Metode Kritis Sokrates


Oleh: Alarumba Agamsena

Sokrates memang tidak meninggalkan tulisan apa pun, namun murid-muridnya lah yang menggoreskan tinta untuk sang guru, sebut saja; Plato, Xenophon, Aristophases dan masih banyak lagi. Bahkan ada yang mengatakan jika Sokrates hanyalah tokoh fiksi karya Plato. Terdapat persetujuan jika metode Sokrates paling tepat ditemukan dalam dialog-dilaog Plato, maka disebut dialog sokratis, yaitu Apologia, Kriton, Eutyphron, Lakhes, Ion, Protagoras, Kharmides dan masih banyak lagi.

Titik-tolak dan Rencana
  • Pengetahuan Semu
Setiap manusia memiliki pendapat untuk hal-hal asasi, seperti apakah kebahagiaan itu dan bagaimana kah pemerintahan yang paling baik. Namun manusia hanya mengerti secara serampangan saja atau mempelajari semua secara tidak serius, padahal itu adalah hal yang penting. Sokrates sadar akan hal tersebut. Maka Sokrates mencari pengetahuan semu tersebut dan membantu orang-orang lain. Ia melakukan dengan antusias dan berlandaskan rasa cinta (eros).
  • Sasaran
Sasaran Sokrates ada dua hal. Pertama, ia mencari “yang umum”  dan yang batiniah dalam benda-benda, terutama dalam manusia. Yang dimaksud adalah intisari atau yang disebut dengan “hakekat”. Kedua, “yang umum” tersebut bersangkutan dengan tingkah-laku manusia, kebajikan susila atau keutamaan (arête), misalkan hakekat persahabatan, keadilan dan hale tis lainnya.
  • Ilmu Kebidanan atau Maieutikê Tekhnê
Sokrates yakin bahwa ada pemahaman sejati yang tersembunyi dalam setiap jiwa manusia. Manusia pun tahu bahwa intisari setiap benda-benda, namun tertimbun oleh pengetahuan semu. Jadi pemahaman tersebut harus dibuka lagi seakan-akan dilahirkan. Jadi karyanya adalah menjernihkan keyakinan-keyakinan orang; menelitinya apakah konsistensi interen atau tidak. Oleh karena itu metodenya disebut kritis.

Jalan Maju “Dialektika”
  • Dialog 
Sokrates terus mengembara di kota dan jika ada kesempatan baik, maka ia akan mengajak berbicara, ia tidak menguraikan gagasannya secara tulisan. Banyak kaum muda atau tua  yang meminta nasihat berupa tingkah laku praktis atau pengetahuan, bagi dia, cara seperti ini dapat menyadari kekurangan pengetahuannya. Maka kerangka metodenya adalah dialektike tekhne; seni berwawancara, sangat tenang dan sederhana namun disisipi oleh humor dan penalaran segar dan tak terduga. Wawancara bukan hanya omongan ngalor-ngidul, namun memiliki arah yang jelas, pemahaman yang tajam dan pikiran-pikiran yang jelas.
  • Rumusan Sebagai Titik-tolak
Sokrates mengetahui kekurangannya dan menjadikan orang lain sebagai rumusan hal yang ingin diteliti. Terutama itu Sokrates menanyai orang yang pandai dalam bidangnya; missal Sokrates hendak meneliti keberanian, maka Sokrates akan bertanya kepada seorang panglima.
  • Pembantahan (Elenkhos)
Bertitik-tolak dalam rumusan pangkal tersebut, Sokrates mengajukan pertanyaan lain, berhubungan dengan tema tersebut. Sokrates mulai mengejar dengan contoh konkrit, disusuli pertanyaan-pertanyaan dan memberi saran yang akan diterima atau ditolak. Jawaban-jawaban tersebut kerap menimbulkan pertentangan dengan rumusan awal. Sehingga terjadi reduction ad  absurdum, di mana rumusan tersebut akan terus diperbaiki dan diperhalus. Hal ini disebut juga cross-examination, dengan membandingkan jawaban dengan perkataan.
  • Induksi (Epagoge)
Selama melakukan pemeriksaan yang berbelit tersebut, Sokrates melakukan semacam induksi. Misal ia mencari arti kata keberanian, ia akan bertanya kepada panglima, tukan cukur, nelayan dan profesi lainnya. Atau ia mengajukan contoh-contoh konkrit yang semua dianggap menghayati sikap yang diselidiki. Jika sudah diterima, kemudian memberi semacam analogi. Sehingga akan tersedia deretan sesuatu yang konkrit.
  • Definisi
Setelah proses membandingkan, membersihkan, menyisihkan dan menolak, kemudian Sokrates berusaha membuat suatu generalisasi dan merumuskan sesuatu yang umum; suatu definisi atau rumusan. Definisi tersebut harus tepat; tidak kurang dan tidak lebih. Ia tidak mencari arti biasa dalam kehidupan sehari-hari, melainkan dengan kenyataan hakiki, menghendaki rumusan analitis yang menjelaskan susunan kodrad esensial.

