Home » , , » S-21, Killing Fields dan Khmer Merah: Ironi Sebuah Surga (Bagian II)

S-21, Killing Fields dan Khmer Merah: Ironi Sebuah Surga (Bagian II)


Oleh: Gusti Aditya


Tulisan ini saya khususkan untuk seluruh korban pembantaian di desa Choeung Ek Kamboja dan seluruh narapidana penjara S-21 Tuol Sleng. Semoga Tuhan meberikan tempat yang indah bagi mereka.
PERINGATAN!!! Lemah mental, penulis sarankan jangan melanjutkan membaca

Setelah menjelajahi perjalanan kelam Bangsa Kamboja melalui sebuah sekolah yang disulap menjadi sebuah penjara, kini kita akan beranjak ke sebuah tempat yang dapat membuat kita geleng-geleng bahkan menangis karenanya. Sebuah lapangan besar yang ternyata berisi ribuan mayat yang tergeletak dengan berbagai penyiksaan yang begitu keji.


Tepatnya di Desa Cheoung Ek bagian selatan kota Phnom Penh. Sekitar lima belas menit perjalanan dari S-21 dengan menggunakan tuk-tuk. Seperti halnya tempat-tempat lainnya di Kamboja, selama perjalanan, debu-lah yang menemani kami. Ditambah terik matahari yang membuat tanah terasa tambah kering. Jika pembaca berkesempatan mendatangi Kamboja, lebih spesifiknya Phnom Penh, disarankan untuk membawa pelembab wajah.

Selama perjalanan pun kita tidak disuguhi apa-apa selain kota yang panas dan rapat. Bangunan di mana-mana meskipun Desa Cheoung Ek bukan berada di pusat kota. Di sini memang mata kita tidak disuguhi pemandangan yang indah, namun kita akan disuguhi berbagai kegiatan sosial warga Phnom Penh yang cukup memiliki ciri khas. Kota ini menjadi pusat industri dan kegiatan perekonomian, serta pusat keamanan, politik, ekonomi, warisan budaya dan pemerintahan Kamboja. di seluruh Negara Kamboja.

Gambaran Saya Mengenai Killing Field


Sesampainya di Desa Cheoung Ek, supir tuktuk yang begitu ramah dan tiada habisnya melemparkan senyuman, mengintruksikan kepada kami jika ia akan menunggu di pelataran tempat parkir kendaraan. Ia membebaskan kami untuk mencari data di tempat ini selama apa pun yang kami mau. Tentu itu adalah sebuah keramahan yang khas dari negara ini. Tidak hanya pak tuktuk ini saja, bahkan warga yang lewat di pinggir jalan saja melempar kan senyuman untuk kami. Tak jauh berbeda dengan Warga Indonesia, khususnya Yogyakarta tempat saya tinggal.

Melangkah mendekati, semakin membuat jantung saya berdegub keras. Bagaimana tidak, di depan mata saya sekarang tersaji arena pembunuhan masal dan begis dalam sejarah Kamboja. Atau bahkan dapat dikatakan masuk dalam daftar pembunuhan masal terkeji di dunia.

Di sini tidak ada keringanan untuk “pelajar” seperti di S-21. Padahal, tempat ini juga dipakai untuk study tour banyak sekolah di seluruh Kamboja. Jika di S-21 para pelajar hanya memperlihatkan kartu pelajar universitas atau SMA saja, di tempat ini kita diwajibkan membayar US$2 (US$ 1 = 4000 Riel) per orang. Kamboja memang unik, mata uang di sini memang bisa menggunakan Riel dan Dollar, tetapi tidak ada penny, sehingga untuk menambal jika ada kembalian akan digunakan Riel sebagai pengganti penny.

Ada sebuah saran dari penulis jika hendak mengunjungi tempat ini. Dapat dikatakan bahwa wajib hukumnya untuk mengunjungi dahulu Tuol Sleng Genocide Museum atau S-21 yang terletak di Street 113, Boeng Keng Kang (BKK1) sebelum ke Killing Fields Choeung Ek. Karena di dalam Tuol Sleng Genocide Museum terdapat informasi yang jauh lebih mendalam dibandingkan dengan Killing Field. Kebanyakan korban pembantaian merupakan tahanan di S-21.

Ada lagi sebuah saran, sebaiknya pembaca terlebih dahulu melihat film The Killing Fields di tahun 1984 dan memperoleh tiga Academy Award. Film ini berasal dari wartawan Kamboja, Dith Pran yang berhasil lolos dari kamp pembantaian. Setelah melarikan diri dan sampai di Amerika cerita mengenai perjalanan hidup selama berjuang meloloskan diri dan kondisi di Killing Field.

