Home » , , » Filsafat dan Filsuf Skolastik (Bagian II)

Filsafat dan Filsuf Skolastik (Bagian II)


Sumber Gambar: Encyclopedia Britannica
 Oleh: Galih Rio Pratama


Abad ke 13 dianggap sebagai zaman kejayaan filsafat dan teologi skolastik. Pada abad 13 ini menghasilkan beberapa sintesa filosofis yang sangat mencolok. Perkembangan ini dimungkinkan karena adanya beberapa faktor yang mempengaruhi antara lain:

Hubungan dengan Bangsa Arab

Mulai abad ke-12 ada hubungan-hubungan baru dengan dunia pemikiran Yunani dan dunia pemikiran Arab, yaitu dengan peradaban Yunani dari Italia Selatan dan Silsilia dan dengan kerajaan Bizantium di satu pihak, dan peradaban arab yang ada di Spanyol di lain pihak. Melalui karya orang-orang Arab dan Yahudi Eropa Barat mulai lebih mengenal karya-karya Aristoteles, yang semula memang kurang dikenal. Kecuali melalui karya orang-orang Arab tulisan-tulisan Aristoteles dikenal melalui karya para bapak gereja Timur, yang sejak zaman itu dikenal juga.

Timbulnya Universitas-universitas

Karena semakin majunya sekolah-sekolah di Eropa, ada beberapa sekolah yang membentuk suatu persekutuan antara para dosen dan mahasiswa dari satu jurusan yang disebut universitas magistrotum et scolarum (persekutuan dosen dan mahasiswa). Adanya persekutuan ini akhirnya dapat menimbulkan 4 fakultas yang berwibawa, yakni fakultas teologia, fakultas hukum, fakultas kedokteran, dan fakultas sastra.

Timbulnya Ordo-ordo Baru

Ordo-ordo yang muncul di zaman ini antara lain Ordo Fransiskan dan Ordo Dominikan. Ordo-ordo ini muncul karena banyaknya perhatian orang terhadap ilmu pengetahuan, sehingga menimbulkan dorongan yang kuat untukmemberikan suasana yang semarak pada abad ke-13. Hal ini akan berpengaruh terhadap kehidupan kerohanian dimana kebanyakan tokoh-tokohnya memegang peranan di bidang filsafat dan teologi, seperti; Albertus de Grote, Thomas Aquines, Binaventura, J.D. Scotus, William Ocham.

Beberapa tokoh yang berpengaruh di zaman ini yaitu:

Albertus Magnus (1193-1280 M)

Albertus Magnus juga dikenal sebagai Santo Albertus Agung dan Albert dari Koln adalah seorang biarawan Ordo Dominikan yang menjadi terkenal karena pengetahuan universalnya dan advokasi keberadaan damai antara ilmiah dan agama. Dia dianggap sebagai salah satu filsuf Jerman terbesar dan teolog dari Zaman Pertengahan. Dia merupakan pelajar pertama dari Zaman Pertengahan yang menggunakan filosofi Aristoteles ke dalam pemikiran Kristen pada masa itu.

Albertus adalah seorang teolog, filsuf, dan naturalis. Ia menulis tetang dunia tanaman, geografi, mineralogi, sosiologi, dan astronomi. Tulisannya yang terkenal berjudul De Meteororibus yang membahas tentang komet, asal usul sungai, angin, petir, kilat, pelangi, dan sebagainya. Albertus menyentuh semua ilmu pengetahuan sehingga Ia diberi gelar doktor universalis.

Albertus merupakan guru Thomas Aquinas yang dianggap sebagai filosof yang menandai masa kejayaan skolastik.

Thomas Aquinas

adalah seorang filsuf dan teolog dari Italia yang sangat berpengaruh pada abad pertengahan. Karya Thomas Aquinas yang terkenal adalah Summa Theologiae (1273), yaitu sebuah buku yang merupakan sintesis dari filsafat Aristoteles dan ajaran Gereja Kristen. Pada tahun 1879, ajaran-ajarannya dijadikan sebagai ajaran yang sah dalam Gereja Katolik Roma oleh Paus Leo XIII. Thomas Aquinas juga disebut Thomas dari Aquino (bahasa Italia: Tommaso d’Aquino).

Thomas dianggap sebagai filosof yang menandai masa kejayaan skolastik. Thomas berusaha untuk membangun suatu perpaduan realism antara nalar dan iman, kodrat dan adikodrat, filsafat dan teologi. Berbeda dengan Agustinus, Ia lebih mengikuti ajaran Aristoteles. Epistemologi Thomas lebih merupakan kelanjutan dari epistemologi Aristoteles. Titik tolak ajaran epistemologi Thomas adalah penerimaan terhadap pengetahuan yang bersumber pada intelektual (intellectus agens) demikian juga kebenaran, kepastian dan sebagainya. Thomas juga menerima keterbatasan pengetahuan manusia, namun demikian hal itu sebagai potensi yang tidak terbatas sifatnya.

