Home » , » Mati di Kolong Jembatan

Mati di Kolong Jembatan


Oleh: Gusti Aditya

Di kolong jembatan ini aku bertanya pada diriku, bagaimana jika aku mati?
 
Belakangan ini aku di hadapkan dengan berbagai terror yang membuat kepalaku rasanya ingin pecah. Tiba-tiba sekelebat muncul bahwa kematian tak lama lagi akan segera muncul. Aku gemar membaca buku, maka tak semata-mata aku melampiaskan rasa penasaranku terhadap buku-buku itu.aku gemar membaca, namun aku tak banyak berharap jika buku-buku tersebut dapat  menolongku.

Di sampingku ada mahasiswa mabuk yang sedari tadi maraca akan membunuh dosennya. Kenapa? Tanyaku. Ia menjawab bahwa dosennya tak kunjung meluluskannya, padahal orang tuanya di desa telah banting tulang membiayainya. Aku hanya mengangguk, tetapi permasalahanku kali ini lebih kompleks dari dia.

Sepanjang malam yang dingin dan dihantui sepi, otakku tersiksa memikirkan hal-hal tak cerdas dan tak intelektual mengenai situasi yang aku rasakan. Di kolong jembatan ini pula, aku menyadari bahwa kematian adalah situasi yang total dan nirwaktu. Jika suatu saat aku enyah dari bumi, itu berarti susunan hierarki yang aku bangun selama ini tidaklah berarti.

Aku menyadari bahwa mahasiswa di sampingku mala mini sadar betul mengenai kematian, toh dia hendak mencoba membunuh dosennya, namun barangkali dia menyikapi dengan tenang tentang kematian. Berbeda halnya denganku, aku diam dan tersenyum, namun aku dihantui hal-hal tersebut.

Aku membayangkan, jika esok atau lusa aku mati, berarti apa yang aku berbuat selama ini adalah hal yang tidak berarti? Kemudian aku melihat segerombolan keluarga yang menyantap pecel lele dengan senyum dan tawa yang mengembang tanpa tahu bahwa salah satu dari mereka, esok atau lusa, akan mati. Menyedihkan.

Mereka seperti segerombolan ayam yang ceria, berkokok, lari kesana-kemari yang tak tahu bahwa esok badan mereka akan berada di panggangan. Yang pasti mereka akan mati, entah jasad mereka akan menjadi debu yang diletakan di dalam guci, terkubur di dalam tanah dengan ulat yang menggigiti atau terhempas di laut bebas tanpa ada yang menemukan.

Di bawah gelombang pemikiran ini, banyak mobil dan motor berlalu-lalang di atasku. Namanya juga kolong jembatan layang. Namun, pemikiran ini aku sadar bahwa pengaruh ajaran tradisi orang-orang tua seperti Kant, Schopenhauer dan Wittgenstein awal. Hanya saja perasaan ini menghunusku secara langsung, bukan secara kesimpulan dan teoritis.

Esok pasti akan berjalan seperti pagi tadi. Orang-orang akan bergegas menuju kantor, kemudian bergegas pulang tanpa menyadari bahwa matahari selalu hadir. Mereka baru ingat jika matahari tidak hadir. Itulah manusia, termasuk aku.

Esok akan ada manusia yang melakukan korupsi, demo-demo akan berlangsung sepanjang jalan utama hingga presiden yang pusing memikirkan Negara. Lalu apa yang terjadi setelah, mungkin, 3 tahun berlalu? Semua akan dilupakan dan hanya dikenang oleh para sejarahwan. Seperti diriku, semua akan lupa jika pagi tadi aku memberi makan ikan mas di kampusku.

Adakah yang abadi? Aku rasa ada. Karya klasik semacam Being and Time karya Heidegger merupakan sebuah karya yang dikenang dan selalu abadi dalam kalangannya. Hegel juga sama walau keduanya, menurutku, memiliki tingkat kesulitan yang di atas rata0rata dan mendekati ‘tidak jelas’ barangkali.

Matinya orang sukses dengan biasa saja itu berbeda. Orang biasa, jika mati, akan selalu dikenang yang baik-baiknya saja. Tetanggaku contohnya, semua akan membicarakan kebaikan dia yang menyapu Masjid di jadwal piketnya ketimbang saat dia dikeroyok warga karena mencuri manga milik tetangganya.

Lalu bagaimana dengan matinya orang sukses? Lihatlah si Übermensch, ketika dia mati, yang diingat adalah bahwa dia telah membunuh tuhan pada Tahun 1960an dan Tuhan membalas Nietzsche 30 tahun kemudian bahwa Nietzsche sudah mati. Apakah Nietzsche sukses? Tentu saja. Jika ia tidak sukses, mungkin ia mencukur kumisnya.


Bagaimana jika aku yang mati? Ah, barangkali banyak pihak yang bahagia, sementara orang-orang baik hatinya lah yang akan bersedih.

Aku hanya ingin dia sembuh malam ini. Entah apa yang aku lakukan di kolong jembatan ini. Setidaknya malam ini lebih hangat dari malam kemarin. Ya, karena malam ini aku lebih merencanakannya lebih hati-hati.

Selamat tidur dan selamat berjumpa di dimensi yang berbeda. Aku duluan, ya.

Mybllshtprspctv®

0 komentar:

Post a Comment