Hasil Dialektika
  • Pembongkaran
Dalam dialog sokratis biasanya tidak dicapai hasil definitif, pengetahuan semu dibongkar dan akan mengandung pertentangan-pertentangan. Sokrates menggunakan segi pembongkaran dalam perdebatan melawan orang yang memusuhi dia. Contoh perdebatan Meletos, dalam Apologia. Bukan pertama-tama mau mencari kebenaran, melainkan diperlihatkan bahwa kepercayaan diri yang palsu menutupi jalan bagi pemahaman. Tak jarang Sokrates tidak malu menggunakan penalaran palsu untuk memperdaya lawannya.

Segi pembongkaran ini juga mengandung bahaya. Sebab prihal kewibawaan dan prasangak dipersoalkan di dalamnya. Sokrates menimbulkan sikap kritis dan keragu-raguan bagi lawannya. Mereka kurang memahami maksud positif dan kesungguhan Sokrates, maka banyak kaum muda yang senang dengan melihat orangtua dipermalukan dalam perdebatan. Sehingga Sokrates dicap membahayakan kaum muda.
  • Kesadaran Kurang Tahu
Kaum Sofis hanya mempermainkan kata, sedangkan Sokrates mempunyai maksud yang positif. Kadang dialog dengan Sokrates tidak memberikan suatu pemecahan masalah dan tidak ditemukan rumusan yang dituntut olehnya. Kadang juga perdebatan diakhiri dengan kebingungan dan ada pula ucapan yang mustahil dicocokan. Sokrates kemudian tidak memberikan jawaban karena ia juga sadar bahwa ia kurang tahu.

Tetapi orang yang semula ahli dibidangnya, terkadang tersadar bahwa ia juga kurang tahu. Ia menyadari akan pengetahuan semu, kemudia ia tertantang untuk mencari arti rasional yang terkandung dalam hidup; ia mulai memahami diri dan mulai mencari terus. Ia juga sadar bahwa dilakukan dua orang secara bersama lebih besar karena mungkin yang satu memiliki pengalaman lebih banyak.
  • Kebijaksanaan
Kesadaran akan mencari terus akan membuka hati seseorang agar menerima pengetahuan yang lain. Itulah sophrosyne atau kebijaksanaan dan kebenaran perihal jiwa yang harus diperbaiki. Kebijaksaan hanya dapat didapatkan secara pengalaman personal, bukan hanya melalui diktat semata. Maka filsafat bukanlah usaha belajar semata, melainkan mencarinya. Oleh karenanya, manusia menjadi angry with himself and gentle to others. Kebijaksanaan inilah yang menyebabkan Sokrates enggan ingkar dari keputusannya untuk menenggak racun.

Baca juga Metode Kritis Plato

___________________________________________________

Referensi:

Bakker, Dr. Anton. 1984. Metode-Metode Filsafat. Jakarta: Ghalia Indonesia.

Mybllshtprspctv®

0 komentar:

Post a Comment