Home » , , , » Plato: Sebuah Pengantar Memasuki Pemikiran-Pemikiran Plato

Plato: Sebuah Pengantar Memasuki Pemikiran-Pemikiran Plato

Sumber Gambar: Borromeo Seminary
Oleh: Galih Rio

Plato adalah salah satu murid dari Socrates yang taat di antara pengikutnya yang pintar dan mempunyai pengaruh yang amat besar. Plato  lahir di Athena pada tahun 427 SM. Ayahnya bernama Ariston, seorang bangsawan keturunan raja Kodrus, raja terakhir Athena, yang sangat dikagumi dan dicintai rakyat karena kecakapan dan kebijaksanaannya memerintah pada masa itu. Ibunya bernama Periktione keturunan Solon, tokoh legendaris dan negarawan agung Athena. Nama plato yang sebenarnya adalah Aristocles. Karena dahi dan bahunya yang amat lebar dia memperoleh julukan “Plato” dari seorang pelatih senamnya. Plato dalam bahasa Yunani berasal dari kata “Platos” yang berarti “kelebaran”. Dengan demikian, nama Plato berarti “si lebar”.

Siapakah Plato?

Plato dilahirkan di Athena dari keluarga terkemuka, dari kalangan politisi. Pada mulanya ia ingin bekerja sebagai seorang politikus, namun pada akhirnya ambisinya untuk menjadi seorang politikus dibatalkan, kemudian ia beralih ke filsafat sebagai jalan untuk memperbaiki kehidupan bangsanya, ajaran socrates sangat berpengaruh pada dirinya.

Ketika gurunya, Sokrates, dihukum mati oleh pengadilan negara pada Tahun 399 SM, membuat Plato benci kepada pemerintahan demokratis. Kematian gurunya membuat Plato enggan bergelut di dunia politik, padahal sebagai keturunan aristokrat bukanlah hal yang sulit untuk bergelut di dunia politik. Plato lebih memilih jalan hidup layaknya sang guru, yakni menjadi Filosof. Bagi Plato, Socrates adalah “orang terbijaksana, terjujur, terbaik dari semua manusia yang saya pernah kenal”. Tuturnya Maka tak heran jika pemikiran Plato banyak yang terpengaruh oleh Socrates.

Masa muda Plato terjadi ketika Athena mengalami masa kemunduran,  dan meninggalnya Socrates, akhirnya membut Plato memutuskan untuk berkelana meninggalkan Athena. Dia berkelana ke Sicilia dan Italia, bahkan kabarnya dia berkelana hingga Afirka, Mesir dan beberapa negara di Timur Tengah. Kabarnya Plato berkelana selama 10-12 tahun, dan setelah itu kembali lagi ke Athena. Sekitar tahun 387 SM dia kembali ke Athena, mendirikan perguruan di sana, dan Akademinya di beri nama Academica itu,  tidak sekedar untuk pengembangan ilmu pengetahuan, melainkan lebih dari itu, diharapkan menjadi pabrik pembentukan dan penempa orang-orang yang dapat membawa perubahan bagi Yunani.

Sumber Filsafat Plato

Guru filsafat  yang amat dikagumi, dihormati, dan dicintai Plato ialah Socrates. Bagi Plato, Socrates adalah guru sekaligus sahabat. Karena itu, tak heran jika hampir seluruh karya filsafat Plato menggunakan “metode sokratik”, yaitu metode yang dikembangkan oleh Socrates yang dikenal dengan nama metode dialektis. Metode tersebut terwujud dalam suatu bentuk “ tanya jawab” atau dialog sebagai suatu upaya untuk meraih kebenaran dan pengetahuan. Dari Socrateslah Plato mengenal nilai-nilai kesusilaan yang menjadi norma-norma dalam diri dan kehidupan manusia dan etika saja lewat filsafat, kemudian digunakannya untuk mengetahui segala sesuatu dan menetapkan hakikat dari segala sesuatu itu.

Plato dan Pengetahuan yang Membawanya Menuju Dunia Ide

Lembaga pendidikannya diharapkan dapat membentuk manusia yang berpengetahuan yang dilakukan atas nama negara dalam rangka mencapai kebajikan.

Ada dua macam pengetahuan yang dikemukakan oleh Plato. Pengetahuan yang pertama adalah pengetahuan yang diperoleh melalui pengalaman atau indera (pengetahuan pengalaman) dan yang kedua adalah pengetahuan yang diperoleh melalui akal (pengetahuan akal). Plato membandingkan kedua pengetahuan tersebut dan mempertimbangkan mana yang benar dari antara keduanya.

