Home » , , » Epikureanisme: Tak Perlu Takut dengan Dewa dan Inti Pokok Ajaran

Epikureanisme: Tak Perlu Takut dengan Dewa dan Inti Pokok Ajaran

Sumber Gambar: New Epicurean
Oleh: Galih Rio Pratama

Epikureanisme, dan Stoisime merupakan dua aliran filsafat yang mendominasi era filsafat Yunani akhir, dan awal era Romawi. Kedua aliran filsafat ini, belakangan mengalami popularitasnya kembali bukan hanya di kalangan filsafat, melainkan juga di dunia awam, dan psikologi. Aliran – aliran ini kembali populer, karena filsafatnya bersifat praksis yang bukan saja mencandra kebenaran yang kaku, melainkan juga menawarkan hidup yang dijalani dengan penuh kebijaksanaan, dan kebahagiaan.

Tujuan Epikuros ialah menunjuk jalan ke bahagia. Untuk memperlihatkan jalan pikirannya, yang ditunjuk lebih dahulu ialah musuh-musuh bahagia manusia. Dapatkah bahagia datang, selama ada musuh-musuhnya yang melawan? Tidak. Apakah musuh-musuh itu? Pertama: fatum atau takdir, kedua: dewa-dewa, dan ketiga: rasa takut akan mati. Ketiganya ini menakutkan, dan manusia harus dibebaskan dari ketakutan itu. Bagaimanakah jalannya? Dengan memberi pengertian yang sebenarnya sehingga tampak bahwa ketakutan itu sama sekali tidak beralasan. “Satu-satunya jalan untuk menghilangkan ketakutan itu ialah jika manusia mengerti betul-betul bagaimanakah alam kodrat itu. Andaikata kita tidak takut lagi akan dewa-dewa dan maut, tak perlulah kita mempelajari kodrat”

Bahagia?

Apa artinya menjalani hidup dengan bahagia? Sulit untuk menjawabnya. Kebahagiaan dalam filsafat Yunani, yang mana seringkali diistilahkan sebagai eudaimonia, seringkali tidak berkorespondensi secara tepat dengan apa yang dikenal dalam dunia modern sebagai kebahagiaan. Kita seringkali berpikir, bahwa kebahagiaan itu menyangkut perasaan, di sisi lain filsafat Yunani kerap kali memandang kebahagiaan lebih sebagai kondisi sejahtera, atau nasib yang baik. Meskipun terdapat perbedaan dalam tatanan historis, dan kebudayaan, untuk sementara ada baiknya kita masukkan dulu perihal ini ke dalam kurung. Dalam artikel kali ini kita akan mendiskusikan eudaimonia dalam konteks dunia modern, karena dalam pandangan filsuf seperti Aristoteles, dan para Helenis, memang eudaimonia pada akhirnya merupakan perasaan bahagia karena bersatu dengan kebaikan (summum bonum).

Dalam pandangan Epikureanisme problema kebahagiaan dipandang lebih sederhana. Kebahagiaan menurut Epikurus merupakan akumulasi dari rasa senang, “Kami menyebut alfa, dan omega daripada kesenangan adalah kebahagiaan” (Menoecus). Meskipun demikian, pandangan Epikurus tentang kesenangan tentunya berbeda dengan pandangan dunia modern soal rasa senang. Kesenangan dalam filsafat Epikureanisme, berarti, “Ketiadaan rasa sakit pada tubuh, dan penderitaan pada jiwa” (Menoecus). Kesimpulan – kesimpulan di atas cukup mengherankan, karena pandangan Epikurean, dan Stoik tentang kebahagiaan cenderung menegasikan pandangan sehari – hari kita tentang kebahagiaan.

