Home » , » Filosof Pra-Sokratik Bagian I: Filosof Milesian

Filosof Pra-Sokratik Bagian I: Filosof Milesian


Oleh: Gusti Aditya

Sebutan ‘Pra-Sokratik’, agaknya kurang tepat karena perkembangan aliran filsafat yang dimaksud ada yang sezaman dengan hidup Sokrates sendiri, dengan Protagoras sebagai pengecualian. Filasafat Pra-Sokratik sebetulnya merujuk pada aliran filsafat yang didominasi pada minat utama untuk meneliti alam, matematika, susunan di dalamnya, dalam rangka penyelidikan tentang asal muasal, komponen-komponen alam, dan untuk memformulasikan hipotesis tentang keberadaan dunia ini, maka dari itu dalam tradisi filsafat, para filsuf dari aliran ini seringkali dinamakan sebagai, Phusikoi. Gagasan Sokrates, yang dilanjutkan oleh Platon, akan lebih memfokuskan pembahasan filsafat di seputar tema-tema sosial – politik, yang nantinya akan membedakan dengan pembahasan filsuf-filsuf alam ini.

Mempelajari mereka adalah suatu kelayakan untuk kita perhatikan, karena mereka mengawali suatu penjajakan pada wilayah pemikiran abstrak yang tidak dikenal sebelumnya, dan akhirnya mampu membuat suatu teori yang teratur, dan pasti, mereka membawa suatu lompatan penting bagi kehidupan kita saat ini. Kita akan belajar banyak hal dengan mempelajari lompatan pemikiran semacam itu.

Miletos; Tempat Lahirnya Filsafat

Setelah sebelumnya kita telah membahas mengenai metode berpikir barat pra-modern, lalu kebudayaan Yunani Kuno hingga peralihan dari mitos menuju logos, kini kita akan menginjakan kaki sekitar abad ke-6 SM. Kita akan menyambangi pesisir Asia kecil yang diduduki oleh Orang Ionia. Mereka berpindah akibat penyerbuan yang dilakukan oleh Suku Doria. Ionia merupakan daerah pertama di negeri Yunani yang mengalami perkembangan sangat pesat, baik dalam bidang ekonomi maupun kultural. Ada Homeros sang penyair tersohor yang hidup di sana. Demikian juga filosof angkatan pertama, yaitu Thales, Anaximandros dan Anaximanes. Lebih spesifiknya mereka tinggal di Miletos.

Miletos merupakan titik temu untuk berbagai macam kebudayaan dan informasi. Tak heran jika tempat ini banyak disinggahi untuk saling bertukar informasi atauhanya untuk berdagang. Kota yang terletak di selatan pesisir Asia Kecil ini, dimana sekarang merupakan pantai barat Turki, sekitar tahun 590 – 530 SM, memiliki pelabuhan yang lumayan ramai untuk disinggahi. Juga Hekataios, seorang ahli ilmu bumi, hidup di kota ini pada waktu yang sama.

Mahzab ini banyak dipengaruhi oleh pemikiran dari Babylonia (khususnya matematika, dan astronomi Babylonia); Mesir; dan timur jauh. Teknologi yang tempo itu berkembang pesat di sana, juga ditengarai, berpengaruh kuat pada kemunculan mazhab filsafat ini. Seperti yang telah dicatat sebelumnya, langkah penting yang telah mereka buat adalah bahwa mereka secara sadar, membuang gagasan-gagasan tentang mistik, dan menggantinya dengan penalaran logis tentang alam.

Umumnya sikap masyarakat Miletos nampak bersahabat terhadap orang-orang asing yang singgah. Kekuatan ekonomi kota ini dipegang oleh kaum pedagang, yang mana pandangan mereka terhadap suatu kepercayaan lebih pragmatis, dan penilaian mereka hanya berdasarkan materi belaka. Perekonomian di sana juga disokong oleh kehadiran tenaga ahli seperti, insinyur; paramedik; penempa; arsitek; dan manajer keuangan. Sementara para pemilik modal, lebih bisa menikmati gaya hidup mewah, meliputi sastra; kerajinan tangan; musik; dan kesenian lainnya.

