Home » , , » Selayang Pandang Filsafat Kristen Awal dan Filsuf Zaman Patristik (Bagian I)

Selayang Pandang Filsafat Kristen Awal dan Filsuf Zaman Patristik (Bagian I)

Sumber Gambar: Flickriver
Oleh: Galih Rio Pratama


Selayang Pandang

Kekristenan muncul sebagai kepercayaan atau agama baru. Hal ini terjadi setelah Kaisar Konstantinus menegeluarkan sebuah edik yang bernama edik Milano. Dalam edik Milano yang dikeluarkan tahun 313 menyatakan bahwa agama Kristen yang teraniaya menjadi agama resmi di seluruh kekaisaran. Ajaran agama Kristen bersumber dari Yesus Kristus. Kekristenan menawarkan ajaran baru yang berbeda dengan ajaran atau agama pada waktu itu yakni tentang penebusan, keselamatan dan cinta.

Ajaran ini sungguh-sungguh berbeda dari ajaran yang ada pada waktu itu. Kehadiran agama baru ini ditentang oleh banyak orang, baik oleh penguasa maupun oleh kalangan Yahudi. Tampillah orang-orang seperti rasul Paulus dan rasul Yohanes yang menghadapkan kepercayaan Kristen dengan kepercayaan yang bukan Kristen pada waktu itu. Masa itu mempertaruhkan hidup dan mati agama Kristen.

Pada awalnya, pengikut agama Kristen berasal dari rakyat golongan sederhana, rakyat jelata yang bukan pemikir. Dengan kondisi demikian, tidak ada ahli pikir secara filsafat. Namun, dalam perjalanan waktu, banyak orang-orang dari golongan atasan, golongan ahli pikir menjadi penganut agama Kristen. Dengan demikian, para cendekiawan ini menentukan sikap mereka terhadap filsafat Kristen. Sejak saat itu, bangkitlah filsafat Kristen.  Masa ini hidup bersamaan dengan masa Hellenisme. 

Keseluruhan sejarah filsafat ini disebut sejarah filsafat Abad Pertengahan. Filsafat Abad Pertengahan dicirikan dengan adanya hubungan erat antara agama Kristen dan filsafat. Dilihat secara menyeluruh, filsafat Abad Pertengahan memang merupakan filsafat kristiani. Para pemikir zaman ini hampir semuanya klerus, yakni golongan rohaniwan atau biarawan di mana minat dan perhatian mereka tercurah pada ajaran agama kristiani.

Akan tetapi orang akan salah paham jika memandang filsafat Abad Pertengahan sebagai filsafat yang melulu berisi dogma atau ajaran Gereja. Sebab, dalam filsafat Abad Pertengahan digambarkan hubungan antara iman yang berdasarkan wahyu Allah sebagaimana termaktub dalam Kitab Suci dan pengetahuan berdasarkan kemampuan rasio manusia. Oleh karena itu, kiranya dapat dikatakan bahwa filsafat Abad Pertengahan adalah suatu filsafat agama dengan agama Kristiani sebagai dasarnya.

Sejarah filsafat Abad Pertengahan dibagi menjadi dua zaman. Pertama, zaman Patristik. Zaman Patristik (abad ke-2 sampai abad ke-7) dicirikan dengan usaha keras para Bapa Gereja untuk mengartikulasikan, menata, dan memperkuat ajaran Kristen serta membelanya dari serangan kaum kafir dan biadaah kaum Gnosis. 

Kedua, zaman Skolastik yang dimulai sejak abad ke-9. Kalau para tokoh masa Patristik adalah pribadi-pribadi yang lewat tulisannya memberikan bentuk pada pemikiran filsafat dan teoogi pada zamnanya, para tokoh zaman skolastik terutama adalah pelajar dari lingkungan sekolah-kerajaan dan sekolah-katedral yang didirikan oleh Raja Karel Agung (742-814) dan kelak juga dari lingkungan universitas dan ordo-ordo biarawan.

Pemikiran Filsuf Zaman Patristik

Dalam bagian berikut, kami akan menjelaskan pemikiran-pemikiran filsuf Patristik yang juga merupakan apologet. Kami tidak akan membicarakan semua filsuf yanga ada. Kami membahas filsuf yang penting dan ajarannya memiliki pengaruh besar terhadap filsafat.

Kata patristik berakar dari kata Latin. Pater: bapa, menunjuk pada Bapa Gereja. Masa ini berlangsung kira-kira selama 8 abad yaitu zaman di antara para rasul (abad pertama) hingga sekitar awal abad ke-8 M. Ada banyak sikap para pemikir Kristen terhadap filsafat. Ada yang menolak terhadap filsafat Yunani tetapi ada juga yang menerima filsafat.

