Home » , » Filosof Pra-Sokratik Bagian II: Pythagoras dan Heraklitos: Gagasan-Gagasan Tentang Forma

Filosof Pra-Sokratik Bagian II: Pythagoras dan Heraklitos: Gagasan-Gagasan Tentang Forma


Oleh: Gusti Aditya

<<<Baca juga Bagian I: Filosof Milesian

Problema tentang arkhe ini menjadi tidak akan pernah selesai, tanpa didukung struktur pemahaman yang lebih mendalam. Karena itulah filsuf-filsuf kemudian membutuhkan jaminan ontologis tentang forma yang dapat menjadi dasar dari bangunan pemikiran yang hendak mereka jabarkan.

Mazhab Pythagorean merupakan salah satu jejak intelektual yang terpenting yang pernah ditinggalkan peradaban manusia. Pemikiran mereka, utamanya di bidang matematika memegang peranan penting dalam komunitas matematika sezamannya. Di lain pihak, filsafat Heraklitos merupakan reaksi terhadap filsafat Pythagorean, dan Milesian. Gagasan Heraklitos pun tak kalah pentingnya, jika kita hendak memasuki pemikiran postmoderen dari jalur Nietzschean, ada baiknya kita menengok kembali sajak-sajak mbeling Heraklitos, untuk kemudian membandingkannya dengan aforisme Nietzsche.

A.    Mazhab Pythagorean

Siapakah Pythagoras?

Pythagoras lahir di Pulau Samos, lepas pantai Asia Minor, dekat dengan Miletos, dan Ephesios, sekitar tahun 570 SM. Dikatakan, bahwa ia sebelumnya merupakan murid dari Anaximandros. Pythagoras meninggalkan Asia Minor, kemungkinan karena pemerintahan tiran Polykrates, kemudian ia berkeliling sebagai musafir, dan akhirnya menetap di Kroton, di mana sekarang terletak di Italia Selatan. Di sana ia mendirikan sebuah sekolah yang menurut Platon sangat berpengaruh. Pengikutnya dapat dikenali melalui lambang pentagram, yang mana kemudian aliran filsafat sekolah ini seringkali disebut sebagai filsafat mistik. Awalnya sekolah ini sangatlah berpengaruh di lingkungannya, akan tetapi, sesudah terjadi pemberontakan yang dipimpin oleh Kylon, banyak penganut Pythagorean yang dibunuh.

Pythagoras sendiri melarikan diri ke Metapontum. Sekolah ini kemudian dibubarkan, akan tetapi para penganut Pythagorean yang selamat, seperti Thebes, Phleios, dan Tarentum melanjutkan filsafatnya. Terdapat dua jurusan di sekolah itu, yaitu akusmatematiki, dan matematiki. Kita tidak mengetahui banyak hal tentang sekolah ini, kebanyakan pengetahuan kita tentang Mazhab Pythagorean, umunya berdasarkan catatan-catatan Platon, dan Aristoteles.

Tarekat Pythagorean

Pengikut Pythagoras di sekolah ini, seperti membangun suatu sekte, sehingga merahasiakan pemikiran, dan aktivitas sekolah ini. Sekolah yang dimaksud di sini tampak berbeda dengan pandangan kita tentang sekolah di zaman moderen. Alih-alih menemukan diskusi terbuka yang lazim dijumpai pada kalangan matematikawan, dan filsuf universiter, Sekolah Pythagorean justru tampak seperti biara, dengan berbagai ritual, kode etik, dan larangan.

Tarekat yang didirikan Pythagoras bersifat religius, bukan politik, sebagaimana pernah diperkirakan. Mereka menghormati dewa Apollo.Pythagoras dijunjung tinggi dalam kalangan mereka.Iamblikhos (abad ke-3 sesudah Masehi) melukiskan hidup harian dalam tarekat itu. Tarekat dibuka baik untuk pria maupun untuk wanita.Kalau orang hendak masuk, lebih dulu ia harus menjalankan masa percobaan.Lantas ia boleh masuk, untuk memulai masa latihan yang berlangsung tiga tahun lamanya. Sesudah itu lima tahun lagi ia harus diam-diam dan dalam waktu ini milik kepunyaannya menjadi milik bersama.

