Home » , , , » Selayang Pandang Filsafat Cina: Suatu Pengantar Filsafat Cina Pra-Modern

Selayang Pandang Filsafat Cina: Suatu Pengantar Filsafat Cina Pra-Modern

Huang Gongwang: Dwelling in the Fuchun Mountains
Oleh: Alarumba Agamsena

Secara etimologis, istilah “filsafat”, yang merupakan padanan kata falsafah dari Bahasa Arab dan philosophy dari Bahasa Inggris, berasal dari bahasa Yunani: philosophia.  Secara harfiah, filsafat adalah pengetahuan dan penyelidikan dengan akal budi mengenai hakikat segala yang ada, sebab, asal, dan hukumnya yang mendasari suatu pemikiran. 

Terkait konteks filsafat secara umumnya dan jiwa filsafat Cina itu sendiri, perkembangan pemikiran di Cina dalam perjalanan sejarahnya memiliki berbagai aliran yang kelak nantinya berpengaruh terhadap berbagai aspek, seperti politik, moral, budaya, maupun ilmu pengetahuan dan teknologi dalam kehidupan masyarakat Cina.

Filsafat Cina merupakan filsafat yang ditulis dalam tradisi pemikiran Cina. Sejarah pemikiran Cina telah berlangsung selama beberapa ribu tahun; sering dianggap bermula dari I Ching (Buku Perubahan), sebuah ringkasan ramalan kuno yang muncul setidaknya tertanggal 672 SM.  Kemudian, berbagai jenis atau aliran filsafat pun bermunculan dalam perjalanan sejarah masyarakat Cina akan dibahas pada bagian isi makalah ini.

Konfusianisme

Konfusianisme merupakan ajaran filsafat yang diajarkan oleh Konfusius (Kong Fu Tse) yang dilahirkan pada tahun 551 SM dan dia hidup sampai tahun 479 SM.  Ajaran konfusius ini berkembang dari pengajaran para guru yang terkumpul dalam sebuah sekolah filsafat, catatan mengenai ajaran ini terdapat dalam Analects of Confucius. Konfusianisme adalah sistem moral, sosial, politik, pemikiran religi yang berpengaruh sangat besar terhadap sejarah, pemikiran, dan kebudayaan bangsa Cina hingga abad ke-21. Pengaruhnya juga tersebar ke Korea dan Jepang.

Konsep pokok ajaran konfusius mencakup rén (perikemanusiaan), zhèngmíng (pengoreksian nama; misalnya: seorang penguasa yang berkuasa dengan tidak adil akan lengser dari kursi kekuasaannya), zhōng (kesetiaan), xiào (berbakti pada orang tua), dan (ritual). Ajaran konfusius mencakup versi positif dan negatif yang terkonsep pada Yin dan Yang. Konsep Yin (kegelapan, dingin, perempuan, negatif) dan Yang (cahaya, panas, laki-laki, positif) mewakili dua kekuatan berlawanan yang secara permanen berkonflik satu sama lain, memimpin pertentangan dan perubahan terus-menerus. Gagasan konfusianisme juga memakai suatu cara mendamaikan pertentangan, dengan cara memadukan keduanya dan mengambil jalan tengah yang terbaik.

Selain itu, Kong Fu Tse pun menemukan sebuah sistem etika dan pemerintahan yang mempromosikan kebaikan. Dia mengajarkan bahwa setiap orang harus melihat dengan jelas tempatnya dalam dunia hierarki, dari raja sampai orang biasa, dan memenuhi tanggung jawab mereka kepada mereka yang ada di atas dan di bawah mereka, melaksanakan kepatuhan, kesalehan, hormat kepada orang tua, dan penuh kebaikan. Ini adalah cara untuk mendapatkan perkenan Tuhan, cara penguasa untuk mendapatkan dan memelihara Mandat Langit. Jadi, inti dari ajaran Kong Fu Tse yaitu pada dasarnya manusia adalah bagian dari sebuah keluarga besar, yang diatur oleh kebajikan keluarga.

