Home » , , » Filosof Pra-Sokratik Bagian IV: Empedokles dan Anaxagoras: Kemajemukan Elemen

Filosof Pra-Sokratik Bagian IV: Empedokles dan Anaxagoras: Kemajemukan Elemen


Oleh: Galih Rio


<<<Baca juga Bagian III: Mazhab Elea: Memahami Realitas Yang Tak Berubah

A. Empedokles

Empedokles hidup pada perioda 490 – 430 SM. Ia merupakan seorang Sisilia. Pendekatan filsafatnya tentang unsur – unsur utama yang berbeda sangat berpengaruh di kemudian hari. Ia merupakan seorang yang pertamakali menggunakan teori tentang unsur, sebagaimana yang kita pahami dalam dunia moderen saat ini.

Kita mengenali gagasannya melalui dua buah kumpulan sajaknya, yang pertama berjudul, Peri Phuseos, dan yang kedua berjudul, Katharmoi (berkisah tentang kepercayaan religiusnya tentang alam). Teorinya tentang dunia, nampaknya berasal dari observasi. Hasil observasinya menunjukkan, bahwa semesta ini terbagi menjadi empat macam elemen, yaitu api, air, tanah, dan udara.

Keempat elemen ini, seperti juga gagasan tentang arkhe sebelumnya, bersifat abadi; tidak dapat dihancurkan; dan tidak dapat dijadikan, atau dengan kata lain tanpa awal, dan akhir. Segala perubahan di alam, merupakan hasil pencampuran, dan pemisahan keempat elemen ini. Fenomena – fenomena kompleks yang kasat mata, seperti struktur geologi; galaksi; rasi bintang; bukanlah merupakan realitas yang sebenarnya, akan tetapi hanyalah kombinasi semenatara dari keempat elemen tadi.

Nampaknya, Empedokles menerima argumen para filsuf Elea, tentang kemungkinan ketiadaan ruang – kosong, akan tetapi ia tetap memegang gagasan tentang gerak ‘kemenjadian’, yang mana terjadi karena pencampuran elemen – elemen berbeda pada ruang.

Kini yang menjadi pertanyaan adalah, apakah yang men – drive berbagai perubahan yang secara konstan terjadi di dunia. Di sini, Empedokles, dengan lebih menggunakan pola pikir mistik, menyatakan, terdapat dua prinsip yang menggerakan elemen – elemen tersebut, yaitu cinta; dan konflik. Cinta beroperasi untuk menyatukan elemen – elemen, sedangkan konflik yang memisahkannya.

Pandangan Empedokles di sini, sama sekali tidak bersifat abstrak, dan tidak bernyawa. Dalam sajak – sajaknya, Katharmoi, ia berpendapat bahwa konflik adalah sebentuk kejahatan, dan cinta idem dengan kebaikan. Alam semesta merupakan gerakan tanpa henti, dari dominannya cinta, hingga kondisi di mana konflik memegang peranan.

Empedokles merupakan seorang yang optimis, ia percaya bahwa akan ada waktunya, di mana cinta akan berkuasa, dan manusia yang sebenarnya telah jatuh dalam perpecahan akan diberkati, melalui kesatuan masing – masing jiwa. Kedosaan bagi Empedokles disebabkan oleh perpecahan jiwa (konflik), utamanya akibat memakan hewan. Empedokles, nampaknya kerap kali berpendapat, bahwa manusia agaknya harus menempuh beberapa kali reinkarnasi, agar membebaskannya dari konflik, dan mencapai kepenuhan cintanya.

Empedokles merupakan salah satu dari phusikoi yang paling berpengaruh. Baik Platon, maupun Aristoteles, menerima gagasannya tentang keempat elemen, dan prinsip cinta, dan konflik yang ia ajukan. Kedua gagasan ini akan sedemikian berpengaruhnya dalam peradaban barat.

B. Anaxagoras

Anaxagoras diperkirakan hidup sekitar tahun 500 – 428 SM. Sayangnya, hanya sedikit yang kita ketahui tentangnya, bahkan tahun hidupnya pun masih kontroversial. Ia merupakan seorang yang terkenal di Athena yang hidup sezaman dengan Perikles, dan terdapat banyak penulis yang terinspirasi olehnya, salah satunya Euripides.

Kita mengenal gagasannya melalui fragmen – fragmen teksnya yang tercecer, dan disertai komentar oleh Aristoteles. Nampaknya, pada tahun sekitar 450 SM, ia diusir dari Athena karena dianggap atheis, dan meninggal di pembuangannya.

Gaya berfilsafat Anaxagoras, tidak terlalu menekankan aspek religiositas, dibandingkan filsuf – filsuf Elea, dan kaum pluralis lainnya. Filsafatnya lebih dekat dengan filsafat – filsafat Milesian. Dua hal yang menjadi penciri filsafatnya, adalah:
- Ia memperkenalkan konsep baru yang sepenuhnya tidak material, sebagai arkhe, yaitu akal budi.
- Bentuk pluralisme yang ekstrem, di mana semua benda di dunia mengandung seluruh unsur benda lain, dalam proporsi tertentu.

Langkah awal berfilsafatnya sangatlah penting untuk dicatat, dengan memperkenalkan akal budi sebagai suatu entitas yang terpisah sepenuhnya dari dunia fisik. Baginya, akal budi merupakan penyebab utama segala hal yang terjadi di dunia, yang mana akal budi ini tidak ditemukan dalam dunia material, kecuali pada makhluk hidup.

Pada permulaan dunia, akal budi – lah yang memprakarsai penciptaan, dalam sebentuk massa terdifirensiasi purba, gerakan rotasional vorteks kemudian memisahkan bagian – bagian massa yang berbeda, sehingga menghasilkan hasil yang tak serba sama yang kita lihat hari ini. Setiap materi yang kita lihat hari ini, mengandung seluruh unsur dari materi lain dengan kadar tertentu. Teori yang agak aneh ini, nampaknya berasal dari observasi Anaxagoras pada makhluk hidup, utamanya proses makanan yang dapat berubah menjadi jaringan kehidupan.

Anaxagoras nampaknya tidak terimpresi dengan bantahan Zenon terhadap kaum pluralis, melalui komentarnya, “dari yang terkecil, tidak ada yang terkecil.”, yaitu bahwa hal – hal (termasuk bilangan), menjadi bagian yang tak terhingga. Sulit untuk mengetahui penyebab ia diusir dari Athena, mengingat filsafatnya tidak bersifat subversif.

Mungkin, ucapannya yang mengatakan, bahwa matahari hanyalah sebongkah batu pijar besar yang lebih besar dari Peloponnesos, bukanlah sebentuk dewa – lah yang menyebabkan pengusirannya. Para pemikir sesudahnya, banyak menggunakan gagasan akal budinya sebagai penggerak pertama, yang mana berpengaruh dalam pemikiran skolastik, dan teologi dalam peradaban barat.

Baca juga Bagian V: Mazhab Atomisme>>>

___________________________________________________

Referensi:

Hardian , Sandy.S.H. Filsafat Pra – Sokratik: Pergumulan Para Phusikoi dan Relevansinya pada Pemikiran Hari ini.

Mybllshtprspctv®

0 komentar:

Post a Comment

close
Banner iklan disini