Para pemikir Kristen yang menolak filsafat Yunani memandang bahwa fisafat Yunani sebagai hasil pemikiran manusia semata-mata, setelah ada wahyu ilahi dianaggap tidak diperlukan lagi bahkan berbahaya bagi agama Kristen. Tetapi para pemikir Kristen yang menerima filsafat Yunani memandang bahwa filsafat Yunani sebagai persiapan Injil (prepatio evangelica).

Pemikiran Kristen berawal dari para apologet (pembela iman). Mereka tidak menyusun filsasfatnya secara metodis dan sistematik. Mereka hanya membela iman Kristen. Mereka membuktikan kebenaran-kebenaran iman Kristen. Dengan kata lain, para apologet menerangkan dasar iman Kekristenan seperti Yesus Kristus adalah sungguh-sunguh Allah dan sungguh manusia. Itulah yang dilakukan oleh para apologet sebenarnya. Mereka memakai filsafat Yunani dalam menerangkan iman Krsiten.

Para apologet yang ada pada masa itu adalah Aristedes, Yustinus Martir, Tatianus dari Asyur, Athenagoras, Teofilus dari Antiokhia. Mereka merupakan para apologet awal. Para apologet ini pada umumnya berasal dari daerah Timur dan berbangsa Yunani. Maka para apologet tersebut dapat kita katakan sebagai filsuf Yunani yang menganut agama Kristen. 

Pada masa itu, orang Kristen dituduh sebagai rang munafik karena hidup mereka dalam persundalan, melakukan persetubuhan tanpa batas, membenci sesamanya, dan sebagainya. Ajaran Krsiten dipandang sebagai ajaran yang menyangkal para dewa. Tuduhan-tuduhan itu disematkan pada orang-orang Kristen karena mereka menjalankan praktek ibadah dengan sembunyi-sembunyi. Mereka melaksanakannya demikian agar mereka selamat. Sikap sembunyi-sembunyi inilah yang menimbulkan tuduhan-tuduhan demikian pada orang Kristen.

Para apologet hadir untuk membela semua tuduhan tersebut. Tidak benar kalau orang Kristen melaksanakan tindakan itu. Hal itu merupakan fitnah. Orang Kristen hidup seturut hukum Allah sehingga mereka tidak jatuh pada kesalehan-kesalehan seperti yang dilakukan oleh orang-orang yang buan Kristen. Mereka tidak membuang bayi-bayi mereka, mereka tidak melakukan persetubuhan yang lebih. Mereka hidup saling mengasihi antara satu dengan yang lain, mendoakan pemerintah, dan sebagainya. Para apologet menyatakan, walaupun para penganut agama Kristen tidak mau menyembah kepada para dewa, tetapi mereka percaya dan menyembah kepada Allah yang Esa. Mereka menentang banyak ilah. Bagi mereka hanya ada satu Allah, Allah yang transenden, yang adikodrati, yang mengatasi segala sesuatu, yang tidak tergantung kepada sipapun, yang secara hakiki berbeda dengan manusia. 

Yustinus Martir

Sumber Gambar: Lux Veritatis 7
Yustinus Martir lahir di Neapolis (Sikhem Palestina) sekitar 100 M. Ia menjadi Kristen dan menetap di Roma sekitar 164 M. Banyak waktu digunakannya untuk mencari kebenaran dengan mengambara di antara berbagai aliran tradisi filsfat Yunani. Yustinus juga mengatakan bahwa agama Kristen bukan agama baru. Agama Kristen lebih tua dari filsafat Yunani. Nabi Musa telah menubuatkan kedatangan Kristus. Musa hidup sebelum Plato. Dengan demikian Plato “telah belajar” dari Musa.

Kristus adalah Logos. Membagikan benih logos (logos spermatikos) kepada seluruh umat manusia sehingga pada orang yang bukan Kristen telah tertanam juga rasa kebenaran, hal yang baik. Logos bekerja pada semua orang baik secara intelektual maupaun secara moral. Tiap orang telah mendapat bagian benih logos itu sebenarnya dalah orang Kristen, sekalipun ia tidak dibaptis seperti sokrates. Sekalipun semua orang telah menerima benih logos tetapi orang-orang Yunani kurang mengerti disebabkan pengaruh para demon yang dikepalai oleh iblis. Demikianlah penegtahuan yang benar dipalsukan yaitu bangsa Romawi digerakkan untuk menghamba orang-orang Kristen.

