Home » , , » Neoplatonisme: Sekilas Eksegesis

Neoplatonisme: Sekilas Eksegesis

Sumber Gambar: Haiku Deck
 Oleh: Galih Rio Pratama

Neoplatonisme merupakan istilah moderen yang digunakan untuk mengidentifikasi aliran filsafat Platonisian Helenis akhir yang diawali oleh Plotinos, dan berakhir dengan ditutupnya Akademia secara permanen oleh Kaisar Romawi Timur, Justinianus pada tahun 529. Aliran filsafat Neoplatonisme kerapkali dipandang sebagai aliran religius mistik yang berada di luar jalur tafsir utama atas filsafat Platon.

Sejarah Neoplatonisme dapat ditelusuri ke belakang hingga era sinkretisme Helenis yang menghasilkan bibit – bibit pemikiran Neoplatonisme , melalui mazhab gnostisisme; dan tradisi hermenutika injili. Neoplatonisme merupakan pencampuran dari pemikiran Platon, tradisi injili (yang baru saja diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani dalam kanon Septuaginta), dan berbagai aliran sinkretisme yang tumbuh subur kala itu. Kisah penciptaan dalam Kitab Kejadian, dan pandangan kosmologis Platon dalam Timaios dirangkai dalam mahakarya Plotinos, Enneads. Dua pengikut Plotinos, Porphyrius, dan Lamblkhus, masing – masing menciptakan gaya berfilsafatnya sendiri, meskipun demikian ide – ide utamanya masih mengikuti pemikiran Plotinos.

Tidak seorangpun dari keduanya yang mampu mengembangkan sistem filsafat yang sekomplet ‘guru’ mereka. Adalah Proclus, yang mana sesaat sebelum penutupan Akademia, mampu mengembangkan sistematika pembacaan filsafat Platon dalam kerangka kajian Neoplatonisme secara lebih segar, sehingga mengembangkan sistematika Neoplatonisme yang baru, yang mana dapat menyamai sistem filsafat Plotinos. Sintesa filsafat Platonik, dan teologi Kristianitas yang dikenal sebagai aliran Pseudo – Dyonisius akan terasa pengaruhnya pada mistisme abad pertengahan, dan humanisme renaisans.

Latar Belakang Historis

Istilah Neoplatonisme merupakan hasil rekonstruksi moderen tentang aliran filsafat mistik Platonisian yang berkembang pada akhir perioda Helenis. Plotinos, yang mana oleh banyak ahli sejarah filsafat barat dipandang sebagai pendiri aliran ini, pada dasarnya tidak pernah mengklaim karya filsafatnya sebagai pembaharu tradisi pembacaan akan filsafat Platon. Meskipun ia banyak menambahkan pemikirannya sendiri, menurutnya hal tersebut masih sesuai dengan apa yang dimaksud oleh Platon.

Meskipun pada akhirnya kesimpulan filsafat Plotinos akan jauh berbeda dengan tradisi pembacaan tradisonal akan filsafat Platon, dapat kita katakan bahwa Plotinos masih merupakan pengikut filsafat Platon, karena toh dari berdiri sampai penutupan Akademia, banyak pengikut Platon di sana yang tentunya mendalami teks – teks Platon, tetapi mencapai kesimpulan yang jauh berbeda dari apa yang diajarkan oleh Platon.

Pada akhir era Helenistik, ide – ide Platon banyak ditafsir oleh berbagai kalangan (Yahudi, Gnostik, dan Nasrani) secara arbitrer, sehingga menghasilkan filsafat yang jauh dari maksud Platon dalam dialog - dialognya. Jadi, apakah kita harus berkesimpulan, bahwa filsuf – filsuf Platonisian Helenis akhir tersebut tidak loyal pada pemikiran Platon? Agaknya tidak, sebab pemikiran – pemikiran Platonisian yang saling bertentangan tersebut justru merupakan bukti universalitas pemikiran Platon, yang mana mampu mengakomodasikan diri pada berbagai bentuk tafsir, dan penerapan. Alih – alih mengacaukan sistematika filsafat Platon, justru dengan kehadirannya, Neoplatonisme memberikan pendekatan baru dalam tradisi eksegese Platonisian.

