Home » , » Filsafat? Bagian III: Ciri-ciri Filsafat

Filsafat? Bagian III: Ciri-ciri Filsafat


Oleh: Alarumba Agamsena

<<<Baca Bagian II: Pengetahuan dan Kedudukan Filsafat dalam Pengetahuan

Secara Umum

a.    Skematika Konsepsial

Konsepsi (rencana kerja) merupakan hasil generalisasi serta abstrak dari pengalaman tentang hal hal serta proses proses satu demi satu. Karena itu filsafat merupakan pemikiran tentang hal-hal serta proses-proses dalam hubungan yang umum. Diantara proses proses yang dibicarakan ialah pemikiran itu sendiri. Dan diantara hal hal yang dipikirkan ialah si pemikir itu sendiri. Filsafat merupakan hasil menjadi –sadarnya manusia mengenai dirinya sendiri sebagai pemikir, dan menjadi – kritisnya manusia terhadap diri sendiri sebagai pemikir di dalam dunia yang dipikirkannya.

Sebagai konsekuensinya, seorang filsuf tidak hanya membicarakan dunia yang ada disekitarnya serta dunia yang ada di dalam dirinya. Ia tidak hanya ingin mengetahui hakekat kenyataan dan ukuran ukuran untuk melakukan verifikasi terhadap pernyataan-pernyataan mengenai segala sesuatu ,melainkan ia berusaha menemukan kaidah kaidah berpikir itu sendiri. Bila manakah suatu pemikiran itu membawa kita kepada kesimpulan yang sah, dan bagai manakah caranya serta mengapa membawa kita kepada kesimpulan yang sah ?

b.    Koheren

Pemikiran filsafat merupakan suatu usaha perenumgan/refleksi kritis-rasional yang runtut dan mendalam terhadap suatu hal atau suatu obyek yang dipikirkan oleh akal budi. Orang bukan berpikir asal-asalan  atau berpikir setengah hati saja. Dalam proses berpikir ini, orang perlu mengerahkan seluruh pikiranya secara fokus, terarah, terorientasi,terkonsentrasi pada obyek yang dipikirkan agar mencapai hasil akhir pemikiran yang benar secara filosofis. Pemikiran yang serius tidak mampu menemukan ide filosofis yang mencerahkan dirinya.

c.    Rasional

Istilah atau kosakata “rasional” berarti logis, masuk akal, dan dapat dimengerti atau diterima secara akal sehat. Pemikiran yang logis berarti pemikiran yang berhubungan satu sama lain, utuh, tidak terpisah-pisah, tidak frakmentaris, tidak terpotong-potong. Pemikiran rasional kontra terhadap segala hal yang irasional dalam kehidupan karena berfilsafat mengandalkan rasio sebagai alat analisinya. Filsafat menolak segala hal yang tidak sesuai dengan prinsip-prinsip rasionalitas yang benar.

d.    Menyeluruh/holistic

Holisti berarti obyek pemikiran kita harus berhubungan erat dengan seluruh kenyataan yang ada (exist). Segala sesuatu yang dapat dipikirkan termasuk dalam pemikiran filsafat.  Jadi, obyeknya bisa berupa apa saja dan segala entitas (substansi) apa saja sejauh itu dapat dipikirkan oleh akal budi. Segala sesuatu yang dapat dipikirkan dapat menjadi data/hal menarik untuk direfleksikan secara menyeluruh oleh filsafat, termasuk didalamnya refleksi tentang diri kita sendiri sebagai manusia kini dan disini (bic et nunc).

e.    Memberi visi

Filsafat juga berciri visioner. Filsafat tampil dalam paradigm pandangan/ pemikiran/ visi terhadap suatu kenyataan dunia dan diri kita sendiri. Kita tidak mungkin memiliki pandangan terhadap sesuatu jika kita tidak dapat berefleksi secara benar terhadapnya. Hanya orang yang merenung/berefleksi secara benar yang akan mampu menghasilkan ide-ide cermelang tentang dunia dan manusia. Orang yang dapat memberikan pandangan dunia dan dirinya itu sudah termasuk dalam pemikiran filosofis (kattsoff,2004: hlm. 9-14). Seseorang filsuf biasanya memiliki visi yang jauh ke depan. Ia mampu melakukan prediksi rasional sekarang atas segala fenomena hidup yang terjadi di masa depan. Dengan visi ini filsuf memberikan harapan hidup bagi manusia dan membuka horizon perspektif makna untuk memperkaya kualitas ziarah intelektual sebagai manusia di planet bumi ini. Filsuf ibarat obor dan terang yang menerangi jalannya dinamika kehidupan manusia di planet bumi ini.