Secara keseluruhan, karya Yustinus menandai pilihan tegas Gereja awal untuk filsafat, untuk akal budi, bukan sebagai agama seperti yang dianut orang-orang kafir. Dalam apologia-nya yang pertama, Yustinus mengkritik agama kafir serta  mmitos-mitosnya yang dia pandang sebagai kesesatan dari jalan kebenaran. Sedangkan filsafat merupakan bidang yang menguntungkan, di mana kekafiran, Yudaisme dan Kristianitas dapat bertemu dalam hal mengkritik agama kafir sera mitos-mitosnya yang palsu.

Irenaeus

Sumber Gambar: Tom Perna
Irenaeus lahir sekitar 137-140 (± 202) M. Ia menentang aliran Gnostik. Gnostik berakar dari kata Yunani yang berarti pengetahuan. Aliran gnostik adalah aliran yang berusaha melebur kepercayaan Kristen dengan filsafat Yunani. Aliran ini timbul dalam bentuk beracam-macam yang membahayakan bagi agama Kristen sebab dapat merusak agama Kristen dari dalam. Sekalipin ada banyak aliran, akan tetapi ada corak-corak teretntu yang dimilki bersama yaitu:
  • Semua mengajarkan adanya pertentangan yang mutlak antara roh sebagai azas segala yang baik dan benda sebagai azas segala yag jahat.
  • Penciptaan bukan dilakukan oleh Allah, tetapi oleh tokoh rohani yang lebih rendah.
  • Kelepasan hanya terbatas pada sekelompok kecil orang yang berhasil naik dari iman ke pengetahuan (gnosis) karena iman dipandang perlu bagi orang-orang yang sederahana, kaum psikis atau kaum somatis, yaitu yaitu kaum yang terikat pada benda-benda. Sedangkan pengetahuan atau gnosis perlu bagi kaum pneumatis yaitu kaum rohanai: orang yang mendalami rohnya secara sungguh-sungguh.
Ajaran gnostik dikuasai oleh fantasi daripada oleh akal sehat. Pengetahuan tentang gnostik diperoleh dari kutipan-kutipan yang terdapat di dalam tulisan para Bapa Gereja yang menentangnya dan dari karangan-karangan para pengikut Gnostik sendiri. Namun, pada masa Irenaeus ada aliran yang berusaha melebur kepercayaan Kristen dan filsafat Yunani sehingga menjadi sistem yaitu aliran gnostik.

Iranaeus menentang aliran gnostik dengan alasan-alasan dialektis dan dengan pembuktian dari Kitab Suci. Ia menunjukkan bahwa uraian para ahli gnostik banyak yang bertentangan. Misalnya, Iranaeus menunjukkan bahwa Allah adalah esa, maka tidak mungkin sejak awal ada sesuatu yang di atas dan di bawah Allah. Cara Iranaeus membuktikan kesalahan ajaran gnostik yaitu memakai tafsiran allegoris atau kiasan yang dilandaskan dari Kitab Suci. Menurut Kitab Suci, pencita segala makhluk adalah Allah sendiri, bukan “ilahi” yang lebih rendah. Allah mencipta dengan perantaraan Logos, bukan menalarkan sinar ilahi dari diriNya sendiri.

Hippolitus

Sumber Gambar: Pravoslavieto.com
Hippolytus wafat mungkin sekitar tahun 236. Ia adalah seorang murid dari Irenaeus. Dalam Proemium ke Philosophumena (sekarang pada umumnya dikaitkan dengan Hippolytus) dia menyatakan niatnya, hanya tidak sempurna terpenuhi. Informasi bagaimanapun selalu akurat. Tuduhan utama untuk dia bahwa Hippolytus melawan bangsa Yunani di mana mereka memuliakan penciptaan dengan ungkapan-ungkapan halus, tetapi tidak mengetahui Pencipta segala sesuatu, yang membuat mereka bebas dari ketiadaan sesuai dengan hikmat-Nya dan rencanaNya.

Para penulis tersebut menulis dalam bahasa Yunani; tapi ada juga sekelompok apologet Latin, Minucius Felix, Tertullian, Arnobius dan Lactantius, dan di antara mereka yang paling berpengaruh adalah Tertullian. Tidak pasti apakah Minucius Felix menulis sebelum atau setelah Tertullian, tetapi dalam segala sikapnya terhadap filsafat Yunani, seperti yang ditunjukkan pada Octavius  lebih menguntungkan daripada pendapat Tertullian. Argumen bahwa keberadaan Allah dapat diketahui dengan pasti dari tatanan alam dan desain yang terlibat dalam organisme, khususnya dalam tubuh manusia, dan bahwa keesaan Allah dapat disimpulkan dari kesatuan tatanan kosmik. Ia menegaskan bahwa para filsuf Yunani juga mengakui pernyataan ini. Dengan demikian, Aristoteles mengakui satu Tuhan dan Stoa punya doktrin ilahi, sementara Plato berbicara tentang Kristen ketika ia berbicara di Timaeus yaitu dari Pencipta dan Bapa alam semesta.