Tempatnya seluas sekitar 2,5 hektar dan terbuka, hanya dikitari pagar-pagar kawat yang menghindari pengemis anak-anak yang marak di Kamboja. Saran penulis, jangan sekali pun memberikan apa-apa pada mereka. Karena negara ini terlalu banyak mafia yang memperjual belikan anak. Semakin Anda memberi, itu sama saja Anda mendukung human trafficking yang ada di Kamboja.


Ada sebuah stupa besar di tengah-tengah tanah seluas 2,5 hektar tersebut. Isinya bukanlah seperti yang penulis kira sebelumnya, melainkan ribuan tengkorak yang disusun ke atas, pakaian-pakaian para korban hingga benada-benda yang dipakai korban. Bangunan Memorial Stupa ini memiliki tinggi 65 meter dan terdiri dari 17 tingkat. Setiap tingkat menyimpan jenis tulang yang berbeda. Pakaian para korban yang ditemukan dari kuburan massal ditempatkan pada tingkat pertama. Pakaian berbagai ukuran dan warna, untuk pria, wanita, anak-anak dan bahkan untuk bayi terkumpul di tingkat satu ini. Pada tingkat kedua sampai dengan ke sembilan ditempatkan tengkorak para korban. Sementara pada tingkat ke sepuluh sampai dengan ke tujuh belas ditempatkan berbagai jenis tulang seperti tulang selangkangan, humerus, tulang rusuk, tulang pinggul, tailbones, thighbones, shinbones, tulang punggung, dan tulang rahang.

Dari bangunan Memorial Stupa kami beranjak ke bagian belakang. Sepintas bagian belakang ini terlihat sebagai areal kebun yang tidak ada apa-apa nya, hanya di kelilingi pepohonan besar. Namun di lokasi ini lah ternyata tengkorak dan tulang belulang tadi ditemukan. Kami menelusuri setiap bagian dan mulai menemukan rekaman nyata dari kondisi yang terjadi beberapa puluh tahun silam. Di areal ini masih jelas terlihat bekas galian-galian besar yang merupakan lokasi kuburan-kuburan massal. Untuk menjaga keasliannya, pengunjung dilarang berjalan atau melintas di dalam bekas galian tersebut.



Ada pula sebuah museum mini yang setengah jam sekali memutar film The Killing Fields secara singkat serta ada banyak barang-barang bersejarah dari semua korban. Ada sebuah lukisan yang menggambarkan seorang tentara membunuh bayi dengan melemparnya dan membenturkannya di sebuah pohon. Memang tak jauh dari museum tersebut terdapat sebuah pohon bertuliskan “Killing Tree Against Which Executioners Beat Children”. Adalah Duch, mantan kepala Penjara Rahasia S-21, mengakui bahwa dia telah memerintahkan bawahannya untuk membunuh anak-anak dan bayi. Cara membunuh bayi tersebut sebagaimana dilukiskan di atas, para pembunuh mengangkat kaki  mereka lalu membenturkan kepala mereka ke batang pohon hingga hancur.


Dari lokasi pohon ini, mengikuti track berupa jalan setapak dari kayu, beranjak ke sebuah rawa lebar yang masih berisikan air. Disini tidak ada keterangan apa pun, namun dari data yang kami miliki, tempat ini merupakan tempat galian ribuan korban yang telah dikubur secara asal-asalan. Bekas galian itu pun kini menjadi genangan air yang memancarkan aroma yang khas.

Seketika kami terenyak dan mulai mengurangi bercandaan.Suasana sepi, hiruk-pikuknya Kota Phnom Penh tak di temukan di tanah ini. Semua pengunjung tertunduk dan menggunakan earphone yang akan menjelajahi 20 spot secara visual (tak ada tour guide, maka sejenis earphone ini lah penggantinya. Isinya berupa suara yang mengajak kita menjelajahi sejarah killing fields). Semua tertunduk, mereka seakan menerobos jaman dan merasakan penderitaan Rakyat Kamboja dalam medio tahun 70.

