Home » , , , , , » Paradigma Gender dalam Sinetron 'Dunia Terbalik'

Paradigma Gender dalam Sinetron 'Dunia Terbalik'


Oleh: Bima Astungkara
sekitar 62 juta anak perempuan tidak memperoleh hak pendidikan, 500 juta perempuan dewasa tidak dapat membaca, dan 155 negara yang mendiskriminasikan perempuan. -Situs Web VOA.
Banyak mindset yang berkeliaran di muka bumi ini yang menganggap wanita itu makhluk yang emosional, mudah menyerah, pasif, subjektif, mudah terpengaruh dan lemah fisiknya. Sementara laki-laki dikisahkan bahwa dirinya sebagai makhluk yang rasional, logis, mandiri, agresif, kompetitif, objektif, aktif dan memiliki fisik yang kuat. Mindset inilah yang membuat perempuan seringkali dieksploitasi dan mendapatkan kekerasan dari para kaum lelaki.

Di Indonesia bahkan lebih parah. Masih banyak mindset yang beranggapan bahwa wanita adalah makhluk yang mengurusi masalah-masalah housewivezation seperti masalah dapur, kasur dan sumur. Budaya patriarki yang masih melekat di kalangan masyarakat Indonesia membuat perempuan seperti diasingkan. Akibat citra fisik yang dimiliki, perempuan dicitrakan sebagai the second class, makhluk yang tidak penting (subordinate), sehingga selalu dipinggirkan (marginalization).

Sinetron Dunia Terbalik dan Suasana yang Mencekam

Ada sebuah manfaat yang sangat besar dengan berpindahnya suatu rumah produksi yang selama sepuluh tahun menggaungi suatu stasiun TV swasta dengan pemiliknya yang ngebet jadi presiden. Anak-anak dengan motor besar yang merong-rong setiap selepas Magrib sudah berpindah ke stasiun TV yang lain dan digantikan dengan tayangan yang menurut saya lebih mendidik ketimbang tayangan-tayangan sebelumnya.

Adalah sinetron Dunia Terbalik. Sinetron ini pun berhasil menjadi anti tesis di antara banyaknya sinetron bertema cinta dan tak sarat akan pesan. Sinetron yang menghadirkan cerita sederhana tentang suami istri yang bertukar peran, sang istri yang banting tulang mencari nafkah dan sang suami yang asik ngerumpi sembari memilah-milah sayuran di grobak.

Sang istri yang bekerja pun tak serta-merta bekerja menjadi buruh cuci atau pembantu domestik, lebih dari itu, mereka berkerja menjadi TKW di luar sana dan sangat sulit dijangkau oleh pengawasan orang-orang tersayangnya.

Dalam sinetron ini pun berbagai problema mulai muncul tatkala terjadi selisih faham antara TKW dan majikan. Mulai dari kasus TKW hilang di Amerika, kapal TKW illegal terjatuh di perairan Malaysia hingga sejumlah wanita yang terang-terangan ogah menjadi TKW seperti kebanyakan warga di dusun tersebut yang para istrinya menjadi TKW.

Nampaknya ini merupakan sebuah suasana nyata yang dibalut oleh drama-drama sebagai bumbu di dalamnya. Di bagian Indonesia yang entah saya tak tahu di mana, pasti lah ada suatu suasana yang mirip dengan Desa Ciraos yang perempuannya dikirim menjadi TKW di luar negeri. Para istri harus mencari nafkah menggantikan peran seorang suami mencari uang di luar negeri. Sementara para suami harus mendidik anak serta mengurus rumah tangga yang biasanya menjadi urusan para istri. Semua serba terbalik, bukan?

Di balik haha-hihi yang dihadirkan Akum, Aceng, Idoy dan Dadang terselip sebuah kengerian yang mereka tak mengerti apa yang sedang terjadi dengan istrinya di luar sana. Banyak TKW Indonesia menjadi korban ganasnya majikan mereka. Jika mendapat majikan yang kurang perhatian, para TKW ini akan mengalami berbagai kekerasan, baik kekerasan secara fisik maupun psikis.

Banyak tenaga kerja mengalami pemukulan, perkosaan dan pelecehan seksual yang dilakukan oleh majikannya sendiri ini merupakan bentuk kekerasan yang dialami tenaga kerja wanita Indonesia di luar negri. Sebagai contoh, di Arab Saudi, seorang wanita berusia 24 tahun yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga jadi korban perkosaan di rumah majikannya pada 23 Juni 2008. Beberapa kasus bahkan setelah mereka hamil mereka akan dikembalikan ke Indonesia tanpa ada tanggung jawab.

Pemasalahan seperti yang dipaparkan di atas sudah tidak asing lagi di media masa. Awalnya kasus-kasus di atas memang akan di usut. Namun, kebanyakan akan berakhir "gantung" tanpa penyelesaian yang jelas mengenai tanggung dan diperlakukan layaknya hewan.