Menurut Achmadi (1995), sebagai penyelesaian dari persoalan tersebut, Plato menerangkan bahwa manusia sesunggguhnya berada pada dua dunia, yaitu dunia ide
(idea / form) yang bersifat tetap, hanya satu macam dan tidak berubah,  dan dunia fisik atau dunia pengalaman yang bersifat tidak tetap. Sebagai contoh terdapat banyak segitiga yang bentuknya berlainan menurut pengetahuan indera/pengalaman. Tetapi dalam ide atau pikiran, bentuk segitiga tersebut hanya satu dan tetap,  ini menurut pengetahuan akal.

Tujuan pengetahuan menurut Plato dapat kita lihat dari mitos Plato yang sudah masyhur sekali tentang penunggu-penunggu gua yang termuat dalam dialog Politisnya. Manusia dapat dibandingkan dengan orang-orang tahanan yang sejak lahir terbelenggu dalam gua; mukanya tidak dapat bergerak dan selalu terarah kepada dinding gua. Dibelakang mereka ada api bernyala. Beberapa orang budak belian mondar-mandir di depan api itu, sambil memikul bermacam-macam benda. Hal itu mengakibatkan rupa-rupa bayangan yang dipantulkan pada dinding gua. Karenanya orang tahanan itu menyangka bahwa bayang-bayang itu merupakan realitas yang sebenarnya.

Namun sesudah beberapa waktu,  satu orang tahanan dilepaskan. Ia melihat sebelah belakang gua, ternyata hanya yang ada api. Ia sudah memperkirakan bahwa bayang-bayang tidak merupakan realitas yang sebenarnya. Lalu ia dihantar keluar gua dan melihat matahari yang meyilaukan matanya. Mula-mula ia berpikir, ia sudah meninggalkan realitas. Tetapi berangsur-angsur ia menginsafi bahwa itulah realitas yang sebenarnya dan bahwa dahulu ia belum pernah memandangnya. Pada akhirnya ia kembali ke dalam gua dan bercerita kepada teman-temannya bahwa apa yang mereka lihat bukannya realitas sebenarnya melainkan hanya bayang-bayang saja.

Sumber Gambar: Learning Mind
 Dunia Ide

Seluruh filsafat Plato bertumpu pada ajaran tentang “Dunia Ide”. Ia mengajarkan bahwa dunia yang kelihatan hanyalah merupakan bayangan dari dunia yang asli, yaitu dunia ide-ide yang abadi. Jiwa manusia berasal dari dunia ide yang terkurung di dalam tubuh, yang pada ujungnya keterasingan ini menimbulkan rasa rindu untuk kembali ke “Surga Ide-Ide”. Pemikiran Plato inilah yang pada akhirnya dapat menjembatani permasalahan lama: mana yang benar yang berubah-ubah (Heracleitos) atau yang tetap (Parmenides). Pengetahuan yang diperoleh lewat indera, disebutnya pengetahuan indera atau pengalaman, sedangkan pengetahuan yang diperoleh lewat akal disebut pengetahuan akal. Pengetahuan indera bersifat tidak tetap dan berubah-ubah, sedangkan pengetahuan akal bersifat tetap dan tidak berubah-ubah.

Ajaran tentang idea-idea merupakan inti dan dasar seluruh filsafat Plato. Baginya, Idea merupakan sesuatu yang objektif. Ada idea-idea terlepas dari subjek-subjek yang berfikir. Idea-idea tidak diciptakan oleh pemikiran kita. Idea tidak bergantung pada pemikiran, sebaliknya pemikiran tergantung pada idea-idea.Justru karena ada idea-idea yang berdiri sendiri, pemikiran kita dimungkinkan. Pemikiran itu tidak lain daripada menaruh perhatian kepadaidea-idea itu.

Plato meneruskan usaha Socrates (menentukan hakekat atau esensi sesuatu) dengan melangkah lebih jauh lagi. Menurutnya, esensi itu mempunyai realitas, terlepas dari segala perbuatan konkrit. Idea keadilan, Idea keberanian, dan idea lain memang ada.