Taoisme

Taoisme diajarkan oleh Lao Tse ”guru tua” yang hidup sekitar 550 SM. Taoisme adalah sebuah filosofi dan kemudian berkembang menjadi agama yang berdasarkan pada teks Dao Te Ching (Dào Dé Jīng; dianggap berasal dari Lao Zi / Lao Tse) and the Zhuangzi (sebagian dianggap berasal dari Zhuangzi). Huruf Dao 道 (Dao) secara harfiah berarti “jalan” atau “cara”. Bagaimanapun dalam Taoisme lebih sering mengarah pada suatu istilah metafisis yang digambarkan sebagai kekuatan yang meliputi seluruh alam semesta tetapi tak bisa digambarkan atau dirasakan.

Semua sekolah filsafat Cina yang besar telah menginvestigasi cara yang benar tentang moral kehidupan, tapi hal itu dalam Taoisme menjadi bermakna lebih abstrak. Ajaran ini menyokong sikap pasrah terhadap hukum kodrat dan hukum alam (wu wei), kekuatan dari kelembutan, spontanitas, relativisme.

Ajaran Lao Tse ini melawan ajaran Konfusius. Lao Tse menekankan ajarannya pada metafisika, sedangkan Konfusius pada etika. Kebanyakan fokus ajaran Taoisme adalah pada fakta yang tak dapat disangkal bahwa usaha manusia untuk membuat dunia lebih baik ternyata membuat dunia lebih buruk. Oleh karenanya, adalah lebih baik berjuang untuk keselerasan atau harmoni, memperkecil campur tangan yang berpotensi bahaya dengan alam atau dengan hubungan manusia.

Legalisme

Legalisme merupakan ajaran filsafat yang terkait dengan aspek politik dalam masyarakat Cina. Legalisme dikemukakan oleh seorang cendekiawan muda bernama Shang Yang, yang lahir di negara Wei sekitar tahun 400 SM.  Ajaran ini dilatarbelakangi di antaranya oleh percekcokan terus-menerus dalam Negara-Negara Perang (Warring States) , yang mana pada masa ini perdamaian bukanlah kondisi yang dapat diraih dalam jangka lama. Dalam pandangan ajaran legalisme, tujuan dari mengusahakan seni perdamaian hanya akan mempunyai arti jika dilakukan secara efektif dalam perang dan damai. Dalam damai, pemerintah yang bijaksana mempersiapkan perang; dia harus menjamin kemenangan; dalam kemenangan, dia memelihara perdamaian dan mempersiapkan perang lagi. Intinya, ajaran ini menekankan pada stabilitas, di mana stabilitas adalah segala-galanya, dan stabilitas hanya bisa dijamin di bawah kepemimpinan yang kuat. 

Adapun menurut ajaran legalisme, seorang penguasa harus memerintah warganya dengan trinitas sebagai berikut:
a.    Fa (法 fa): hukum atau prinsip.
b.    Shu (術 shù): cara, taktik, seni, atau tata negara.
c.    Shi (勢 shì): legitimasi, kekuatan, atau karisma.

Legalisme merupakan kebalikan dari ajaran Kong Fu Tse. Menurut ajaran legalisme, gagasan Kong Fu Tse yang memberikan jawaban yang baik untuk perlakuan yang baik dianggap naif. Satu-satunya cara memerintah adalah dengan membujuk, menakut-nakuti, memberi imbalan, dan menghukum. Perlakuan ini tidak sewenang-wenang, tetapi didasarkan pada aturan hukum yang keras, yang berlaku untuk semua orang tanpa pandang bulu. “Hukum,” tulis Shang, “adalah dasar pemerintahan. Hukum itulah yang membentuk orang.”  Oleh sebab itu, kepatuhan mutlak untuk penegakan hukum diterapkan secara ketat, sesuai motto utama ajaran ini adalah: “Terapkan hukum yang ketat dan jelas, atau beri hukuman berat”.

