Metode Intuitif Plotinos

Sumber Gambar: Pinterest
Oleh: Alarumba Agamsena

A.    Sekilas Mengenai Plotinos


Pemikiran Plotinos merupakan cikal bakal dari berdirinya ajaran neo-platonisme. Dan Plotinos merupakan contoh yang paling besar.ia menimba filsafat dari gurunya yang bernama Ammonius Saccas. Ia banyak mengembara dan salah satunya ke Mesopotamia. Kemudian membuka sekolah filsafat di Roma. Tulisannya yang terkenal adalah Enneades yang disusun oleh Porphyrios.

B.    Beberapa Pendahuluan

1.    Metodenya

Metode Plotinos disebut  juga metode intuitif atau mistik. Penggunaan kata mistik juga merupakan pengembangan dari masa itu. Di Mesir juga tengah didirikan kelompok-kelompok teolog-teolog kontemplatif yang membicarakan hal-hal religious. Sikap kontemplatif tersebut yang diresapi dalam metode Plotinos. Filsafatnya bukanlah sebuah doktrin, melainkan sebuah way of life.

2.    Enneades

Plotinos mulai menulis ketika berumur 50 tahun dan dalam tahap ini pemikirannya masih berkembang. Plotinos sendiri metodenya lebih menekan eksplisitasi intuisinya. Kenaikan pikiran yang dicapainya melalui jalan penyucian dan akese, sekarang diungkapkan dan dijelaskan.

C.    Suasana Dialog

Plotinos menganggap bahwa suasana dialog sebagai pengatur dan penjelas prihal pemahamannya. Dialog juga diperlukan sebagai menemukan argument-argumen yang meyakinkan orang. Dialog juga digunakan dalam suasana kelas dalam diskusi dan muridnya diberikan tugas dalam ‘kuliah kerja’.

D.    Jalan Maju: Dialektika

1.    Bahan Sebagai Titik Pangkal


Plotinos mencari inspirasi dan informasi dari pengarang-pengarang sebelumnya seperti Plato, Aristoteles dan Stoa. Plotinos kerap bertitik tolak dari pembacaan teks konkrit. Bagian-bagian Enneades kerap mulai dari suatu tesis ajaran Plato atau Aristoteles.

2.    Prinsip Metodis: Harmoni

Didalam sistemnya, Plotinos banyak mengambil bahan dari filsuf-filsuf lainya, kemudian ia membandingkan dan menimbang yang diolah menjadi sebuah interpretasi yang baru. Jika bahan yang baru tersebut konsisten dan dalam harmoni dengan keseluruhan pandangannya mengenai kosmos: yaitu penurunan kemurniaan illahi, dan kenaikan jiwa kembali ke kesatuan Tuhan. Keseluruhan visi sintesis tersebut menjadi “apriori” metodis bagi Plotinos.

Oleh karena “apriori” tersebut uraian Plotinos bersifat lebih dogmatis, tidak begitu tentatif. Plato juga mempunyai lebih banyak titik pandangan, dan lebih plastis dalam filsafatnya, bahkan Plotinos mempunyai banyak hal yang mendekati suatu kontradiksi.

3.    Pembuktian

Filsafat Plotinos pada umumnya tidak memiliki pembuktian-pembuktian menurut Aristoteles. Ia lebih membiasakan pendengarannya dengan kebenarannya dan tidak begitu membuktikan ucapannya. Ia kerap mengandalkan apa yang mau dibuktikan. Dalam argumentasi ia kerap hamper kontradiktoris.

a.    Aspek Induktif (analisa)

Plotinos seringkali melakukan semacam fenomenologi umum, ke’atas’; yaitu releksi atas pengalaman manusiawi. Untuk membuktikan suatu kebenaran, ia kerap mengajukan hipotesa lain (andaikata...) yang satu per satu ditolaknya. Argumen yang dipakainya kerap bersifat induktif saja, dari pengalaman, dari instrospeksi psikologis, kerap juga ia mempergunakan aksioma yang umum diterima dalam tradisi Yunani.

b.    Aspek Deduktif (sintesa)

Dari pemahaman yang dicapai dengan jalan ‘fenomenologis’, dideduksikan kenyataan ke ‘bawah’. Pemahaman itu juga menyoroti secara baru semua data-data dan fakta-fakta tadi.


___________________________________________________

Referensi:

Bakker, Dr. Anton. 1984. Metode-Metode Filsafat. Jakarta: Ghalia Indonesia.

Mybllshtprspctv®

0 komentar:

Post a Comment

close
Banner iklan disini