Home » , » Sepi Sekali Hari Ini

Sepi Sekali Hari Ini


Oleh: Gusti Aditya

Kepada Tr,

Hari ini aku memungut nasi yang jatuh ke tanah untuk yang keseribu kalinya. Lauknya beragam, setelah aku terakhir kali berjumpa dengan kau. Kadang sayur-mayur, kadang pula hanya nasi yang entah kenapa lidahku masih merasakan nasi goreng buatanmu kala itu. Enak, sedikit pedas namun aku yakin engkau membuatnya sepenuh hati menengok padatnya jadwalmu kuliah dan praktik lapangan yang begitu bejubel.

Kisah cinta kita sederhana. Tak serumit kisah cinta dalam puisi Chairil Anwar yang berjudul Cintaku Jauh di Pulau. Sedangkan dirimu tak sampai sejauh pelupuk mataku. Harum tubuhmu saja masih dapat aku rasakan walau kita terus saja menjajaki jalan berbeda. Langkah tak lagi sama, toh hati kita bergandengan saat senja menjemput. Berpelukan saat bulan purnama bergelayut.

Sepi sekali hari ini,

Jarak kita tak sejauh Ho Chi Minh City ke Yogyakarta lagi seperti dulu. Sumpah, waktu lah yang ambil andil besar. Bagaimana bisa Banguntapan dan Lempuyangan saja kita tak bisa untuk besua? Sulitkah hingga berkata 'rindu' saja berat? Langit tak secerah dulu, benar?

Engkau menghunuskan ribuan pertanyaan yang bahkan aku tak menyertai satu pun jawabannya. Hai, Tr-ku yang indah, rindu tidak kala kita berdebat panjang tentang nama yang layak kita sematkan untuk seekor bayi cicak? Kau ingin nama 'Cici', sedangkan aku ingin nama 'Papadopulos'. Bahkan detail pipimu yang menggembung kala itu, aku masih ingat dengan jelas.

Sepi sekali hari ini,

Panas tubuhku mulai lagi. Entah karena malaria lagi atau penyakit baru yang akan singgah dan minum kopi bersamaku dalam waktu yang tak menentu. Bahkan panasnya keningku jauh mengalahkan kedigdayaan sang surya. Ah, andai kau datang, mungkin sudah menjadi puisi dengan jutaan rima yang bergantung mesra.

Di kamar ini aku bergulat melawan perasaan yang entah bagaimana aku bisa terjerembab di dalamnya. Mungkin semacam black hole yang menyerap apa pun di depannya. Jika benar, aku ingin wujud asli black hole adalah kau. Dan dengan sudi aku akan melewatimu sepanjang waktu.

Hari ini kau pergi ke Surakarta. Tandanya apa? Tandanya waktu bersua kita semakin lama. Tandanya apa? Tandanya adalah hari-hari sepi ku kian menghantui dan akan membunuhku tiada ampun.

Wahai poros bumi, biarlah aku membantumu. Walau berat, setidaknya aku memiliki kawan.

Wahai binatang jalang dari kumpulan yang terbuang, aku ingin menjadi sepertimu. Setidakny, sudah tidak ada yang mengharapkan hidupku.

Wahai engkau yang ingin menjadi peluru, apakah aku harus menjadi seperti dirimu? Dibuang tanpa ada yang menemukan. Proletar merindukan namun borjuis tertawa riang.

Tr, sepi sekali hari ini.

Mybllshtprspctv®

0 komentar:

Post a Comment

close
Banner iklan disini