Home » , » Tak Bisa Pindah dan Aku Tersesat di Belantara Planet Mars

Tak Bisa Pindah dan Aku Tersesat di Belantara Planet Mars



Aku ingin belajar bagaimana cara berjalan tanpa menggunakan kaki. Bahkan jangan sampai langkahku mengenai tanah sejengkal saja. Teringat langkahku malam itu. Menyusuri gelapnya malam, seorang diri ditemani hujan. Engkau di asrama sukma, menanti aku hingga semua henti.

Menanti kabar yang tak kunjung aku berikan.

Aku lahir dari doa-doa yang ibuku kultuskan kepada Sang Absolut bahwa aku segera menginjakan kaki di bumi pertiwi ini. Bahkan doa yang ibuku panjatkan, terkesan diam. Karena langkah kakinya lah yang menggoreskan segalanya, bukan ucapan penuh rima namun nihil aksi nyatanya.

Engkau harus tahu itu.

Aku bertahan ribuan milenium, berjalan hingga terseok-seok untuk menuju kau. Aku mengantarmu sedari gelap, bahkan aku tak tahu kakiku menginjakan tanah apa dan di mana. Yang terpenting aku menjaga dirimu dari aku.

Dari sisi buas ku.

Kau tahu, bahwa dunia itu berputar pada porosnya? Bertaruhlah jika suatu saat semua ini akan henti. Paras ayumu akan menjadi debu. Debu yang siap terbawa oleh angin dan entah angin membawa jasad itu ke mana. Semua mengalir. Panta rei.

Di ambang batas. Aku tersesat di luar angkasa.

Ciri wanita yang aku cari adalah dirimu. Aku kagum saat engkau membawa buku Ernest Hemingway, dikala ribuan perempuan lain menghabiskan waktunya di dunia dimensi ketiga yang ia genggam. Pula aku kagum akan wajahmu yang ditumbuhi jerawat, dikala trilyunan wanita lain bersolek untuk prianya dan pria lainnya.

Aku membayangkan bahwa surga itu kamu

Pagi ini nampak cerah. Aku keluarkan tubuhku yang enggan untuk keluar. Langit membisikan bahwa aku sangat perlu bertemu denganmu. Sedetik saja. Ah, tidak, bahkan aku ingin lebih dari satu abad. Sulit, kala jarak sudah bermain peran di kisah cinta ini. Belum lagi sang waktu, seakan menjadi antagonis di dalam hubungan ini.


Aku mempersiapkan roket

Bandara terasa pengap. Koperku berwarna merah terang dan aku rasa tak ada apa pun di dalamnya. Bersiap saja dan bergegas seakan aku akan melihat senyum termanismu. Elok lekukan mulutmu yang aku rindu. Apa lagi kala lesung pipitmu sudah kau umbar di indra pengelihatanku.

Enggan aku menuju bulan, lebih baik ke Mars sahaja

Hitung mundur sudah berlalu. Entah ini roket atau perasaan rinduku. Semua nampak sama, bergerak namun tak berpindah. Ingin namun sulit untuk menjadi mungkin. Semua rumit bahkan rasanya sangat melilit. Ah, susah betul pergi menemuimu, sedetik saja, ah, tidak, aku ingin satu abad.

Tubuhmu adalah puisiku. Aku lah yang memberimu kata-kata, namun engkau lah yang membuatnya indah. Aku mencoba memberimu arti, namun senyummu lah yang menjadikannya sejati. Aku tak kuasa lalu mengkatupkan mataku, semua percuma bahwa hingar bingar namamu selalu saja riuh di telangaku.

Terjebak di sebuah tempat tanpa gravitasi. Melayang-layang di ambang batas. Padahal, hari ini adalah hari yang spesial bagi diriku dan barangkali bagi dirinya. Ini adalah hari jadi kami yang keseribu tahun dan sepuluh tahun sesudah kematianku.

Aku rasa ini waktu yang tepat untuk menyudahi

Aku ingin berpura-pura menjadi boneka-boneka favoritmu, agar aku dipeluk. Aku ingin menjadi syal rajutan ibumu, agar aku mengerti bagaimana hangatnya lehermu itu. Aku ingin telanjang bersamamu, engkau menuliskan sesuatu di dadaku, kelak hal itu akan menjadi tato abadi dalam tubuhku.

Aku ingin kita berhenti di rel kereta saat sebuah kereta melaju cepat, saat kereta datang mendekat, aku akan mendorong tubuhmu menjauhi rel tanpa sekat. Tak apa. Biarlah saja aku begini, toh hanya sebuah kata-kata saja.

Ketika aku di Mars dan kau di Bumi. Rasanya ingin melampiaskan. Namun, ibuku berujar, bahwa "apa yang kau lakukan adalah apa yang aku ajarkan."

Aku tak ingin membuatmu terluka, terlebih, membuat ibuku kecewa.

Gusti Aditya
020217 Pukul pagi, Sudah setengah tahun bersama dia,
Tersesat di Planet Mars, sengaja tak menyelipkan kata 'rindu',
Bukan malu, tapi ragu. 

0 komentar:

Post a Comment