Home » , , » Masa Renaissance di Italia

Masa Renaissance di Italia

Sumber Gambar: www.historia.ro
Oleh: Galih Rio Pratama

Tidak banyak orang yang sangat mengetahui, kecuali para sejarawan bahwa Eropa umumnya dan Italia khususnya menjadi modern seperti dewasa ini, sebenarnya telah dimulai sejak zaman Renaissance. Jika zaman Renaissance dimulai sekitar abad ke-14 maka untuk menghasilkan Eropa modern seperti dewasa ini diperlukan kurang lebih lima abad. Modernisasi bagaimana pun memerlukan waktu, bisa panjang bisa pendek tergantung dari berbagai faktor. Kalau bangsa Italia khususnya dan bangsa-bangsa Eropa umumnya memerlukan waktu kurang lebih lima abad, maka bangsa Jepang memulai modernisasi sejak zaman Meiji Restorasi hingga menjadi bangsa modern memerlukan waktu kurang lebih satu setengah hingga dua abad. Dan kini bangsa Indonesia sedang memodernisasi diri dengan harapan dapat menjadi bangsa dan negara yang modern dalam waktu yang relatif singkat dibandingkan dengan bangsa-bangsa lain. Mungkinkah itu? Tergantung pada bangsa Indonesia sendiri, bagaimana menyiasatinya dalam dunia, yang semakin kompleks ini.

Kurun waktu abad ke-15 dan abad ke-16 mempunyai arti khusus dalam perkembangan manusia Fropa. Melebihi masa-masa sebelumnya. keinsyafan mengenai kehidupan pada jaman Renaissance mengarahkan perhatian secara lebih kuat pada kepribadian manusia. Pendapat jaman pertengahan mengenai adanya hubungan yang sederajat antara perorangan dengan masyarakat, yang mau tidak mau terikat secara timbal-¬balik, dikalahkan oleh pendapat tentang manusia, yang memandang masyarakat sekedar sebagaialat untuk memperkembangkan dirinya sen¬diri. Perkembangan ini berhubungan dengan rasa percaya pada diri sendiri yang kuat, yang menjiwai manusia pada jaman Renaissance. Rasa kebebasan serta rasa percaya pada diri sendiri, kedua-duanya menimbulkan pendalaman yang hakiki dalam beberapa hal, tetapi juga meng¬akibatkan ketegangan-ketegangan yang tak terkendali, yang semakin lama semakin besar.

Sementara itu, ilmu alam telah menemukan meto¬denya sendiri. dan secara berangsur-angsur melepaskan diri dari filsafat. Akan tetapi, karena usaha melepaskan diri ini filsafat justru mengalami pu¬kulan-balik, yang menimbulkan perenungan secara lebih mendalam mengenai hakekatnya sendiri. Filsafat melepaskan ikatannya dengan teologi. Secara demikian berhadapan dengan teologi, filsafat juga mere¬nungkan lebih lanjut sifatnya sendiri. Suatu telaah yang diperbaruhi mengenai filsafat jaman kuno memberikan sumbangannya bagi pere¬nungan tersebut. Meskipun terdapat semua faktor tadi, namun abad abad Renaissance tidak secara langsung dapat dipetik manfaatnya bagi perkembangan filsafat. Baru pada abad ke-17 suatu perasaan kuat mengenai kehidupan yang terdapat pada kurun waktu ini memperoleh pengungkapannya yang memadai di biding filsafat.

Dalam pembahasan singkat tentang Renaissance dan modernisasi maka pertama-tama ingin dijawab pertanyaan mengapa Renaissance bermula di Italia dan mengapa Florentia begitu penting peranannya. Dari pembahasan tersebut akan dilanjutkan sedikit banyak tentang ciri-ciri khasnya, para tokoh dan dampaknya bagi masa berikutnya.