Penderitaan dalam Jiwa

Filsafat Epikurean berpendapat bahwa penderitaan dalam jiwa disebabkan oleh dua faktor, yaitu kepercayaan yang sesat; dan hasrat yang tidak alami. Mengenai faktor kepercayaan yang sesat, dapat kita lihat pada perasaan takut akan kematian. Filsuf – filsuf Epikurean, layaknya filsuf naturalis lainnya, menganggap bahwa sudah seharusnya manusia hidup seturut alam, maka mereka menganggap adalah hal yang alami bahwa kita takut akan kematian.

Menurut Epikurus, adalah alami jika kita takut pada momen kematian, yang mana memang menyakitkan secara biologis; akan tetapi yang dianggap menyesatkan adalah ketakutan kita pada idea kematian itu sendiri. Argumennya menyatakan, bahwa ketika kita mengalami ketakutan berlebih pada kematian, maka hal itu menunjukkan bahwa kita memiliki kesadaran akan idea kematian, atau idea pasca kematian, yang mana tanpanya kita tidak akan merasa setakut itu,

“Biasakanlah diri untuk menganggap kematian bukanlah apa – apa bagi kita; konsep baik, dan buruk muncul dari kesadaran kita; sedangkan pemikiran yang benar tentang kematian membawa kita dapat menikmati kehidupan mortal ini dengan lebih penuh, dengan jalan bukan dengan mengangankan hidup abadi, melainkan dengan menghilangkan kerinduan akan keabadian” (Menoecus).

Iman pada yang ilahi juga dianggap membawa kita pada kepercayaan yang sesat. Epikurus menolak pemahaman populer semasa hidupnya, yang mana beranggapan bahwa dewa – dewa merupakan sosok temperamental yang bertanggungjawab pada kelangsungan hidup – mati manusia, dan menghukum manusia karena berbagai alasan yang baginya tidak masuk akal, ia menawarkan pendekatan ilmiah dalam menjalani kehidupan,

“Jika kita tidak pernah merasa terusik dengan peringatan yang dsampaikan melalui fenomena astronomis, dan atmosferis… kita tidak akan berminat untuk mempelajari limu alam” (Doktrin – Doktrin Pokok, 11).

Penyebab lain kegelisahan jiwa adalah hasrat yang berlebihan. Filsafat Epikurean mengkategorikan hasrat menjadi hasrat alamiah, dan hasrat tidak alami. Hasrat tidak alami inilah yang harus dihindari,

“Kita harus merefleksikan hasrat – hasrat kita, sebagian merupakan hasrat alami, dan lainnya hasrat yang sama sekali tanpa dasar; dan hasrat – hasrat alami ini memang dibutuhkan untuk hidup. Beberapa hasrat yang mana tidak alamiah, maka tubuh haruslah mendisiplinkan diri, dan hasrat tersebut hendaknya disingkirkan, jika kita ingin mencapai kebahagiaan” (Menoecus, 5).
Terdapat ihwal menarik di sini, bahwa untuk memperoleh kebahagiaan (pemenuhan hasrat yang dibutuhkan), terdapat prasyarat, yaitu pembedaan hasrat secara tegas antara hasrat alamiah, dan hasrat tidak alami, perlu dilakukan prioritas di antara keduanya.

Jika kita terus berupaya mengejar hasrat tidak alami (hasrat tidak wajar), maka kita akan dihadapkan pada risiko bukan saja rasa sakit pada tubuh, tetapi juga ketidakstabilan dalam jiwa, karena pemenuhan hasrat tak wajar ini sama sekali muskil, sedangkan hasrat alamiah umumnya dapat dipuaskan secara lebih mudah. Pada titik ini, mungkin pandangan Epikurean mirip dengan Stoisisme.

Filsuf – filsuf Stoik juga mengklasifikasikan hasrat menjadi dua bagian, hasrat alamiah, dan hasrat tidak alamiah. Akan tetapi, idea Stoisisme tentang apa yang alamiah akan nampak sedikit berbeda dengan pandangan Epikurean.Pandangan Epikurean tentang hasrat – hasrat alamiah difokuskan pada kebutuhan dasar fisik, dan sosial, seperti makan, minum, seks, persahabatan, dan lainnya.

