Home » , , » Filosof Pra-Sokratik Bagian III: Mazhab Elea: Memahami Realitas Yang Tak Berubah

Filosof Pra-Sokratik Bagian III: Mazhab Elea: Memahami Realitas Yang Tak Berubah


Oleh: Alarumba Agamsena

<<<Baca juga Bagian II Pythagoras dan Heraklitos: Gagasan-Gagasan Tentang Forma

A. Parmenides

Parmenides hidup sekitar tahun 515 – 445 SM. Pengetahuan kita tentang gagasan filsafatnya, terutama berasal dari:
- Diskusi ide – ide nya dalam dialog – dialog Platon, seperti Parmenides; Thaetetos; dan Sophistes.
- Kumpulan syairnya yang dibentuk menjadi buku kecil, biasa dikenal dengan judul, Tentang Alam.

Filsuf – filsuf phusikoi masa akhir pun kerap mengutip tentangnya. Menurut Platon, pernah terjadi pertemuan antara Parmenides (kurang lebih berumur 65 tahun); Zenon (40 tahun); dan Sokrates yang masih sangat belia pada tahun 450 SM.

Syair – syair karya Parmenides (terdapat 800 buah syair, dengan banyak bagian yang hilang), merupakan sebentuk mahakarya kasusteraan. Syair – syair tersebut dituliskan sebagai sebentuk imajinasi dari dialog Parmenides dalam perjumpaannya dengan sesosok dewi. Banyak sejarawan filsafat yang menafsirkan bahwa Parmenides menanggap alam pengalaman manusia sebagai sesuatu yang tidak eksis, dan bahwa kepercayaan normal kita akan adanya perubahan, kejamakan, dan bahkan diri kita sendiri, sebenarnya menyesatkan.

Naskah Parmenides terdiri dari tiga bagian:
- Pertama, adalah prooimion, yang merupakan pengantar dari keseluruhan naskah tersebut;
- Bagian kedua disebut aletheia, yang dikenal sebagai ‘jalan kebenaran’, dan juga merupakan wacana filosofis;
- Bagian ketiga adalah doxa, yang dikenal sebagai ‘jalan pendapat’, yang merupakan pengungkapan gejala alam.

Karya Parmenides termasuk yang sulit untuk dipahami, sehngga terdapat berbagai interpretasi terhadapnya, umumnya, dapat dikelompokkan tiga aliran interpretasi terhadap Parmenides sebagai berikut:
- Interpretasi monis yang ketat, yang memandang bahwa Parmenides hanya melihat adanya satu ‘ada’ dalam eksisten yang tidak berubah, dan tidak berbeda.
- Interpretasi logis – dialektis, yang memahami bahwa argumen – argumen Parmenides didorong oleh pertimbangan ketat logis, ketimbang dilatar belakangi oleh agenda kritik terhadap pendahulunya, yakni filsuf Milesian, dan Mazhab Pythagorean.
- Interpretasi meta – prinsip, yang menyatakan bahwa Parmenides bukanlah seorang monis sejati, melainkan pendukung dari apa yang dikenal sebagai monis predikasional, yakni aliran yang meyakini, bahwa setiap ‘ada’ yang ada hanya dapat merupakan satu ‘ada’, dan hanya dapat memiliki satu predikat yang menyatakan ada itu apa, dan harus menyatakannya dengan tegas. Menurut interpretasi ini, Parmenides terlibat dalam refleksi kritis terhadap prinsip – prinsip fisika dari para pendahulunya.

Posisi filsafat ‘Ada’ dari Parmenides seringkali diterangkan sebagai yang memiliki preferensi pada kekekalan sebuah ‘ada’ di atas fluktuasi aliran realitas yang ‘menjadi’. Cuaca selalu berubah, dari mendung menjadi cerah, kemudian cerah berawan, kemudian kembali mendung. Dan bukan hanya cuaca yang berubah, segala sesuatu di sekitar kita pun, bahkan kita sendiri juga terus berubah. Jika demikian, apakah yang dapat dipegang di dunia ini?

Kalau yang dijadikan pegangan adalah penampakan yang senantiasa berubah, itu bukan lagi pegangan yang akan membawa kita ke ‘jalan kebenaran’. Penampakan hanyalah membawa kita ke pengetahuan derajat kedua (sekunder, setingkat ‘opini’ belaka). Misalnya, di hadapan kita terdapat seekor ‘makhluk hidup yang nampak seperti kuda’.

