Home » , » Selayang Pandang Filsafat Hellenistik

Selayang Pandang Filsafat Hellenistik

Sumber Gambar: Greek News Agenda
Oleh: Galih Rio

Helenis atau Helenisasi, istilah ini berasal dari kata Yunani Helen (Istilah yang dipakai oleh orang Yunani untuk menyebutkan etnik mereka). Helenis juga adalah istilah yang digunakan untuk mendeskripsikan perubahan kultural di mana sesuatu yang bersifat bukan Yunani menjadi Yunani (peradaban Helenistik). Prosesnya ada yang bersifat sukarela, serta ada pula dengan penggunaan kekuatan. Iskandar/Aleksander Agung menyebarkan wawasan peradaban Yunani, termasuk di dalamnya bahasa. Hasilnya adalah, beberapa unsur yang berasal dari Yunani digabung dalam bentuk yang bervariasi dengan unsur lain dari peradaban daerah yang dikuasai, yang dikenal dengan Helenisme.

Hellenisme diambil dari bahasa Yunani kuno Hellenizein yang berarti “berbicara atau berkelakuan seprti orang Yunani”. Hellenisme klasik: yaitu kebudayaan Yunani yang berkembang pada abad ke-6 dan ke-5 SM. Hellenisme secara umum: istilah yang menunjukkan kebudayaan yang merupakan gabungan antara budaya Yunani dan budaya Asia kecil, Syiria, Metopotamia, dan mesir yang lebih tua.

Lama periode ini kurang lebih 300 tahun, yaitu mulai 323 SM (masa Alexander Agung atau meninggalnya Aristoteles) hingga 20 SM. Hellenisme ditandai dengan fakta bahwa perbatasan antara berbagai negara dan kebudayaan menjadi hilang. Kebudayaan yang berbeda yang ada di jaman ini melebur menjadi satu yang menumpang gagasan-gagasan agama, politik dan ilmu pengetahuan.

Fase dalam Hellenistik
Hellenisme di bagi menjadi dua fase, yaitu fase Hellenisme dan fase Hellenisme Romawi. Fase Hellenisme adalah fase yang ketika pemikiran filsafat hanya dimiliki oleh orang-orang Yunani. Adapun fase Hellenisme Romawi ialah fase yang sudah datang sesudah fase hellenisme, dan meliputi semua pemikiran filsafat yang ada pada masa kerajaan romawi, yang ikut serta membicarakan peninggalan pikiran Yunani, antara lain pemikiran Romawi di barat dan di timur yang ada di mesir dan di siria.

Fase ini dimulai dari akhir abad ke-4 sebelum masehi sampai pertengahan abad ke-6, Masehi di Bizantium dan roma, atau sampai masa penerjemahan di dunia arab. Sebelum filsafat yunani muncul, kebudayaa yunani telah mencitrakan khas berpikir yang filosofi, sebagaimana mitos-mitos yang berkembang di yunani adalah bagian yang menentukan kelahiran filsafat.

Unsur Filsafat Hellenistik

Dalam filsafat yunani, unsur-unsur agama bersahaja yang berhalais sangat kental, antara lain kepercayaan tentang adanya bnyak zat yang membekasi alam dan yang menjadi sumber segala peristiwa alamiah, meskipundalam bentuk yang berada dengan ajaran agama Yunani sendiri, karena zat yang berbilang dalam agama itu dinamakan “dewa-dewa”, sedangkan dalam filsafat disebut “akal benda-benda langit”,sebagaimana yang paham tentang “akal bulan” dengan “akal manusia”.

Ciri dan Aliran yang ditelurkan oleh Filsafat Hellenistik

Ciri pemikiran filsafat yunani ialah adanya cara berpikir yang tidak relawan dengan realitas yang ada atau keberadaan yang benar-benar nyata menurut pemahaman filosofis bukan eksistensi yang sesungguhnya, karena setiap realitas menyembunyikan hakikatnya yang paling hakiki, sebagaimana adanya api yang kemudian padam.