Killing Fields dalam Sebuah Sinema

Dalam narasi singkat di atas, penulis sudah sedikit menyinggung mengenai film The Killing Fields. The Killing Fields sejatinya menggambarkan dengan cerdas kisah mengenai pentingnya keinginan untuk bertahan hidup dalam kondisi apapun dan tanggung jawab yang mengiringi pengambilan suatu keputusan yang dibalut dalam persahabatan dua orang manusia berbeda bangsa, yang secara fisik berasal dari dua bangsa yang letaknya berjauhan, Amerika dan Kamboja.


Dengan latar belakang situasi kekejaman selama rezim Khmer Merah berkuasa di Kamboja pada tahun 1975 – 1979. Mereka adalah Sydney Schanberg, seorang koresponden the New York Times di Kamboja, dan Dith Pran, seorang wartawan. Cerita untuk film tersebut diadaptasi dari sebuah memoir yang ditulis Sydney di Harian New York Times dan kemudian memberinya hadiah Pulitzer, The Death and Life of Dith Pran (Kematian dan Kehidupan Dith Pran).

Film The Killing Fields menggambarkan cerita seorang jurnalis Amerika, Sydney Schanberg dan jurnalis asal Kamboja, Dith Pran yang meliput situasi di Kamboja dari awal masuknya Khmer Merah. Sampai akhirnya ia dipulangkan kembali ke negaranya, sedangkan Pran, sama seperti rakyat Kamboja lainnya, ia dipaksa untuk meninggalkan Pnom Penh dan tinggal di desa sebagai petani yang harus bekerja selama enam belas jam setiap harinya.

Selama berada dalam pengawasan Khmer Merah, Pran menyamar sebagai seorang petani bodoh yang tidak pernah mengenyam pendidikan. Seperti halnya yang penulis sebutkan di bagian I, semua intelektual akan dibunuh secara keji demi mencapai utopis yang ingin dicapai Pol Pot. Hal itu dilakukan karena Khmer sangat memusuhi orang-orang berpendidikan dan tentaranya akan membunuh orang-orang yang dulunya berprofesi sebagai dokter, guru dan intelektual lainnya.

Setelah beberapa kali gagal, Pran akhirnya berhasil melarikan diri. Ia berjalan kaki beribu mil, sampai perbatasan Kamboja. Disana ia bertemu kembali dengan sahabatnya Sydney. Berbagai petualangan mereka lakukan bersama. Hingga pada suatu waktu, saat kedua sahabat tersebut bertemu, lagu Imagine yang dilantunkan oleh John Lennon mengalun sayu mengiringi pertemuan dua kawan lama, dan menandai berakhirnya film The Killing Fields.


Latar Belakang “Ladang Pembantaian”

Untuk melaju pada bagian ini, pembaca harus membaca mengenai Pol Pot, Khamer Merah dan S-21 karena semua memiliki keterkaitan yang erat. Semua sudah penulis sajikan dalam bagian satu.

Pada dasarnya, negara ini merupakan sebuah surge yang begitu indah. Bahkan para pelancong dari luar negri yang singgah di negara ini medio tahun 70an, tak segan-segan melabeli negara ini sebagai surga di dunia. Negara ini merupakan surge yang begitu nyata, menengok Pol Pot hanya memperlihatkan “bagian luar” dari negara ini. Padahal, “kulit dalam” negara ini merupakan ceceran darah dan bangkai manusia yang telah membusuk.

Masa empat tahun Pol Pot dengan Khmer Merahnya berkuasa di Kamboja, adalah sebuah masa yang membuat dunia begitu keheranan dan  geger. Khmer Merah berupaya mentransformasi Kamboja menjadi sebuah negara Maoisme dengan konsep agrarianisme. Mereka juga menggunakan ideologi Marxisme-Leninisme dengan begi ekstrim. Di mana Pol Pot menciptakan masyarakat tanpa kelas dengan memberendel semua hak milik individu.

Rezim Khmer juga menyatakan, tahun kedatangan mereka sebagai "Tahun Nol" (Year Zero). Mata uang, dihapuskan. Pelayanan pos, dihentikan. Kamboja diputus hubungannya dengan luar negeri. Hukum Kamboja juga dihapuskan. Rezim Khmer Merah dalam kurun waktu tersebut diperkirakan telah membantai sekitar dua juta orang Kamboja. Ada sekitar 343 "ladang pembantaian" yang tersebar di seluruh wilayah Kamboja. Choeung Ek adalah "ladang pembantaian" paling terkenal.