Seperti kebanyakaan filsuf Yunani lainnya mengidentikan yang alamiah dengan yang rasional, kaum Stoik menitikberatkan pandangan alamiahnya pada rasio universal; jadi, jika pandangan Epikurean tentang hasrat – hasrat alamiah berkaitan dengan kebaikan inderawi indvidual, pada Stoik hasrat – hasrat alamiah dipandang sebagai hasrat yang baik bukan hanya untuk individu – individu tertentu, melainkan juga sesuai dengan kosmos semesta.

Menuruti hasrat – hasrat rasional secara normal akan menghadirkan rasa senang, dan bermanfaat, akan tetapi pada beberapa kasus, dapat dilihat, bahwa keutamaan bagi kaum Stoik akan berbeda dengan para Epikurean. Sebagai contoh, dapat kita temukan pada diri Marcus Aurelius, yang mana melakukan tugasnya sebagai Kaisar secara mengagumkan, padahal secara personal ia tidak memiliki hasrat untuk melakukan tugas itu.

Mari kita simpulkan pandangan Epikurean, dan Stoik tentang tindakan irasional. Perbedaan utama antara kedua aliran filsafat ini adalah, jika Epikurean memfokuskan pada pandangan teoretik, seperti ketakutan akan kematian, dan alasan – alasan untuk menyanggahnya; sedangkan pandangan filsafat Stoa lebih bersifat praksis yang berguna untuk mengeliminasi peranan irasional kita dalam keseharian.

Rasa Sakit pada Tubuh

Karena filsafat Epikurean berpendapat kebahagiaan merupakan absennya rasa sakit, tidaklah mengejutkan jika penganut aliran ini memfokuskan diri untuk menghindari rasa sakit. Konsekuensinya adalah jika beberapa kesenangan dapat mendatangkan rasa sakit, maka kita harus menghindarinya, pun demikian sebaliknya jika rasa sakit dapat mendatangkan kebahagiaan di akhirnya, maka kita dapat menerimanya. Contoh yang paling nyata adalah ketika kita berolahraga, kita merasakan sakit – sakit pada otot kita yang sobek, akan tetapi membawa kenikmatan pada tubuh kita dikemudian hari.

Lebih lanjut, pandangan Epikurean tentang rasa sakit yang harus dihindari akan terasa agak rancu di sini, karena Epikurus berpendapat bahwa rasa sakit yang singkat, tetapi tidak kronis dapat diterima demi tercapainya kebahagiaan (Doktrin – Doktrin Pokok, 4). Epikurus berpendapat selama rasa sakit itu membuat bahagia orang – orang yang menjalaninya pada kehidupan normal, maka hal tersebut memang dapat dilakukan. Meskipun demikian, Epikurus menolak metode penyiksaan diri yang membuat ketergantungan, dan akhirnya menimbulkan kesengsaraan.

Ajaran mengenai Logika

Dalam pikiran Epikuros logika sangat diperlukan sebagai jalan. Logika harus menunjukkan norma-norma sehingga yang benar dapat dipisahkan dari yang salah. Dengan demikian, jelas bahwa logika menjadi alat dalam pelajaran fisika dan keduanya merupakan persiapan untuk etika.

Epikuros berpendapat bahwa pengenalan didapatkan melalui pengamatan. Apa yang benar adalah apa yang diamati pada suatu saat dengan indera. Adapun proses pengamatan terjadi dengan demikian: benda-benda di luar manusia melepaskan gambaran-gambaran yang halus yang kemudian memasuki indera, dengan akibat bahwa manusia memperoleh gagasan tentang benda itu.

