Home » , » [Buku] 'My Story' Karya Steven Gerrard, Sebuah Asa yang Terpeleset

[Buku] 'My Story' Karya Steven Gerrard, Sebuah Asa yang Terpeleset



Oleh: Gusti Aditya

Buku ini merupakan hadiah pemberian dia dan mungkin membuat tulisan seperti inilah cara saya menghargai pemberian luar biasa ini.

"Terpeleset dalam penentuan gelar liga!"

Barangkali itulah momok yang paling menakutkan untuk penggemar Liverpool di era kontemporer ini. Bukan masalah lamanya mereka puasa gelar liga hingga dihitung dengan jari tangan dan kaki saja tak cukup. Bukan pula tragedi kemanusiaan Hillsborough yang saya yakin bahwa sebagian penggemar Liverpool belum lahir kala itu. Namun hal ini jauh berbeda. Bukan sulitnya memperebutkan gelar liga melawan para klub yang disuntik oleh multibiliuner asal Russia dan Dubai, bukan juga kala sendu dan membiru atas kejadian 96 korban meninggal akibat berdesakan kala itu. Adalah cara sang legenda menutup karirnya, cara yang jauh dari kata layak bagi manusia yang pernah mengangkat trofi si kuping besar, kala sudah ketinggal 3-0 dari sang rival, di tanah suci bagi para dewa yang monumental.

ꝋꝋꝋ

Steven George Gerrard, atau yang lebih akrab dipanggil StevieG. Pria asal Whiston, Merseyside ini baru saja meluncurkan buku autobiografinya yang berjudul My Story dari penerbit Penguin Books pada tahun 2015 silam. Dua tahun kemudian, tepatnya di akhir Bulan Februari, KPG membawa aroma segar bagi para penggemar klub sederhana ini di seluruh penjuru Indonesia. Ya, KPG menerjemahkan buku ini ke publik ibu pertiwi menengok banyaknya anak bangsa yang memuja bahkan menjadikan sang legenda ini menjadi role model dalam permainan dia bersepakbola.

Dalam buku ini Steven banyak berbicara mengenai peliknya bermain bola. Ia pula yang menceritakan bahwa sepakbola bukan hanya mengenai uang, karir dan trophy, lebih dari itu, bagi dia, sepakbola adalah sebuah arah hidup yang sangat sulit untuk ditebak, namun yang harus dilakukan sang pelaku adalah terus berusaha dan menjalankan apa pun itu. Steven menceritakan menengenai perbedaan Liga Inggris di saat ia memulai karirnya, hingga saat-saat terakhir ia melangkahkan kaki dari Anfield. Steven juga banyak berbicara prihal sahabat-sahabatnya semenjak di akademi, hingga Luis Suarez yang meninggalkan dia demi meraih mimpi. Semua tak luput ia ceritakan.
Tidak sulit bersikap disiplin karena sepak bola sangat berarti bagi saya. Hal. 143.
Jika boleh menarik kesimpulan secara serampangan setelah membaca buku berjumlah 494 halaman ini adalah Liverpool dijadikan oleh Steven sebagai sebuah agama. Tidak ada sepatah katapun yang menyebutkan bahwa Bill Shankly adalah Tuhan di ratusan halaman di buku ini, namun Stevie selalu mengatakan bahwa Shankly lah malaikat penolong bagi klub ini menjadi disegani di Britania Raya maupun Eropa. Stevie tak pernah berpikiran bahwa Melwood adalah tempat peribadatan, namun di sini lah ia bertasbis khusyuk dan menjadikan dia begitu superior di mata Liverpudlian. Liverpool adalah segalanya bagi dia, klub sekaliber Real Madrid saja tak bisa membuatnya keblinger.
Saya dan Shankly sehati jika sudah bicara soal menang atau kalah di liga. "Jika kalian juara satu, kalian nomor satu," kata Shankly. "Jika kalian juara dua, kalian bukan siapa-siapa." Hal. 78. Kala Gerrard mengenang 100 tahun kelahiran Bill Shankly. 
Stevie juga membuka kartu As dari setiap pemain yang sudah sangat akrab, maupun pemain yang baru pernah bertemu, atau setidaknya pernah beradu tatap dengan dia. Kesan yang Stevie tangkap, selalu ia gambarkan dengan lugas. Mulai dari Jamie Carragher yang pernah mengotori lantai dengan sepatunya yang penuh lumpur, padahal Stevie baru mengepelnya, hingga Suarez yang bercerita atas keresahannya membela panji Liverpool karena ingin pindah ke Arsenal atau pun tim besar mana saja yang menginginkan dia. Stevie menceritakannya tanpa beban.
Dia tampak seperti prajurit tua berjenggot. Pirlo juga mulai mendekati akhir karirnya, tapi, astaga, dia sungguh berkharisma. Hal. 274.
Stevie terkenal dengan Keloyalitasannya kepada tim. Ia total sudah menghabiskan 57,629 menit bermain untuk klub asal Merseyside ini. Loyal bukan berarti tak ada tawaran yang berdatangan, berondongan peluru berupa jutaan Pound yang dilayangkan klub lain, mulai dari tetangga terdekat di London, yaitu Chelsea, hingga klub dengan galácticos yang mengisi setiap lini, Real Madrid. Semua ia tolak. Bahkan ia mengatakan "Hanya Liverpool yang mampu membuat saya kembali berkata 'tidak'". Hal ini dikarenakan faktor tanah kelahiran dan Stevie merasa sangat berhutang segalanya kepada klub.
Chelsea lagi; Real Madrid dua kali-dan tawaran kedua lebih menggoda karena, sekali lagi, Mourinho-lah yang menginginkan saya. Bermain untuk José dalam balutan kostum Real Madrid, di Bernabéu? Hanya Liverpool yang mampu membuat saya kembali berkata "tidak". Hal. 14.
Alih-alih buku ini akan berkesan sangat membosankan, menengok Stevie tak pernah sekali pun mengangkat trofi liga. Bahkan Stevie mengalami dosa besar di penghujung karirnya dengan terpeleset setelah menerima umpan dari Mamadou Sakho, sehingga bola bergulir ke kaki Demba Ba. Ternyata buku ini mengarah ke berbagai hal yang sebelumnya kita anggap remeh, ternyata hal tersebut adalah kejadian yang berkesan bagi Stevie. Buku autobiografi ini juga membawa kita ke sebuah paradigma baru untuk memandang sang kapten ini.