Perlindungan tenaga kerja wanita Indonesia yang bekerja di luar negeri masih lemah. Kondisi demikian tidak sebanding dengan antusiasme menjadi tenaga kerja. Banyak remaja dan ibu rumah tangga memilih bekerja sebagai pembantu rumah tangga di negeri orang. Mereka berharap dapat memperbaiki ekonomi keluarga serta mendapat upah yang besar.

Itulah sekelumit kisah seram di balik gaya ngabodor si Idoy yang terus mengocok perut penontonnya karena ulahnya yang begitu menghibur. Belum lagi kombinasi empat serangkai yang selalu bisa mengambil perhatian para penonton setianya.

Alur yang Harus dituju oleh Sinetron Dunia Terbalik

Banyak sinetron Indonesia yang minim akan pesan moral dengan ketajaman yang akurat dan jam tayangnya pun terus dikejar-kejar. Contoh saja sinetron yang berceritakan seorang tukang bubur yang hingga endignya saja tukang bubur tersebut sudah tak ada di senetron tersebut. Bahkan, sering terjadi jika sang pemain habis masa kontrak, lalu dengan mudah tokoh tersebut 'dimatikan secara asal-asalan' oleh sang sutradara.

Hal ini jangan sampai terjadi di sinetron yang satu ini. Jangan sampai hanya karena alasan rating yang melambung, maka sinetron ini episodenya diperpanjang tanpa arah yang jelas. Jika seperti itu, ya bakalan jadi seperti sinetron bubur yang episodenya mencapai ribuan yang isinya hanya diisi adegan orang Shalat dari Subuh hingga Isya. Dan ini lah saran-saran usil dari penulis untuk sinetron ini:

Pertama, Dunia Terbalik haruslah mewujudkan suatu suasana yang dinamakan persamaan hak. Tuntutan ini lah yang dijadikan kaum faminis sebagai senjata karena diperlakukan secara semena-mena. Seperti yang diungkapkan oleh Simone de Beauvoir dalam bukunya The Second Sex, ia menyebutkan bahwa hal ini bukan bermaksud meminta penghormatan atas kewanitaan mereka, namun mereka ingin diberikan hak-hak abstrak dan kemungkinan konkret tanpa melalui persetujuan dari kebebasan yang palsu.

Dalam tayangannya, memang tidak diperlihatkan suatu deskriminasi secara terang-terangan. Namun deskriminasi yang lebih halus belumlah sepenuhnya hilang. Misalkan saja pandangan bahwa semua wanita di Desa Ciraos harus menjadi TKW. Hal ini secara tidak langsung menunjukan bahwa wanita tidak memiliki kebebasan kontruksi sosial. Wanita dapat memilih hendak menjadi apa tanpa tekanan dari adat kebiasaan.

Wanita muda, bahkan sudah memiliki cita-cita untuk merantau ke negara Timur Tengah untuk mendapatkan gaji yang layak. Seakan wanita muda sudah tidak ada pilihan lain selain menjadi TKW. Dalam sinetron ini, ada yang bercita-cita untuk mencari pekerjaan yang mantap, tetapi kehendak adat sudah memutuskan mereka untuk pergi merantau dan meninggalkan sanak saudaranya.

Kedua adalah seharusnya sutradara sinetron ini bisa menghindari bahwa para wanita di Dusun Ciraos disediakan pilihan yang hanya akan menambah penindasan mereka. Namun poin utamanya tetap tidak berubah, kebijakan sosial dapat digunakan merekontruksi peran gender ketika peran tersebut dinilai tidak adil.

Contoh saja bahwa dilema memilih antara keluarga dengan pekerjaan yang jauh di sana. Mengutip kalimat dari Barbara Bergmann dalam buku Justice, Gender and the Family, bahwa sedari awal sejarah, pernikahan bagi wanita adalah pelarian dari pekerjaan tingkat rendah yang tidak memuaskan. Namun terkadang status pernikahan malah mengekalkan peran sosial wanita sebagai makhluk yang patuh.

Ibu rumah tangga dalam sinetron Dunia Terbalik harus mendapatkan keuntungan dari program-program "tindakan afirmatif". Seperti diberikan tunjangan yang istimewa dan kebijakan-kebijakan yang adoptif. Dalam hal ini, para ibu rumah tangga di Dusun Ciraos akan mendapatkan kebijakan-kebijakan aktif untuk menyokong karir.

Ketiga adalah semoga sinetron ini dihindari oleh pemilihan tokoh wanita yang polos dan menjadi bahan bercandaan seperti Idoy. Jangan sampai ada tokoh wanita yang mudah diperdaya oleh pria untuk pergi ke Dubai atau Saudi walau hatinya tak ingin pergi ke sana. Perbanyaklah tokoh-tokoh wanita yang menentang akan tradisi TKWnisasi di Dusun Ciraos. Barangkali ada tokoh yang membuka suatu industri rumah tangga agar menekan jumlah TKW pertahunnya.

Karena mengingat perempuan sebagai rahim peradaban dan setiap pemimpin bangsa ini pasti lahir dari perempuan-perempuan yang cerdas, semoga sinetron ini kedepannya dapat merubah gaya pandang negatif di masyarakat terhadap wanita pada umumnya.

Mybllshtprspctv®

0 komentar:

Post a Comment