Meninggalkan Abad Pertengahan

Perkembangan penting yang kita sebut Renaissance sebenarnya dimulai di Italia pada awal abad ke 14, ketika Dante dengan Divina Comedia¬-nya, atau Gionto dengan lukisan-lukisannya meninggalkan ciri-ciri dan tradisi seni sastra dan seni lukis masa itu. Para seniman abad ke-14 mulai menggambarkan orang-orang tampak seperti sungguh-sungguh hidup, lukisan mereka merupakan rekaman tentang benda-benda dan alam yang sebenarnya sehingga mereka yang melihatnya seakan berhadapan dengan benda atau orang yang sesungguhnya. Para seniman dari sastrawan secara bebas mengekspresikan apa saja yang mereka pikirkan dan mereka kehendaki tanpa man terikat pada norma-norma.

Pada abad ke-14, berkat keuntungan perdagangan bagian Utara Italia dan industri manufakturnya maka kota-kota besar Italia menjadi pelindung bagi para seniman dari berbagai alisan dan bidang seni. Florentia atau Firenze misalnya mulai membangun katedral besar dengan arsitektur baru, yaitu Gereja Santa Maria de Fiore. Orang-orang Italia-lah yang mempelopori banyak hal yang kemudian menjadi standar gaga hidup kapitalis Eropa rnasa itu seperti pembentukan perkongsian dagang, perusahaan dagang, asuransi angkutan laut, perbankan, giro, wesel, dan lain-lain.

Pada Abad Pertengahan segala bentuk kehidupan ini kelihatan tenang, damai dan sakral, tetapi di dalamnya bergejolak rasa tidak puas, hidup tertekan karena beban berat yang ditimpakan oleh gerej a dan pejabat feodal baik secara moral maupun fisik. Ketenangan dan stabilitas yang terwujud karena rasa takut, ketaatan buta terhadap gereja yang mengusai segala aspek kehidupan manusia zaman itu. Segalanya tergantung dan ditentukan oleh gereja. Setelah Perang Salib usai, secara pelan-pelan muncul gerakan reformasi untuk kembali ke suasana zaman klasik (Yunani dan Romawi) di mana manusia mempunyai kebebasan dan keberanian untuk mengekspresikan diri karena tidak terikat secara ketat oleh berbagai norma keagamaan saat itu. Orang mendambakan lahirnya kembali semangat kebebasan, rasionalisme, dan antroposentrisme, itulah esensi Renaissance. Sejak gerakan itu dikumandangkan oleh kaum humanis maka Italia mulai masuk era baru yaitu era modernisme.

Pelopor untuk kembali ke suasana semangat Yunani-Romawi klasik ini justru orang-orang yang biasanya menentang perubahan, yaitu para ahli hukum, kemudian para sastrawan dan seniman. Para ahli hukum dari kota¬kota Italia Utara seperti Padua, Verona, Milano, dan Firenze pada akhir abad ke-13 menjadi pelopor yang meminati, mendalami, dan menggali kembali kitab-kitab hukum Romawi kuno seperti kitab Digesta dan Codex Romano serta karya-karya besar pemikir Yunani klasik dalam bidang filsafat, sastra, ilmu pengetahuan. Kegairahan mendalami karya-karya klasik ini kemudian memunculkan kelompok orang yang disebut kaum umanista (humanis), yang merasa dirinya  lebih manusiawi justru setelah mendalami dan memahami karya-karya klasik. Gelombang perburuan karya-karya klasik ini sampai-sampai membawa orang tertentu menjadi tergila-gila dan lupa diri.

Kebhinekaan Italia

Italia pada masa Renaissance terpecah belah secara politis menjadi beberapa kerajaan, kecil yang mandiri. Dapat dikatakan semua ini mirip dengan kota pada zaman Yunani kuno. Raja-raja begitu berkuasa dan memanfaatkan ajaran agama sebagai dasar legitimasinya. Sama halnya dengan Kerajaan Kepausan yang teokratis, maka kerajaan-kerajaan Italia juga bernuansa teokrasi Katolik yang feodal. Memang tidak semuanya berbentuk monarki, sebab ada pula yang republik seperti Venesia, namun sebagian besar diperintah oleh raja-raja feodal. Anehnya di Italia ini, pergantian kekuasaan hampir selalu disertai bentrok hingga merenggut nyawa (kecuali kerajaan kepausan) karena para aristokrat saling berebut kekuasaan manakala sang raja yang berkuasa meninggal.