Menurut Plato, ada dua macam dunia, yaitu dunia ini yang mencakup benda-benda jasmani yang disajikan kepada pancaindera. Pada taraf ini, harus diakui bahwa semuanya tetap berada dalam perubahan. Dunia yang kedua yaitu dunia idea, dunia yang terdiri dari idea-idea, dimana tiada perubahan, tiada kejamakan (bahwa yang baik hanya satu, yang adil hanya satu) dan beraifat kekal.

Hubungan antara kedua dunia itu adalah bahwa idea-idea dari dunia atas itu hadir dalam benda yang konkrit (seperti idea manusia berada pada tiap manusia, dan seterusnya) dan bahwa sebaliknya benda-benda itu berpartisipasi dengan idea-ideanya, artinya mengambil bagian dari idea-ideanya.

Anggapan Plato tentang dua dunia menjuruskan juga pendiriannya tentang ’pengenalan’. Menurut Plato ada dua jenis pengenalan. Di satu pihak ada pengenalan tentang idea-idea. Itulah pengenalan dalam arti yang sebenarnya. Rasio adalah alat untuk mencapai pengenalan. Dan ilmu pengetahuan adalah lapangan istimewa dimana pengenalan itu dipraktekkan. Dengan menerima pengenalan yang bersifat teguh, jelas, dan tidak berubah, Plato serentak juga menolakrelativisme kaum Sofis. Bagi Protagoras dan pengikutnya manusia adalah ukuran dalam bidang pengenalan, sedangkan bagi Plato, ukuran itu adalah idea-idea.Berdasarkan idea-idea itu menjadi mungkin kebenaran yang mutlak.

Pengenalan yang kedua adalah pengenalan tentang benda-benda jasmani yang dicapai dengan pancaindera. Plato menamakannya ’doxa’ (opinion atau pendapat). Dengan demikian, Plato dapat mendamaikan ajaran Herakleitos dan Parmenides. Herakleitos berpendapat bahwa semuanya senantiasa dalam perubahan sedang pendapat Parmendeis yang berbanding terbalik dengan Heraklietos.

Dalam Politeia, ia mengatakan bahwa antara idea-idea terdapat suatu orde atau hirarki. Seluruh hirarki itu memuncak dengan Idea ’yang baik’. Itulah idea tertinggi yang menyoroti semua idea lain.

Penengah Herakleitos dan Parmenides

Sebagai penyelesaian atas persoalan yang dihadapi Plato tersebut, ia menerangkan bahwa manusia itu sesungguhnya berada dalam dua dunia, yaitu dunia pengalaman yang bersifat tidak tetap, bermacam-macam, dan berubah-ubah; dan dunia ide yang bersifat tetap, hanya satu macam, dan tidak berubah. Dunia pengalaman merupakan bayang-bayang dari dunia ide. Sedangkan dunia ide sendiri merupakan dunia yang sesungguhnya, yaitu dunia realitas. Dengan demikian, dunia yang sesungguhnya atau dunia realitas adalah dunia ide.

Plato mengemukakan bahwa ajaran dan pemikiran Heracleitos itu benar, tapi hanya berlaku pada dunia pengalaman. Demikianpula, pendapat Parmenides juga benar tetapi hanya berlaku pada dunia ide yang hanya dapat dipikirkan oleh akal. Plato dengan ajaran ide ini, berada di alam ide, bukan hasil abstraksi seperti pada Socrates. Ide itu umum, berarti berlaku untuk umum juga. Selain kebenaran umum, Plato juga berpendapat bahwa ada kebenaran yang khusus, yaitu kongkretisasi ide di alam ini.

Ajaran-Ajaran Plato tentang Idea

Ajaran tentang Idea – Idea merupakan inti dan dasar seluruh filsafat Plato. Idea yang dimaksudkan Plato disini bukanlah suatu gagasan yang terdapat dalam pemikiran saja yang bersifat subyektif belaka. Bagi Plato Idea merupakan sesuatu yang obyektif, ada idea-idea, terlepas dari subyek yang berfikir, Idea-idea tidak diciptakan oleh pemikiran kita, tidak tergantung pada pemikiran, tetapi sebaliknya pemikiranlah yang tergantung pada idea-idea. Justru karena adanya idea-idea yang berdiri sendiri, pemikiran kita dimungkinkan. Pemikiran itu tidak lain daripada menaruh perhatian kepada idea-idea.