Ciri-Ciri Filsafat Menurut para Ahli

Ciri-ciri Filsafat menurut Drs. Asmoro Asmadi (Asmoro, Asmadi;129):
  1. Sangat umum
  2. Tidak faktual artinya membuat dugaan-dugaan yang masuk akal dengan tidak berdasarkan pada bukti  tetapi bukan berarti tidak ilmiah.
  3. Bersangkutan dengan nilai  dimana penilaian yang dimaksud adalah yang baik dan buruk yang susila dan asusila.
  4. Berkaitan dengan arti.
  5. Implikatif.
  6. Menyeluruh.
 Ciri-ciri Filsafat menurut Drs. Suyadi MP dan Drs. Sri suprapto widodonongrat:

Artinya pemikiran yang luas
  1. Mendasar Artinya, pemikiran yang dalam sampai kepada hasil yang fundamental atau esensial obyek
  2. Spekulatif Artinya, hasil pemikiran yang didapat dan dijadikan dasar bagi pemikiran selanjutnya.
 Ciri-ciri Filsafat menurut Sunoto:
  1. Deskriptip
  2. Kritik atau analitik
  3. Evaluatif atau normativ
  4. Spekulatif dan sistematik
  5. Berfikir secara kefilsafatan dicirikan seara radikal. Radikal berasal dari kata Yunani radix yang berarti akal. Berfikir secara radikal adalah berfikir sampai ke akar-akarnya. Berfikir sampai ke hakekat, esensi atau sampai ke substansi yang dipikirkan. 
  6. Berfikir secara kefilsafatan dicirikan secara universal (umum)
  7. Berfikir secara universal adalah berfikir tentang hal serta proses yang bersifat umum, dalam arti tidak memikirkan sesuatu yang parsial.
  8. Berfikir secara kefilsafatan dicirikan secara konseptual
  9. Berfikir kefilsafatan dicirikan secara koheren dan konsisten
  10. Berfikir secara kefilsafatan dicirikan secara sistematik.
  11. Berfikir secara kefilsafatan dicirikan secara komprehensif
  12. Berfikir secara kefisafatan dicirikan secara bebas
  13. Berfikir secara kefilsafatan adalah pemikiran yang bertanggung jawab
 Ciri-ciri Persoalan Filasafat menurut Made Pramono, S.S., M.Hum :
  1. Bersifat sangat umum (tak bersangkutan dengan objek-objek khusus).
  2. Spekulatif, tak langsung menyangkut fakta (nonfaktawi).
  3. Bersangkutan dg nilai-nilai (kualitas abstrak yang ada pada suatu hal).
  4. Bersifat kritis terhadap konsep dan arti-arti yg biasanya diterima begitu saja oleh ilmu.
  5. Besifat sinoptik: mencakup struktur kenyataan secara keseluruhan.
  6. Bersifat implikatif: jawaban suatu persoalan memunculkan persoalan baru yang saling berhubungan.
  7. Bersifat teoritik: lebih pada tindak reflektif, non-praktis.
 Ciri-ciri Pemikiran Filsafat menurut Made Pramono, S.S., M.Hum L:
  1. Bersifat radikal (sampai ke akar-akarnya, sampai pada hakikat/esensi).
  2. Sistematis (adanya hub. fungsional antara unsur-unsur untuk mencapai tujuan tertentu).
  3. Berpikir tentang hal/proses umum, universal, ide-ide besar, bukan tentang peristiwa tunggal.
  4. Konsisten/runtut (tak terdapat pertentangan di dalamnya) dan koheren (sesuai dengan kaidah-kaidah berpikir, logis).
  5. Secara bebas, tak cenderung prasangka, emosi.
  6. Kebebasan ini berdisiplin (berpegang pada prinsip-prinsip pemikiran logis serta tanggung jawab pada hati nurani sendiri).
  7. Berusaha memperolah pandangan komprehensif/menyeluruh.
  8. Secara konseptual hasil generalisir (perumuman) dan abstraksi dari pengalaman tentang hal-hal serta proses-proses individual melampaui batas pengalaman hidup sehari-hari.
Ciri-ciri Sifat Dasar Filsafat

