Home » , , » Pyrrhonianisme: Sebuah Ajaran dalam Karya Sextos Empeirikós dan Bahagia ala Skeptisisme

Pyrrhonianisme: Sebuah Ajaran dalam Karya Sextos Empeirikós dan Bahagia ala Skeptisisme

Sumber Gambar: iFunny
Oleh: Galih Rio Pratama

Kaum Skeptis merupakan sekelompok filsuf yang mempertanyakan kemungkinan kita untuk mencapai suatu bentuk kebenaran yang hakiki. Terdapat dua mazhab utama dalam skeptisisme kuno, yaitu Akademisme, dan Pyrrhonianisme. Kaum Akademik merupakan sekumpulan kaum Skeptis yang bernaung di Akademia pasca meninggalnya Plato (abad ke – 3 SM) yang mengambil inspirasinya dari diktum Sokrates, “Satu – satunya hal yang aku ketahui adalah bahwa aku tidak tahu apa – apa”. Melalui diktum tersebut, kaum Akademis berkesimpulan bahwa kita tidak bisa membedakan mana yang disebut sebagai kebenaran, dan mana yang ilusi. Jadi, menurut kaum Akademis, satu – satunya kepastian yang dapat kita peroleh dalam hidup ini adalah ketidakpastian itu sendiri.

Mazhab Skeptisisme lainnya adalah skeptisisme Pyrrhonianisme. Dinamakan demikian, karena pendiri mazhab ini bernama Pyrrho (berasal dari Alexandria, hidup pada abad 1 SM). Skeptisisme ini jauh lebih radikal ketimbang Akademisme. Kaum Pyrrhonian berpendapat bahwa manusia tidak mungkin memperoleh kepastian apapun dalam hidupnya, bahkan kepastian akan ketidakpastian pun tidak mungkin bisa diperoleh.


Pandangan Pyrrhonianisme dalam Karya Sextos Empeirikós
 
Selama abad ke – 2, seorang fisikawan Yunani bernama Sextos Empeirikós menjabarkan pokok – pokok pemikiran Pyrrhonianisme dalam risalahnya, Ikhtisar Pyrrhonianisme. Karya ini sangat berpengaruh pada dunia filsafat abad ke – 16 dan 17. Karya ini pula yang berkontribusi cukup besar untuk membidani kelahiran filsafat moderen.

Pada bagian awal karya ini, Sextos mengkontraskan pendekatan filsafat skeptisisme dengan filsafat – filsafat tradisional lainnya, seperti pandangan Aristotelian, dan Epikurean yang ia tolak, karena baginya karya – karya filsafat tradisional tersebut tidak lebih dari sekedar dogma – dogma intelektual. Akademisme pun masih dianggap dogmatik oleh Sextos karena masih bergantung pada kebenaran, yaitu ketidakbenaran itu sendiri.

Berbeda dengan metode yang digunakan oleh para filsuf lainnya, kaum skeptis merupakan penyelidik yang tidak mengenal lelah. Etimologi Skeptik itu sendiri berasal dari kata Yunani, yang berarti untuk menyelidiki secara hati – hati. Tugas kaum Skeptis adalah mempertanyakan segala bentuk kebenaran yang mapan.

Untuk mendalami skeptisisme Pyrrhonian yang dijelaskan oleh Sextos Empeirikós, kita haruslah melewati beberapa tahapan yang saling terkait, sebagai berikut:

1.    Tahapan I: Metode Antitesis

Kaum Skeptis memiliki oposisi terhadap suatu dalil, dengan mengajukan satu set dalil yang berlawanan. Sebagai contoh, pernyataan, “Terdapat sesosok Tuhan yang menciptakan alam semseta, dan segala hal di dalamnya merupakan suatu keniscayaan takdir”. Maka, mungkin kita dapat mengajukan dalil yang berlawanan, seperti, “Manusia pada dasarnya merupakan makhluk yang bebas, dan hanya satu set kode genetika yang dapat membatasi kebebasan manusia”, pun sebaliknya.

Metode antitesis memiliki akar sejarah yang panjang dalam tradisi filsafat Skeptik. Filsuf Akademis, Karmeades dalam sebuah perjalanan ke Roma, diketahui membela argumen tentang keadilan pada suatu hari, akan tetapi esok harinya ia justru sama berkerasnya dalam membela argumen tentang ketidakadilan.