Tugas pertama raja adalah merencanakan, menuliskan, kemudian menjamin hukum diberlakukan secara jujur melalui para pejabat dengan benar-benar patuh pada lembaga negara. Penguasa sendirilah yang akan berwenang untuk memberi imbalan dan hukuman. Menteri hanya diberi imbalan jika kata-kata mereka cocok dengan hasil dari proposal mereka, dan dihukum jika kata-kata mereka tidak cocok dengan hasil proposal mereka, tak peduli apakah hasilnya lebih buruk atau lebih baik dari klaim.

Legalisme inilah merupakan filsafat yang dipilih oleh Dinasti Qin guna menegakkan hukum sekaligus kekuasaan dinasti. Filsafat itu memicu masyarakat totaliter, dan sesuai dengan interpretasi Han Fei, legalisme bisa mendorong negara untuk menjadi autarki militeristik.


Mohisme

Mohisme adalah ajaran filsafat yang didirikan oleh Mozi (墨 子) atau Mo Tse antara 500-400 SM, mempromosikan cinta universal (Chien Ai) dengan tujuan saling menguntungkan. Setiap orang harus saling mencintai, setara dan tidak memihak untuk menghindari konflik dan perang.

Mozi sangat menentang ritual konfusius, sebagai gantinya, dia menekankan kelangsungan hidup yang pragmatis melalui pertanian, perbentengan, dan tata negara. Panduan moral harus mendorong perilaku sosial yang memaksimalkan manfaat umum. Karena sifatnya yang pragmatis, ajaran filsafat ini langsung terarah kepada hal yang berguna. Oleh sebab itu, segala sesuatu yang tidak berguna dianggap jahat. Sebagai motivasi untuk teorinya, Mozi membawa Will of Heaven (Keinginan Langit).

Neo-Konfusianisme

Dari tahun 1000 M, konfusianisme klasik kembali menjadi ajaran filsafat terpenting. Buddhisme ternyata memuat unsur-unsur yang bertentangan dengan corak berpikir Cina. Kepentingan dunia ini, kepentingan hidup berkeluarga dan kemakmuran material, yang merupakan nilai-nilai tradisional di Cina, sama sekali dilalaikan, bahkan disangkal dalam Buddhisme, sehingga ajaran ini oleh orang dianggap sebagai sesuatu yang sama sekali asing.

Masuknya Pengaruh Filsafat Barat

Sejarah modern mulai di Cina sekitar tahun 1900. Pada permulaaan abad kedua puluh pengaruh filsafat Barat cukup besar. Banyak tulisan pemikir-pemikir Barat diterjemahkan ke dalam bahasa Cina. Aliran filsafat yang terpopuler adalah pragmatisme, jenis filsafat yang lahir di Amerika Serikat. Setelah pengaruh Barat ini mulailah suatu reaksi, kecenderungan kembali ke tradisi pribumi. Terutama sejak 1950, filsafat Cina dikuasai pemikiran Marx, Lenin dan Mao Tse Tung.

___________________________________________________

Referensi:

Chan, Wing-tsit. 1963. A Source Book in Chinese Philosophy. New Jersey: Princeton University Press

Chuncai, Zhou. 2011. Kisah Klasik China : The Illustrated Book of the Analects. Jakarta: Elex Media Komputindo

Creel, H.G.; Soemargono, Soejono. 1989. Alam pikiran Cina sejak Confucius sampai Mao Zedong. Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya

Fung, Yu Lan; Rinaldi, John. 2015. Sejarah Filsafat Cina. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Widodo, Sales. 1983. Sejarah Filsafat Cina. Yogyakarta: UGM Press

Mybllshtprspctv®

0 komentar:

Post a Comment

close
Banner iklan disini