

Herakleitos berujar, tidak ada yang tetap dan abadi, semuanya berubah, tanpa henti. Ya, begitu halnya dengan sebuah perang. Perang menyebabkan dunia yang dihayati individu menjadi cacat, karena ia hanya melihat separuh dari realitas, yakni kegelapan itu sendiri. Mata dari pikiran menjadi buta. Agresi dan emosi meringkus nalar, dan menggantikannya menjadi dendam.

Sudahlah, biarlah Pol Pot tamat di masa lengsernya. Jangan sampai ada Pol Pot-Pol Pot lain di muka bumi ini. Biarlah Kamboja saat ini mengembangkan pikiran, rasa, intuisi, imajinasi dan ingatan adalah simbol dari harapan yang membuat Warga Kamboja tetap ingat alasan keberadaan dirinya, baik untuk dirinya sendiri maupun bagi masyarakat dunia sekali pun.

Be strong Cambodia!


___________________________________________________

Referensi:

Chandler, David. 1993. A History of Cambodia. Colorado: Westview Press.

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. 1985. Kamphuecha Tahun 1975 s/d 1985. Surabaya: Airlangga.

Forbes, Andrew; Yulius Erfan; Henley, David. 2013. Travellers: Kamboja. Jakarta: Elex Media Komputindo dan Kompas Gramedia

http://news.bbc.co.uk/2/hi/asia-pacific/78988.stm

http://www.cambodia.org/khmer_rouge/

http://www.pbs.org/pov/enemies/photo-gallery-timeline-cambodia-khmer-rouge/#.VgU1cd-qqko

http://www.re-tawon.com/2015/09/khmer-merah-kelompok-penuh-darah-dari.html


Mybllshtprspctv®

0 komentar:

Post a Comment

close
Banner iklan disini