Home » , , , » Stoa: Jalan Menjadi Bahagia

Stoa: Jalan Menjadi Bahagia

Sumber Gambar: YouTube
Oleh: Galih Rio Pratama

Kemunculan kaum Stoa ditandai dengan pengajaran orisinil dari filsuf Zeno dari Citium sekitar tahun 300 SM. Zeno dulunya ialah murid dari aliran Cynisme . Sebagai seorang pedagang, Zeno tentunya berkelana kesana-kemari untuk menjajakan dagangannya. Dalam situasi itulah ia bertemu denan banyak pemikiran para filsuf  seperti. Socrates, Xenocrates, Stilpon, dll. Pemikiran-pemikiran mereka benar-benar merangsang otaknya untuk menghasilkan sebuah pemikiran filsafat yang kemudian dikenal dengan stoisisme. Beberapa  pernyataan Zeno yang paling terkenal antara lain:
The cosmos is a divine being with a soul.
Human beings are to live according to nature.
Man must control his emotions to remain indifferent to suffering.
Slavery violates natural law. It exists only where civil law and international custom fail to conform to natural law.
By natural law human beings are rational and thus have a power of self-government. Hence no human being should be governed by an external master.
Man-made Civil law and customary law ought to be reformed to be put in conformity with natural law. That is our moral duty.
The sun is a sphere of fire and the moon shines from reflected light.
Steel your sensibilities, so that life shall hurt you as little as possible.
Philosophy is like an orchard, with Physics as the soil and the trees, Logic as the fence guarding the orchard, and Ethics as the fruit of the trees.
Dengan pemikiran-pemikirannya yang brilian ini, stoisme telah menjadi filsafat pertama dalam sejarah pengutukan moral perbudakan. Dan banyak pemikirannya banyak diadopsi oleh orang-orang terkenal Roma seperti Cicero, Seneca, Josephus, Marc Aurel, dll. Nama Stoa atau Stoisisme (Στωικισμός) sendiri diambil dari nama tempat di mana Zeno biasa mengadakan pengajaran, yakni stoa poikilê (serambi/teras bertiang di Agora yang dihiasi dengan lukisan mural berwarna-warni). Pengaruhnya begitu besar sehingga karya-karya kaum Stoa banyak berkembang.

Pada umumnya perkembangan Stoa dibedakan dalam 3 tahap: Stoa Purba dengan tokoh-tokohnya seperti Zeno, Kleanthes dan Chrysippos dalam abad ke-3 SM, Stoa Menengah dengan tokoh-tokohnya seperti Panaetios serta Poseidonios dalam abad ke-2 dan bahkan Cicero di abad ke-1 SM, dan Stoa Muda dimulai pada abad ke-1 M dengan kehadiran tokohnya: Seneca, Epiktetos dan Kaisar Marcus Aurelius. Dari Yunani Stoisisme telah dibawa ke Roma menjadi ‘agama etis’ yang seiring dengan mulai berkembangnya Kekristenan. Baru nanti pada paruh kedua abad ke-3 M, Stoa melebur dalam aliran Neoplatonisme.

Konsep Awal

Rasionalitas (logos) merupakan istilah yang dipakai oleh Philo dari Alexandria. Untuk menggambarkan pemahamannya mengenai firman. Menurutnya, logos ialah cetak biru yang dibuat oleh Tuhan untuk menciptakan alam semesta. Walaupun doktrin Logosnya agak kabur karena tercampur dengan pandangan agama Yahudi dan mistik, ia mengungkapkan dengan jelas bahwa Logos adalah perwujudan dari sifat Tuhan yang Maha Pencipta dan Maha Bijaksana. Istilah Logos ini dipakai oleh kaum Stoa untuk menjadi dasar keyakinan. Logos diterjemahkan artinya menjadi rasional oleh  Stoisisme, memiliki tujuan agar manusia hidup sesuai dengan alam dan cara pandang biologis. Menurut Stoa, seluruh makhluk yang berjiwa pasti berjuang mencari keabadian. Pencarian keabadian ini mengarahkan dirinya untuk senada dengan irama alam yang cocok dengan dirinya. Manusia mengikuti akal sehat tidak hanya sekedar mencari makan, kehangatan, atau tempat berteduh, tetapi juga pemenuhan kebutuhan intelektualitasnya. Akhirnya, akal sehat mengarahkan manusia untuk memilih apa yang sesuai dengan keselarasan alami dengan tingkat akurasi yang lebih baik dibandingkan hanya dengan mengikuti insting kebinatangan.

