Home » , , » Filsafat Neopythagoris

Filsafat Neopythagoris

Sumber Gambar: Alamy
Oleh: Alarumba Agamsena

Sekalipun aliran ini menyebut dirinya sebagai pengikut Pythagoras, namun sebenarnya bukan lanjutan murni dari filsafat Pythagoris yang kuno tersebut. Kepustakaan yang diterbitkan pada abad pertama SM mewujudkan suatu pencatutan nama Pythagoras dan Plato, dengan maksud supaya tulisan-tulisan itu dapat dianggap sebagai pengulangan yang murni dari gagasan Pythagoras dan Plato.

Di antara para pengikut aliran ini adalah Appolonius dari Tyana yang hidup pada periode ini, abad pertama SM.

Ajaran aliran Neopythagoris ini mewujudkan suatu campuran dari gagasan-gagasan Plato dan Stoa. Namun lebih banyak ajarannya Plato yang lebih mendominasi. Dualisme Plato, yang membedakan antara dunia rohani dan dunia bendawi ditarik lebih konsekuen oleh aliran ini.

Yang ilahi adalah yang ada, yang tak tergerak, realitas yang sempurna, substansi yang tak berjasad, sedang benda pada dirinya adalah gerak yang tak teratur, kemungkinan murni, yang menjadi pengandaian eksistensi segala sesuatu.

Di dalam Yang ilahi itulah hadir idea-idea sebagai gagasan-gagasan Yang ilahi, sebagai pola-pola segala kenyataan, sehingga segala yang ada di bentuk sesuai dengannya. Idea-idea ini sekaligus juga bilangan. Di sini lah letak pengaruh ajaran Pythagoras.

Oleh karena tiada hubungan antara Yang ilahi dengan yang bendawi, maka terjadilah dunia yang beraneka ragamnya ini bukan disebabkan karena penciptaan yang ilahi tersebut, melainkan hasil karya "jiwa-dunia" yang berfungsi sebagai demiourgos, sebagai tukangnya. Sebagai penghubung antara alam yang rohani dan alam yang bendani diciptakan banyak tokoh yang setengah dewa dan demon-demon.

Yang ilahi sendiri tidak terhampiri dan oleh karenanya juga tidak dipuja, sebab Yang ilahi adalah terlalu tinggi dan terlalu jauh dari manusia. Anehnya, oleh beberapa pengikut aliran ini, Yang ilahi juga dipandang sebagai imanen.

Manusia memiliki dua macam daya. Di satu pihak, manusia memiliki daya untuk mengenal dunia rohani, yaitu nous, suatu daya intuitif, yang karena kerjasama dengan akal (dianoia) menjadi manusia dapat memikirkan serta membicarakan hal-hal yang rohani. Di lain pihak, manusia memiliki daya pengamatan (aisthesis) yang karena pengamatan yang langsung yang disertai dengan daya penggambaran atau penggagasan menjadikan manusia memiliki pengetahuan yang berdasarkan pengamatan.

Manusia terdiri dari jiwa dan tubuh, yang keduanya berdiri sendiri-sendiri, yang satu lepas dengan yang lainnya. Jiwa terdapat dalam tubuh yang terkurung di dalam penjara. Hanya kematian lah yang akan melepaskan jiwa dari belenggu tubuh itu. Ada juga aliran yang mengajarkan perpindahan jiwa.

Oleh karena kejahatan dianggap telah tersirat di dalam benda, maka tugas manusia ialah membebaskan diri dari pengaruh tubuhnya dengan bertarak, tidak makan daging, tidak melakukan persetubuhan dan masih banyak lagi lainnya.

___________________________________________________

Referensi:

Hadiwijono. Dr. Harun. 2014. Sari Sejarah Filsafat Barat 1. Jogja: Kanisius.

Mybllshtprspctv®

0 komentar:

Post a Comment

close
Banner iklan disini