Berkenalan dengan Kaum Sofis

Sumber Gambar: praxeology.net
Disusun Oleh: Galih Rio Pratama

Perioda filsafat Pra – Sokratik berakhir dengan kemunculan kaum Sofis. Walaupun filsafat alam, dan idealisme Elea belum mampu memuaskan hasrat intelektual manusia, akan tetapi kedua mazhab filsafat tersebut mampu membantu kelahiran aliran baru filsafat, yaitu skeptisisme. Benih – benih ajaran skeptik dapat terlihat pada karya – karya filsuf awal tersebut. Ajaran Heraklitos yang mana menolak keajegan, dan memandang segala sesuatu merupakan perubahan; dan filsafat Elea yang menyatakan bahwa segala sesuatu yang berasal dari pengalaman merupakan bentuk pengetahuan yang keliru, yang akan tetapi kekeliruan itu justru membantu kita untuk melawan kebenaran mutlak yang menindas alam bawah sadar kita, karena seluruh pemikiran manusia tidak lebih dari sekedar kekeliruan belaka. Pemikiran manusia tidak akan menggapai kondisi ‘ada’ (to on) yang sejati, karena ‘ada’ yang sejati itu sendiri tidak ada. Ketika dihadapkan pada situasi pemikiran seperti ini, adalah masuk akal jika kita memilih untuk menjadi skeptis.

Pandangan tentang ketiadaan kebenaran yang mutlak inilah yang menjadi dasar bagi pemikiran kaum Sofis. Pengajaran filsafat mereka tidak lebih dari sekedar skeptisisme naif. Kaum Sofis tidak percaya akan keberadaan ‘ada’ ultima, dan kemudian menyerang kelompok yang mempercayainya. Di bawah pengaruh skeptisisme naif, kaum Sofis bukan saja menolak kebenaran mutlak bagi diri mereka sendiri (seperti penganut Pyrrhonisme dikemudian hari), tetapi kaum Sofis juga menggunakan dasar pemikiran ini untuk melegitimasi tindakan – tindakan amoral mereka di zaman itu. Kaum Sofis dengan berani mengungkapkan pandangan mereka tentang kebenaran kepada publik, dan berusaha mempengaruhi mereka dengan pandangan yang bersifat Sofistik, yang mana menyatakan bahwa pencarian kebenaran ala filsafat klasik merupakan kegiatan yang sia – sia. Ketika kebenaran mutlak bukanlah suatu kenyataan, maka moralitas; keadilan; dan agama akan kehilangan legitimasinya, dan karenanya harus segera ditanggalkan.

Dalam kajian tentang kemunculan ajaran Sofistik, kita harus menyertakan tinjauan sosial – politik bangsa Yunani saat itu. Pemikiran Sofistik yang sangat tidak filsafati ini hanya dapat dijumpai pada zaman ketika setiap orang malas untuk berpandangan hidup yang serius. Hal ini persis terjadi ketika kaum Sofis mencapai kejayaannya di Yunani. Pada akhir perang melawan bangsa Persia, publik polis Athena mendapati dirinya pada posisi sangat unggul. Kemajuan pesat yang terjadi di bidang ilmu pengetahuan, dan seni budaya diikuti dengan perkembangan sistem politik. Situasi bergelimang kemakmuran ini perlahan namun pasti, turut mempengaruhi gaya hidup publik Athena menjadi lebih nyaman ketimbang tahun – tahun ketika masih berperang. Tetapi, kemakmuran, dan kenyamanan hidup ini pula yang dengan segera menjelma menjadi penurunan moralitas publik, korupsi di kalangan orang – orang terkemuka, menurunnya kepercayaaan akan dewa – dewi, dan akhirnya sikap publik terhadap kebenaran objektif tampak lebih skeptik.

