Home » , , » Bunuh Diri Filsafat

Bunuh Diri Filsafat

Sumber Gambar: Pinterest
Oleh: Gusti Aditya

Terdapat pertanyaan fundamental yang muncul dalam kajian di ranah filsafat seperti apakah hidup ini adalah sesuatu yang layak untuk dijalani? kemudian ketika hidup ini tidak sesuai dengan yang kita kehendaki, apakah kita boleh mengakhiri hidup ini? Beberapa pertanyaan itu lah yang menjadi jurang yang begitu lebar di antara para pemikir dalam menjawab semua pertanyaan tadi.

WHO telah mencanangkan 10 September sebagai Hari Pencegahan Bunuh Diri. WHO sudah mencium betapa bahayanya gejala sosial yang bernama bunuh diri ini. Lebih dari 800.000 orang meninggal akibat bunuh diri setiap tahun, belum dengan yang hanya melakukan dalam tahap percobaan saja. Jumlah korban bunuh diri pun lebih tinggi dari jumlah korban perang. Setiap 40 detik, ada orang yang bunuh diri di suatu tempat di dunia ini. Setiap 3 detik, ada orang yang mencoba melakukan bunuh diri.

Plato dan Aristoteles memiliki pandangan fifty-fifty akan fenomen ini. Lebih jauhnya Plato membahas dalam bukunya yang berjudul Phaidon. Baginya, tindak bunuh diri adalah tanda, bahwa orang tidak melihat keluhuran kehidupan. Namun, ia tidak menolak bunuh diri, ketika kehidupan justru menciptakan penderitaan besar yang tak tersembuhkan.

Pun sama dengan murid Plato, Aristoteles, di dalam bukunya Nicomachean Ethics, melihat bahwa fenomena bunuh diri sebagai sebuah tindakan yang perlu didasari oleh alasan-alasan yang kuat. Jika tidak memiliki dasar yang kuat, maka tindak bunuh diri tidak hanya merupakan pelanggaran hak pribadi seseorang, tetapi juga pelanggaran terhadap kehidupan bermasyarakat.

Immanuel Kant tak luput mengkaji mengenai gejala ini. Kant, salah satu filsuf modern, memang sadar jika kehidupan tidak lah selalu ssjalan dengan yang dikehendaki setiap manusia. Kant merumuskan satu prinsip yang dikenal sebagai prinsip kategorische Imperativ. Lebih jelasnya prinsip tersebut berbunyi, bertindaklah sesuai dengan motivasi tindakan yang bisa diterapkan sebagai hukum universal.

Artinya Kant menolak dengan keras tindakan bunuh diri karena tidak sejalan dengan motivasi tindakan yang diterapkan sebagai hukum yang menyeluruh. Bahkan, lebih kerasnya, Kant menyoroti bunuh diri melalui bukunya yang berjudul Metaphysik der Sitten pada 1785, menegaskan, bahwa bunuh diri adalah sebuah tindakan pelanggaran kewajiban orang terhadap dirinya sendiri.

Filsuf idealisme Jerman lainnya, Johann Gottlieb Fichte, memiliki pendapat yang sepintas berbeda dengan kompatriotnya, Kant. Fichte bahkan cenderung menantang dan menganggap pengecut orang yang hendak melakukan tindakan bunuh diri. Fichte membahas melalui bukunya yang berjudul das System der Sittenlehre pada 1798, ia menegaskan, bahwa orang membutuhkan keberanian besar untuk mengakhiri hidupnya. Namun dibutuhkan keberanian yang lebih besar lagi untuk menjalani hidup dengan segala jatuh bangunnya.

Ada lagi pendapat dari David Hume, filsuf empirisme ini berargumen bahwa bunuh diri adalah tindakan memberontak terhadap garis nasib yang diberikan Tuhan. Manusia sudah diriwayatkan dalam pena kuasa illahi dan tak boleh melanggarnya atau menyalahi kodradnya. Bagi Hume, bunuh diri bukan tindakan yang dapat dibenarkan. Meski orang itu pada akhirnya mati, kematian semestinya terjadi secara alami bukan diambil oleh individu itu sendiri.

Kemudian, apakah semua sepaham jika bunuh diri adalah ciri prilaku menyimpang?

Nampaknya berbeda menurut pandangan Nietzsche. Filsuf pembunuh Tuhan ini menganggap jika bunuh diri merupakan hak mendasar bagi setiap orang yang menginginkannya. Nietzsche berpandangan bahwa mentalitas manusia di tengah kehidupan yang tak selalu jelas, ada orang yang memilih untuk putus asa, dan kemudian bunuh diri, atau melarikan diri ke berbagai “candu”.

Hampir serupa dengan Nietzsche, Schopenhauer memiliki pengalam tersendiri karena ayahnya mengakhiri hidupnya dengan melakukan bunuh diri. Schopenhauer berpandangan bahwa world as will and representation, atau dunia adalah representasi dari kehendak manusia itu sendiri. Ketika rasa sakit kehidupan dianggap lebih tinggi dari rasa sakit kematian itu sendiri. Tindak bunuh diri, pada keadaan-keadaan tertentu, adalah tindakan yang masuk akal, dan harus dilihat sebagai tanda kebebasan manusia atas dirinya sendiri.

