Home » » Blizzard of 89

Blizzard of 89

Ilustrated by: Robin Thompson
Oleh: Gusti Aditya

Seorang wanita, bertubuh kurus dengan kulit putih pucat melewatiku. Ia menggunakan jaket merah marun dan tampak terlihat resah. Mulutnya berkomat-kamit tanda ia sangat gelisah, mungkin ia sedang mengkultuskan doa atau semacamnya, entah, aku tak mengerti karena aku Atheis.

Gemerlap bintang malam kemarin, kini tak terlihat. Malam ini sangat dingin. Dingin yang datang bersama angin. Mungkin juga bersama gelombang rasa takut wanita itu terhadap Kota Brussel malam hari. Aku faham mengapa ia takut. Bahkan aku sudah sangat hafal.

Sudah dua jam ia termenung di pinggir jalan. Beberapa kali gerombolan pria menghampirinya dan menggodanya. Namun malam hari di Brussel tidak memberi kesempatan untuk pria-pria hina itu menggodanya lebih lama. Sudah Bulan Desember, namun belum ada tanda-tanda salju untuk turun. Memang salju belum tiba, namun dingin tak kemudian enyah.

Jika kalian bertanya apakah aku mengenal wanita itu, maka aku jawab “Ya”. ia adalah anak dari keluarga konglomerat Belgia. Ayahnya dosen di salah satu fakultas di Universitas Hasselt. Sedangkan ibunya di rumah untuk merawatnya dan adik-adiknya. Aku kenal dia, dia cantik. Ya, aku, anak tukang tempa besi yang sedang membicarakan gadis terkaya di desaku.

Aku? Jangan berbicara tentangku. Aku malu. Setidaknya kalian sudah tahu bahwa aku mencintai gadis itu. Kalian tahu aku rela berdiam diri di pinggir danau dekat jalan dengan cuaca Belgia yang menyentuh angka minus sekian derajad ini? Ya, aku ingin menjaga gadis itu. Setidaknya aku bisa memastikan jika dia aman. Aku sudah senang.

Malam ini aku hanya menggunakan kaos lengan panjang. Uap terus menggumpal saat aku bernapas dan menjaga tubuhku tetap hangat. Aku bisa tahu bahwa gadis itu tidak kedinginan, ya, setidaknya mantel mahalnya dapat menahan tusukan udara dingin di malam Bulan Desember  ini. Aku terus menatapnya, dia tak pernah menoleh ke belakang.

Ia adalah seorang pemain harpa yang handal. Setiap tahun aku selalu menyempatkan waktu untuk melihat ia tampil di Théâtre de la Monnaie. Walau harganya mahal, aku selalu menabung. Ia tampil setiap bulan Agustus. Dan Oktober ini, tabunganku baru terkumpul 20 Franc dari 60 Franc. Entah akan terkumpul semua di bulan Agustus atau tidak, aku tak tahu. Semua karena usaha ayahku kian sepi karena perang tak lagi berkecamuk di Eropa. Tempa besi kurang dibutuhkan.

Gadis itu kini tak  ada di pinggir jalan lagi. Ah, aku terlalu banyak ngalamun hingga kehilangan jejaknya. Hingga akhirnya aku mendengar ada seseorang yang bernyanyi:

We welcome winter's wind, the colors of our bones.
Will you collect me and compound?
And clear your mind before the ground gets cold.

Ternyata dia. Ia bernyanyi tepat di depan mataku. “Kau tahu lagunya?” aku masih terdiam dan menatap bulu mata lentiknya. Ia sungguh indah. “Hei?” Ia melambaikan tangannya. “Eh…iya aku sudah hafal.”

    “Bagaimana tidak hafal, sudah dua tahun ini engkau melihat aku di hall.”
    “Maaf.”
    “Kenapa meminta maaf? Aku suka denganmu. Kau baik.”
    “Tidak seperti yang kau bayangkan.”
    “Aku tahu kau menungguku. Kemarin kau menungguku di town square. Hingga tubuhmu membiru dan beku. Pertamanya aku takut denganmu, ternyata kau baik. Kau hanya menungguku tanpa berharap sesuatu apa pun. Iya kan?”
    “Aku tak butuh uang.”
    “Hahaha…aku tahu itu. Kau sangat lah polos.”

