Home » , , , » Punk dan Revolusi: Sebuah Diskursus Politik dalam Negeri Ini

Punk dan Revolusi: Sebuah Diskursus Politik dalam Negeri Ini


Oleh: Gusti Aditya

Saya kecewa ketika mengikuti sebuah seminar kepemimpinan ketika saya menginjakan langkah untuk yang pertama kali di sebuah hotel yang dimiliki kampus saya. Ketika itu sebuah pertanyaan keluar dengan sendirinya, pertanyaan tersebut adalah apakah pengaruh musik dalam diskursus politik di dunia dan spesifiknya di Indonesia?

Semua tertawa, bahkan ada yang berteriak "ini membahas mengenai politik, Bung! Kamu salah kelas. Ambil saja kelas seni". Saya hanya berdiri dan menatap narasumber yang ketika itu adalah salah satu tokoh penting di pemerintahan Jogja. Ia mengambil microphone dan menjawab "mungkin adik bertanya saja kepada abang si pemain gendang di pojok panggung sana". Tawa pun meledak, saya meninggalkan ruang seminar dalam waktu yang sama.

Musik adalah Sebuah Jembatan Antar Generasi

Coba tanyakan pada anak-anak jaman sekarang, siapa presiden kita yang ketiga? Pasti memerlukan waktu yang lama untuk menjawabnya. Berbeda ketika pertanyaan tersebut diganti dengan siapakah penyanyi lagu Closer? Tak sampai sepersekian detik, mereka akan menjawab The Chainsmokers.

Terdapat jurang yang amat besar jika isu politik mulai ditumpahkan kepada anak-anak hits yang sedang berkumpul di tempat kapitalis. Wajar memang, saya pun juga, dari pada pusing-pusing membahas pejabat negara yang melakukan korupsi, saya pribadi lebih nyaman memperbincangkan Bring Me The Horizon yang berubah haluan atau Alesana yang pamornya mulai meredup.

Namun, jika memperbincangkan soal musik, lintas jaman bukan menjadi penghalang lagi. Buktinya, salah satu dosen yang mengajak saya berbincang prihal Koes Plus, saya nyambung juga. Saya bertanya soal Green Day, dosen tersebut juga mengerti sedikit-sedikit. Nampaknya musik dapat menjadi jembatan di tengah jurang yang curam antara generasi tua dan muda.

Lalu apa korelasinya terhadap politik? Banyak. Ambil contoh terdekat adalah Iwan Fals yang kebanyakan lagu-lagunya adalah kritik sosial di jaman 'enak jamanku to?' tersebut. Kemudian beranjak lebih jauh, ada Bob Dylan yang menyanyikan 'sebuah peluru halus' sebagai protes mengenai perang Vietnam. Ada pula Joe Hill yang menyanyikan protes perjuangan buruh dan pandangannya terhadap perang dunia pertama.

Lalu apakah saya masih harus bertanya kepada si pemain gendang? Nampaknya masih. Karena saya tipikal manusia yang tak mudah dipuaskan.

Punk dan Sebuah Penolakan atas Kemapanan

Ya, musik punk. Musik yang terkenal dengan karakter musiknya yang agresif namun tetap estetis, menjadikan musik ini sebagai simbol politik perlawanan terhadap kemapanan. Mari saya bawa anda, sang narasumber yang terhormat, untuk menjelajahi pentingnya sebuah musik bagi dunia dan spesifiknya bagi Indonesia.

Sejak revolusi musik rock ‘n’ roll di tahun 1950an dan 1960an, satu dekade kemudian, sekitar 1970an, musik punk lahir di Inggris dan Amerika sebagai respon terhadap kondisi sosial, politik, dan ekonomi yang merugikan masyarakat kelas menengah ke bawah. Saat itu kebijakan politik dalam dan luar negeri pemerintah Inggris dan Amerika sedang agresif-agresifnya.

Di saat yang sama juga krisis ekonomi melanda kedua negeri tersebut sehingga menyebabkan tingkat pengangguran tinggi dan pertentangan antar kelas di dalam tubuh masyarakat. Dalam kondisi seperti inilah ekspresi budaya anak muda juga dikekang oleh korporat-korporat industri budaya yang membatasi akses dan partisipasi anak muda dalam ranah produksi musik.

Gerakan punk muncul sebagai respon atas kemapanan sosial, politik, ekonomi, dan budaya ini. Ditambah, terhimpitnya ruang bagi para musisi amatiran, menengok musisi-musisi ‘profesional’ yang disponsori oleh label rekaman besar, dapat mentas di klab-klab musik lokal hingga nasional. Musisi-musisi amatiran dan sebagian gerakan punk pun menempatkan posisi di klab-klab kecil saja.

Contohnya adalah klab Country, BlueGrass, and Blues atau CBGB yang menelurkan musisi berkelas seperti Richard Hell, The Voidoids, Velvet Underground, The Ramones dan masih banyak lagi. Mereka tampil dengan karakter yang nyeleneh, bahkan dengan memakai kostum yang aneh, dan memainkan musik yang cenderung berisik untuk diterima oleh masyarakat umum.

Kostum yang aneh? Tentu, Vivienne Westwood dan Malcom Mclaren lah yang menciptakan fashion punk dengan gaya yang sebegitu anehnya. Adalah Sex Pistols lah sang kelinci percobaan untuk fashion ini, band yang digawangi Mclaren sendiri. Kata beliau, ini bukan hanya sekedar fashion 'amburadul', namun di setiap keamburadulan ini lah muncul sebuah makna.

