Home » , » Metode Intuitif Henri Bergson

Metode Intuitif Henri Bergson

Sumber Gambar: Pinterest
Oleh: Alarumba Agamsena

Pendahuluan

 Bergson

Seorang Yahudi yang sejak umur 22 tahun sudah mengajar di banyak sekolah. Ia merasa konnaturalitas dengan filsafat Plotinus, terutama pada akhir hidupnya.

 Filsafatnya

Semua berasal dari dorongan hidup l’elan vital dan muncul dari gaya itu. Maka filsafatnya sering disamakan dengan vitalisme biologis. Bergson melawan seluruh materialism dan mekanisme. Bergson mengaku dengan hadirnya vitalitas naluri dan biologi, tetapi ia lebih menekankan vitalitas spiritual, yaitu kebebasan dan spontanitas.

Filsafat Bergson bersifat spiritualitis.ia menyelami kegiatan spiritual intern di dalam individu konkrit, namun dengan cara ilmiah dan dapat dipertanggungjawabkan.

 Metodenya

Gaya berpikir Bergson begitu khas dan khusus. Metodenya bersifat intuitif. Namun metode ini sekaligus menimbulkan rasa putus asa bagi seorang logikus karena sukar ditangkap dalam konsep dan kategori. Bergson lebih berpikir dalam ‘riak gelombang’ ketimbang menyelam dalam konsep-konsep. Sistemnya bukan rapat secara logis, tidak memberikan konstruksi logis, namun Bergson memberikan secara sekelumit hidup.

Gambaran Menyeluruh

Bergson paling menentukan intuisisnya mengenai seluruh kenyataan kosmis sebagai la duree. Itulah inti dari segala pikiran dan ide induk. Intisari tersebut merupakan apriori.

 Intuisi hidup

Dinamik kosmis hanya bisa dipahami jika manusia menyelami dan membiarkan dirinya tercebur dalam arus kesadaran yang tak terputus. Identifikasi tersebut ditemukan dalam tahap naluri, contohnya adalah tidak mengejar keuntungan, lolos dari tuntutan kegiatan. Pengalaman batiniah inilah menghasilkan pengertian mutlak.

 Analisa membeku

Intuisi bukan saja flash of insight, namun juga suatu usaha mental dan konsentrasi pikiran. Pengalaman batiniah harus diuraikan oleh akal budi: bersifat relatif dan tergantung dari sudut pandang yang dipakai. Uraian sedemikian tersebut terjadi dalam konsep-konsep. Pengalaman yang mengalir itu diklasifisir dan disistematisasi. Konsep tersebut membekukan dan membagikan arus yang hidup.

 Dialektik kedua pengertian

Pengertian konseptual itu menyingkirkan pengalaman otentik. Uraian tersebut harus selalu menjadi rangka intuisi akan arus. Dengan menggambarkan kenyataan aktuil secara jelas dan terperinci, ia menciptakan kembali pengalaman langsung. Bergson bertitik tolak dari konsep-konsep sehari-hari tetapi ia siasati.

Konsep-konsep tersebut terus ditransformir dalam arah tertentu; mereka menentukan arah. Mereka turun dalam naluri materiil sampai membeku dalam bidang anorganis. Mereka naik dalam bidang rohani-manusiawi, sampai padat dan tegang. Konsep tersebut bertegangan dan bergerak antara materi dan roh, kata dan visi, kausalitas dan kebebasan, antara struktur dan arus.

Simbolisme

Bergson memakai banyak simbol untuk mencairkan konsep-konsep dan untuk mengarahkan ‘visi’ dan ‘intuisi’. Bagi bergson, simbol nyatanya tidak mematikan gerak, begitu juga tidak mengurangi keluasan realitas, sehingga banyak orang menduga akan hal tersebut. Simbol mempunyai peran ganda, di satu pihak simbol menampakkan realitas tersembunyi, di lain pihak simbol membanto orang dalam mencapai intuisi. Simbol dan gambaran-gambaran pada umumnya meliputi kegiatan, gerakan,  usaha yang dinamis, hidup, cahaya, elan dan mobilitas.

Kesimpulan

Metode Bergson bukannya bersifat anti-intelektual melainkan supra-intelektual, metode ini menuntut dan mengerjakan suatu perbaikan dari kebiasaan. Manusia harus mengambil jarak (distance)dari logika dan menyerahkan diri pada kenyataan murni: gerakan.

Kesamaan dengan plotinos : Peningkatan dari material dan kebekuan pada hal yang spiritual dan bebas.

Perbedaannya : Bergson tidak menuju pada kontempelasi tenang tetapi ke dinamika yang bergelombang.

___________________________________________________

Referensi:

Bakker, Dr. Anton. 1984. Metode-Metode Filsafat. Jakarta: Ghalia Indonesia.

Mybllshtprspctv®

0 komentar:

Post a Comment

close
Banner iklan disini