Mereka juga mempraktekkan pembacaan bersama. Dan menurut kesaksian Diogenes Laertios (abad ke-3 sesudah Masehi), di waktu malam anggota-anggota tarekat mengadakan pemeriksaanbatin tentang tingkah lakunya pada hari yang lalu. Semuanya itu merupakan cirri-ciri yang mengizinkan kita mengerti kaum Pythgorean sebagai suatu aliran kebatinan.

Selain dari ahli mistik, Phytagoras tersebut juga sebagai ahli pikir, terutama dalam ilmu matematika, dan ilmu hitung kesohor namanya,  banyak pengertian yang dalam berasal dari dia, dialah yang mula-mula sekali mengemukakan teori dari hal angka-angka yang menjadi dasar ilmu berhitung. Dan karena dialah orang mendapat keinsafan, bahwa berhitung bukan saja kecakapan menghitung seperti yang dikerjakan sehari-hari. Orang yang belajar matematika kenal akan segitiga Phytagoras .

Kosmologi


Pythagoras dalam pandangan awam filsafat di dunia moderen ini, adalah merupakan sosok pemikir terbesar semasa Pra – Sokratik. Hal ini mungkin diakibatkan oleh pengaruhnya yang cukup besar pada filsafat Platon, dan Aristoteles. Filsafat Pythagorean bercampur aduk dengan religiusitas mistis yang menganggap penyelidikan rasional merupakan sebentuk bakti pada semesta (kosmos). Kosmos dalam pandangan Pythagorean dipandang sebagai sesuatu yang hidup.

Mazhab ini memberikan argumen yang mengherankan mengenai susunan kosmos karena pertama kali menyatakan bahwa bukanlah bumu yang menjadi pusat tata surya. Menurut mereka, pusat bumi adalah api atau Hestia, yang beredar dari api sentral adalah; kontra bumi (antikhton), bumi, bulan, matahari, merkurius, venus, mars, Jupiter, saturnus dan akhirnya langit dengan bintang-bintang tetap.

Filsafat baginya, merupakan suatu usaha untuk mempelajari, dan memahami kosmos, di mana pada akhirnya, diharapkan filsafat merupakan jembatan bagi kebersatuan sang filsuf dengan kosmos. Kosmos dalam pemikiran Pythagoras merupakan sebentuk tatanan ‘bawaan’ , atau pola kedalaman, yang mana dalam filsafat belakangan dikenal sebagai forma. Ini merupakan ide baru yang mana tidak terpikirkan sebelumnya oleh filsuf-filsuf Milesian yang berfokus hanya pada dunia material.

Ajaran Tentang Jiwa

Bagi Pythagoras, semesta dalah keseluruhan, tanpa suatu akhir (telos); di mana kita (atau setidaknya jiwa kita) merupakan bagian darinya. Pythagoras mempercayai perpindahan jiwa, karenanya penganut mazhab ini dilarang mengkonsumsi daging (karena bisa jadi itu merupakan transformasi jiwa leluhur kita).

Ada peraturan-peraturan mengenai pakaian dan mengenai pantang, hal mana tentu mempunyai hubungan dengan ajaran Pythagoras tentang perpindahan jiwa, dan apabila seorang meninggal jiwanya akan kembali lagi kedunia dan Pythagoras percaya akan kepindahan  jiwa dari makhluk yang sekarang kepada makhluq yang akan datang  yang kemudian masuk kedalam badan salah satu hewan.