Fashion punk otentik diatas dibuat untuk mencemooh orang-orang kaya yang selalu berpakaian rapih dan dengan merk yang mahal. Fashion punk adalah media perlawanan terhadap gaya hidup borjuis yang senang menghambur-hamburkan uang mereka demi gaya hidup yang hedonis. Punk di sini muncul sebagai penolakan atas kemapanan.

Punk dan Sebuah Tindakan Memberontak di Indonesia

Pada era 1980an, karakter estetika punk, baik itu fashion maupun musik, mengalami perubahan bersamaan dengan perubahan suhu politik yang ada pada saat itu. Secara musikalitas, musik punk menjadi lebih agresif dan keras, yang kemudian kita kenal dengan genre Hardcore Punk. Katakanlah band seperti Black Flag, Agnostif Front dan Descendents adalah sebuah lambang dari band-band Hardcore yang lahir pada masa ini.

Musik punk sebagai bagian dari budaya perlawanan kemudian menjadi populer hampir di seluruh dunia. Hal ini menjadi seperti sebuah virus. Yang menanggapi negatif akan melaknat musik ini, begitu juga sebaliknya. Katakanlah negara-negara mulai dari Afrika, Timur Tengah, Eropa, Australia, Amerika Latin, dan Asia, termasuk di dalamnya Indonesia juga larut dalam euforia menyambut musik ini.

Seperti angin segar di tengah panasnya padang pasir, masuknya musik punk ke Indonesia mempunyai latar belakang historis yang sangat pas dan berkesinambungan. Semakin gencarnya tekanan globalisasi yang melahirkan liberalisasi dan privatisasi media, tingkat pengangguran yang tinggi, sistem politik yang otoritarian dan militerisme yang brutal, membuat budaya punk diterima oleh banyak anak muda Indonesia di kota-kota besar pada akhir tahun 1980an dan awal tahun 1990an.

Saat itu memang punk merupakan ‘barang baru’ bagi anak muda Indonesia. Karakter musik yang agresif, pesan politik yang kritis dalam lirik-lirik lagu yang mereka bawakan, dan rasa persatuan sebagai bagian dari masyarakat yang termajinalkan mewakili perasaan mereka yang hidup dalam ruang sosial, politik, dan budaya yang menindas. Saat itu juga mereka mulai membuat band dengan teman-teman tongkrongan mereka, membawakan lagu-lagu dari The Business, The Ramones,  The Exploited, Green Day, dan lainnya.

Dari titik ini lah lahir berbagai peta musik underground di kota-kota besar di Indonesia. Keberadaan peta musik underground yang mendifusikan pesan-pesan politik anti-kemapanan (menginginkan perubahan) melahirkan anak-anak muda yang kritis terhadap kondisi politik nasional. Pada akhir tahun 1990an muncul berbagai gerakan politik punk seperti Front Anti Fasis (FAF) yang secara kolektif memperjuangan hak-hak kaum buruh.

Para aktivis punk juga aktif dalam melakukan resistensi terhadap rezim Orde Baru. Para pemuda underground ini merupakan agen demokratisasi di mana musik punk dan underground lainnya menjadi soundtrack dalam perjuangan mereka melawan rezim Orde Baru.

Mengapa dipandang Sebelah Mata?

Nampaknya mulai jelas kala sang narasumber menjawab dengan cara yang jauh dari kata sopan. Hal ini terjadi karena punk telah mengalami rekuperasi atau sebuah proses penihilan makna simbol perlawanan. Dalam hal ini, budaya punk yang sebelumnya identik dengan budaya perlawanan, dibuat menjadi tidak bermakna dan terlebih lagi, menjadi bahan cemoohan.

Kini di Indonesia jika ada yang mengaku dirinya punk, itu merupakan sebuah kata-kata tak bermakna. Kata-kata yang tidak ada artinya. Punk kini tidak seperti punk dahulu tahun 1990an. Punk sekarang hanya terbelenggu pada konsep negatif seperti ugal-ugalan, tidak rapi hingga parahnya, sering kali di sangkut pautkan dengan kriminalisme.

Padahal, menengok lagi dasar perlawanan kaum muda punk di Indonesia adalah perlawanan terhadap kapitalisme dan militerisme yang diejawantahkan dalam sistem pemerintahan Orde Baru. Kini band-band punk bekerjasama dengan perusahaan-perusahaan kapitalis, bahkan bekerjasama dengan aparat militer.

Kini, musik di Indonesia sudah jauh dari kata perlawanan, tapi sudah menjadi bagian dari komoditas ekonomi dan politik. Orang berbisnis dengan musik. Mencari sesuap nasi dan mengisi tabungan masa depan. Musik juga dipakai untuk kampanye partai dan pemilihan gubernur dan walikota untuk meraup masa sebagai propaganda politik.

Menurut saya pribadi, dari pada susah-susah demo, panas dan mendapat surat peringatan, mungkin musik punk dapat menjadi alternatif dari kerasnya kepala penguasa yang membuat portal. Namun, didemo saja bilangnya simulasi, apa jadinya jika kami hanya bernyanyi? Mungkin teriakan kami malah dikira ninabobok untuk menemani tidur sang penguasa yang selalu tidak pulas, karena memikirkan banyak hal, hal yang membuat ia berdosa.

ꝋꝋꝋ

Dahulu, punk memang sebuah alat perlawanan. Namun, kini punk nampak seperti sebuah pisau yang tajam. Terserah anda mau menggunakan pisau tersebut untuk memotong daging, menjual ke pasar dan mendapatkan uang. Atau malah hendak anda gunakan untuk membunuh para manusia yang selalu menindas satu sama lain?

Sudah lah, tanyakan saja kepada pemain gendang di pojok panggung sana.

Mybllshtprspctv®

0 komentar:

Post a Comment

close
Banner iklan disini