2.    Tahapan II: Kesamaan Penilaian

Seorang Skeptis sejati, seperti yang telah kita bahas di muka, merupakan seorang yang mampu menggunakan metode antitesis secara persuasif dalam melawan suatu argumen yang mapan dari segala sudut pandang.

Kaum Skeptis harus memiliki semangat, dan penilaian yang sama dalam membantah suatu tesis, maupun yang antitesis yang mapan. Karena segala argumen, baik tesis maupun antitesis sama sekali dianggap tidak memiliki akar rasional yang diagung – agungkan.

Untuk menciptakan antitesis secara menerus, kaum Skeptis umumnya merujuk pada apa yang disebut Sextos sebagai sepuluh jalan Skeptisisme. Salah satu jalannya adalah sebagai berikut, pernyataan bahwa, dengan objek penderitaan yang sama , respon derita hewan tidaklah sama pada hewan yang berbeda jenis.

Kita mengetahui, bahwa sensibilitas organ tubuh setiap jenis hewan berbeda – beda, contohnya pada burung. Dan kelelawar yang kemungkinan masing – masing memiliki gambaran dunia yang berbeda, pun juga dengan gambaran dunia yang dipersepsikan oleh kedua jenis hewan tadi berbeda pula dengan dunia yang dipersepsikan manusia.Sextos kemudian menuliskan:

“Akan tetapi, jika suatu hal nampak berbeda pada jenis hewan yang berbeda, berartu kita dapat menyatakan bahwa kita mengetahui apa yang sejati di alam. Sedangkan pengetahuan tersebut justru berarti mengingkari pernyataan kita yang pertama, bahwa setiap jenis makhluk hidup tertentu tentunya memiliki pemahaman yang singular. Jadi, peryataan kita bahwa penderitaan nampak berbeda – beda pada tiap jenis hewan yang berbeda, ironisnya mengingkari perbedaan itu sendiri”.

Berdasarkan fakta bahwa objek eksternal nampak berbeda – beda pada tiap makhluk yang berbeda, maka kaum Skeptis menyimpulkan, bahwa wujud dunia bukanlah persis seperti yang dipersepsikan oleh kita. Hasil akhirnya adalah ketidakpastian.

3.    Tahapan III: Epoche

Dengan sepuluh jalan Skeptisisme, orang yang kritis akan menunda penilaiannya, atau yang dalam bahasa Yunani dikenal sebagai epoche (penundaan/pemeriksaan/penghentian sementara). Kaum Skeptis mencegah pengafirmasian, ataupun penolakkan kebenaran dari segala peryataan tentang kodrat aktual daro sesuatu. Kita hanya boleh mengatakan, bahwa sesuatu itu, “Tampak seperti…”, akan tetapi kita tidak dapat mengatakan suatu finalitas ‘ada’ – nya sesuatu itu.

Kita telah melihat dalam karya Sextos ini, bahwa ia amat memperhatikan penggunaan bahasa secara ketat, karena ia tidak ingin jatuh pada kemutlakan suatu pernyataan. Seorang Skeptis sejati tentunya tidak akan membuat peryataan yang menyiratkan finalitas, seperti, “Ini adalah…”, akan tetapi pernyataannya selalu bernapaskan ketidakpastian, seperti, “Mungkin ini adalah…".

4. Tahapan IV: Ataraxia

Mungkin kita berpikir, bahwa hidup sebagai Skeptis tentulah tidak menyenangkan. Seorang Skeptis selalu diliputi ketidakpastian sepanjang hidupnya. Semenyata itu, bagi Sextos, justru hidup sebagai dogmatis – lah yang tidak menyenangkan. Menurutnya, pencarian akan bentuk kepastian akan berakhir pada kesangsian yang melahirkan kecemasan, seorang yang cemas dengan sendirinya tidak berbahagia.

Bagi kaum Skeptis, hidup bahagia dapat dicapa dengan berhenti mencari kepastian, atau dengan kata lain kita harus menjadi skeptis agar dapat berbahagia. Dalam ikhtisar tersebut, Sextos menjelaskan bahwa kebahagiaan tidak lebih dari keheningan jiwa (ataraxia) yang mana hadir karena penangguhan seluruh penilaian kita tentang dunia di mana kita hidup di dalamnya.

Hidup Bahagia ala Skeptis

Skeptisisme merupakan salah satu tradisi filsafat barat kuno yang berorientasi pada eudaimonia. Tidak seperti kebanyakan mazhab filsafat kala itu, Skeptisisme tidak merisaukan landasan teoretik, seperti metafisika, dan epistemologi. Satu – satunya tujuan kaum Skeptis dalam berfilsafat adalah untuk mencapai kedamaian batin (ataraxia) dalam keseharian.