Kesadaran "ke-Italian" hanya dirasakan oleh rakyat Italia sejauh harus menghadapi ancaman yang datang dari Prancis, Spanyol, Austria, dan lain-lain. Pada zaman Renaissance ketika kemakmuran makin meningkat, maka masyarakat menjadi lebih majemuk dan semakin terbagi menjadi banyak kelompok sosial dan ekonomi.

Republik Venesia meskipun kecil wilayahnya merupakan salah satu negara yang paling kaya dan paling sedikit sifat ke-Italia-annya dan sekaligus paling bersifat internasional. Republik ini mengandalkan perekonomiannya pada perdagangan internasional. Di Venesia-lah terjadi pertemuan pedagang internasional dari hampir semua bangsa di dunia, pelabuhan laut internasional yang menghubungkan Benue Afrika, Asia, dan Eropa. Republik pelabuhan ini hanya mempunyai kewarganegaraan kaum konglomerat yang terdiri dari 200 keluarga bangsawan. Mereka ini duduk dalam puncak pemerintahan sebagai Dewan Agung, yang membawahi dan memilih Senat sebagai badan legislatif, memilih badan eksekutif yang disebut Collegio  dan juga memilih doge   beserta keenam anggotanya sebagai penegak hukum.

Jika Venesia terkenal sebagai kota pelabuhan, maka Firenze ibukota Republik Florentine adalah kota pedalaman terbesar yang terkenal karena perbankan, perindustrian, dan perdagangannya. Republik Florentine adalah salah satu republik kaya yang pemerintahan¬nya silih berganti diperebutkan oleh kaum "bangsawan penguasa". Di samping itu, karena terkenal sebagai kota industri dan perdagangan maka Firenze menjadi kota yang menarik banyak pendatang dari luar daerah. Akibat besarnya gelombang pendatang ini, kota sering terganggu dan tidak amen oleh banyaknya penganggur. Di pihak lain kota ini juga menarik kaum budayawan, seniman, dan kaum terpelajar untuk mengadu nasib di bawah perlindungan kaum bangsawan yang kaya raya seperti keluarga Medici, keluarga Cambio, keluarga Artedella Seta, dan lain-lain.

Adat dan Semangat Baru

Abad Pertengahan dicirikan oleh semangat kesetiaan seorang prajurit feodal sebagai sikap kesatria, dan kehidupan iman seorang rahib yang berdasarkan dogma agama Katolik masa itu. Pada zaman Renaissance.

semangat Abad Pertengahan itu mulai memudar diganti semangat borjuis, yaitu semangat mencari kekayaan duniawi dan menikmatinya. Hal ini terjadi dalam keluarga-keluarga yang semula dikungkung oleh semangat pietas yang feodal dan mulai menikmati hidup sebagai pedagang yang materialis. Keluarga-keluarga yang terhormat mulai mengarahkan anak anaknya ke arah kehidupan pribadi yang melibatkan diri dalam urusan urusan kenegaraan. Hal itu dilakukan sebab keterlibatan dalam kehidupan kenegaraan secara dini akan memungkinkan terjaminnya usaha dagang di kemudian hari.

Vittorino dan Guarino adalah sebagian dari para ahli pendidikan Renaissance yang berpendapat bahwa tujuan pendidikan adalah membuat orang menjadi kaya akan pengetahuan dan membentuk kepribadian dan sikap yang menyenangkan, sehingga siap menyesuaikan diri pada setiap bidang kehidupan. Pendidikan harus mampu membawa orang dapat bekerja dalam masyarakat, memberikan keterampilan yang membuat orang siap dalam berbagai tantangan. Maka tidak mengherankan sekolah-sekolah seperti yang didirikan oleh Vittorio dan Guarino diserbu oleh anak-anak lelaki dari keluarga terpandang di Italia.

Di samping arah dan sifat pendidikan pada zaman Renaissance mulai bergeser ke tujuan-tujuan yang bersifat duniawi, maka aturan-aturan bertingkah laku (regula modestiae) zaman itu mulai ditata kembali menurut tuntutan zamannya. Sebagai misal pada akhir abad ke-13, Fra Bonvincino da Riva menulis buku "Lima Puluh Kesopanan dalam Tata Cara Makan" yang antara lain dikatakan bahwa "orang yang mabuk melakukan tiga kesa¬lahan: ia merugikan badan serta jiwanya, dan anggur yang ia minum hilang percuma".