RP. Frederick Coplestone, SJ dalam karyanya, A History of Philosophy, mengatakan, bahwa Neoplatonisme merupakan, “ajaran intelektual personal tentang kerinduan akan keselamatan”. Melalui Xenokrates (Kepala Akademia ‘lama’ yang kedua), sebetulnya kita telah dapat melihat ajaran yang mirip tentang keselamatan, yang mana melibatkan penyatuan antara dua bagian jiwa manusia, yaitu antara ‘yang olympian’ (sakral), dan ‘yang titanik’ (profan).

Maka, ajaran seperti demikian sudah dapat kita temui pada pemikiran – pemikiran Akademia ‘lama’, dan dapat kita tarik kesimpulan ‘kasar’, bahwa benih – benih Neoplatonisme sejatinya sudah dikemukakan jauh lebih lama ketimbang pemikiran Plotinos. Meskipun tidak begitu jelas dikatakan di sana, bahwasanya idea – idea penyelamatan Xenokrates apakah bersifat individual, atau didasarkan pada penyatuan kodrat – kodrat manusia dengan hal – hal yang bersifat abstrak.

‘Yang Satu’

Fondasi kepercayaan dalam tradisi Neoplatonisme mengatakan, bahwa segala hal yang ‘ada’ (eksis), berasal dari ‘Yang satu’. ‘Yang satu’ (seringkali disebut juga sebagai, Monad; Yang Ilahi; Logos; To hen; atau Yang Absolut) merupakan kekuatan yang tak tergambarkan akan tetapi tidak dapat memaksakan kekuatannya pada entitas lain. ‘Yang Satu’ merupakan entitas yang paling sederhana, dan segala hal yang ada di semesta bersumber darinya. Semakin jauh suatu entitas dari ’Yang satu’, semakin dia berkurang derajat kesempurnaannya.

‘Yang satu’ bukanlah Tuhan. Pada kebanyakan agama, utamanya agama monotheis, sosok Tuhan digambarkan sebagai sosok yang sangat manusiawi, dan sangat personal. Di lain sisi, To hen bukanlah suatu sosok, tetapi To hen merupakan asas dari keseluruhan. ‘Yang satu’ merupakan syarat mutlak bagi segala yang ada. ‘Yang satu’ menerangi seluruh substansi semesta, proses ini disebut juga emanasi (pemancaran). ‘Yang satu’ mirip dengan apa yang dikenal dalam ajaran agama Hindu sebagai Brahman.

Nous

‘Yang satu’ memancarkan Nous, atau dapat dikatakan sebagai intelektualitas, atau rasio, pun banyak juga yang mengidentifikasi Nous sebagai Demiourgos. Nous merupakan intelektualitas dalam dirinya sendiri, pada manusia pemikiran tertinggi, dan imajinasinya akan berujung pada Nous. Rasiolah (Nous) yang mengatur, dan membentuk dunia material. Karena itulah Nous seringkali disamakan dengan Demiourgos (sang perancang). Sebagai keterangan, diketahui bahwa para Gnostik percaya pada keberadaan Demiourgos.

Akan tetapi, para Gnostik memandangnya dengan cara pandang negatif. Mereka percaya bahwa Demiourgos adalah makhluk yang bodoh, yang telah dikreasikan oleh Tuhan, dan membentuk dunia murni yang penuh ketidaktahuan. Mereka juga merujuk segala kecacatan dunia material pada Demiourgos. Berbeda dengan kaum Gnostik, padangan para Neoplatonis terhadap Demiourgos akan tampak lebih positif, dimana pada tulisan Plotinos kita akan menemukan kritiknya terhadap pandangan Gnostik tetang Demiourgos.