Di depan makhluk hidup itu, pengetahuan yang dapat diperoleh manusia hanyalah pengetahuan kurang – lebih (maksudnya, ‘kurang – lebih salah’, bila ternyata makhluk tersebut hanyalah kambing; tetapi dapat juga ‘kurang – lebih benar’, bila kambing tersebut dapat ditunggangi layaknya kuda). Pengetahuan di tingkat ini tidak pernah benar secara mutlak; yang ada hanyalah perdebatan opini ‘kurang – lebih’. Bagaimana orang yang melihat makhluk tersebut sebagai kuda? Mekanismenya kurang lebih sebagai berikut:

Orang dapat mengatakan makhuk itu tampak sebagai kuda, karena ia memiliki bayangan (representasi) kuda berdasarkan pengalamannya melihat kuda – kuda sebelumnya. Bila makhluk hidup yang ‘tampak sebagai kuda’ dilambangkan sebagai K, maka dapat dikatakan, K tampak sebagai K, berkat adanya representasi K – 1. Dan representasi K – 1, itu ada berkat K – 2, sampai K – n. Bagi Parmenides, pengetahuan empiris hanya berada di level ini, pencarian dari K sampai K – n, dan selalu dalam wilayah ‘kurang – lebih’. 

Pengetahuan ini tidak sempurna, tidak pernah mencapai kebenaran yang mutlak. Lalu, jalan ke pengetahuan yang dapat mencapai kebenaran sejati (sesuai dengan petunjuk dewi aletheia), harus dijalani secara bagaimana?

Pengetahuan yang benar, dan sempurna adalah pengetahuan tentang ‘Ada’. Parmenides terkenal dengan ungkapan, “Yang ‘Ada’, ada, dan yang tidak ada, tidak dapat dipikirkan”. Yang ‘Ada’adalah dasar dari keberadaan segala sesuatu (menjadi dasar ontologi). Secara ontologis, ‘Ada’ – lah yang mengadakan segala sesuatu. Secara logis, hanya ‘Ada’ ada, sedangkan yang tidak ada jelas tidak dapat dipikirkan, tanpa ‘Ada’ itu sendiri. Jika pengetahuan (rasio) kita dapat memikirkan segala sesuatu, itu berkat adanya sang ‘Ada’. Bagi Parmenides, pengetahuan tentang ‘Ada’ dalam dirinya sendiri itulah, yang merupakan pengetahuan paling sempurna. Sedangkan ‘tidak ada’ bagi Parmenides, tidak dapat dipikirkan. Sebab, semuanya dilingkupi dalam lingkaran bulat mampat ‘Ada’, yang lewatnya, kita lalu dapat berpikir tentang adanya segala sesuatu.

Dengan demikian, pengetahuan sekunder (empiris, dan opini) adalah pengetahuan tentang manifestasi – manifestasi ‘Ada’. Karena hanya bersinggungan dengan manifestasinya yang selalu berubah – ubah, maka bukanlah bentuk pengetahuan yang tertinggi, bahkan pengetahuan ini dapat menyesatkan. Sedangkan pengetahuan tertinggi, adalah pengetahuan yang memikirkan ‘Ada’ pada dirinya sendiri. Dan justru ‘Ada’ itu sendiri yang memungkinkan adanya pengetahuan. Jika pemikiran identik dengan ‘Ada’, bika pemikiran, dan ‘Ada’ berada dalam lingkaran pejal, berpikir adalah ‘Ada’ itu sendiri, maka persis di situlah kesulitannya.

Identifikasi keduanya sedemikian rapat, dan ketat, sehingga pemikiran tidak mungkin dapat mengatakan ‘Ada’ tersebut, karena begitu mau mengatakannya, artinya pemikiran jatuh dalam representasi, dan manifestasi ‘Ada’. Dan, pada level ini, pemikiran pun jatuh ke pengetahuan sekunder. Kesimpulannya, pengetahuan tertinggi tentang ‘Ada’, tetap mungkin, tetapi karena di titik ini persinggungannya begitu rapat, maka pengetahuan ini ‘tidak dapat diungkapkan’.

Ilustrasi Parmenides
B. Zenon dari Elea

Zenon lahir di Eleates. Ia hidup dalam kurun 490 – 430 SM. Dipercaya bahwa, Zenon merangkum seluruh pemikirannya pada sebuah bukunya yang terbit sekitar tahun 460 SM. Ia dikenal dengan pendapat – pendapatnya yang tidak lazim dalam argumentasi metafisika, dan semi – matematika, yang mana masih sering didiskusikan hingga hari ini.

Pada masa hidupnya, Zenon bertujuan untuk mempertahankan argumen – argumen Parmenides, dan untuk menghantam pendapat – pendapat kaum pluralis, yang mana hendak menghancurkan tesis – tesis utama yang diajukan Parmenides. Pendapat – pendapat, dan paradoks – paradoks – nya seringkali dituliskan dalam bentuk dialektika, hal ini nampaknya merupakan sesuatu yang baru dalam tradisi filsafat tempo itu.