Sedangkan Demokritos sama sekali tidak menghargai pengertian indera, bagi Epikuros pengertian inilah satu-satunya sumber pengetahuan. Kritik tidak diperlukan sama sekali. Indera manusia menangkap barang-barang yang ada seperti adanya. Tangkapan kita tidak dapat tidak benar. Sesatan barulah dapat muncul jika orang hendak memberi interpretasi atau keterangan tentang tangkapannya. Akan tetapi, tangkapan sendiri tidak mungkin tersesat. Benar atau tidaknya interpretasi itu tergantung dari mungkin atau tidaknya verifikasi atau pembenaran dengan membandingkannya dengan tangkapan yang langsung. Jadi, apakah yang benar? Hanya yang mempunyai verifikasi dengan tangkapan yang langsung: artinya hanya yang dapat dibuktikan dengan pengenalan indera, dengan penglihatan mata, pendengaran telinga, dan lain sebagainya. Di luar itu tidak ada kebenaran

Ajaran mengenai Fisika

Menurut Epicuros, tiada sesuatu pun yang ada, yang ditimbulkan oleh sesuatu yang tidak ada, dan tidak ada sesuatu yang ada, yang kemudian musnah menjadi tidak ada. Jagat raya adalah kekal dan tidak terbatas, dan dibentuk oleh benda yang kita amati dan oleh ruang kosong yang ditempati benda itu. Segala benda disusun dari atom-atom, yang telah ada sejak kekal bersama-sama dengan adanya ruang kosong. Segala atom tidak dapat dibagi-bagi dan tidak dapat binasa. Semuanya memiliki bentuk, berat dan besarnya, sekalipun bentuknya berbeda-beda. Itulah sebabnya maka ada benda yang berbeda-beda juga. Atom-atom itu begitu kecil sehingga tidak dapat diamati.

Semua atom bergerak. Semula, karena beratnya, semua atom bergerak dari atas ke bawah, sehingga seolah-olah ada hujan atom. Tetapi kemudian ada beberapa atom yang menyimpang, yang mengakibatkan pertabrakan dan penimbunan atom-atom. Kejadian ini menjadikan atom-atom akhirnya berputar-putar, yang lebih berat di tengah, sedang yang lebih ringan di tepi. Demikianlah jagat raya ini terjadi karena gerak dan pertabrakan atom-atom. Para dewa tidak ikut campur dalam penjadian jagat raya dan dalam perkembangannya lebih lanjut.

Jiwa tidak lain adalah atom, yaitu atom yang bulat dan licin. Oleh karena itu, pada hakekatnya jiwa adalah tubuh halus yang berada di dalam tubuh. Tanpa tubuh kasar jiwa tidak dapat berada. Setelah orang mati jiwanya dilarutkan ke dalam atom-atom lagi, sehingga jiwa tiada lagi.

Maksud Epikuros dalam mengarang dalilnya itu ialah untuk membebaskan manusia dari ketakutan akan adanya fatum atau takdir dan ketakutan akan dewa-dewa. Akan tetapi, tercapaikah maksud itu? Dalam garis pikiran Epikuros sendiri, dapatkah perbenturan-perbenturan atom-atom itu diubah atau dikalahkan oleh manusia atau dewa-dewa? Jika demikian, apakah atau siapakah yang dapat menjamin keselamatan manusia?

Jika dengan pikiran itu dewa-dewa sudah ”disingkirkan”, masih tinggallah ketakutan akan maut. Epikuros mencoba membantah ini dengan menerangkan bahwa yang disebut mati itu hanya perceraian atom-atom yang sebagai gerombolan merupakan jiwa. Atom-atom itu berlainan dari atom-atom badan; atom-atom jiwa lebih halus, bulat dan licin. Akan tetapi, bagaimanapun juga atom-atom itu juga barang jasmani. Sebetulnya, manusia itu tidak bersangkut paut dengan apa yang disebut mati. Jika atom-atom jiwa kita bercerai, kita tidak ada; dan jika kita ada, atom-atom itu tidak bercerai.