Keheningan malam di Kota Brussels sangat membuatku mati, itu setidaknya sebelum ia datang. Sebelum ia menyapa. Entah, aku sangat suka bulu matanya. Begitu lentik khas bangsawan Eropa. Rambutnya ia gelung hingga leher jenjangnya terlihat begitu jenjang. Indah.

Ilustrated by: Robin Thompson
    “Kau tak ingin aku menjadi milikmu?”
    “Eh…”
    “Begini, aku datang ke tempat ini khusus menemuimu. Aku penasaran denganmu. Aku bingung mengapa engkau rela menantiku hingga pagi buta begini. Kau tinggal di Belgia, bukan Indonesia. Ayahku pernah ke Indonesia untuk meneliti rempah. Bulan Desember, katanya seperti spring, bahkan lebih panas dan lembab.”
    “Aku belum pernah ke Indonesia.”
    “Oh… Sungguh pria malang yang sangat polos,” Ia berkata seperti itu bukan mengejek, ia tersenyum begitu gembira.
    “Maaf. Bagaimana engkau bisa pergi malam? Aku kira engkau belum dijemput tadi.”
    “Aku bilang, ini spesial menemuimu. Aku ingin tahu betapa seriusnya kamu. Kau yakin hanya memakai kaos seperti ini?”
    “Maaf, ayahku belum membelikanku pakaian musim dingin.”
    “Lagi-lagi maaf. Kau tak bekerja?”
    “Menjagamu adalah suatu pekerjaan bagiku.”
    “Lalu, aku sebagai bos mu?”
    “I…Iya…”
    “Menyanyilah lagu yang aku nyanyikan tadi.”
    “Blizzard of 89?”
    “Right.”
    “Tapi suaraku…”
    “Aku Bosmu!”
    “Ba…baik.”

We welcome winter's wind, the colors of our bones.
Will you collect me and compound?
And clear your mind before the ground gets cold.
Embers in air, I know it's hard when you're alone, the wind in your hair.
If you were a snowflake, impossibly I'd be the same shape as you.
Spilled coffee in the mornings, you still adore me,
And that's what I love about the cold nights,
'cause your jacket fits me, just my size.

Ketika segerombolan pemuda di pinggir jalan berteriak-teriak karena mabuk, aku malah melanturkan nada yang aku yakin sangat indah. Aku belum pernah bernyanyi begitu serius seperti ini. Gadis itu hanya menatapku pelan, kepalanya ia gerak-gerakan mengikuti alunan lagu, senyumannya membungkus bingkau parasnya yang sendu. Malam ini begitu indah.

Baby, love is like the holidays,
and everyone's here, and this is sincere.
Check that list you made for Christmas day,
'Cause I've been on the rooftop all night.
Giving out gifts to the world so every boy and girl
Can feel the way that I do, every time I see you.

Gadis itu berdiri dan bertepuk tangan. Ia begitu manis dalam balutan jaketnya yang begitu tebal. “Kau pria yang sangat baik. Sangat sangat baik. Selama dua tahun ini engkau mengikutiku, aku berarti telah menjadi bosmu, ya? berarti aku harus menggajimu. Ini uang, tak seberapa, anggap saja gajimu,” Ia tersenyum, namun kali ini begitu bengis. Ia lempar beberapa Franc ke wajahku.

“Hei, pria baik, mulai hari ini, kau aku pecat. Jangan ikuti dan jaga aku lagi.”

Belgia tidak sebebas Amerika Serikat dalam kebebasan pengguaan senjata. Namun, malam ini, seorang gadis berhasil membuatku tersungkur. Bukan karena winchester, bukan juga menggunakan revolver, melainkan hanya menggunakan kata-kata. Kata-kata yang terlalu jahat dari orang yang begitu aku cinta.

Belgia. Semakin dingin saja malam ini.


Ilustrated by: Robin Thompson
___________________________________________________

Nb: Ilustrasi tidak berhubungan dengan cerita
NbNb: Lagu Blizzard of 89 merupakan karya solois bernama The Ready Set

Mybllshtprspctv®

0 komentar:

Post a Comment