Bagi para filsuf stoa, dalil-dalil mengenai akal mempunyai kekuatan universal. Dalil-dalil tersebut juga mengikat semua manusia di mana saja. Dari sini para filsuf Stoa untuk pertama kalinya mengembangkan filsafat kosmopolitan yang termasyhur dalam pemikiran barat. Manusia diberkahi dengan akal, terlepas dari ras dan kebangsaan. Perbedaan antara negara kota Yunani dan negara orang Barbar, serta dalil negara dunia di mana umat manusia hidup sederajat tidak dapat diterima.

Inti ajaran stoa dalam memandang dunia ialah bagaimana memahami apa yang menjadi penyusunan kebaikan dan apa yang paling sesuai dalam kehidupan ini bagi penghidupan manusia. Sementara banyak pemikir yang berpegang pada kekayaan dan kesehatan, stoa berpegang teguh pada criteria bahwa yang hakiki harus baik di segala kondisi. Tidak selamanya kekayaan itu baik, jika hal itu membuat dirinya atau orang lain menjadi susah atau rusak. Bahkan kesehatan yang berjalan kea rah kekuatan dianggap tidak baik, jika membahayakan diri sendiri dan orang lain. Stoa menyimpulkan bahwa satu-satunya kebaikan yang tidak memiliki cacat adalah kebajikan.

Prinsip Dasar Etika Stoa

Menurut kaum Stoa, hidup manusia pada dasarnya berpusat pada usaha untuk hidup sesuai dengan Logos  universal sebagai dasar hidup moral. Dalam Logos terungkaplah norma moral yang menjadi pedoman dan penuntun kehidupan manusia. Logos yang menyerapi dan memenuhi seluruh ciptaan, menjadi prinsip bagi kehidupan moral manusia. Bagi manusia, Logos termanifestasi dalam tata aturan moral. Mencari pengetahuan akan Logos berarti mencari pengetahuan akan tata aturan moral yang harus ditaati dan diikuti manusia. Maka, hidup moral merupakan sebuah penemuan untuk hidup selaras dengan Logos. Hidup moral berarti “homologoumenos zên tei physei” atau “to live in conformity with nature” , hidup dalam keharmonisan dengan alam.

Dalam menjelaskan proses penyesuaian tersebut, kaum Stoa memakai istilah oikeiôsis . Terjemahan Yunani dari oikeiôsis adalah mengambil sebagai milik. Hal ini merujuk pada usaha manusia secara bertahap dalam menjadikan alam semesta sebagai miliknya. Dimulai dari tubuh sendiri, lingkungan sekitar hingga akhirnya menyatu dengan seluruh realitas. Inilah inti hakikat manusia.

Secara jelasnya sistem etika Stoa berpandangan bahwa kebaikan moral tak lain dari dengan sadar menerima kehendak dari Logos. Artinya, kehidupan yang baik ialah hidup menurut ketertiban yang terdapat dalam alam semesta. Konsekuensinya, kebahagiaan terdapat dalam alam semesta. Alam semesta sendiri berlaku determinisme mutlak: segala apa pun yang terjadi dengan pasti. Bahkan manusia termasuk tatanan determinisme itu, ia seluruhnya berada di bawah takdir. Seneca menulis, “ducunt volentem fata, nolentem trahunt (apabila engkau setuju, takdir membimbingmu; apabila tidak, takdir memaksa)”. 