Ajaran tentang Jiwa

Plato menganggap jiwa sebagai pusat atau intisari kepribadian manusia. Dalam anggapannya tentang jiwa, Plato tidak saja dipengaruhi oleh Socrates, tetapi juga oleh Orfisme dan mazhab Pythagorian. Plato berkeyakinan teguh bahwa jiwa manusia bersifat baka. Keyakinan ini bersangkut paut dengan ajarannya tentang idea-idea. Salah satu argumen penting adalah kesamaan yang terdapat antara jiwa dan idea-idea. Jiwa pun mempunyai sifat-sifat yang sama seperti terdapat pada idea-idea.

Jiwa dan tubuh dipandang sebagai dua kenyataan yang harus dibedakan dan dipisahkan. Jiwa berada sendiri. Bagiannya (atau fungsinya) ada tiga yaitu,
  • bagian rasional yang dihubungkan dengan kebijaksanaan
  • bagian kehendak atau keberanian yang dihubungkan dengan kegagahan
  • bagian keinginan atau nafsu yang dihubungkan dengan pengendalian diri
Disamping itu ada lagi keadilan yang tugasnya ialah keseimbangan antara ketiga bagian jiwa.

Dalam Timaios, Plato menghidangkan kosmologinya. Disini ia membandingkan jagad raya sebagai makrocosmos dan manusia sebagai microcosmos.Dengan itu ia mengambil alih suatu prinsip yang sudah tertanam kuat dalam tradisi Yunani sejak Anaximenes. Seperti manusia terdiri dari tubuh dan jiwa, demikianpun dunia merupakan suatu makhluk hidup yang terdiri dari tubuh dan jiwa. Jiwa dunia diciptakan terlebih dahulu daripada jiwa-jiwa manusia.


Ethika Plato

Etika Plato bersifat intelektual dan rasional. Dasar ajarannya adalah mencapai budi baik. Budi ialah tahu. Orang yang berpengetahuan dengan sendirinya berbudi baik. Sebab itu sempurnakanlah pengetahuan dengan pengertian.

Tujuan hidup ialah mencapai kesenangan hidup. Yang dimaksud dengan kesenangan hidup itu bukanlah memuaskan hawa nafsu didunia ini. Kesenangan hidup diperoleh dengan pengetahuan.

Etika Plato bersendi pada ajarannya tentang idea. Dualisme dunia dalam teori pengetahuan lalu di teruskan dalam praktik hidup. Oleh karena kemauan seseorang bergantung pada pendapatnya, nilai kemauannya itu ditentukan oleh pendapatnya. Dari pengetahuan yang sebenarnya yang dicapai dengan dialektika timbul budi yang lebih tinggi dari pada yang dibawakan oleh pengetahuan dari pandangan. Menurut Plato ada dua macam budi.

Pertama, budi filosofi yang timbul dari pengetahuan dengan pengertian. Kedua, budi biasa yang terbawa oleh kebiasaan orang banyak. Sikap hidup yang dipakai tidak terbit dari keyakinan, tapi disesuaikan kepada moral orang banyak dalam hidup sehari-hari.

Pemikiran Politik ala Plato

Untuk mewujudkan negara ideal, hanya mungkin diwujudkan berdasar budi pekerti penduduknya, dan untuk mewujudkan hal tersebut maka perlu diadakan pendidikan yang diatur sedemikian rupa oleh negara. Menurut Plato, anak usia 10 tahun ke atasa menjadi urusan negara. Dasar utama pendidikan anak-anak adalah Gymnastic (senam) dan musik, selain diberikan pelajaran membaca, menulis dan berhitung. Senam dianggap dapat menyehatkan badan dan pikiran, maka tak heran tidak lama kemudian muncul pepatah latin yakni mensana incorpore sanno. Untuk umur 14-16 tahun anak diajarkan bermain musik, puisi serta mengarang untuk menanamkan jiwa yang halus, budi yang halus dengan menjauhkan lagu-lagu yang melemahkan jiwa serta mudah menimbulkan nafsu buruk.

Usia 16-18 tahun diberikan pelajaran matematika untuk membimbing jalan pikiran, selain diajarkan dasar-dasar agama serta adab kesopanan, karena negara atau bangsa tidak akan kuat jika tidak percaya terhadap Tuhan. Pada umur 20 tahun diadakan seleksi yang lebih tinggi untuk mengikuti pendidikan mengenai adanya idea (ide) dan dialektika dan mereka mendapat kesempatan untuk memangku jabatan yang lebih tinggi.

