Metode Kritis Plato

Sumber Gambar:Elvin Dantes
Oleh: Alarumba Agamsena

A. Sekilas Mengenai Plato

Peristiwa yang dialami oleh Socrates, mengenai Socrates dihukum mati, meninggalkan traumatis yg mendalam atas jiwa Plato, karena ia menganggap Socrates adalah manusia yang paling bijaksana. Plato menulis serangkaian dialog filosofis dengan menempatkan Socrates sebagai tokoh protagonis. Ada dua motif Plato; yaitu pembangkangan terhadap penguasa dengan menegaskan kembali ajaran Socrates serta untuk merehabilitasi nama baik sang guru.

B.    Titik Tolak

Titik tolak dari metode-metode Plato ialah meneruskan pemikiran sedari gurunya, yaitu Sokrates. Plato menegaskan bahwa ada suatu yang tak terubahkan dalam sebuah hakekat, seperti ada dalam sebuah benda, manusia dan masih banyak lagi. Pembada dari gurunya ialah metodenya Plato berlatar belakang lebih idealistis dengan ajaran mengenai ide.

C.    Dialektika

Dialog

Bagi Plato, dialog adalah metode filosofis paling utama dan merupaka seni manusia yang paling luhur. Bentuk dialog seperti dipakainya bukan saja dalam bentuk penyajian. Plato mengusung unsur metodis Socrates, namun penalarannya diperluas, dialektika berarti cara maju dengan logis. Terutama hipotesa dan definisi.

Hipotesa

a.    Perbandingan

Metode hipotesa dibandingankan Plato dengan metode ilmu yang lain. Contohnya dalam buku Politea milik Plato di mana ilmu pasti sudah di-menon olehnya.

b.    Penentuan Hipotesa

Dalam hal ini, dicari dalil yang dapat menerangkan adanya suatu peristiwa atau fakta. Misalkan bagaimana dapat diterangkan suatu kecantikan di dalam seseorang yang cantik. Hal ini berarti hipotesa wanita tersebut berpartisipasi pada “yang indah sendiri.

c.    Pemeriksaan dan Sintesa

Setelah itu, hipotesa tersebut “ditarik ke bawah”. Semua hipotesa akan diverifikasi. Setelah ditetapkan bahwa suatu benda menurut salah satu sifat dapat diverifikasi, maka hipotesa dibenarkan. Dan jika hipotesa tersebut dibenarkan, maka segala kasimpulan khusus dapat dijabarkan, disebut sintesa.

d.    Analisa

Hipotesa itu sendiri harus memiliki keterangan dengan hipotesa yang lebih tinggi, dan untuk hipotesa yang kedua harus dicari hipotesa yang lebih tinggi pula. Misalnya: dan kalau jiwa menghidupi badan, apakah seharusnya bersatu dengan badan ?. Dalam prose situ kejelasan hipotesa lebih tinggi entah membenarkan atau pula dapat “menghancurkan” hipotesa lebih rendah.

e.    Pengetahuan Definitif

Proses analisa ini disebut juga sebagai proses “melihat” sebuah intuisi. Melalui jalan inilah dicapai noesis, ialah intuisi atau kontempelasi akan ide-ide murni. Ide-ide tersebut lalu ditarik kesimpulan khusus yang berlaku bagi ide-ide rendah dan bagi aneka benda dan peristiwa.. Seluruh kenyataan dan segala macam pengetahuan lalu dilihat dengan lebih baik pula.

f.    Perbedaan dengan Metode Ilmu

Walaupun serupa dengan metode ilmu pasti dan ilmu-ilmu lain, namun “dialektika Plato” berbeda pula dalam dua hal :
  1. Hipotesa-hipotesa ilmu-ilmu tidak diterangkan lagi dalam analisa seperti dalam dialektika; tidak dijelaskan bahwa memang sebaiknya atau seharusnya demikian.
  2. Hipotesa-hipotesa ilmu-ilmu hanya merupakan ide-ide rendah, yang tetap bergantung dari “bawah”, dari benda-benda indrawi; dialektika juga mempertanggungjawabkan dari “atas” tanpa diganggu lagi oleh pancaindra.

Definisi

Plato beranggapan bahwa pengertian definitif perlu dituangkan dalam definisi. Diandaikan pengertian-pengertian yang dicapai melalui hipotesa-hipotesa.

a. Penghimpunan

Dalam merumuskan hakekat, terlebih dahulu dilakukan penghimpunan, sintesa (sunagoge ). Yaitu: istilah-istilah dan ide-ide yang kiranya serupa ataupun berhubungan dengan hal yang mau dirumuskan dapat digolongkan dan dapat dibandingkan., guna menentukan kelompok luas ataau “kelas” termasuk hal itu.

b. Pembagian

Selanjutnya dilakukan “pembagian” (diaresis); yaitu kelompok umum yang telah ditentukan ataupun dibagikan sedapat-dapatnya menjadi dua “kelas”.Pembagian itu selalu harus terjadi menurut “sendi-sendi natural”. Pembagian itu harus hati-hati, tidak boleh melampaui salah satu sifat pembedaan yang perlu bagi definisi. Tetapi oleh karena itu definisi menurut Plato berbeda dengan apa yang diutarakan oleh Aristoteles. Sifat-sifat yang kerap disebut sebagai aksidentil. Definisi Plato lebih berupa sebagai “klasiikasi”, bersifat lebih praktis dan konkrit. Namun hal yang melatarbelakangi lebih bersifat idealistis,, sebab dengan jalan definisi itu dicari bagi hal yang harus terlebih dahulu dirumuskan, manakah tempatnya diantara hierarki ide-ide.

Baca juga Metode Kritis Sokrates.
___________________________________________________

Referensi:

Bakker, Dr. Anton. 1984. Metode-Metode Filsafat. Jakarta: Ghalia Indonesia.

Mybllshtprspctv®

0 komentar:

Post a Comment