Makna Kewajiban Moral bagi Stoa

Dari penjelasan prinsip dasar etikanya, menurut kaum Stoa kebahagiaan bukan terletak pada perasaan nikmat melainkan dalam keutamaan moral sendiri, dalam kehendak untuk melakukan kewajiban. Istilah kewajiban ini disebut Zeno sebagai to kathekon (καθήκον), to katorthôma.  Inilah yang membedakannya dengan etika Epikuros. Corak etika Stoa dengan tegas menekankan peran kehendak dalam tindakan moral. Tindakan baik secara moral dilakukan sesuai dengan hukum alam. Kesadaran akan kewajiban menuntut manusia supaya menyangkal diri serta melepaskan diri dari segala ketergantungan kepada hal material. Menjalani kewajiban itu, nilai-nilai duniawi tidak berarti apa-apa (άδιάφορα, adiaphora). Ketentuan ini diwajibkan supaya tindakan manusia tidak menghambat tujuan moralnya. Karena orang yang mengikuti hawa nafsunya berarti ia kehilangan autarkeia-nya.  Untuk itu dibutuhkan keutamaan-keutamaan yang meliputi kebijaksanaan (Sophia), keberanian (Andreia), keadilan (Dikaiosyne), dan kesederhanaan (Sophrosyne).

Keutamaan atau kebajikan menunjuk pada akal yang benar (recta ratio) di mana akal selaras dengan Logos. Diogenes Laertius merumuskan, “Virtue is a disposition conformable to reason, desirable in and for itself and not because of any hope or fear or any external motive.”  Konsekuensinya, keutamaan berkaitan dengan Logos yang berarti pula rasio. Dengan rasio manusia mengenal mekanisme dunia dan mengontrolnya.

Dengan demikian, rasionalitas manusia membangun kesadaran akan kesempurnaan kodrati. Segala pengertian dan pengetahuan untuk menyesuaikan dengan Logos akan mengantar orang pada pengakuan akan nilai-nilai keutamaan yang alamiah. Menghidupi keutamaan pun mau tak mau menjadi bagian dari kewajiban sebagai partisipasi dalam proses penyesuaian. Salah satu adagium mengenai keutamaan dari Seneca yang terkenal, yakni “Apabila engkau ingin hidup bagi dirimu sendiri, engkau harus hidup bagi orang lain.”

Meraih Kebijaksanaan Hidup

Maka, kebijaksanaan hidup itu seperti apa? Stoisisme memandang kebijaksanaan etis dalam hidup sama dengan pengetahuan akan rahasia alam semesta. Semakin orang mendalami hukum alam semesta seraya menghidupi keutamaan kodrati, orang semakin mendekatkan diri pada kebijaksanaan yang membahagiakan. Dapat dikatakan, manusia wajib memperoleh kebijaksanaan itu jika ingin menjadi manusia yang baik sebab perbuatan bijaksana ialah menyesuaikan diri dengan perjalanan alami hidup, yakni menerima nasibnya.  Namun, kebijaksanaan hidup dapat diajarkan oleh orang yang satu kepada yang lain.

Kaum Stoa lantas menarik kesimpulan dari hal ini bahwa orang (dan karena itu berbudi luhur) bijaksana melakukan segala sesuatu dalam lingkup tindakan moral. Yang hanya bijak (ho sophos) dapat dianggap benar-benar bebas. Ide bebas di sini merujuk pada bebas dari penderitaan melalui apatheia (Yunani: απάθεια). 

Orang bijak hidup selaras dengan akal dunia sehingga dengan ketenangan pikiran/rasio-nya ia menguasai segala gerak perasaannya. Ia tidak membiarkan dirinya terharu oleh rasa kasihan atau kesedihan. Hal ini mengandaikan ada pemeliharaan keseimbangan batin dalam menghadapi hidupnya secara lepas-bebas.