Pada pemerintahan teokratik, tidaklah memungkinkan ditemukan suatu masyarakat pragmatis, yang mengagung-agungkan kesenian luhur. Contohnya, pada Kekaisaran Mesir tempo itu, yang mana pandangan masyarakatnya sangat dibatasi oleh kekuasaan kaum ‘brahmana’. Sebagai nusa silang – budaya, membuat kepercayaan agama masyarakat Miletos pun beragam. Tampak, bahwa kepercayaan religius berdampak kecil pada gaya hidup masyarakat Miletos. Masyarakat kelas atas di sana hidup dipenuhi dengan kesenian adiluhung, dan mereka menganggap hal ini bukan datang dari Tuhan, melainkan dari usaha manusia.

Kemakmuran Miletos, dan kekuasaan yang terletak di tangan kaum aristokrat pedagang, dan jaminan keamanan dari kerajaan lain, membuat para aristokrat di sana mempunyai banyak waktu luang untuk memuaskan keingintahuan mereka. Selain itu, sikap pragmatis khas pedagang, membantu perkembangan, dan memupuk sikap ilmiah, yang mencakup kemampuan rekayasa, medis, hingga astronomi. Hingga, terdapat semacam ‘perlombaan’ kemampuan ilmiah untuk menarik perhatian warga kota.

Filosof-Filosof Milesian

Thales (640 – 550 SM)



 Sesungguhnya waktu hidup Thales tidaklah diketahui, kita hanya mengetahuinya dari banyak pengulasnya. Ia awalnya merupakan seorang insinyur yang melayani keluarga raja Miletos, dan juga aktif dalam perniagaan di sana. Pada usia paruh baya, ia berkelana ke Mesir dengan niat untuk berdagang, akan tetapi ia malah mempelajari astronomi, dan geometri di sana, sehingga akhirnya ia memutuskan untuk berhenti menjadi pedagang, dan mengabdikan hidupnya untuk filsafat, dan matematika. Ia merupakan pendiri Mazhab Milesian.

Banyak kisah yang dituturkan oleh Aristoteles terkait kelihaian bisnis sebelum ia memutuskan menjadi filsuf. Contohnya, monopolinya pada kilang minyak zaitun, dan kemampuannya merekayasa aliran Sungai Halys dengan membangun tanggul. Ia juga dikenal sebagai seorang yang mampu menghitung jarak kapal yang berlayar ke laut. Ia menjadi terkenal setelah mampu memprediksikan gerhana matahari pada tahun 585 SM.

Bagi Thales, yang menjadi arkhe (prinsip vital yang dapat menjelaskan semesta) adalah air, sebagai hasil permenungannya akan sesuatu yang dapat menyatukan keseluruhan. Pencarian Thales akan suatu keutuhan bukanlah hal baru, akan tetapi gagasannya tentang materi yang dapat mencakup keseluruhan merupakan gagasan orsinal.

Ia juga memiliki gagasan yang agak ganjil, yang mengatakan, bahwa bumi mengapung di atas air (yang sekali lagi, diperolehnya dari bangsa Mesir). Menurutnya, air merupakan materi yang dapat dijumpai dalam beragam bentuk, dan mampu mentransformasikan diri, dan berdiferensiasi menjadi segala macam bentuk yang dapat dijumpai di alam material. Kita tidak mengetahui detail hipotesis ini dalam penjelasan praksisnya.

Anaximandros (610 – 546 SM)


Seperti halnya Thales, Anaximandros juga seorang ilmuwan berbakat, dengan keahlian utama pada astronomi, dan kartografi. Ia merupakan orang Yunani pertama yang membuat peta bumi, dan orang Yunani pertama yang mempersiapkan peta bintang. Ia juga membangun gagasan tentang koordinat benda langit, dengan bumi berbentuk silinder di bagian tengahnya, dan lingkaran konsentris langit di luarnya, sehingga ia membangun model semesta darinya. Bumi tetap diam pada bagian tengahnya, karena ia menganggapnya sebagai pusat simetri, ia nampaknya berpendapat, bahwa terdapat kesetimbangan gaya pada titik tengah ini. Anaximandros menulis sebuah buku yang menerangkan gagasan-gagasan astronomi, dan filsafatnya.