Menurut suatu cerita yang maksudnya, barangkali mau menyindir. Pythagoras suatu hari sedang berjalan-berjalan, tampak olehnya seorang memukul anjing, sehingga anjing itu menjadi menjerit. Lalu ia berkata: hai sanak,  jangan dipukul anjing itu didalamnya ada jiwa seorang sahabt ku, terdengar oleh ku, dari pada  jeritnya. Menurut kepercayaan Pythagoras manusia itu asalnya tuhan,  jiwa itu adalah penjelmaan dari pada tuhan yang  jatuh kedunia karena berdosa. Dan ia akan kembali kelangit kedalam lingkungan tuhan bermula, apabila sudah habis, dicuci dosanya itu. Hidup murni adalah  jalan untuk menghapuskan dosanya itu.

Tetapi kemurnian tidak tercapai sekaligus, melainkan berangsur-angsur. Sebab jiwa itu berulang-ulang turun ketubuh makhluq dahulu. Jalan begitu dari tingkat ketingkat ia mencapai kemurnian.

Tetapi tak cukup orang hidup dengan membersihkan hidup jasmani saja. Juga hidup rohani teristimewa harus diperhatikan. Manusia harus berzikir senantiasa untuk mencapai kesempurnaan hidupnya. Menurut keyakinan kaum Pythagoras  setiap waktu orang harus menanggung jawab dalam hatinya tentang perbuatannya sehari-hari. Sebelum ia tidur malam, hendaklah diperiksanya dalam hatinya segala perbuatannya hari itu. Ia harus menanyai dirinya : apa kekuranganku hari ini? Larangan mana yang kulanggar? Periksa peristiwa itu sampai sehabis-habisnya. Jika ada engkau berbuat salah, hendaklah engkau rindu. Jika baik segala perbuatanmu, hendaklah engkau gembira!

Hidup ini menurut paham Pythagoras adalah persediaan buat akhirat. Sebab itu semula dari sini dikerjakan hidup di hari kemudian itu. Berlagu dengan musik adalah juga sebuah jalan untuk membersihkan ruh. Dalam penghidupan kaum Pythagoras musik itu dimuliakan.

Ujung tarekat Pythagoras ialah mendidik kebatinan dengan mencucikan ruh. Pythagoras percaya akan kepindahan jiwa dari makhluk yang sekarang kepada makhluk yang akan dating. Apabila seseorang meninggal, jiwanya kembali lagi ke dunia, masuk dalam badan salah satu hewan. Kesaksian yang tertua tentang Pythagoras berasal dari Xenophanes, juga seorang filsuf pra-sokratik dan kawan sewaktu dengan Pythagoras.

Dalam empat baris sajak ia menceritakan bahwa satu kali Pythagoras mendengar seekor anjing mendengking karena dipukul dan ia menyuruh supaya pukulan itu dihentikan sebab- katanya – dalam dengkingnya ia mengenal lagi suara seorang sahabat yang telah meninggal. Dari kesaksian ini, yang tentu berbentuk sindiran, dapat disimpulkan dengan kepastian cukup besar bahwa Pythagoras sendiri sudah mengajarkan perpindahan jiwa, titik ajaran yang penting dalam mazhab Pythagorean seluruhnya.

Jadi, menurut Pythagoras jiwa itu tidak dapat mati .Sesudah kematian manusia jiwanya berpindah ke dalam hewan, dan bila hewan itu mati, ia berpindah lagi, dan seterusnya. Tetapi dengan menyucikan dirinya jiwa bisa diluputkan dari nasib reinkarnasi itu. Penyucian itu dihasilkan dengan berpantang jenis makanan tertentu, seperti hewan dan kacang. Memenuhi peraturan-peraturan semacam itu adalah unsur penting dalam kehidupan kaum Pythagorean.