Thomas mengajarkan Allah sebagai “ada yang tak terbatas” (ipsum esse subsistens). Allah adalah “dzat yang tertinggi”, yang mempunyai keadaan yang paling tinggi. Allah adalah penggerak yang tidak bergerak. Tampak sekali pengaruh filsafat Aristoteles dalam pandangannya. Dunia ini dan hidup manusia terbagi atas dua tingkat, yaitu tingkat adikodrati dan kodrati, tingkat atas dan bawah. Tingkat bawah (kodrati) hanya dapat dipahami dengan mempergunakan akal. Hidup kodrati ini kurang sempurna dan ia bisa menjadi sempurna kalau disempurnakan oleh hidup rahmat (adikodrati). “Tabiat kodrati bukan ditiadakan, melainkan disempurnakan oleh rahmat,” demikian kata Thomas Aquinas.

Aliran filsafat yang didasari oleh pemikiran Thomas Aquinas dinamakan sebagai aliran Thomisme.

John Duns Scotus

John Duns Scotus (sekitar 1266 – 8 November 1308) adalah seorang teolog, filsuf, dan logikawan. Sebagian orang berpendapat bahwa pada masa jabatannya sebagai profesor di Oxford, pengujian sistematis atas apa yang membedakan teologi dari filsafat dan sains mulai dikembangkan dengan sungguh-sungguh. Ia adalah salah satu teolog dan filsuf yang paling berpengaruh dari Abad Pertengahan Tinggi, dan dijuluki "Doctor Subtilis" karena cara berpikirnya yang tajam.

Duns Scotus merupakan pengkritik ajaran Thomas yang notabene merupakan filosof paling terkemuka di abad pertengahan. Ia setia membedakan rasio dengan iman. Kritiknya ini dikembangkan oleh William Ockham. Aliran filsafat yang didasarkan ajaran Duns Scotus dinamakan Scotisme.

Berakhirnya Masa Skolastik Barat

Masa Skolastik akhir ditandai dengan kemalasan berpikir filsafati sehingga menyebabkan stagnasi (kemandegan) pemikiran filsafat Skolastik Kristen. Tokoh yang terkenal pada masa ini adalah Nicolaus Cusanus (1401-1404 M.). Dari filsafatnya ia beranggapan bahwa Allah adalah obyek sentral bagi intuisi manusia. Karena menurutnya dengan intuisi manusia dapat mencapai yang terhingga, obyek tertinggi filsafat, dimana tidak ada hal-hal yang berlawanan. 

Dalam diri Allah semua hal yang berlawanan mencapai kesatuan. Semua makhluk berhingga berasal dari Allah pencipta, dan segalanyaakan kembali pula pada pencipta-Nya.  Nicolaus Cusanus sebagai tokoh pemikir yang berada paling akhir masa Scholasti. Menurut pendapatnya, terdapat tiga cara untuk mengenal, yaitu : lewan indra, akal, dan intuisi. Dengan indra kita akan mendapat pengetahuan tentang benda berjasad, yang sifatnya tak sempurna. Dengan akal kita akan mendapatkan bentuk-bentuk pengertian yang abstrak berdasarkan pada sajian atau tangkapan indera. Dengan intuisi, kia akan mendapatkan pengetahuan yang lebih tinggi sebagaiamana dijelaskan pada paragraf sebelumnya.

Pada tahap akhir masa skolastik terdapat filosof yang berbeda pandangan dengan Thomas Aquinas, yaitu William Ockham (1285-1349 M). Tulisan-tulisannya menyerang kekuasaan gereja dan teologi Kristen. Karenanya, ia tidak begitu disukai dan kemudian dipenjarakan oleh Paus. Namun, ia berhasil meloloskan diri dan meminta suaka politik kepada Kaisar Louis IV, sehingga ia terlibat konflik berkepanjangan dengan gereja dan negara. William Ockham merasa membela agama dengan menceraikan ilmu dari teologi.Tuhan harus diterima atas dasar keimanan, bukan dengan pembuktian, karena kepercayaan teologis tidak dapat didemonstrasikan.
 
___________________________________________________

Referensi:

Poedjawijatna.1990. Pembimbing ke Arah Alam Filsafat. PT. Pembangunan: Jakarta

Hadiwijjono, Harun. 1980 .Sari Sejarah Filsafat Barat I. Penerbit Kanisius: Yogyakarta

Bertens, Kees. 1975. Ringkasan Sejarah Filsafat. Penerbit Kanisius: Yogyakarta

Welem, F.D.. 2003. Riwayat Hidup Singkat Tokoh-tokoh dalam Sejarah Gereja. PT. BPK. Gunung Mulia: Jakarta

Watloly, Aholiab. 2001. Tanggung Jawab Pengetahuan. Penerbit Kanisius: Yogyakarta

Magee, Bryan. 2008. The Story of Philosophy. Penerbit Kanisius: Yogyakarta

Mybllshtprspctv®

0 komentar:

Post a Comment

close
Banner iklan disini