Menurut Anaximandros, yang menjadi arkhe adalah apa yang disebutnya sebagai, apeiron. Apeiron bersifat abadi, tak terbatas, dan tak dapat dilihat. Ia berpendapat, bahwa segala hal berasal dari apeiron., dan berproses dalam jalinan rumit dalam dua prinsip, yaitu panas/dingin, dan kering/basah. Apeiron berproses dalam ‘dialektika materiil’ tanpa henti, hingga menghasilkan dunia seperti yang tampak saat ini. Gagasan Anaximandros tentang apeiron ini cukup menarik, karena ia mengungkapkan konsep arkhe yang berbeda dibandingkan filsuf sezamannya. Ia menganggap, bahwa dunia tampak, itu bersifat fana, dan transien. Segalanya mengalir, dan berubah, kecuali apeiron sendiri.


Anaximenes (585 – 525 SM)


Kita hanya mengetahui sedikit tentang kehidupan Anaximenes. Filsafatnya merupakan bantahan terhadap pemikiran Thales. Ia berpendapat udaralah yang merupakan arkhe, alih-alih air sebagai prinsip pertama. Segala hal berasal dari udara, yang terbentuk melalui proses kompresi; transformasi; dan pengudaraan kembali (rarefraction). Seluruh transformasi ini terjadi akibat panas/dingin, dan kering/basah. Berbeda dengan Anaximandros, Anaximenes berpendapat, bahwa pemanasan/pendinginan bukanlah ‘gejala’ dari arkhe, melainkan hanya sekedar agen perubahan saja. Seperti juga pada Anaximandros, ia juga membangun teori penciptaan surga, dan dunia berdasarkan gagasannya, bahwa yang utama adalah udara.

Kontribusi utama filsuf-filsuf Milesian adalah memperkenalkan gagasan tentang arkhe yang membentuk semesta. Gagasan ini merupakan suatu langkah besar ketimbang kosmogoni yang dianut oleh bangsa Yunani sebelumnya. Para filsuf Milesian membuat ide-ide kosmologis menjadi lebih manusiawi. Gagasan tentang arkhe ini, nantinya mempengaruhi filsuf-filsuf setelahnya tentang gagasan mengenai substansi. Pemikiran Anaximandros tentang apeiron juga sangat menarik, hingga menjadi perdebatan filsuf-filsuf setelahnya tentang gagasan ‘kemenjadian’. Mungkin, dari sudut pandang manusia moderen seperti kita, adalah bahwa filsuf-filsuf Milesian mengajukan suatu proposisi empiris dalam menjelaskan semesta. Pemikiran ini dapat dikatakan sebagai penghipotesaan tentang semesta dalam pandangan pra – ilmiah.

>>>Baca juga Bagian II: Pythagoras dan Heraklitos: Gagasan-Gagasan Tentang Forma

___________________________________________________

Referensi:

Bertens, K.2013. Sejarah Filsafat Yunani. Jogja: Kanisius

Copleston, Frederick. 1993. A History of Philosophy (vol. 1): Greek and Rome. New York: Image Books.

Hatta, Muhammad. 1980. Alam Pikiran Yunani. Jakarta: Penerbit Tinta Mas.

Hardian, Sandi Susanto. 2016. Pijar Filsafat Yunani Klasik. Bandung: Perkumpulan Studi Ilmu Kemasyarakatan ITB (PSIK ITB)

Maksum, Ali. 2015. Pengantar Filsafat Dari Masa Klasik Hingga Postmodernisme. Jogja: Ar-ruzz Media

Mybllshtprspctv®

0 komentar:

Post a Comment