Ajaran mengenai Bilangan


Matematika merupakan piranti esensial guna mempelajari forma, dan struktur kenyataan, bagi kaum Pythagorean. Bilangan dipandang sebagai suatu ‘tanda’ keilahian, suatu ‘jalan’ menuju kosmos, dan karenanya sifat-sifat bilangan dapat menyingkapkan pola kosmos. Menurut Pythagoras, segala hal di semesta ini (bahkan keadilan sekalipun), hanya dapat didekati kenyataannya lewat bilangan. Pola yang terpenting dalam semesta adalah hubungan harmonik, yang mana bagi Pythagoras juga ditemukan pada musik. Maka dari itu, kosmologi bagi Mazhab Pythagorean merupakan sebentuk orkestra semesta yang diperantarai oleh bilangan sebagai tangga nada.

Kosmos tidak mempunyai akhir, akan tetapi memiliki awal. Awalnya merupakan sebentuk benih di dalam ruang – waktu ketakterhinggaan, di mana di bagian tengahnya berupa inti yang bernyala. Benih kosmos ini kelak berproses, menjadikan semesta yang tak terbatas, melalui penggambarannya yang distrukturisasi via bilangan. Proses penggambaran semesta ini dikenal dengan istilah, ‘inspirasi’, yang beredar di sekitar pijar api abadi inti. Konsep inilah yang 2000 tahun sesudahnya menginspirasi Copernicus untuk mencetuskan gagasan heliosentris – nya.

Dalam filsafat Phytagoras tidak berkuasa dialam saja tetapi berkuas di matematik. Ia juga berkuasa dalam segala barang, dengan jalan ini Phytagoras sampai kepokok ajarannya yang mengatakan ” segala barang adalah angka-angka”. Demikianlah pengaruh matematikaatas dirinya dan pandangannya, sehingga pada segala barang ia melihat angka-angka tidak lain dari angka-angka yang tampak olehnya dan oleh akrena itu mistik yang dibawakan keangka angka tadi, ia terjerumus kedalam dunia fantasi dengan melekatkan berbagai faham yang ajaib pada angka angka. Menurut kebiasan Phytagoras membedakan juga angka genap dengan angka yang ganjil, tetapi pengertian itu dilanjutkannya. Yang genap itu tidak berhingga, dan yang ganjil itu menentukan. Sebagaimana angka dari pada yang genap dan yang ganjil, demikian juga barang-barang didunia ini tersusun dari pada yang bertentangan, angka yang menjadi dasar ialah satu, angka satu itu genap dan juga ganjil. Jadinya tidak berhingga dan juga berhingga angka tiga ajaib, sebab pada nya terdapat
awal pertengahan dan akhir. Angka  empat maha besar, sebab 1+2+3+4=10. Dan 10 adalah angka yang sepenuh penuhnya, sebab hitungan dari itu keatas tidak lain dari mengulangi saja lagi dari 1 sampai 10.

Demikianlah caranya kaum Phytagoras mengajarkan bahwa semuanya itu angka-angka, dalam segala barang terdapat paduan dan hasil dari pada dasar angka-angka. Angka itu adalah asal dari segalanya. Segala perhubungan dapat ditentukan dengan angka-angka, demikianlah tadi: angka 1 ialah titik,  angka 2 baris, angka 3 dataran, angka 4 badan, selanjutnya angka 1 jugaa dasar laki-laki, angka 2 dasar perempuan. Keadilan juga jiwa dan pikiran tidak lain dari pada angka-angka.

Sumber Terpercaya untuk Menggali Mazhab Pythagorean

Kebanyakan pengetahuan yang kita dapat tentang Mazhab Pythagorean berasal dari Platon. Sangat sulit untuk membedakan pemikiran Pythagoras sendiri, dan tambahan yang diberikan Platon secara manasuka. Filsafat Pythagorean sangat berpengaruh pada pandangan metafisika Platon. Platon mengadopsi keseluruhan gagasan Pythagoras mengenai jiwa yang abadi, dan pandangan matematis dalam mencandra semesta. Platon juga mengikuti pandangan Pythagorean tentang definisi filsafat sebagai sarana kebersatuan dengan yang ilahi. Pemikiran Platon tentang eidos sebagai forma tertinggi juga nampak dalam Mazhab Pythagorean. Pandangan metafisika Pythagoras akan banyak didetailkan oleh Platon.