Dalam bidang kesenian terjadi perubahan yang amat mendasar. Para seniman Italia bergerak dari seni Abad Pertengahan yang tidak realistis serta penuh lambang, bergeser ke suatu seni yang mengungkapkan dunia nyata secara akurat dan naturalis. Gerakan ini dimulai di Firenze dan terus berkembang di kota tersebut. Gerakan itu sendiri mendapatkan sentakan dari tiga angkatan yang menentukan. Angkatan pertama dimulai pada awal abad ke-14 dipelopori oleh Giotto. Angkatan kedua dimulai pada awal abad ke-¬15 yang dipelopori oleh pelukis Masaccio dan pematung Donatello. Dan angkatan ketiga yang menguasai akhir abad ke-15 dan ke-16 dipelopori seniman besar serba bisa Leonardo da Vinci dan Raffaello serta mencapai puncaknya pada diri Michelangelo.

Pendek kata seniman pada abad ke-14 tidak dapat mandiri dan memang tidak boleh mandiri. Sisa-sisa kolektivisme ini masih bercokol sampai awal abad berikutnya. Ciri karya seni masa itu adalah anonim, karena karya seni memang hasil karya kolektif.

Sejalan dengan perkembangan dalam bidang seni maka aliran Humanisme juga berkembang dan mampu memberikan wawasan makin luas kepada para seniman tentang diri manusia. Maka tidak mengherankan pada awal abad ke-15. Baru pada abad ke-15 seniman dipandang seorang profesional, seperti halnya para dokter, bankir, dan pengacara. Seniman mulai terhormat kedudukannya, meskipun banyak orang tua pada umumnya masih belum rela bila anaknya memilih profesi sebagai seniman. Sebagai contoh ayah Michelangelo yang seorang hakim kota Florenze melarang anaknya itu menjadi seniman. Setelah mendapat desakan dan jaminan hidup dari keluarga Medici akan masa depannya, sang ayah mulai membiarkan anaknya memilih jalan hidupnya sebagai seniman.

Firenze dan Keluarga Medici

Berbicara zaman Renaissance di Italia tidak bisa tidak harus berbicara tentang kota Firenze atau Florentia atau Florenze. Kota Firenze di zaman Renaissance orang tidak dapat melepaskan diri dari keluarga Medici atau sebaliknya. Keduanya laksana satu masa uang dengan dua muka yang berbeda peranannya dalam modernisasi Italia. Oleh sebab itu, membicarakan salah satu harus melibatkan yang lain.

1.    Firenze Kota Pelopor

Firenze sebagai kota dagang dan industri terkenal karena menjadi pusat keuangan Italia di masa itu. Sebab dari kota ini para bankir yang jumlahnya cukup banyak tidak Baja mengendalikan Italia tetapi bahkan Eropa. Pada masa itu Firenze sudah dikenal sebagai kota hidup 24 jam, kota tidak tidur, kota ini mempunyai penduduk yang bersemboyan, "per non dormire" ; dan pada bagian lain mereka mengatakan "Florentines ingentis nihil arduit est" (tidak ada yang tidak dapat dikerjakan oleh orang Firenze). Hal ini menjadi salah satu pemacu orang Firenze untuk terus mencari cara bagaimana mengembangkan uang dan bukannya bagaimana menikmati kekayaan dan menikmati dunia ini.

Firenze adalah ibukota Republik Florentia yang pada prinsipnya menganut sistem pemerintahan demokratis, kendati pemerintahannya tidak pernah stabil karena menjadi ajang persaingan antara keluarga-¬keluarga kaya (populograsso) yang wring kale berakhir dengan kekerasan dan kerusuhan. Namun secara umum Florentia diperintah secara demokratis dan memerhatikan kepentingan rakyat pada umumnya.

