Home » , , , » Parade Dunia Perklitihan SMA Jogja sebagai Alarm diperlukannya Filsafat bagi Generasi Muda

Parade Dunia Perklitihan SMA Jogja sebagai Alarm diperlukannya Filsafat bagi Generasi Muda

Sumber Gambar: Radar Jogja
Oleh: Gusti Aditya

Banyak netizen di seluruh jagad Indonesia bagian maya menghardik dan memaki-maki kota yang dahulu dicap sebagai Kota Pelajar. Wajar dan memang seharusnya netizen geram akan apa yang terjadi di Jogja belakangan ini. Protes dan kritik terus dilayangkan para "intelektual" di media sosial agar para pemuda-pemuda tanggung tersebut menghentikan budaya klitih-mengklitih yang marak mereka lakukan.

Banyak orang keyboard warrior yang dikategorikan orange bijak yang menyarankan hal positif seperti ini; "Lebih baik setelah belajar di sekolah langsung pulang" hingga muncul para intelek sosmed yang mengkambing hitamkan pihak sekolah, orangtua, pihak berwajib hingga secara personal mereka menyalahkan anak-anak yang terlibat langsung dalam sasana dunia perklitihan Yogyakarta.

Apakah semudah itu menghilangkan budaya klitih di kota ini? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, kita harus merefleksikan berbagai hal, yaitu mengenai tingkat kepuasan anak memperoleh jaminan mutu di sekolah, kepuasan mereka dalam menerima hak-haknya di rumah dan yang terakhir adalah asupan gizi berupa ilmu filsafat dalam lingkungan sekolah, rumah dan masyarakat. Apakah seluruh sekolah di Jogja sudah mencakup ketiga hal tersebut?

Untuk hal yang pertama dan kedua, sekali pun itu Immanuel Kant atau Hawkins pun tak akan bisa menjawabnya, karena hanya pihak-pihak bersangkutan saja yang merasakannya. Namun, kasus yang ketiga ini, bahkan sekali pun tukang becak, bisa ikut campur mengurusi hal-hal yang berkenaan dengan filsafat. Karena lingkupan hal yang ketiga ini jauh lebih luas, yaitu lingkungan sekolah, rumah dan masyarakat.

Terdapat berbagai alasan mengapa dan kenapa harus filsafat. Mengapa tidak ilmu astronomi saja? Atau mengapa tidak ilmu mengenai nuklir saja? Agar supaya Mandala Krida semakin menjadi episentrum jagad perklitihan yang begitu membahana nan riuh akan euforia. Saya sebagai alumni klitih, yang sudah pernah ngelitih SMA tetangga namun lebih banyak diklitihnya, memiliki berbagai alasan mengapa dan kenapa harus filsafat.

Sama halnya dengan klitih, filsafat adalah suatu tindakan atau suatu aktivitas. Bedanya, jika klitih aktivitas berpikir secara spontan seperti menghindar dan melempar, filsafat adalah aktivitas untuk berpikir secara mendalam tentang pertanyaan-pertanyaan besar dalam hidup manusia. Harusnya para guru sudah mencekoki muridnya dengan berbagai persoalan filosofis seperti apa goal dari hidupmu, apakah Tuhan eksis, bagaimana menata organisasi dan masyarakat, serta bagaimana ways of life yang bijak?

Andai terdapat mata pelajaran yang menanamkan hal tersebut, sudah barang pasti jika Mandala Krida akan riuh oleh teriakan. Bukan teriakan yang membabi-buta, melainkan teriakan yang mempertahankan argumen. Geng BAB berpendapat bahwa Gudheg itu terbuat dari gori yang masih muda, itu sudah terbukti karena dapat dilihat. Namun Geng KCRT berargumen jika gudheg itu fana, gori lah yang sebenarnya nyata, gudheg itu tidak ada. Hal ini akan menimbulkan jawaban secara rasional, kritis, dan sistematis setiap anggota klitih.

Di Jogja terdapat banyak geng yang digawangi setiap sekolah. Di setiap sekolah memiliki berbagai pandangan mengenai cara berkuasa. Akan menarik jika ilmu filsafat di tetapkan dan menciptakan sebuah ciri khas masing-masing sekolah. Misalkan sekolah A terkenal sebagai empirisme garis keras, sedangkan sekolah B memiliki pandangan kuat rasional tingkat dewa.

Bayangkan mereka jika saling mengklitih. Bukan pertanyaan "kowe bocah endi" lagi. Melainkan "ilmu sejati diperoleh dengan cara?". Korban klitih pun kebingungan dalam menjawab, jika korban klitih lemah, dia akan menjawab mengikuti kemauan sang pengklitih. Berbeda kasus jika sama-sama kuat antara si pengklitih dan yang diklitih, bahkan akan terjadi perdebatan di pinggir jalan akibat pertanyaan sepele seperti itu.

Dengan belajar filsafat, anda akan mendapatkan beberapa ketrampilan; memikirkan suatu masalah secara mendalam, kritis dan mampu berpikir secara logis dalam menangani masalah-masalah kehidupan yang selalu tak terduga. Semua yang tak terduga akan bisa dihadapi oleh filsafat. Tidak terkecuali saat-saat diklitih.

Bayangkan jika sekolah A sudah menetapkan filsafat sebagai pelajaran wajib, sedangkan B belum. Dan kedua sekolah ini terlibat aksi masa klitih. Tentu sekolah B akan menyerang secara sporadis, sedangkan sekolah A akan menggunakan cara-cara filosofis seperti mengajak lawan berdialektika secara terbuka. Lawan akan diajak berbicara mengenai hal-hal yang memusingkan sehingga aksi klitih sekolah B urung dilakukan karena menganggap anak-anak sekolah A gila.

Filsafat tentu memudahkan mereka yang haus akan kekuasaan. Tujuan dari klitih itu sendiri adalah menginginkan sebuah pengakuan. Filsafat mengajarkan kita untuk mengembangkan serta mempertahankan kekuasaan secara sehat, bukan dengan kekuatan otot, atau kekuatan otoritas politik semata. Tentu cara seperti ini merupakan suatu gebrakan dalam memperoleh pengakuan yang terlihat syangarr dengan cara yang elegan.

Menurut saya, alumni klitih yang pernah mengklitih anak SMP dan kemudian didatangi orang tuanya, memiliki pandangan wajar mengenai fenomena ini. Tinggal merubah cara pengaplikasiannya saja. Kita rubah senjata menjadi kata, otot menjadi berbobot dan darah menjadi arah. Jadi, kita rubah wajah pendidikan Kota Jogja yang tercemar akan chaosnya, menjadi perang kata yang berbobot dengan arah dan tujuan untuk membangun bangsa ini.

Hidup pelajar Jogja! Ra ngelitih ra gayeng jhe, tapi luwih gayeng sinau to, le? Jogja dudu GTA, dap!

Mybllshtprspctv®

0 komentar:

Post a Comment