Home » , , » Filsafat dan Filsuf Skolastik (Bagian I)

Filsafat dan Filsuf Skolastik (Bagian I)

Sumber Gambar: Wikipedia
Oleh: Galih Rio Pratama

Sejak abad ke-5 hingga ke-8 Masehi, pemikiran filsafat patristik mulai merosot, terlebih lagi pada abad ke-6 dan ke-7 dikatakan abad kacau. Hal ini disebabkan pada saat itu terjadi serangan terhadap Romawi sehingga kerajaan Romawi beserta peradabannya ikut runtuh yang telah dibangun selama berabad-abad.

Baru pada abad ke-8 Masehi, kekuasaan berada di bawah Karel Agung (742–814 M) dapat memberikan suasana ketenangan dalam bidang politik, kebudayaan, dan ilmu pengetahuan, termsuk kehidupan manusia serta pemikiran filsafat menampakkan mulai adanya kebangkitan. Kebangkitan inilah yang merupakan kecemerlangan abad pertengahan. Pada mulanya skolastik ini timbul pertama  kalinya di biara italia selatan dan pada akhirnya sampai berpengaruh ke Jerman dan Belanda. Kurikulum pengajaranya meliputi studi duniawi, tata bahasa, retorika, dialektika, ilmu hitung, ilmu ukur, ilmu ukur, ilmu perbintangan dan musik.

Tak banyak yang bisa dijelaskan di masa ini karena banyaknya kericuhan. Tapi ada beberapa tokoh yang harus diperhatikan yang mempengaruhi filsafat skolastik di masa ini.

Augustinus (354-430 M)
   
Augustinus lahir di Tagasta, Numidia (sekarang Algeria), pada 13 November 354. Ayahnya, Patricius adalah seorang pejabat pada kekaisaran Romawi, yang tetap kafir sampai kematiannya pada tahun 370. Ibunya, Monnica, adalah penganut Kristen yang amat taat. Pada tanggal 28 Agustus 430, Augustinus meninggal dunia dalam kesucian dan kemiskinan yang memang sudah lama di jalaninya.

Menurut Augustinus dalam pemikirannya, dia mengatakan dibalik keteraturan dan ketertiban alam semesta ini pasti ada yang mengendalikan yaitu Tuhan. Kebenaran mutlak ada pada ajaran agama. Kebenaran berpangkal pada aksioma bahwa segala sesuatu diciptakan oleh Tuhan dari yang tidak ada (creatio ex nihilo). Kehidupan yang terbaik adalah kehidupan bertapa dan yang terpenting adalah cinta kepada Tuhan. Terpisah dari Tuhan tidak ada realitas , demikian katanya (Mayer, 357).

Boethius (480-524 M)
   
Nama lengkapnya adalah Anicius Manlius Severinus Boethius, dia adalah seorang filsuf Romawi. Ia lahir di kota Roma sekitar tahun 480 M. Boethius pernah menjabat sebagai seorang pejabat tinggi di bawah pemerintahan Kaisar Theodorik dan ia dituduh sebagai pengkhianat lalu dibuang ke tempat pengasingan. Akhirnya, Boethius dihukum mati pada tahun 525 M pada usiannya yang ke 44 tahun. Dia mendapat hukuman mati dengan tuduhan berkhianat. Dia dianggap sebagai filosof akhir Romawi dan filosof pertama skolastik.

Boethius sekurang – kurangnya telah menerjemahkan 2 karya Aristoteles tentang logika yaitu Categories, dan On Interpretation. Beliau sangat terkesan dengan pemikiran yang benar melalui silogisme dalam membenarkan argumen teologis. Dia setuju dengan pandangan bahwa logika menyediakan jawaban terhadap setiap misteri eksistensi manusia. Bukunya yang tekenal, Consolation of Philosophy sangat populer di abad pertengahan. Pelajaran bidang filsafat pada masa ini adalah logika dasar yang didasari oleh karya Aristoteles yang diterjemahkan oleh Boethius.

Kaisar Karel Agung (742-814 M)
   
Kaisar abad tengah Charlemagne (Karel yang Agung) Lahir tahun 742, dekat kota Aachen yang akhirnya jadi ibukotanya. Ayahnya bernama Pepin si Cebol dan kakeknya Charles Martel, seorang pemuka bangsa Frank. Tahun 751 Pepin dinyatakan sebagai Raja bangsa Franks sehingga mengakhiri kelemahan dinasti Merovingian, mendirikan dinasti baru yang kini disebut Carolingian, sesudah Charlemagne. Tahun 768 Pepin meninggal dunia dan kerajaan bangsa Franks dibagi antara Charles dan saudaranya Carloman. Namun Carloman meninggal pada tahun 771. Kejadian ini mengakibatkan Charles, di umur dua puluh sembilan tahun, menjadi Raja tunggal di Kerajaan Franks yang sudah menjadi kerajaan terkuat di Eropa.
   