Refleksi Ajaran Stoa dengan Permasalahan Abad Ini

Penulis melihat bahwa apa yang diajarkan oleh Zeno memiliki kesejajaran dengan pemikiran Lao Tse (abad ke 6 SM). Lao Tse merupakan pendiri Taoisme di Cina. Lao Tse menekankan kesederhanaan dan keselarasan dengan alam semesta. Kebahagiaan hanya diperoleh denga kehidupan yang selaras dengan Tao, yang erupakan sumber impersonal segala sesuatu, sekaligus alam yang berubah secara spontan. 

Belajar dari pemikiran Stoa, seperti yang telah dijabarkan secara panjang lebar di atas, ada baiknya jika pemikiran itu di daratkan dalam konteks masyarakat. Lebih dekat lagi kita bicara tentang kerusakan lingkungan akhir-akhir ini dan sikap pemerintah yang seolah-olah acuh tak acuh dengan berbagi penindsan dan ketidakdilan di masyarakat.

Dewasa ini kita menghidup dunia yang kian sekarat. Pengrusakan lingkungan, pembabatan hutan secar liar, penyebaran gas beracun di udara akibat bom dan asap-asap pabrik, pembuangan limbah pabrik ke sungai dan laut, dan berbagai kejahatan lingkungan lain mengindikasikan bahwa bumi kita benar-benar kritis. Siapa yang mau peduli dengan semua ini? Pemerintah? Mereka hanya sibuk dengan korupsi dan urusan-urusan lain yang menguntungkan mereka. Masayarakat? Juga bayak tidak peduli, yang dipedulikan adalah perut sendiri. Agama? Tidak jarang agama dijadikan legitimasi untuk mengeksploitasi alam. Belajar dari Stoa, semestinya kita malu dengan relati ini. Satu hal yang penulis lihat kalau mau jujur, justru agama-agama suku seperti Kaharingan Marapu, Kejawen dll yang begitu menjaga kestabilan akselerasi antara alam dan pola hidup mereka.

Bagaimana dengan pemerintahan kita? Pemerintahan kita bukanlah orang yang bijaksana melainkan oknum yang suka bajak sana dan bajak sini. Bagaimana tidak! Jika APBN, pajak, dan berbagai fasilitas yang seharusnya disediakan untuk kemaslahatan masyarakat banyak, dikorupsi secara massal dan sistematis, bukankah itu pembajak? Mungkin terdengar sadis tetapi lebih sadis jika kita melihat akibat yang ditimbulkan oleh ulah pemerintah kita. Orang makan nasi aking, pengemis dan anak jalanan yang jumlahnya kian meresahkan dan tingkat kriminalitas yang tinggi akibat susahnya mencari sesuap nasi adalah dampak dari korupsi pemerintah kita. Cukuplah kiranya untuk mengatakan bahwa pemerintah kita adalah orang yang bukan mewakili kepentingan masyarakatnya. Stoa justru mengajarkan yang sebaliknya.
___________________________________________________

Referensi:

Bertens, K.2013. Sejarah Filsafat Yunani. Jogja: Kanisius

Copleston, Frederick. 1993. A History of Philosophy (vol. 1): Greek and Rome. New York: Image Books.

Hatta, Muhammad. 1980. Alam Pikiran Yunani. Jakarta: Penerbit Tinta Mas.

Hardian, Sandi Susanto. 2016. Pijar Filsafat Yunani Klasik. Bandung: Perkumpulan Studi Ilmu Kemasyarakatan ITB (PSIK ITB)

Maksum, Ali. 2015. Pengantar Filsafat Dari Masa Klasik Hingga Postmodernisme. Jogja: Ar-ruzz Media

http://donattataranau.blogspot.co.id/2011/08/belajar-dari-filsafat-stoa.html

Mybllshtprspctv®

0 komentar:

Post a Comment