Home » , , , » Pijar Kebudayaan Yunani Awal dan Munculnya Filsafat

Pijar Kebudayaan Yunani Awal dan Munculnya Filsafat

Pierre de Cortone. by Marie-Hélène
Oleh: Galih Rio

Gejolak Yunani Awal

Kebudayaan Yunani klasik, hingga kini dipercaya sebagai nenek moyang peradaban barat. Tradisi ini nantinya dilanjutkan oleh kebudayaan Romawi, peradaban Islam, dan digali kembali pada zaman renaisans, dan diteruskan oleh tradisi moderen yang berkembang hingga kini. Kultur Yunani klasik sendiri, dipengaruhi oleh kebudayaan Minoa; Mykēnai; Mesir; dan berbagai peradaban Mediterania lainnya.

Perang saudara, invasi, dan mungkin juga beberapa bencana alam memporakporandakan peradaban Yunani awal. Akan tetapi, pada perioda tahun 800 SM, sampai dengan 400 SM peradaban baru yang nantinya akan dikenal sebagai peradaban Yunani klasik tumbuh, dan mencapai kemakmurannya.

Dengan adanya Kemaharajaan Makedonia dibawah Megas Alexandros, membuat peradaban Yunani klasik menyebar di seantero Mediterania. Kelak, peninggalan budaya ilmu pengetahuan, dan filsafat Yunani klasik akan diteruskan oleh peradaban Romawi, dan Islam.

Perdagangan antar pulau, menjadi dasar perkembangan ekonomi masyarakat Yunani ketika itu. Kemakmuran akibat perdagangan ini memberikan kontribusi pada peningkatan populasi manusia, dan perubahan sosial yang mendorong bertumbuhnya sistem politik baru.

Sesudah tahun 800 SM, masyarakat Yunani bernaung dalam polis – polis (kota), yang mana bervariasi ukurannya. Awalnya, kalangan aristokratlah yang memerintah polis, dan pertanian di wilayah pedalamannya. Akan tetapi, sesudah tahun 700, SM, tuntutan ekonomi membuat diubahnya pemerintahan menjadi lebih demokratis.



Kebanyakan polis – polis ini mempunyai koloni disepanjang pantai Mediterania, dan Laut Hitam. Koloni ini berguna untuk mengontrol populasi penduduk polis, menyediakan beberapa produk pertanian, dan dapat menjadi konsumen beberapa hasil perdagangan polis.

Namun, ekspansi model kapitalis ini menimbulkan banyak kerugian pada pemilik lahan kecil, dan memperlebar jurang antara kaya, dan miskin. Pada abad ke – 6 SM, pedagang kota – kota besar, dan petani – petani yang merasa dirugikan meminta terjadinya reformasi. Pendukung perubahan, seperti Solon dari Athena, mengembangkan hukum – hukum baru untuk mengatur lingkungan sosial masyarakat Yunani ketika itu. Sekitar tahun 500 SM, kebanyakan polis lebih mengutamakan kepemimpinan bersama, alih – alih mempercayakan kepemimpinan pada perseorangan. Diharapkan seluruh warga negara laki – laki terlibat dalam politik negara – kota. Prinsip ini dikenal sebagai, demokrasi.

Sidang rakyat dianggap sebagai otoritas tertinggi kala itu. Warga membentuk tentara polis tersebut, dan memilih perwira yang bertanggungjawab langsung kepada sidang rakyat tersebut. Wanita, budak, dan kaum barbar (warga asing), tidak terhitung sebagai warga negara.

Dalam sistem demokrasi Athena kuno, hanya laki – laki yang dipandang sebagai warga negara, dan hanya warga negara – lah yang berhak untuk memerintah. Para anak laki – laki dilatih untuk mempelajari baca; tulis; aritmatika; sastra; musik; seni tari; dan atletik semasa kecilnya.Kaum perempuan yang bukan merupakan warga negara, lebih banyak mengerjakan pekerjaan rumah tangga, seperti mencuci; memasak; dan mengasuh anak. Pekerjaan wanita ini dilarang dibantu oleh kaum pria.