Penyebab langsung yang berkontribusi pada kejayaan kaum Sofis berkaitan dengan stabilnya sistem demokrasi Athena ketika itu. Sistem demokrasi Athena turut serta mengembangkan retorika sebagai seni berbicara. Pidato kemudian dianggap hanya sekedar ekspresi pikiran sang orator dengan menekankan pada bentuk, bukan pada substansinya. Pidato kemudian menjadu semacam seni berbahasa yang didesain untuk mengimpresi pendengar dengan penekanan pada kemegahan kata – kata belaka, dan hal ini digunakan untuk menarik perhatian warga negara Athena untuk mencapai kesepakatan pada putusan yang diinginkan oleh sang orator. Pada bidang inilah kemudian profesi para Sofis nampak penting. Kaum Sofis merupakan pendiri sekolah retorika, tempat dimana para pemuda kaya Athena belajar seni berpidato. Melalui kursus – kursus retorika berbayar inilah kaum Sofis menjadi berpengaruh dalam dunia pendidikan Athena kala itu. Pidato, bagi mereka hanya sekedar keterampilan untuk menarik perhatian pendengar melalui eksposisi diskursus tentang subjek tertentu, yang terlepas dari pertimbangan benar/salah, dan baik/buruk dari permasalahan yang hendak dibicarakan. Keterampilan berpidato begi kaum Sofis hanya merupakan kemahiran dalam mempertahankan, ataupun menyangkal argumen dalam posisi apapun.

Demikian kiranya pandangan kaum Sofis tentang filsafat. Suatu subjek yang hingga zaman moderen masih mendamba akan kebenaran yang sejati, dipandang sebagai ‘hamba’ retorika kosong yang digunakan sebagai sarana untuk menarik perhatian pendengar dalam pidato. Dalam kacamata kaum Sofis, kebenaran objektif bukanlah sesuatu yang penting. Kaum Sofis menempatkan kebenaran/kesalahan secara manasuka, agar mereka dapat menarik perhatian pendengar, sehingga pendengar dapat dipengaruhi argumen mereka. Kaum Sofis akan mempraktikan secara langsung skeptisisme naif sebagai landasan profesi mereka.

Sebagai pembelaan, mereka akan mengatakan premis, bahwa tidak ada sama sekali yang disebut sebagai kebenaran objektif, karenanya segala bentuk kebenaran lantasbersifat individual, dan untuk sementara dapat dikatakan bahwa kebutuhan individu merupakan kebenaran itu sendiri. Ketika konsep – konsep keutamaan objektif ditinggalkan, maka ukuran kebaikan, dan kebenaran ada pada masing – masing individu, yang biasanya sesuai dengan kebutuhan sementaranya. Prinsip ini merupakan doktrin utama dari kaum Sofis. Untuk mewujudkan hasrat individual, kaum Sofis memberikan suatu formula yang dianggap tepat pada zaman itu, dan membiarkan setiap individu peserta didik mereka untuk mengembangkan formula tersebut secara lebih lanjut dalam konstelasi politik Athena. Jadi, dalam konteks inilah kaum Sofis berfilsafat. Pengajaran yang diberikan oleh kaum Sofis ini bersifat destruktif dalam tinjauan filsafat moderen (yang amat mendamba pengetahuan akan kebenaran yang utuh).

Kaum Sofis melakukan perjalanan dari kota ke kota, dan mengiklankan diri mereka sebagai pemikir profesional, lalu menawarkan pengetahuan mereka untuk dijual, mirip dengan yang ditawarkan oleh ‘penjaja’ jasa pendidikan akhir – akhir ini (baca: sekolah, bimbingan belajar, dan universitas). Meskipun sebagaimana sama – sama kita ketahui, bahwa pandangan peradaban barat (yang bertumpu pada rasionalitas) sangatlah buruk terhadap Sofis (dalam bahasa Inggris kata sophist berarti seorang licik yang pandai memutarbalikkan fakta), mereka juga menyumbangkan banyak hal yang menjadi fondasi peradaban saat ini. Pengalaman kaum Sofis dalam mendidik para politisi, membuat mereka berjasa dalam mengembangkan ilmu tata bahasa, dan logika.

Mereka juga mengembangkan seni retorika, dan metode ilmiah yang pengaruhnya masih terasa hingga kini. Kita juga berhutang budi pada kaum Sofis, yang mana mereka juga turut berpartisipasi dalam kemajuan ilmu pengetahuan empirik. Sebagai politisi (atau setidaknya pendidik politisi), kaum Sofis tentunya juga wajib memiliki perbendaharaan pengetahuan yang luas terkait sejarah, dan mengenal seluk – beluk berbagai bentuk pemerintahan. Melalui kaum Sofis, kita seringkali berkenalan dengan aneka ragam kesenian, dan syair – syair kuno. Kebanyakan kaum Sofis juga mempelajari ilmu alam. Aritmatika, geometri, astronomi, dan musik merupakan perihal yang akrab bagi mereka. Sistem mnemonics (seni mengingat) pertama kali dikembangkan oleh para Sofis. Akan tetapi, seluruh sumbangsih berarti dari kaum Sofis dalam berbagai cabang ilmu ini, menurut pandangan filsafat moderen, toh tidaklah berarti ketimbang pengaruh buruk mereka dalam fislsafat.