Dengan keadaan seperti itulah kota Firenze berkembang menjadi kota makmur dan tidak mengherankan melahirkan seniman-seniman besar, para ilmuwan terkenal, sastrawan jenius dan arsitek besar, seperti Leonardo da Vinci, Michelangelo, Niccolo Machiavelli, Giotto, dan lain-lain. Maka juga tidak mengherankan bila Firenze dapat mempertahankan kemasyhuran peranan pentingnya dalam modernisasi Italia selama hampir dua abad. Firenze telah menjadi awal pembaruan berbagai bidang kehidupan rnanusia mulai bidang sumber daya manusia, keuangan, perdagangan, serial, dan budaya. Benih-benih Humanisme yang mengalirkan liberalisme, indivualisme serta rasionalisme mendapat tempat subur untuk arkembang ke seluruh penjuru Eropa.

2.    Keluarga Medici

Menelusuri asal-usul keluarga de Medici ternyata tidaklah mudah, kendati cukup terkenal di zamannya, sebab keluarga ini memang tidak mempunyai darah biru. Sebaliknya ada dugaan kuat keluarga Medici berasal dari keluarga petani kecil, meskipun menurut cerita mereka mempunyai keahlian dalam ilmu pengobatan. Keluarga ini mulai mempunyai nama terhormat dalam masyarakat pada paruh kedua abad ke-14 ketika Averardo de Medici, yang dikenal dengan nama Bicci berhasil dalam usaha wiraswasta ulat sutera, kain lenen, akhirnya menjadi bankir.

Usaha Bicci semakin berkembang ketika anaknya yang bernama Giovanni di Bicci mengembangkan usaha-usaha banknya tidak raja di Italia (Firenze, Roma, Venesia, Milan, dan Pisa), tetapi juga mulai meluas sampai ke Jeneva, Lyons, Avignon, Brugge, dan London. Dan sejak tampilnya Giovanni ini, keluarga Medici namanya terus bersinar cerah dan terlibat dalam berbagai bidang kehidupan masyarakat termasuk dalam bidang politik ketika dirinya terpilih sebagai gonalonior  di Firenze pada tahun 1421. Dan mulailah keluarga Medici memadukan antara keterampilan bidang ekonomi dengan bidang politik, sebab sambil menjadi penguasa politik sekaligus menjadi raja dalam sektor ekonomi. Maka tidak mengherankan di zaman Renaissance ini antara politik dan ekonomi sulit dipisahkan.

Giovanni mempunyai dua orang anak yaitu Casimo (1389-1464) dan Lorenzo (1394-1440). Dari dua anak ini maka Casimo adalah keturunan keluarga Medici yang paling cemerlang, sebab dialah yang membawa keluarga besar Medici mencapai puncak kejayaannya baik dalam bidang politik, ekonomi bahkan agama. Keturunan selanjutnya tinggal melanjutkan kisah sukses pendahulunya. Bahkan Casimo-lah tokoh utama yang membawa keluarga menjadi pelopor dan pelindung bidang budaya, kesenian, dan ilmu pengetahuan.

Dengan segala usahanya itu keluarga Medici sungguh menjadi keluarga yang amat disegani dan dihormati oleh kawan maupun lawan-lawannya. Jadi, tidak mengherankan ketika Casimo meninggal tahun 1464 rakyat Firenze merasa kehilangan seorang tokoh besar. Firenze berduka karena kehilangan seorang yang penuh bakat, dermawan, humanis, dan kaya raga. Sepeninggal Casimo, keluarga Medici memang masih cemerlang sebab cucunya yang bernama Lorenzo (1449-1492) tampil sebagai diplomat ulung, seniman, dan akhirnya menjadi penguasa Firenze yang masyhur.
___________________________________________________

Referensi:

Adisusilo, Sutarjo. 2013. Sejarah Pemikiran Barat dari Yang Klasik Sampai Yang Modern. Jakarta: Rajawali Pers.

Hadiwijono, Harun. 2002. Sari Sejarah Filsafat Barat 2. Yogyakarta: Kanisius.

Hakim, Atang Abdul, dkk. 2008. Filsafat Umum dari Mitologi Sampai Teofilosofi. Bandung Pustaka Setia.

Soemargono, Soejono. 1992. Sejarah Ringkas Filsafat Barat. Yagyakarta: Tiara Wacana Yogya.

Mybllshtprspctv®

1 komentar:

  1. Greetings! Very useful advice in this particula post!
    It's the little changes that produce the biggest changes.
    Many thanks for sharing!

    ReplyDelete

close
Banner iklan disini