Kehidupan politik Athena yang menjunjung tinggi partisipasi setiap individu, tampak sangat berbeda dengan negara sentralistik di Timur – Tengah, dan Asia. Dengan semakin kuatnya pengaruh demokrasi, dan perdagangan Athena di kancah Liga Bangsa – Bangsa Yunani, dengan segera menimbulkan konflik dengan negara – kota kuat lainnya di Yunani, yaitu Sparta. Berbeda dengan rekan sebangsanya di Athena, pemerintahan di Sparta lebih bersifat oligarki; konservatif; dan militeristik. Mereka bertempur di ajang peperangan Peloponnesian pada tahun 431 – 404 SM. Athena yang lebih lemah secara militer, kemudian menyerah kepada Sparta pada tahun 404 SM, dan sejak saat itulah awal melemahnya pengaruh Athena di antara bangsa – bangsa Yunani lainnya.

Perang Peloponnesian melemahkan persatuan di antara bangsa – bangsa Yunani yang sempat terbangun kuat, di kala mengalahkan bangsa Persia. Dan hal inilah yang nantinya membuat bangsa Yunani dapat ditaklukan oleh Makedonia pada tahun 338 SM. Dengan takluknya Yunani, dengan segera, Megas Alexandros menaklukan Timur – Tengah, dan Mesir. Kemaharajaan singkat ini, turut berpartisipasi dalam penyebarluasan kultur helenik ke luar Yunani.

Peloponnesian War (431-404 B.C.)
Sesudah kematian misterius Alexandros, kemaharajaannya kemudian terpecah menjadi negara – negara kecil yang diperintah oleh mantan jenderal – jenderal pasukannya. Contohnya adalah, Ptolomaios di Mesir; Antigonid di Makedonia, dan Yunani; dan Seleukidon di Persia.

Peradaban Awal Minoa

Hingga saat ini, informasi kita masih terbatas tentang peradaban Minoa di Kreta, yang mana penamaannya pun diturunkan dari mitos, alih – alih secara historis. Mitos yang mendasari penamaannya adalah legenda minotauros, sesosok monster dengan tubuh manusia, dan berkepala banteng.

Minoa menjadi terkenal karena terdapatnya bangunan kolosal yang dibangun sekitar tahun 2000 SM yang dijadikan bangunan administratif bagi penduduknya yang berpopulasi antara 15000 – 50000 manusia. Catatan administratif – nya disimpan dalam bentuk tablet tanah liat yang dikenal oleh para arkeolog sebagai, ‘Linier A’. Hingga saat ini, para arkeolog masih kesulitan untuk menafsirkannya. Para arkeolog mengungkapkan, bahwa peradaban Minoa melakukan perdagangan di seantero Lautan Mediterania, dari Sisilia di barat, hingga Mesir di ujung tenggara.

Kota – kota terluar yang dimiliki peradaban Minoa, antara lain adalah Akrotiri di Pulau Thera, sebuah pulau di Laut Aegea. Keruntuhan peradaban Minoa menurut penelusuran ahli geoarkeologi, bertalian dengan dua bencana beruntun. Antara lain, erupsi gunungapi di Pulau Kreta sekitar tahun 1500 SM, yang mana menghancurkan kota, dan seluruh istana di Kreta, terkecuali Knossos, dan kebakaran hebat pada tahun 1400 SM.


Old port of Chania, Crete islands, Greece
Tidaklah diketahui dengan jelas, apakah invasi dari Yunani, ataukah bencana alam yang menyebabkan kehancuran peradaban Minoa. Akan tetapi, peradaban ini nantinya akan ditiru oleh peradaban Mykēnai di Yunani daratan.