Meskipun pertanyaan kritis menjadi metode berfilsafat mereka, hal itu tidak lebih dari suatu katharsis (pemurnian) diri untuk menggapai ataraxia. Meskipun Sokrates menggunakan cara – cara yang mirip dengan kaum Skeptis untuk memeriksa moralitas publik Athena, terdapat perbedaan mendasar antara keduanya.

Sokrates mempercayai tingkatan moralitas, dimana pencapaian tertingginya membuat kita hidup berkeutamaan, yang dengannya diandaikan kita berbahagia. Bahkan Platon akan melangkah lebih jauh dengan metafisikanya tentang forma pengetahuan, yang diandikan lewat harmoni jiwa (yang dipimpin oleh rasio), kita dapat mencapainya, dan dengan keutamaan ini diandaikan kita berbahagia.

Tujuan akhir dari seluruh filsafat dogmatik Yunani adalah kebahagiaan, akan tetapi menurut Skeptisisme hal tersebut tidaklah mungkin dicapai. Hidup berdasarkan agama; metafisika; dan/atau moralitas absolut hanya dapat menghadirkan ketidakbahagiaan, ketika apa yang dinamakan sebagai kebenaran absolut mulai dipertanyakan, maka pertanyaan tersebut akan terus hadir sepanjang kehidupan sang penanya.

Mempercayai, bahwa terdapat sebentuk kebaikan/keburukan objektif akan membawa kita pada ketidakbahagiaan. Penyiksaan itu datang ketika kita merasa, bahwa perbuatan kita kurang baik, atau perbuatan kita kelewat jahat. Meskipun kita telah melakukan hal yang dianggap oleh standar sebagai, yang baik, kita akan tetap merasa tersiksa karena cemas, apakah perbuatan baik semacam ini dapat terus kita pertahankan.

Sebagai gantinya, kaum Skeptis mengajak kita untuk tidak lagi mencari sebentuk kebaikan absolut, dan meanggalkan segala bentuk metafisika, dan moralitas yang membelenggu. Ketika kita gagal dalam mencapai sesuatu (misalnya, kegagalan lulus kuliah dari universitas terkemuka), kita dengan mudahnya berganti pada tujuan hidup lainnya (misalnya, mengikuti kehidupan intelektual sederhana seperti Diogenes dari Sinope). Kita berpindah tujuan hidup dengan begitu mudahnya, tanpa rasa bersalah, dan kekecewaan, yang mana tidak dijumpai pada seorang yang dogmatik.

Mempraktikan Skeptisisme dalam kehidupan, tentunya juga menimbulkan ‘sikap tak acuh’ apabila tertimpa kemalangan. Kaum Skeptis tidak beranggapan, bahwa kemalangan merupakan sesuatu yang buruk. Kaum Skeptis belajar untuk menerima berbagai bentuk kemalangan yang menimpanya dengan tenang. Skeptisisme melampaui baik, dan buruk. Diharapkan dengan menganutnya, kita akan tetap tenang, jika apa yang tampak baik bagi kita, terenggut, dan mencegah kita mengejar ilusi kebaikan absolut yang tak berujung.

___________________________________________________

Referensi:

Annas, Julia. 1993. The Morality of Happiness. Oxford: Oxford University Press.

Bertens, K.2013. Sejarah Filsafat Yunani. Jogja: Kanisius

Copleston, Frederick. 1993. A History of Philosophy (vol. 1): Greek and Rome. New York: Image Books.

Empiricus, Sextus. 1937. Outlines of Pyrrhoism diterjemahkan oleh R.G. Bury. Harvard: Cambridge University Press.

Hardian, Sandi Susanto. 2016. Pijar Filsafat Yunani Klasik. Bandung: Perkumpulan Studi Ilmu Kemasyarakatan ITB (PSIK ITB)

Irwin, T.H. ‘Stoic Inhumanity’ dalam Juha & Troels Engberg-Pedersen (eds.). 1998. The Emotions in Hellenistic Philosophy. Dordrecht: Kluwer.

Maksum, Ali. 2015. Pengantar Filsafat Dari Masa Klasik Hingga Postmodernisme. Jogja: Ar-ruzz Media

Mybllshtprspctv®

0 komentar:

Post a Comment

close
Banner iklan disini