Jean-Paul Sartre, filsuf eksistensialis Prancis pada abad 20 lalu, punya pendapat yang sedikit bergeser di dalam bukunya yang berjudul das Sein und das Nichts. Baginya, kematian, termasuk bunuh diri, bukanlah akhir dari kehidupan manusia. Kematian tidak selamanya tidak berguna bagi kehidupan, yakni kematian dapat menjadikan epitaf seseorang menjadi abadi. Kematian juga bisa menjadi awal bagi “kehidupan” yang lebih bermakna untuk seseorang.

Filsuf Prancis lainnya, Jean-Jacquest Rousseau, juga menekankan pentingnya hak manusia untuk menentukan dirinya sendiri dan terbebas dalam hal-hal yang membelenggu, termasuk tindakan manusia untuk melakukan bunuh diri. Jika hidup seseorang tidak memiliki nilai baik bagi lingkungannya dan tidak sejalan dengan apa yang dikehendaki oleh masyarakat, maka ia punya hak untuk melakukan bunuh diri.

Karl Meningger, psikiater asal Jerman, memiliki pendapat menarik tentang bunuh diri di dalam bukunya yang berjudul Selbstzerstörung: Psychoanalyse des Selbstmords. Baginya, tindak bunuh diri tidak dapat begitu saja dicap jelek secara moral. Kita harus ingat, bahwa tindak bunuh diri adalah sebuah tindakan yang amat kompleks. Banyak sekali unsur yang terkait satu sama lain.

Analisis penulis, bahwa unsur yang dimaksud Meningger adalah konsep dalam ruang, waktu, masa lalu, masa kini dan masa depan juga menjadi unsur pembentuk keputusan bunuh diri. Masa lalu yang disesali, berbagai peristiwa yang melatarbelakangi keinginan bunuh diri dan faktor masa kini, di mana saat individu tidak dapat menahan semua penderitaan tersebut.

Secara psikoanalisa, Sigmund Freud memandang jika bunuh diri merupakan suatu bentuk agresi yang mengarah ke dalam. Seseorang yang bunuh diri sebetulnya ingin membunuh bayangan kebencian terhadap orang tua mereka sendiri yang ada di dalam diri mereka. Jadi individu ingin melepaskan diri dari image yang dibangun oleh orangtua tersebut.

Sekali dua uang dengan Camus. Di dalam bukunya yang berjudul Mythos von Sisyphos, Albert Camus, penulis asal Prancis serta kawan sekaligus lawan Sartre ini juga menulis topik tentang bunuh diri. Baginya, hanya ada satu masalah filosofis yang layak untuk dipikirkan, yakni tentang bunuh diri. Apakah hidup kita ini layak untuk dijalani, atau tidak? Hidup ini serupa dengan sisipus, seumur hidup hanya bertugas mengangkat batu yang pasti akan terjatuh.

ꝋꝋꝋ

Tanpa sadar, tanpa kita datangi, liang kubur sudah mengnganga untuk melahap kita. Api-api bergejolak bahkan sudah siap membakar kita hingga menjadi debu dalam kumpulan debu kosmik yang tak terhitung jumlahnya. Aliran sungai sudah siap membawa debu kita hingga samsara yang berputar menuju samudera lepas. Lebih kerasnya, peti mati sudah siap menjadi rumah baru tanpa harus kita dijemput. Perlukan bunuh diri?

Filsafat Timur mengajarkan kita bahwa perlunya akan pemahaman terhadap diri. Ketika kita faham dan sadar akan diri, tak pelak dasar kebijaksanaan, kebaikan dan welas asih pribadi akan kita dapatkan dan amalkan. Jika semua sudah dilakukan, maka kita akan menemukan hakekat makna yang terkandung dalam hidup sesuai fungsinya.

Ketika kita mulai menyadari siapa diri kita, untuk apa kita hidup dan kegunaan tubuh yang dihembuskan oleh roh ini akan kegunaannya di masyarakat, bangsa dan susunan kosmos, maka konsep kematian hanyalah sebuah lelucon yang layak untuk ditertawai. Kita merasa abadi karena tubuh maha kecil, dibandingkan dengan alam semesta ini, adalah bagian dari kosmik tersebut. Kita dilahirkan dan akan terus hidup selamanya karena kita adalah inti dari semesta.

Bunuh diri bukanlah sekedar data statistik semata, bukan pula objek kajian yang begitu seksi untuk dikaji, bunuh diri menjadi pelik kala kita memandangnya secara kerdil. Sebaiknya, gejala gangguan kesehatan mental semestinya ditangani lebih serius agar tidak terjadi kasus serupa seperti 'bunuh diri online' yang menjadi viral belakangan ini.

Maknai hidupmu, maka bunuh diri akan menjadi suatu hal yang lucu bagi dirimu. “One must imagine Sysiphus happy.”
___________________________________________________

Referensi:

http://rumahfilsafat.com/

Mybllshtprspctv®

0 komentar:

Post a Comment