Charlemagne membangun sekolah-sekolah pada zaman ini. Hal itu dikarenakan agar tersebarnya agama Kristen terdapat pola organisasi yang teratur (baik dalam penyebaran maupun memperdalam agamanya). sekolah-sekolah ini ajaran yang digunakan adalah ajaran lama yang disebut artes liberales (seni merdeka). Sedangkan yang meliputi ajaran artes adalah grammatika, dialektika, astronomia, geometria, aritmatika yang sudah sudah dijelaskan dipembahasan sebelumnya. Hal inilah yang memicu munculnya filsafat skolastik.

Santo Anselmus (1033-1109 M)
   
Anselmus, Uskup Agung Canterbury, lahir di Aosta, Italia, sekitar tahun 1033. Ia menolak keinginan ayahnya agar ia meniti karir di bidang politik dan mengembara keliling Eropa untuk beberapa tahun lamanya. Seperti anak-anak muda lainnya yang cerdas dan bergejolak, ia bergabung ke biara. Di biara Bec, Normandia, di bawah asuhan seorang guru yang hebat, Lanfranc.

Pemikiran filosofis Anselmus dipengaruhi berbagai hal, diantaranya Kitab Suci, Bapa Gereja, dan Augustinus. Plato juga berpengaruh besar, Anselmus memiliki pandangan yang lebih platonik daripada Aristotelian walaupun Ia telah membaca karya Aristoteles dan menggunakan logikanya. Neoplatonisme juga merupakan gambaran mental dari Anselmus: Ia menggunakan Plotinus untuk sampai pada pengetahuan akan trinitas Kristen (kepercayaan bahwa Allah adalah 3 pribadi, Allah Bapa, Allah Putra, dan Allah Roh Kudus, namun tetap satu Allah). Neoplatonisme mempunyai ‘trinitas’-nya sendiri mengenai Yang Satu, Akal Budi, dan Jiwa

Peter Abelardus (1079-1142 M)

   
Peter Abelardus adalah seorang filsuf skolastik, ahli logika, dan teolog yang terkenal pada abad pertengahan. Selain itu ia juga dikenal sebagai seorang komponis. Skandal dan kisah cintanya dengan Héloïse d'Argenteuil telah menjadi legenda. Ada anggapan bahwa ia, bersama dengan Santo Anselmus dari Canterbury, adalah pendiri skolastisisme di awal abad ke-12.
   
Sumbangan Abelardus adalah mengenai pemecahan masalah mengenai ‘universalia’ yang ramai diperdebatkan di masa skolastik awal. ‘universalia’ maksudnya adalah konsep-konsep umum yang soalnya adalah menentukan kodrat dan kedudukan konsep umum. Anselmus setuju terhadap pandangan ‘universalia’ oleh nominalisme yang menyatakan bahwa konsep umum hanya merupakan nama atau bunyi saja (flatus vocis). Namun bukan berarti konsep umum merupakan ciptaan akal budi semata. Konsep-konsep umum menunjuk pada ciri-ciri  yang benar-benar terdapat pada individu.

Baca selanjutnya pada bagian II>>>

___________________________________________________

Referensi:

Poedjawijatna.1990. Pembimbing ke Arah Alam Filsafat. PT. Pembangunan: Jakarta

Hadiwijjono, Harun. 1980 .Sari Sejarah Filsafat Barat I. Penerbit Kanisius: Yogyakarta

Bertens, Kees. 1975. Ringkasan Sejarah Filsafat. Penerbit Kanisius: Yogyakarta

Welem, F.D.. 2003. Riwayat Hidup Singkat Tokoh-tokoh dalam Sejarah Gereja.  PT. BPK. Gunung Mulia: Jakarta

Watloly, Aholiab. 2001. Tanggung Jawab Pengetahuan. Penerbit Kanisius: Yogyakarta

Magee, Bryan. 2008. The Story of Philosophy. Penerbit Kanisius: Yogyakarta

Mybllshtprspctv®

0 komentar:

Post a Comment