Meskipun Plato dan Aristoteles telah berhasil memadukan pikiran-pikiran filsafat yang sebelumnya, keduanya tidak dapat melarutkan sama sekali, karena pikiran-pikiran filsafat tersebut adalah pemikiran bermacam-macam aliran yang boleh jadi berbeda-beda pandangannya terhadap hidup dan alam ini. Aliran-aliran ini adalah:
  1. Natural phylosophy dengan Democritas sebagai tokohnya dan filosof-filosof Lonia, yang menghargai alam dan wujud benda setinggi-tingginya,
  2. “Aliran Ketuhanan” yang mengakui zat-zat yang metafisik, diwakili oleh “aliran Elea” dan Socrates, yang mengatakan bahwa sumber alam indrawi adalah sesuatu yang berada di luarnya.
  3. “Aliran Mistik” dengan Pythagoras sebagai tokohnya, yang bermaksud memperkecil atau mengingkari nilai alam indrawi.
  4. “Aliran Kemanusiaan” yang menghargai manusia setinggi-tinggi dan mengakui kesanggupannya untuk mencapai pengetahuan, serta menganggap manusia sebagai ukuran kebenaran.
Aliran-aliran filsafat tersebut telah mempengaruhi hasil pemikira filosof-filosof yang mendatang, bagaimana pun kuat dan besarnya filosof-filosof.

Masa dalam Filsafat Hellenistik

Pada fase Hellenisme-Romawi, meskipun keseluruhan masa hellenisme-romawi mempunyai corak yang sama, apabila mengingat perkembangannya, maka dapat dibagi menjadi tiga masa, dan tiap-tiap masa mempunyai corak tersendiri.

Masa pertama, dimulai dari empat abad sebelum masehi. Aliran-aliran yang terdapat di dalamnya ialah:
  1. Aliran Stoa (Ar-Riwaqiyyah) dengan Zeno sebagai pendirinya. Ia mengajarkan agar manusia jangan sampai bisa digerakkan oleh kegembiraan atau kesedihan (jadi tahan diri dalam menghadapinya) dan menyerahkan diri tanpa syarat kepada suatu keharusan yang tidak bisa ditolak dan yang menguasai segala sesuatu.
  2. Alir epikurean, dengan epicure sebagai pendirinya. Aliran ini mengajarkan bahwa kebahagian manusia merupakan tujuan utama.
  3. Aliran skiptis (ragu-ragu) yang meliputi “ aliran phyro” dan “aliran akademi baru”. Aliran skeptis mengajarkan bahwa untuk sampai pada kebenarannya, manusia haruspercaya dulu bahwa segala sesuatu itu tidak benar,  kecuali sesudah dapat dibuktikan kebenarannya. Ajaran lain ialah bahwa pengetahuan manusia adalah tidak akan sampai pada kebenaran, atau dengan perkataan lain mengingkari kebenaran mutlak (objektif)
  4. Aliran eliktika-pertama (aliran seleksi)

Masa kedua, dimulai  dari pertengahan abad sebelum masehi sampai pertengahan abad ketiga masehi. Aliran ini terdapat pada masa ini ialah:(1) aliran peripateki terakhir; (2)aliran stoa baru; (3) aliran epicure baru; (4) aliran pythagoras; dan (5) aliran filsafat yahudi dan plato.

Filsafat hellanisme- yahudi ialah sesuatu pemikiran filsafat, yaitu filsafat yahudi dipertemukan dengan kepercayaan yahudi, dengan jalan penggabungan atau mendekatkan salah satunya kepada yang lain, atau membuat susunan baru yang mengandung kedua unsur tersebut.

Masa  ketiga, dimulai dari abad ketiga. Masehi sampai pertengahan abad keenam masehi di bizantium dan roma, atau  sampai pertengahan abad ketujuh atau kedelapan di iskandariah dan timur dekat (asia kecil). Pada masa ketiga ini, kita mengenal aliran-aliran; (1) neoplatonisme; (2) iskadariyah; (3) filsafat diasia kecil, yang terdapat di antiochia, harran, ar-ruha, dam nissibis. Aliran-aliran ini merupakan kegiatan terakhir menjelang timbulnya “aliran bagdad” yaitu aliran filsafat islam.

Diantara aliran-aliran filsafat dari masa ketiga, neoplanisme-lah yang terpenting dan yang paling banyak pengaruhnya terhadap filsafat islam.
___________________________________________________

Referensi:

Bertens, K.2013. Sejarah Filsafat Yunani. Jogja: Kanisius

Copleston, Frederick. 1993. A History of Philosophy (vol. 1): Greek and Rome. New York: Image Books.

Irwin, T.H. ‘Stoic Inhumanity’ dalam Juha & Troels Engberg-Pedersen (eds.). 1998. The Emotions in Hellenistic Philosophy. Dordrecht: Kluwer.

Maksum, Ali. 2015. Pengantar Filsafat Dari Masa Klasik Hingga Postmodernisme. Jogja: Ar-ruzz Media

Mybllshtprspctv®

0 komentar:

Post a Comment