Beberapa kaum Sofis yang berpengaruh, antara lain adalah Protagoras dari Abdera; Gorgias dari Leontini; Hippias dari Elis; dan Prodikhos dari Keos.

I. PROTAGORAS

Protagoras lahir di Abdera sekitar tahun 486 SM. Ia menjalankan profesinya sebagai guru privat pidato di Sisilia, Italia, dan Athena. Ia menyebut dirinya sebagai Sophistês, yang berarti guru kebijaksanaan. Protagoras tidak mengajarkan bidang ilmu yang spesifik, ia mengajarkan kepada anak – anak didiknya tentang keutamaan menjadi warga negara, dan negarawan. Dalam pengajarannya, Protagoras menghapuskan berbagai bentuk pengetahuan yang dianggap tidak berguna. Protagoras didakwa sebagai seorang atheis di Athena karena sebuah risalahnya yang diawali dengan kalimat, “Berkaitan dengan dea – dewi, aku tidak memiliki pengetahuan tentang ada, atau tidaknya mereka. Terdapat banyak hal yang mencegah kita untuk mencapai pengetahuan itu, antara lain, ketidakjelasan subjek, dan kehidupan manusia yang teramat singkat”. Risalahnya dibakar, lalu ia melarikan diri menggunakan kapal yang naasnya ia bersama kapal tersebut tenggelam karena kecelakaan, ia tewas pada 416 SM.

Berangkat dari gagasan Heraklitos tentang segala sesuatu selalu berubah, dan menerapkannya secara begitu saja pada subjek berpikir, Protagoras sampai pada kesimpulan, “Manusia adalah ukuran dari segala sesuatu, untuk segala yang ada, dan tiada”, yang mana melalui pernyataan ini, Protagoras menyatakan, bahwa tidak ada standar dalam segala sesuatu, selain sang individu yang menilainya, atau dengan kata lain, kebenaran merupakan keyakinan yang dipegang oleh masing – masing individu, kebenaran yang sesungguhnya merupakan kebenaran subjektif.

Bahkan menurut Protagoras, aksioma geometri pun tidak mempunyai nilai objektifnya. Mengapa? Dalam duna yang riil, tidak terdapat garis lurus, dan kurva ideal seperti yang diasumsikan dalam aksioma.

Tidak terdapat objek di semesta yang tetap, dan pasti, tentu terdapat perbedaan sekecil apapun dari tiap – tiap ‘individu’ objek yang kita pikirkan mirip, dan hal – hal lain ini tidak bisa digeneralisasi.

II. GORGIAS DARI LEONTINI

Gorgias lahir di Leontini, Sisilia. Gorgas hidup sejaman dengan Sokrates. Sekitar tahun 427 SM, ia tiba di Athena sebagai duta besar dari kota kelahirannya dalam rangka meminta bantuan kepada polis Athena untuk mendukung pertempuran kotanya melawan Syrakusa. Belakangan, ia memperoleh ketenaran akibat kesuksesan pengajaran pidatonya. Baginya, pidato tidak lebih dari sekedar seni mempersuasi. Ia mencemooh guru yang mengajarkan keutamaan hidup. Gagasan utama dalam karyanya, Peri Tou Mê Ontos ê Peri Phuseos, dapat ditemukan dalam risalah Aristoteles (yang dikumpulkan kembali oleh Andronikos), De Melisso, Xenophane, et Gorgia. Ajaran Gorgias sepenuhnya bersifat nihilistik. Pokok – pokok ajaran Gorgias dapat diringkas menjadi suatu trilemma di bawah ini:
- Pertama, tidak ada sesuatu pun,
- Kedua, seaindainya sesuatu ada, maka itu tidak dapat dikenali,
- Ketiga, seandainya sesuatu dapat dikenal, maka pengetahuan tersebut tidak dapat disampaikan kepda orang lain.