Dunia Jiwa dan Dunia Indrawi

Menurut pandangan Neoplatonisme diketahui, bahwa dari Nous akan teremanasikan dunia jiwa, yang mana berada di antara tataran antara Nous, dan dunia kebertubuhan. Dunia ini berisikan jiwa dari seluruh makhluk hidup, dari manusia hingga tumbuhan. Pandangan Neoplatonisme akan kedua realitas ini akan tampak berbeda dengan pandangan pengajaran lainnya. Berbeda dengan pandangan akan ‘ada’ yang secara harafiah terdapat dalam tubuh yang dianut oleh kebanyakan aliran filsafat pada waktu itu, Neoplatonisme justru memandang tubuh sebagai proyeksi semata dari jiwa.

Jiwalah yang membuat suatu benda menjadi hidup. Analog dengan senter yang menyinarkan cahayanya pada suatu objek, manusia yang tinggal dalam realitas kebertubuhan tidak mempunyai akses langsung dengan jiwanya. Akan tetapi, melalui emanasi dari dunia jiwa inilah, raga dapat teranimasikan.

Dunia kebertubuhan (material) merupakan tingkatan realitas terendah, dan paling jauh dari ‘Yang satu’, karenanya tingkatan realitas inilah yang dipandang paling tidak sempurna. Dunia material dipandang cacat, dingin, dan gelap, dimana penuh kejahatan dalam setiap sisinya. Meskipun demikian, kebanyakan Neoplatonis tidak mengutuk sepenuhnya realitas material ini.

Neoplatonisme juga mengakui adanya keindahan, dan harmoni di tengah – tengah kegelapan yang mengelilinginya. Betapapun cacatnya dunia material, realitas ini berasal dari ‘Yang satu’, karenanya adalah suatu keniscayaan untuk mengakuinya, dan memilah hal – hal baik darinya.

Kodrad Manusia

Manusia bagi Neoplatonisme terbagi menjadi dua bagian, yaitu tubuh, dan jiwa. Seperti yang telah dikatakan terdahulu, realitas fisik kita tidak memiliki akses langsung pada jiwa kita, akan tetapi Plotinos percaya bahwa melalui intelektualitas, kita dapat dituntun kembali kepada ‘Yang satu’. Menurutnya inilah tujuan dari setiap filsuf. Idem dengan Platon yang mempercayai bahwa seseorang dapat mengakses forma yang lebih tinggi melalui rasionya, Plotinos berpendapat melalui intelektualitas dan disiplin diri, seseorang dapat melakukan askendisasi kembali menuju pada ‘Yang satu’.

ꝋꝋꝋ

Semua berasal, dan merupakan bagian dari To hen. To hen teremanasikan dalam bentuk Nous, yang mana merupakan refleksi dari ‘Yang satu’, yang mana akhirnya akan terproyeksikan menjadi kenyataan fisik di sekitar kita. Di antara Nous, dan dunia inderawi, terdapat dunia jiwa, di mana seluruh jiwa kita bersemayam. Roh ini diproyeksikan ke dalam tubuh kita, yang memberi kita kehidupan. Meskipun tubuh kita memiliki banyak kekurangan, kita tidak dapat menampik keniscayaan, bahwa tubuh kita merupakan hasil proyeksi dari ‘Yang satu’.

___________________________________________________

Referensi:

Bertens, K.2013. Sejarah Filsafat Yunani. Jogja: Kanisius

Copleston, Frederick. 1993. A History of Philosophy (vol. 1): Greek and Rome. New York: Image Books.

Hatta, Muhammad. 1980. Alam Pikiran Yunani. Jakarta: Penerbit Tinta Mas.

Hardian, Sandi Susanto. 2016. Pijar Filsafat Yunani Klasik. Bandung: Perkumpulan Studi Ilmu Kemasyarakatan ITB (PSIK ITB)

Irwin, T.H. ‘Stoic Inhumanity’ dalam Juha & Troels Engberg-Pedersen (eds.). 1998. The Emotions in Hellenistic Philosophy. Dordrecht: Kluwer.

Maksum, Ali. 2015. Pengantar Filsafat Dari Masa Klasik Hingga Postmodernisme. Jogja: Ar-ruzz Media

Mybllshtprspctv®

0 komentar:

Post a Comment

close
Banner iklan disini