Ajaran mengenai Etika

Di dalam etikanya Epikuros bermaksud memberikan ketenangan batin (ataraxia) kepada manusia. Hal ini disebabkan karena ketenangan batin itu diancam oleh ketakutan, yaitu ketakutan terhadap murka para dewa, terhadap maut dan terhadap nasib. Padahal ketakutan-ketakutan itu sebenarnya tidak ada dasarnya, tidak masuk akal.

Bukankah para dewa tidak ikut campur dalam urusan dunia ini? Di dalam jagat raya segala sesuatu terjadi karena gerak atom-atom. Para dewa tidak menjadikan jagat raya dan tidak mengurusinya.  Mereka menikmati kebahagiaan yang kekal, yang tidak dapat diganggu oleh siapa pun. Manusia tidak mungkin mengganggu mereka.

Oleh karena itu mereka tidak akan mengganggu manusia. Itulah sebabnya orang tidak perlu takut terhadap dewa. Juga orang tidak perlu takut terhadap maut. Bukankah setelah orang mati jiwanya dilarutkan ke dalam atom-atom, kembali kepada asalnya? Oleh karena itu tidak ada hukuman di akhirat. Setelah orang mati ia tidak akan menikmati apa-apa dan tidak akan menderita apa-apa.

Maut bukanlah hal yang jahat atau hal yang baik. Selama kita hidup kita tidak akan mati, sedang jikalau mati kita tidak ada lagi. Apa perlunya takut terhadap maut? Juga terhadap nasib orang tidak perlu takut. Sebab tidak ada nasib. Kita sendirilah yang menguasai hidup kita dan segala perbuatan kita. Atom dapat berubah arah geraknya. Kemungkinan perubahan memang ada. Kita dapat mengubah pengungkapan kehendak kita. Jadi kita sendiri yang menentukan keadaan kita. Tidak ada nasib.

Tujuan hidup adalah hedone (kenikmatan, kepuasan), yang tercapai jikalau batin orang tenang dan tubuhnya sehat. Ketenangan batin timbul jikalau segala keinginan dipuaskan, sehingga tiada sesuatu pun yang diinginkan lagi. Di sini orang hanya akan menikmati saja. Jadi makin sedikit keinginan, makin besar kebahagiaan. Oleh karena itu orang wajib membatasi apa yang dinginkan. Itu tidak berarti bahwa manusia harus mencita-citakan kemiskinan. Kebahagiaan tidak terdiri dari menikmati hal yang melimpah-limpah, sebab juga hal yang sedikit dapat dinikmati.

Yang baik ialah, jikalau dalam keadaan yang konkrit perasaan menentukan perbuatan mana yang akan memberi kepuasan. Jikalau orang terpaksa harus memilih dari antara bermacam-macam keinginan, hendaknya dipilih keinginan yang dapat memberi kenikmatan yang mendalam dan yang lama. Orang bijak tahu seni untuk menikmati selama dan sedalam mungkin. Persaudaraan dipandang penting sebagai sarana untuk menambah kenikmatan. Ketenangan batin yang bersifat rohani lebih berbobot dibanding dengan kesehatan badaniah.

___________________________________________________

Referensi:

Bertens, K.2013. Sejarah Filsafat Yunani. Jogja: Kanisius

Copleston, Frederick. 1993. A History of Philosophy (vol. 1): Greek and Rome. New York: Image Books.

Hatta, Muhammad. 1980. Alam Pikiran Yunani. Jakarta: Penerbit Tinta Mas.

Hardian, Sandi Susanto. 2016. Pijar Filsafat Yunani Klasik. Bandung: Perkumpulan Studi Ilmu Kemasyarakatan ITB (PSIK ITB)

Irwin, T.H. ‘Stoic Inhumanity’ dalam Juha & Troels Engberg-Pedersen (eds.). 1998. The Emotions in Hellenistic Philosophy. Dordrecht: Kluwer.

Maksum, Ali. 2015. Pengantar Filsafat Dari Masa Klasik Hingga Postmodernisme. Jogja: Ar-ruzz Media

Mybllshtprspctv®

0 komentar:

Post a Comment

close
Banner iklan disini