Home » , , , , » Gaya Pendidikan SMA Negeri 2 Banguntapan: Sebuah Tinjauan dari Aspek Etika Lingkungan

Gaya Pendidikan SMA Negeri 2 Banguntapan: Sebuah Tinjauan dari Aspek Etika Lingkungan

Salah satu pojok BADU
Oleh: Gusti Aditya
Tulisan ini pernah dimuat di Qureta

Belajar kini merupakan sebagai bagian dari identitas sekolah baik dimaknai guru dan juga murid. Pula pendidikan kontemporer ini direduksi menjadi kebutuhan pragmatis semata yang dibentuk oleh aktor pendidikan di sekolah. Belajar kini merupakan suatu yang terdengar membosankan ketimbang suatu yang menyenangkan.

Jauh dari paradigma bermanfaat bagi masa depan, sedangkan yang tertanam dalam pikiran pelaku pendidikan, khususnya objek yang menerima atau seorang murid, belajar merupakan momok yang sangat mengerikan.

Belajar tentu dewasa ini pemaknaannya kian sempit. Tak jarang banyak guru yang mengartikan belajar sebagai media untuk mendapatkan tugas semata. Semua terus berjalan dan memutar seakan guru selalu memberikan tugas tanpa adanya media lain yang jauh lebih menyenangkan. Sebaliknya, seorang murid kadangkala berpikiran bahwa belajar itu menyelesaikan tugas dan mendapatkan nilai baik saat ujian berlangsung.

Dewasa ini memang sering kali kita menghilangkan hakekat belajar sebagai melakukan aktivitas untuk mendapatkan suatu ilmu dan mengaplikasikan di dunia nyata, baik lingkungan terdekat seperti keluarga atau pun lingkungan yang lebih luas seperti masyarakat. Ada berbagai faktor yang mendasari degradasinya semangat belajar bagi kaum muda. Semua bisa timbul dalam masalah internal maupun eksternal.

Namun, peran instasi pendidikan dalam menyalurkan suatu ilmu dan nilai sangatlah memiliki peran yang sangat besar.di mana suatu instansi tersebut, katakanlah sekolah, dapat menjadikan semangat belajar yang terkikis dapat kembali terkumpul dan merekat dengan kuat.

Rindangnya BADU

Lingkungan yang indah dan terawat dari sebuah sekolah dapat menjadi salah satu faktor. Alam adalah sumber pengetahuan yang luas dan berlimpah. Bahkan beberapa penemu terkenal di dunia mampu menemukan gebrakan-gebrakan berupa karya yang mengubah arah berpikir dunia lantaran memanfaatkan alam. Sebut saja Isaac Newton yang berhasil menemukan ide prihal teori gravitasi hanya karena duduk di bawah pohon apel yang buahnya jatuh di dekatnya.

Ki Hadjar Dewantara, tokoh pendidikan Indonesia, pernah menggagas alam sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari pendidikan watak dan intelektual (Pendidikan, 1962). Ruang pendidikan tercipta sealami mungkin, tidak berbeda dari rumah atau kampung tempat tinggal. Alam merupakan poin penting dalam menciptakan kekhusyukan dalam memperoleh ilmu dengan lancar. Alam pula yang memberikan pelukan kosmos yang selalu menanamkan nilai yang tiada hentinya.

Adalah SMA Negeri 2 Banguntapan, sekolah yang terletak di perbatasan Yogyakarta dan Bantul ini menyimpan semua yang dibutuhkan oleh segenap sekolah di Indonesia. Sekolah ini hebat, pandai memanfaatkan tata letak bangunan. Bagaimana di setiap pojoknya, selalu ada pohon-pohon rindang yang memeluk tiap bangunan gagah di sekolah ini. Belum lagi terdapat green house yang menyimpan berbagai sayur-mayur dan tanaman obat.

Pohon yang melingkupinya

Di salah satu pojoknya, terdapat kolam ikan tiap menit menimbulkan suara gemericik yang menentramkan. Inilah yang membuat setiap insan dapat tumbuh dan berkembang dengan baik. Konsep alam yang layaknya rumah sendiri memberikan kenyaman dan sentuhan yang berbeda dalam pendidikan di kontemporer ini.

Di sekolah ini, kita diajari mengenai berbagai hal yang bahkan sekolah lain tidak pernah tanamkan. Sekolah ini bahkan sudah mengenalkan apa itu ekologi semenjak duduk di bangku kelas sepuluh melalui mata pelajaran Pendidikan Lingkungan Hidup.

Seorang naturalis bernama Ernst Heinrich Haeckel  menciptakan kata ekologi dengan menggabungkan oikos, kata Yunani yang berarti rumah atau rumah tangga, dengan logos, kata Yunani yang berarti bidang ilmu apa saja. Secara harfiah, ekologi berarti ilmu yang mempelajari rumah. Dapat disimpulkan bahwa ekologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan/interaksi makhluk hidup dengan lingkungan fisik atau rumah tangga dan dengan spesies-spesies lain di sekeliling mereka.

Kerap terjadi pula diskusi di luar jam pelajaran yang membahas isu-isu lingkungan. Mulai dari masalah-masalah pencemaran di daerah sekitar sekolah, hingga masalah global seperti pembalakan liar dan pembakaran lahan gambut di Sumatra. Bahkan tak jarang kami membahas sekaligus menyayangkan pemerintah dalam menangani masalah bencana yang sering terjadi di Indonesia.

Pemerintah justru lebih memusatkan perhatian hanya kepada tindakan-tindakan yang dilakukan oleh pemerintah terhadap penanganan kasus-kasus bencana alam. Sementara penyebab terjadinya bencana hanya dijadikan sebagai renungan sekilas yang mudah terlupakan.

Sehingga hal ini akan mewujudkan pemahaman bahwa sistem alam semesta dibentuk dan disusun oleh sistem hidup dan benda-benda abiotik yang saling berinteraksi satu sama lain. Masing-masing saling membutuhkan dan memiliki fungsi yang saling mengisi dan melengkapi. Kewajiban menjaga tidak hanya ditanggung satu pribadi saja, melainkan akan melibatkan banyak pihak.

Pendidikan seperti inilah yang dibutuhkan Indonesia saat ini. Pendidikan yang terjun langsung ke dalam masalah empiris yang terjadi. Siswa tidak akan merasa bosan karena apa yang sedang mereka pelajari adalah hal yang nyata dan terlihat.

Embun pagi di BADU
Seperti halnya konsep kepramukaan, pendidikan yang tercebur langsung, seperti SMA Negeri 2 Banguntapan, akan lebih banyak memunculkan ekspresi bahagia ketimbang murung dan masam karena bosan terpenjara kurang lebih tujuh jam di ruang kelas.

Mybllshtprspctv®

0 komentar:

Post a Comment

close
Banner iklan disini