Tertulianus

Sumber Gambar: worddrobe
Tertulianus hidup sekitar abad 160-222 M. Ia dilahirkan di Karthago. Ia tidak berasal dari keluarga Kristen tetapi kemudian menajdi Kristen dan menjadi pembela agama Kristen serta teolog. Oleh karena hidupnya yang keras, ia cenderung menganut mazhab Montanus. Ketika menganut Montanisme, Tertulianus tidak melupakan bahwa Gereja adalah ibu bagi iman dan hidup kristiani. 

Tertulianus juga menaruh perhatian pada kelakuan moral orang-orang Kristiani serta pada hidup yang akan datang. Tulisan-tulisannya juga penting untuk mengetahui kecenderungan yang timbul dalam komunitas-komunitas Kristiani yang berhubungan dengan Maria, Sakramen Ekaristi, Perkawinan dan Rekonsiliasi, primat Petrus serta doa. Secara khusus pada zaman pengananiayaan, ketika orang-orang Kristiani tampak seperti suatu minoritas, Tertulianus menganjurkan supaya mereka berharap. Harapan menurutnya, bukan hanya salah satu keutamaan, tetai suatu yang meliputi setiap segi dari eksistensi Kristiani. 

Tertulianus menolak filsafat sebab wahyu sudah cukup bagi orang Kristen. Menurutnya tidak ada hubungan antara teologi dan filsafat, antara Yerusalem dan Athena, antara Gereja dan akademi. Sejak agama Kristen ada (Kristus datang), filsafat membingungkan bagi orang Kristen bahkan dapat menyesatkan. Di dalam terang Kristus, segala sesuatu yang dikatakan oleh para filsuf tidak penting. Sebab, segala yang baik, yang mereka ajarkan dikutip dari Kitab Suci. Tetapi, para filsuf memalsukan Kitab Suci.

Sekalipun demikian, Tertulianus tidak menolak berpikir rasional. Cara berpikir rasional ini berguna juga. Akan tetapi sayangnya, pemikiran yang rasional, yang secara spontan ini, tidak diteguhkan oleh filsafat, melainkan dibelokkan. Berdasarkan pandangan ini, Tertulianus tidak menolak pemikiran rasional tentang adanya Allah dan kesempurnaanNya. Akal manusia dapat menemukan adanya Allah dan menemukan sifat jiwa yang tidak dapat mati.

Tertulianus menolak Stoa. Akan tetapi, ia juga dipengaruhi oleh kaum Stoa karena ia menagajarkan materialisme. Menurutnya, baik Allah maupun jiwa bertubuh, walaupun tubuh itu berbeda sekali dengan tubuh jasmaniah. Allah adalah suatu zat yang halus, walaupun Ia adalah baik. Jiwa juga terdiri dari zat yang halus, yang bertubuh, yang tembus sinar sama seperti uap. Jiwa tidak setiap kali diciptakan Allah tersendiri, akan tetapi pembentukannya diteruskan oleh para orang tua kepada anak-anak mereka. Jiwa berasal dari sperma sang ayah, sehingga tiap jiwa adalah suatu ranting dari jiwa Adam. Karena dosa warisan sifat-sifat rohani diwarisi anak dari orang tuanya. Oleh karena pada tiap jiwa masih ada sisa gambar Allah, maka tiap jiwa yang tertarik kepada agama Kristen.

>>>Lanjutkan Baca Bagian II
___________________________________________________

Referensi:

Copleston, Frederick. A History of Philosophy (vol 2). London: Burns, Oates & Washbourne, 1950.

Hadiwijono, Harun. Sari Sejarah Filsafat Barat 1. Yogyakarta: Kanisius, 1980.

Mclynn, Neil B. Ambrose of Milan. London, [tanpa penerbit], 1994.

Newland, Mary Reed. Riwayat Hidup Para Kudus. (judul asli: The Saint Book), diterjemahkan oleh J. Waskito  SJ. Medan: Bina Media, 2002.

Paus Benediktus XVI. Bapa-Bapa Gereja (judul asli: The Fathers), diterjemahkan oleh J. Waskito SJ. Malang: Dioma, 2010.

Mybllshtprspctv®

0 komentar:

Post a Comment

close
Banner iklan disini