Terdapat empat buah paradoks dari enam buah paradoks yang diungkapkan Zenon, yang sekiranya penting untuk dibahas di sini. Empat buah paradoks itu, antara lain:

1. Paradoks Dikotomi

Gambar 1: Paradoks Dikotomi

Sebuah benda yang bergerak, tidak akan pernah mencapai tujuan. Pertama – tama benda harus menempuh segmen setengah perjalanan. Lalu, sesudah itu, benda tersebut harus melewati banyak segmen: seperempat, seperdelapan, seperenambelas, sepertigapuluhdua, dst. Sedemikian, hingga jumlah perjalananya menjadi tak hingga. Karena mustahil melakukan perjalanan sebanyak tak hingga, maka benda tersebut tidak akan pernah sampai tujuan.

2. Paradoks Akhilleus, dan Kura – Kura

Gambar 2: Paradoks Akhilleus dan Kura - Kura
Akhilleus, dan kura – kura melakukan lomba lari. Karena Akhilleus merupakan sesosok ksatria yang sombong, ia mengijinkan kura – kura ‘lambat’ untuk memulai lari terlebih dahulu. Agar dapat menyamai kedudukan kura – kura, Akhilleus menetapkan sasaran ke posisi, dimana kura – kura saat ini berdiri. Akan tetapi, setiap kali Akhilleus bergerak maju, kura – kura pun juga bergerak maju. Ketika Akhilleus sampai ke posisi kura – kura, kura – kura sudah berada di depannya. Lalu, Akhilleus mengejar posisi kura – kura yang sekarang. Akan tetapi, setibanya di sana, kura – kura sudah bergerak maju lagi, begitu seterusnya, hingga akhirnya mustahil bagi Akhilles untuk memenangkan lomba lari tersebut.

3. Paradoks Anak Panah

Gambar 3: Paradoks Anak Panah
Misalnya, kita membagi waktu sebagai deret ‘masa kini’. Kemudian kita melepaskan anak panah. Di setiap ‘masa kini’, anak panah menempati posisi tertentu di udara. Oleh karena itu, anak panah dapat dikatakan diam sepanjang waktu.

4. Paradoks Stadion

Gambar 4: Paradoks Stadion
Terdapat tiga buah barisan penonton A, B, dan C di dalam stadion. Barisan A dianggap diam di tengah stadion. Seementara B, dan C masing – masing terletak di ujung kiri, dan kanan A. Kemudian, B dan C bergerak saling mendekati dengan kecepatan yang sama, dan hendak bersejajar dengan A. Anatara ‘ sebelum’, dan ‘sesudah’, titik C paling kiri melewati dua buah B, tetapi hanya sebuah A. Berarti waktu C untuk melewati B sama dengan setengah waktu untuk melewati A. Padahal A, dan B adalah unit yang identik.

Secara umum, terdapat dua buah tema yang dominan dalam Paradoks Zenon, yaitu gerak, dan ketakterhinggaan. Zenon menganggap, bahwa perubahan di dunia bersifat semu. Pendapat ini, kemudian tercermin lewat empat buah paradoks yang telah dikemukakan.

Sebagaimana telah disebutkan di atas, Zenon merupakan sosok filsuf yang tidak percaya akan gerak, dan perubahan. Lewat empat paradoks yang telah dikemukakan, ia ingin memastikan sebentuk ‘Ada’ realitas. Sebagai seorang pengikut Parmenides, Zenon berpendapat, bahwa semua gerak benda bersifat semu. Untuk membuktikan keyakinannya, ia lalu merancang serangkaian paradoks.

Terlepas dari klaim benar – salah, paradoks – paradoks ini kemudian membawa pada kemajuan matematika. Kejanggalan paradoks 1, dan 2, misalnya, dapat dijelaskan lewat deret konvergen. Dengan menggunakan konsep limit yang dipelajari dalam bidang kalkulus, matematikawan dapat menjumlahkan irisan – irisan kecil yang mendekati, tak hingga. Menariknya, meskipun irisan – irisannya tak hingga, akan tetapi jika diintegralkan, ternyata jumlahnya berhingga.

>>>Baca juga Bagian IV: Empedokles dan Anaxagoras: Kemajemukan Elemen
___________________________________________________

Referensi:

Bertens, K.2013. Sejarah Filsafat Yunani. Jogja: Kanisius

Copleston, Frederick. 1993. A History of Philosophy (vol. 1): Greek and Rome. New York: Image Books.

Hardian , Sandy.S.H. Filsafat Pra – Sokratik: Pergumulan Para Phusikoi dan Relevansinya pada Pemikiran Hari ini.

Hatta, Muhammad. 1980. Alam Pikiran Yunani. Jakarta: Penerbit Tinta Mas.

Mybllshtprspctv®

0 komentar:

Post a Comment