Keadilan adalah keutamaan yang memungkinkan setiap golongan dan setiap warga negara untuk melaksanakan tugasnya masing-masing. Sebagaimana dalam jiwa, keadilan mengakibatkan bahwa ketiga bagian jiwa berfungsi dengan seimbang dan selaras.

Plato berpendapat bahwa dalam negara dimana terdapat Undang-Undang Dasar, bentuk negara yang paling baik adalah Monarki, bentuk negara yang kurang baik adalah aristokrasi, dan bentuk negara yang paling buruk adalah demokrasi. Tetapi jika tidak ada Undang-Undang dasar harus dikatakan sebaliknya. Maksudnya adalah bahwa dalam negara dimana tidak ada undang-undang, demokrasi itu dapat menghindarkan adanya kekuasaan negara yang disalahgunakan.[

Filsafat dan Tuhan menurut Plato

Pemikiran Plato terkait dengan Tuhan, ia mengemukakan bahwa terdapat beberapa masalah bagi manusia yang tidak pantas apabila tidak mengetahuinya, yaitu:
  1. Manusia itu mempunyai Tuhan sebagai penciptanya.
  2. Tuhan itu mengetahui segala sesuatu yang diperbuat oleh manusia.
  3. Tuhan hanya dapat diketahui dengan cara negatif, tidak ada ayat, tidak ada anak, dan lain-lain.
  4. Tuhanlah yang menjadikan alam ini dari tidak mempunyai peraturan menjadi mempunyai peraturan.
Adapun dalam kefilsafatan, Plato membedakan filsafat atas tiga bagian sebagai berikut:
  1. Dilektika    : Tentang ide-ide atau pengertian-pengertian umum
  2. Fisika    : Tentang dunia materiil
  3. Etika    : Tentang kebaikan
Karya-Karya Plato

1. Otentisitas

Tentang karya-karya yang otentisitasnya masih merupakan objek diskusi, Taylor cenderung berfikir bahwa beberapa diantaranyadan barangkali semua betul-betul buah pena Plato. Tentang Hippias dan Menexinos misalnya kita mempunyai data-data yang menyatakan bahwa Aristoteles sudah mengandaikan kedua dialog ini ditulis oleh Plato.

Diskusi mengenai otentisitas ketiga belas surat yang dikenakan kepada Plato, tidak boleh diremehkan karena surat-surat itu merupakan dokumen-dokumen utama yang kita miliki mengenai riwayat hidup Plato. Dan justru surat-surat ini memuat informasi terbanyak mengenai Plato.

2. Kronologi

Bagaimana urutan kronologis karya-karya Palato? Mulai dari Friedrich S (1768-1834), banyak sarjana telah mengupayakan suatu pemecahan mengenai masalah kronologi ini. Berbagai metodetelah dicoba yang memberikan hasil-hasil yang berlainan. Pada pertengahan abad ke-19, sarjana Inggris L. Campbell mengusulkan suatu metode yang membawa hasil , metode ini disempurnakan lagi oleh beberapa sarjana Jerman dengan menyelidiki secara terperinci gaya bahasa Plato.

Beberapa data mengizinkan kita menarik kesimpulan tentang salah satu dialog, misalnya kita tahu bahwa Theaitetos harus ditempatkan tidak lama sesudah tahun 369. Dengan mempergunakan semua data itu, kita dapat membagikan dialog-dialog Plato atas tiga periode, yaitu:
  1. Apologia, Kriton, Eutyphron, Lakhes, Kharmides, Lysis, Hippias, Minor, Menon, Gorgias, Protagoras, Euthydemos, Kratylos, Phaidon, Symposion. (Beberapa ahli menyangka bahwa salah satu dari dialog ini sudah ditulis sebelum kematian Socrates, tetapi kebanyakan berfikir  bahwa dialog pertama tidak lama ditulis sesudah kematian Socrates)
  2. Politea, Phaidros, Parmenides, Theaitetos. (ditulis tidak lama sebelum perjalanan kedua ke Sisilia pada tahun 367)
  3. Sophistes, Politikos, Philebos, Timaios, Kritias, Nomoi. (dialog-dialog ini ditulis sesudah perjalanan ketiga ke Sisilia, ketika urusannya dengan kesulitan-kesulitan politik di Sisilia sudah selesai).
Dalam tahun-tahun terakhir ini karangan Plato juga diselidiki dengan menggunakan komputer. Terutama Prof. L. Brandwood dari University of Manchester (Inggris) sangat giat dalam bidang ini. Hasil definitif belum diketahui. Tetapi sudah nyata bahwa diskusi mengenai otentisistas Surat VII dihidupkan kembali berdasarkan penyelidikan baru ini.