III. HIPPIAS DARI ELIS

Hippias berasal dari Elis, Peloponnesos. Ia hidup sekitar tahun 460 – 399 SM. Ia juga dikenal sebagai seorang Sofis yang memiliki wawasan luas di bidang matematika, astronomi, dan arkeologi. Tentunya Hippias juga merupakan seorang orator ulung. Hippias menyombongkan dirinya, bahwa ia mampu berbicara mengenai seluruh bidang ilmu pengetahuan yang berkembang pada saat itu. Platon merujuk pernyataan Hippias ketika menjelaskan pandangan etika kaum Sofis, “Hukum adalah tirani bagi manusia, karena memaksa manusia hidup berlawanan dengan kodratnya”. Jelas bahwa hal yang diungkapkan Hippias melalui Platon ini merupakan suatu paradoks. Kita tidak mengetahui penjelasan detail Hippias tentang pernyataan tersebut.

IV. PRODIKHOS DARI KEOS

Prodikhos berasal dari Pulau Cycladic dekat Keos, di mana sekarang merupakan wilayah pantai barat Turki. Ia hidup sekitar tahun 465 – 415 SM. Prodikhos merupakan sosok guru ternama dalam bidang seni dialektika. Ia mencoba menjelaskan perbedaan antara kata – kata yang berdekatan secara arti, dalam konteks ini ia merupakan pendahulu Sokrates yang memang mengakuinya sebagai guru. Prodikhos dihormati oleh publik Yunani kala itu karena diskursus – diskursusnya yang berkaitan

dengan moralitas praksis, seperti misalnya, “Herkules di Simpang Jalan” yang bercerita mengenai pemilihan karier dalam hidup. Banyak karya – karyanya yang juga bercerita tentang tema – tema moralitas yang cukup mendalam, seperti tentang mengenali kebaikan eksternal, dan kehidupan serta kematian. Melalui diskursus – diskursusnya, ia berharap untuk dapat memurnikan moralitas lewat observasi – observasinya yang tajam.

ꝋꝋꝋ

Masih banyak tokoh – tokoh Sofis lainnya yang tidak dicantumkan di sini, seperti Euthydemos; Dionysidoros; Polos; Kallikles; Thrasymakhos; Kritias; Hippodamos dari Miletos; dll. Masing – masing Sofis memiliki ajaran yang berbeda satu sama lain. Akan tetai, jika ingin ditarik benar merah dalam pemikiran kaum Sofis ini, maka titik temunya dalah pada pandangan mereka tentang kebenaran. Kaum Sofis menganut kebenaran versi Demokritos yang menegaskan, bahwa kebenaran yang hakiki tidak mungkin dicapai melalui pengetahuan manusia. Kebenaran menjadi relatif menurut Sofistisisme. Karena kebenaran merupakan sesuatu yang relatif, maka segala bentuk eidos (idea) tetap tentang to on akan dipertanyakan dengan skeptik.


Sumber Gambar: Mirar también es pensar
 Dalam Sejarah filsafat moderen, banyak yang menuduh kaum Sofis sebagai ‘biang keladi’ keruntuhan kebudayaan Yunani klasik, akan tetapi banyak pula terobosan yang dibuat oleh kaum Sofis. RP. Cornelius Adrianus Maria Bertens, MSC, misalnya menganggap Sofitisisme membuka jalan bagi kelahiran filsafat kemanusiaan. Dunia filsafat postmoderen pasca Nietzsche tentunya berhutang budi pada pandangan relativisme kebenaran dalam Sofistisisme. Seperti yang ditegaskan oleh Heidegger ketika hendak mengkritisi metafisika, bahwa karakter kebenaran tidak pernah sekedar tertampakkan, melainkan juga tersembunyikan. Kebenaran menjadi a–letheia (ketaktersembunyian), yang artinya kebenaran selalu merangkum di dalamnya sesuatu yang ‘masih tersembunyi’.

___________________________________________________

Referensi:

Tulisan ini dikutip dari essay Sandy Hardian.S.H. dengan judul asli Berkenalan dengan Kaum Sofis

Bertens, K.2013. Sejarah Filsafat Yunani. Jogja: Kanisius

Copleston, Frederick. 1993. A History of Philosophy (vol. 1): Greek and Rome. New York: Image Books.

Mybllshtprspctv®

0 komentar:

Post a Comment

close
Banner iklan disini