Sifat dasar filsafat (Simon, 2003):
1.    Berfikir radikal
2.    Berfikir rasional; tahu & paham dengan akal budi
3.    Mencari asas
4.    Mencari kebenaran
5.    Mencari kejelasan

Ciri-Ciri Filsafat Menurut Clarence L. Lewis
Menurut Clarence L. Lewis seorang ahli logika mengatakan bahwa filsafat itu sesungguhnya suatu proses refleksi dari bekerjanya akal. Sedangkan sisi yang terkandung dalam proses refleksi adalah berbagai kegiatan/problema kehidupan manusia. Tidak semua kegiatan atau berbagai problema kehidupan tersebut dikatakan sampai pada derajat pemikiran filsafat, tetapi dalam kegiatan atau problema yang terdapat beberapa ciri yang dapat mencapai derajat pemikiran filsafat adalah sebagai berikut :

1.    Sangat umun atau universal
Pemikiran filsafat mempunyai kecenderungan sangat umum, dan tingkat keumumannya sangat tinggi. Karena pemikiran filsafat tidak bersangkutan dengan objek-objek khusus, akan tetapi bersangkutan dengan konsep-konsep yang sifatnya umum, misalnya tentang manusia, tentang keadilan, tentang kebebasan, dan lainnya.

2.    Tidak faktual
Kata lain dari tidak faktual ialah spekulatif, yang artinya filsafat membuat dugaan-dugaan yang masuk akal mengenai sesuatu dengan tidak berdasarkan pada bukti. Hal ini sebagai sesuatu hal yang melampaui tapal batas dari fakta-fakta pengetahuan ilmiah. Jawaban yang didapat dari dugaan-dugaan tersebut sifatnya juga spekulatif. Hal ini bukan berarti bahwa pemikiran filsafat tidak ilmiah, akan tetapi pemikiran filsafat tidak termasuk dalam lingkup kewenangan ilmu khusus.

3.    Bersangkutan dengan nilai
C.J. Ducasse mengatakan bahwa filsafat merupakan usaha untuk mencari pengetahuan, berupa fakta-fakta, yang disebut penilaian. Yang dibicarakan dalam penilaian ialah tentang yang baik dan buruk, yang susila dan asusila dan akhirnya filsafat sebagai suatu usaha untuk mempertahankan nilai. Maka selanjutnya, dibentuklah sistem nilai, sehingga lahirlah apa yang disebutnya sebagai nilai sosial, nilai keagamaan, nilai budaya, dan lainnya.

4.    Berkaitan dengan arti
Sesuatu yang bernilai tentu di dalamnya penuh dengan arti. Agar para filosof dalam mengunkapkan ide-idenya sarat denga arti, para filosof harus dapat menciptakan kalimat-kalimat yang logis dan bahasa-bahasa yang tepat, semua itu berguna untuk menghindari adanya kesalahan/sesat pikir (fallacy).

5.    Implikatif
Pemikiran filsafat yang baik dan terpilih selalu mengandung implikasi (akibat logis). Dari implikatif tersebut diharapkan akan mampu melahirkan pemikiran baru sehingga akan terjadi proses pemikiran yang dinamis dari tesis ke anti tesis kemudian sintesis, dan seterusnya sehingga tidak ada habisnya. Pola pemikiran yang implikatif (dialektis) akan dapat menuburkan intelektual.
___________________________________________________

Referensi:

A.Wiramihardi,Sutardjo. 2006. Pengantar Filsafat. Bandung: Refika Aditama

Modul Mata Kuliah Azaz-azaz Filsafat karya Drs. Sudaryanto, M.Hum.

Mybllshtprspctv®

0 komentar:

Post a Comment

close
Banner iklan disini