Banyak sekali karyanya yang masih utuh lengkap.Pada umumnya tulisannya disusun dalam bentuk dialog. Barangkali karena pengaruh Socrates, yangkelihatannya memegang peranan pentingdalam karya-karyanya. Begitu penting tempat yang diberikan kepada Socrates (serng dijadikan tokoh utama), sehingga karya-karya Plato itu dapat dipandang sebagai monumen bagi Socrates. Dari segala karyanya dapat diketahui bahwa Plato kenal para filsuf yang mendahuluinya. Seperti Herakleitos, Pythagoras, para filsuf Elea, terlebih para kaum sofis.

Perbedaan antara Socrates dan Plato adalah bahwa Socrates mengusahakan adanya definisi tentang hal yang bersifat umum guna menentukan hakikat atau esensi segala sesuatu, karena ia tidak puas dengan mengetahui hanya tindakan-tindakan satu persatu saja. Sedang Plato meneruskan usaha itu secara lebih maju lagi dengan  mengemukakan bahwa hakekat atau esensi segala sesuatu bukan hanya sebutan saja, tetapi memiliki kenyataan, yang lepas daripada sesuatu yang berada secara konkrit, yang disebut idea. Idea-idea itu nyata adanya, di dalam dunia idea.

Sifat-Sifat Khusus Filsafat Plato

1. Bersifat Sokratik

Keyakinan Plato bahwa filsuf harus dijadikan sebagai penguasa negara, boleh dipandang sebagai buah hasil refleksi Plato atas kematian Socrates, gurunya tercinta. Refleksi atas kematian Socrates selanjutnya menjuruskan seluruh pemikiran dan keaktifan Plato sampai pada masa tuanya.

2. Filsafat sebagai Dialog

Semua karya yang ditulis Plato merupakan dialog-dialog, kecuali Surat-surat dan Apologia. Dalam karangan terakhir, Socrates membela diri di hadapan hakim-hakimnya dan semua warga negara Athena. Sekalipun hanya Socrates yang berbicara disini (monolog) namun suasana dialognya tetap ada.

Plato adalah filsuf pertama dalam sejarah filsafat yang memilih dialog sebagai bentuk sastra untuk mengekspresikan pemikiran-pemikirannya. Plato menggemari dialog sebagai bentuk sastra karena mempunyai hubungan erat dengan ’sokratik’ seperti yang telah dijelaskan di atas. Plato memilih dialog dalam bentuk sastra justru karena Socrates memainkan peranan sentral dalam pemikirannya. Ia juga berkeyakinan bahwa filsafat menurut intinya tidak lain daripada suatu dialog. Kata philo-sophia berasal dari kalangan Plato (dan Socrates). Berfilsafat berarti mencari kebenaran atau kebijaksanaan , dan dapat dimengerti bahwa mencari suatu kebenaran itu sebaiknya dilakukan bersama-sama dalam bentuk dialog.

3. Mite Dalam Dialog-dialog Plato

Plato berpendapat bahwa mite (mythos) tidak bertentangan mutlak dengan rasio. Ada juga mite-mite yang mempunyai unsur-unsur kebenaran dan karena itu dapat digunakan dalam uraian filosofis. Plato mempergunakan seluruh bakatnya sebagai sastrawan dalam menciptakan mite yang memikat hati karena gaya puitisnya. Mite Plato yang termashur tentang penunggu-penunggu gua yang termuat dalam dialog Politeia (Manusia dapat dibandingkan-demikin katanya-)

___________________________________________________

Referensi:

Bertens, K.2013. Sejarah Filsafat Yunani. Jogja: Kanisius

Copleston, Frederick. 1993. A History of Philosophy (vol. 1): Greek and Rome. New York: Image Books.

Hatta, Muhammad. 1980. Alam Pikiran Yunani. Jakarta: Penerbit Tinta Mas.

Hardian, Sandi Susanto. 2016. Pijar Filsafat Yunani Klasik. Bandung: Perkumpulan Studi Ilmu Kemasyarakatan ITB (PSIK ITB)

Maksum, Ali. 2015. Pengantar Filsafat Dari Masa Klasik Hingga Postmodernisme. Jogja: Ar-ruzz Media

Mybllshtprspctv®

0 komentar:

Post a Comment

close
Banner iklan disini