Di sini, sebagian besar korban yang dieksekusi adalah para intelektual dari Phnom Penh, yang di antaranya adalah: mantan Menteri Informasi Hou Nim, profesor ilmu hukum Phorng Ton, serta sembilan warga Barat termasuk David Lioy Scott dari Australia. Sebelum dibunuh, sebagian besar mereka didokumentasikan dan diinterogasi di kamp penyiksaan Tuol Sleng atau S-21.

Setelah diintrogasi di tahanan S-21, ada yang di masukan dalam penjara dan ada yang langsung dikirim ke Killing Fields. Penjara ini kian hari kian membeludak dan hilir-mudik para tahanan pun bermuara secara tragis di Killing Fields yang ada di Choeung Ek.

Di Killing Fields ini, para intelektual diinterogasi agar menyebutkan kerabat atau sejawat sesama intelektual. Satu orang harus menyebutkan 15 nama orang berpendidikan yang lain. Jika tidak menjawab, mereka akan disiksa. Kuku-kuku jari mereka akan dicabut, lantas direndam cairan alkohol. Mereka juga disiksa dengan cara ditenggelamkan ke bak air atau disetrum. Kepedihan terutama dirasakan kaum perempuan karena kerap diperkosa saat diinterogasi.

Semua Terbongkar oleh Vietnam

Pada tanggal 25 Desember 1978, setelah beberapa pelanggaran terjadi di perbatasan antara Kamboja dan Vietnam, tentara Vietnam menginvasi Kamboja. Tanggal 7 Januari 1979, pasukan Vietnam menduduki Phnom Penh dan menggulingkan pemerintahan Pol Pot. Pemerintahan boneka lalu dibentuk di bawah pimpinan Heng Samrin, mantan anggota Khmer Merah yang telah membelot ke Vietnam. Namun pemerintahan baru ini tidak diakui oleh negara-negara Barat. Sementara Pol Pot dan para pengikutnya lari ke hutan-hutan dan kembali melakukan taktik gerilya dan teror. Pol Pot yang bernama asli Saloth Sar akhirnya meninggal di tengah hutan pada 15 April 1998 karena serangan jantung.

Pada tahun 1982, Tiga kelompok (faksi) yang masih bertahan di Kamboja yaitu Khmer Merah, dan Front kemerdekaan nasional, netral, kedamaian dan kerja sama Kamboja (FUNCINPEC) pimpinan Pangeran Sihanouk, serta Front nasional kebebasan orang-orang Khmer yang dipimpin oleh perdana menteri yang terdahulu yaitu Son Sann, membentuk koalisi yang bertujuan untuk memaksa keluar tentara Vietnam. Tahun 1989, tentara Vietnam akhirnya mundur dari Kamboja.

Tahun 1992, PBB (UNTAC), mengambilalih sementara pemerintahan negara ini. Tahun berikutnya, PBB menggelar pemilu demokratis yang dimenangkan oleh FUNCINPEC. Faksi ini kemudian membentuk pemerintahan koalisi bersama Partai Rakyat Kamboja (CPP) pimpinan Hun Sen.

ꝋꝋꝋ

sebagian orang menyebutkan jika luka fisik tak sebegitunya jika dibandingkan dengan hati. Penulis membayangkan suastu keadaan di mana penulis sudah menginjak usia tua dan ditanya cucu dengan sebuah pertanyaan what is the nature of world stuff? Tak mungkin penulis menjawab seperti  Thales bahwa bahan atau  “sesuatu” itu adalah “air” atau kita akan menjawab “darah”? bahwa selama hidup kita di dunia hanya melihat manusia yang saling menindas?

Atau kita harus membuat suatu kesepakatan kepada cucu kita kelak yang bertanya seperti pertanyaan di atas dengan kesepakatan, mengadopsi dan merubah sedikit dengan apa yang dikatakan Confucius “akan aku ceritakan masa silam kepadamu, namun berjanjilah bahwa masa depan harus engkau rubah menjadi lebih baik".


___________________________________________________

Referensi:

Chandler, David. 1993. A History of Cambodia. Colorado: Westview Press.

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. 1985. Kamphuecha Tahun 1975 s/d 1985. Surabaya: Airlangga.

Forbes, Andrew; Yulius Erfan; Henley, David. 2013. Travellers: Kamboja. Jakarta: Elex Media Komputindo dan Kompas Gramedia

https://go-stage.com/2010/07/23/choeung-ek-killing-fields-ladang-pembantaian-manusia-terbesar-di-cambodia/

http://www.asal-usul.com/2009/04/khmer-merah-lembar-sejarah-kelam.html

Mybllshtprspctv®

0 komentar:

Post a Comment