Sumber: Footythoughs

Dalam buku ini Stevie pernah menghardik para investor tajir dari Negara Beruang Merah hingga Raja dari Timur Tengah. Stevie menganggap bahwa datangnya mereka, berarti kesempatan untuk merajai tanah Inggris menjadi kian pelik. Tetapi Stevie tak pernah menyerah, bahkan menjadikan ini sebagai sebuah tantangan. Di halaman 15 "Salah bila menyebutnya sebagai beban karena, seringnya, rasanya lebih seperti sebuah kehormatan." Bermain untuk Liverpool, bagi dia, tak pernah menjadi beban, malah menjadi sebuah kehormatan.
Rafa mungkin mampu membangun tim yang sesekali bisa mengungguli Chelsea-sekalipun mereka menghabiskan 100 juga pound untuk pemain-pemain baru setiap musim panas. Hal. 46.
Tak hanya Liverpool, Stevie juga banyak menyentil kenangannya dengan Timnas Inggris. Ya, ia adalah kapten Tiga Singa dengan debut terhitung tanggal 31 Maret 2004 dengan jumlah 40 laga sebagai pemimpin tim di lapangan. Ia banyak bercerita selama awal berkarir, hingga di penghujung ia membela panji timnas. Semua terasa sangat emosional kala Stevie bercerita mengenai asiknya ia bermain bersama Wayne Rooney, menengok rivalitas mereka di level klub. Ia juga secara blak-blakan mengatakan kebenciannya terhadap keputusan Stuart Pearce yang hendak menggantikan posisi Gerrard sebagai kapten.
Menurut saya dia egois, mengambil keputusan politis untuk membuat orang berpikir dia punya nyali. Hal. 105. Kala Gerrard emosi karena posisi kapten timnas Inggris hendak diganti oleh Stuart Pearce.
ꝋꝋꝋ

Semua terasa bak roda yang berputar. Gerrard pernah berada di puncak karirnya. Ia dirayu oleh Madrid dan mengangkat trofi Si Kuping Besar setelah mengalahkan Milan di adu pinalti. Sekaligus ia pernah terjerembab di sebuah lobang besar dengan kesendirian yang begitu menyiksa, ya, terpeleset! Tentu, tak ada alasan bagi para Liverpudlian, fans setia Liverpool yang berasal dari Liverpool dan Kopites yang tersebar di seluruh penjuru dunia, untuk marah, menghardik bahkan mengumpat kepada Bapak dengan tiga orang anak wanita ini.

Anda Kopites dan masih menyimpan amarah akibat Stevie terpeleset? Nampaknya anda perlu membaca buku ini. Saya jamin, amarah anda akan berubah menjadi sebuah tangis yang merasakan betapa tertekannya pria dengan 120 gol bagi Liverpool ini.

Sumber: Liverpool Echo

You will never walk alone, Stevie!
Mybllshtprspctv

0 komentar:

Post a Comment