Mitos ke Logos

Nicolas Poussin Triumph of Neptune
Periode filsafat Yunani merupakan periode terpenting dalam sejarah peradaban manusia. Hal ini disebabkan karena pada saat itu terjadi perubahan pola pikir mitosentris yaitu pola pikir yang sangat mengandalkan mitos untuk menjelaskan fenomena alam.Orang yunani yang hidup pada abad ke-6 SM mempunyai sistem kepercayaan bahwa segala sesuatunya harus diterima sebagai sesuatu yang bersumber pada mitos atau dongeng-dongeng. Artinya suatu kebenaran lewat akal pikir (logis) tidak berlaku, yang berlaku hanya suatu kebenaran yang bersumber dari mitos  (dongeng-dongeng).

Nama filsafat sendiri sudah berada di abad ini. Filsafat sendiri berasal dari kata Yunani philosophia dan philosophos. Menurut bentuk kata, philo-sophos berarti seorang “pecinta kebijaksanaan”. Ada tradisi kuno yang mengatakan bahwa filsuf, untuk pertama kalinya dalam sejarah digunakan oleh Phythagoras. Tetapi aktivitas sejarah mengenai Phythagoras masih berbaur dengan mitos dan sulit untuk dipisahkan. Yang pasti adalah, kalangan Sokrates dan Plato-lah kata-kata ini mulai lazim digunakan.

Setelah abad ke-6 SM muncul sejumlah ahli pikir yangmenentang adanya mitos. Mereka menginginkan adanya pertanyaan tentang, misteri alam semesta ini, jawabannya dapat diterima akal (rasional). Keadaan yang demikian ini sebagai suatu demitiologi, artinya suatu kebangkitan pemikiran untuk menggunakan akal pikir dan meninggalkan hal-hal yang sifatnya mitologi.upaya para ahli pikir untuk mengarahkan kepada suatu kebebasan berfikir , ini kemudian banyak orang mencoba membuat suatu konsep yang dilandasi kekuatan akal pikir secara murni, maka timbullah peristiwa ajaib The Greek Miracle yang artinya dapat dijadikan sebagai landasan peradaban dunia.

Terdapat tiga faktor yang menjadikan filsafat yunani ini lahir, yaitu, pertama  Bangsa yunani yang kaya akan mitos (dongeng), dimana mitos dianggap sebagai awal dari uapaya orang untuk mengetahui atau mengerti. Kedua, karya sastra yunani yang dapat dianggap sebagai pendorong kelahiran filsafat yunani. Ketiga, pengaruh ilmu-ilmu pengetahuan yang berasal dari Babylonia (Mesir) di lembah sungai Nil, kemudian berkat kemampuan dan kecakapannya ilmu-ilmu tersebut dikembangkan sehingga mereka mempelajarinya tidak didasrkan pada aspek praktis saja, tetapi juga aspek teoritis kreatif.

Dengan adanya ketiga faktor tersebut, kedudukan mitos digeser oleh logos (akal), sehingga setelah pergeseran tersebut filsafat lahir.Periode yunani kuno ini lazim disebut periode filsafat alam. Dikatakan demikian, karena pada periode ini ditandai dengan munculnya para ahli pikir alam, dimana arah dan perhatian pemikirannya kepada apa yang diamati sekitarnya.mereka membuat pertanyaan-pertanyaan tentang gejala alam yang bersifat filsafati (berdasarkan akal pikir) dan tidak berdasarkan pada mitos.

Mereka mencari asas yang pertama dari alam semesta (arche) yang sifatnya mutlak, yang berada di belakang segala sesuatu yang serba berubah.Para pemikir filsafat yunani yang pertama berasal dari Miletos, sebuah kota perantauan Yunani yang terletak di pesisir Asia Kecil.

___________________________________________________

Referensi:

Bertens, K.2013. Sejarah Filsafat Yunani. Jogja: Kanisius

Hardian, Sandi Susanto. 2016. Pijar Filsafat Yunani Klasik. Bandung: Perkumpulan Studi Ilmu Kemasyarakatan ITB (PSIK ITB)

Maksum, Ali. 2015. Pengantar Filsafat Dari Masa Klasik Hingga Postmodernisme. Jogja: Ar-ruzz Media

Mybllshtprspctv®

0 komentar:

Post a Comment

close
Banner iklan disini