B. Heraklitos


Hingga kini, para sejarawan filsafat belum menemukan karya orisinal Heraklitos yang utuh. Heraklitos hidup sekitar tahun 500 – 460 SM di Ephesios. Yang menarik dari pandangan filsafatnya adalah penerimaannya terhadap gagasan sehari-hari, yaitu segala yang ‘ada’, selalu berubah. Heraklitos menerima kenyataan yang dinamik ini sebagai yang fundamental di semesta, ketimbang berpegang pada gagasan abstrak tentang ‘ada’ ultima.

Meskipun demikian, Heraklitos juga percaya akan dinamika abadi yang memang telah dirancang sesuai dengan logos universal, atau dalam istilah sains moderen seringkali disebut sebagai formula. Heraklitos berpendapat, bahwa prinsip dari logos adalah keselarasan dalam kontradiksi, dan eksistensi tercipta ketika terjadi pertentangan. Logos ini bersifat material, sekaligus non – material.

Heraklitos menggambarkannya sebagai api, karena selalu bergerak, selalu ‘menjadi’, sebentuk khaos yang membantu segalanya untuk bertransformasi. Semesta ini penuh dengan hal – hal yang bertentangan, awal/akhir; malam/siang; muda/tua; hidup/mati; bangun/tidur; panas/dingin; basah/kering; dll. Jadi, baginya tidak ada sebentuk kesetimbangan statis, melainkan pertentangan tersebut selalu berada dalam kesetimbangan dinamis, antara khaos – kosmos – khaos – kosmos, dst. Segala sesuatu selalu ‘menjadi’ dalam gerak abadi, dan tidak ada kejadian yang sama.

Sangat sulit untuk memahami filsafat Heraklitos, karena fragmen – fragmen yang tersisa darinya seluruhnya dituliskan dalam gaya aforistik. Sementara itu, Platon dengan mudahnya mensimplifiksi filsafat Heraklitos dalam kalimat, “Tidak ada suatu pun yang tetap, segalanya ‘menjadi’ ”. Sejauh ini, masih terdapat perdebatan tentang apakah terdapat ‘ide fiks’ dalam gagasan filsafat Heraklitos. Bagi Heraklitos, segalanya tampak seperti api, pun demikian dengan jiwa manusia.

Terdapat gagasan Heraklitos tentang yang ‘partikular’, cukup berpengaruh dalam metafisika Platon. Bagi Aristoteles, filsafat Heraklitos dianggap sebagai filsafat yang ceroboh, dengan demikian pemikiran ‘Sang Gelap’ tidak diterima olehnya. Meskipun demikian, di era postmoderen, kritik terhadap ontologi banyak yang menggunakan argumen Heraklitos sebagai pisau analisisnya.

>>>Baca juga Bagian III: Mazhab Elea: Memahami Realitas Yang Tak Berubah

___________________________________________________

Referensi:

Bertens, K.2013. Sejarah Filsafat Yunani. Jogja: Kanisius

Copleston, Frederick. 1993. A History of Philosophy (vol. 1): Greek and Rome. New York: Image Books.

Hatta, Muhammad. 1980. Alam Pikiran Yunani. Jakarta: Penerbit Tinta Mas.

Hardian, Sandi Susanto. 2016. Pijar Filsafat Yunani Klasik. Bandung: Perkumpulan Studi Ilmu Kemasyarakatan ITB (PSIK ITB)

Maksum, Ali. 2015. Pengantar Filsafat Dari Masa Klasik Hingga Postmodernisme. Jogja: Ar-ruzz Media

Mybllshtprspctv®

0 komentar:

Post a Comment

close
Banner iklan disini