Home » , , » Selayang Pandang Filsafat Kristen Awal dan Filsuf Zaman Patristik (Bagian II)

Selayang Pandang Filsafat Kristen Awal dan Filsuf Zaman Patristik (Bagian II)

Sumber Gambar: en.wikipedia.org
Oleh: Galih Rio Pratama

<<<Baca Dahulu Bagian I

Klemens dari Aleksandria

Sumber Gambar: Alchetron
 Klemens dari Aleksandria lahir sekitar tahun 150 M di Athena, kemudian menetap di Aleksandria sekitar tahun 202/203 M dan meninggal sekitar tahun 219 M. Dari Athena diwarisinya suatu minat yang besar untuk filsafat yang akan menjadikannya seorang perintis dialog antara iman dan rasio, akal budi, dalam tradisi Kristiani. Aleksandria merupakan kota yang menjadi simbol bagi pertemuan subur antara kebudayaan, hal yang merupakan ciri khas zaman Hellenisme. Di kota itu, ia menjadi murid Pantaenus sampai saat ia menggantikannya sebagai pemimpin sekolah kateketik. Banyak sumber memberi kesaksian bahwa ia seorang imam tertahbis.

Di antara karya-karyanya, ada 3 (tiga) yang paling penting yaitu Protrepticus, Paedagogud dan Stromata. Meskipun kelihatannya bukan maksud utama pengarangan tetapi adalah kenyataan bahwa tulisan-tulisan ini merupakan suatu trilogi asli yang dapat mengantar perkembangan rohani orang Kristiani secara efektif.

Protrepticus, seperti sudah dinyatakan oleh namanya adalah suatu anjuran yang ditujukan kepada mereka yang menjelajahi iman. Protrepticus berbaur dengan menjadi seorang Pribadi: Putera Allah, Yesus Kristus, yang telah menjadi “penganjur” bagi manusia supaya dengan mantap menempuh jalan yang menuntun pada kebenaran.

Yesus Kristus kemudian menjelma sebagai Paedagogus, berarti pendidik, bagi mereka yang oleh daya Pembaptisan telah menjadi anak-anak Allah. Dan, akhirnya Yesus Kristus telah menjadi Didascalos, berarti Guru yang menawarkan pengajaran yang terdalam. Pengajaran-pengajaran ini telah dikumpulkan dalam karya Clemens yang ketiga yaitu Stromata. Stromata adalah istilah Yunani untuk permadani dinding. Memang karya ini merupakan kumpulan karangan-karangan yang berbeda-beda dan tidak disusun secara sistematis, buah hasil; langsung dari pengajaran Clemens sehari-hari.

Di lain sisi, nilai filsafat Kristen Aleksandria pada waktu itu adalah kesatuan agama Yahudi dan agama Kristen dipertahankan, sehingga Allah bangsa Yahudi diidentikkan dengan Allah orang Kristen (menentang Marcion), dan filsafat Yunani diperhambakan kepada perkembangan teologi Kristen, tanpa jatuh kepada kesalahan Gnostik. Sekalipun demikian, harus diakui bahwa ada kekurangan-kekurangan, yaitu: filsafat Kristen terlalu bersifat spekulatif sehingga kehilangan kenyataan yang sebenarnya, terlalu terpesona oleh Plato dan Philo dan terlalu banyal dipengaruhi oleh Stoa.

Kelemens tidak bebas dari kekeliruan-kekeliruan itu. Beberapa tahun ia menjadi dosen di sekolah kateketik Aleksandria. Kemudian ia darus melarikan diri karena adanya penghambatan dari kaisar Septimus Severus. Suatu tujuan rangkap ingin ia capai yaitu: memberi batasan-batasan kepada ajaran Kristen guna mempertahankan diri terhadap filsafat Yunani dan aliran Gnostik, dan memerangi ajaran Kristen dengan pertolongan pemikiran Yunani.

Filsafat dijunjung tinggi, terlebih-lebih filsafat Plato dihargai sekali. Hal ini disebabkan  filsafat mempunyai fungsi rangkap. Bagi orang yang bukan Kristen, filsafat dapat mempersiapkan orang untuk percaya kepada Injil. Sebab bagi orang yang bukan Kristen, filsafat mempunyai arti yang sama seperti arti hukun Taurat bagi orangYahudi. Sebagian besar dari hikmat filsafati diturunkan dari Kitab Suci. Sebaliknya, bagi orang Kristen filsafat juga penting karena filsafat dapat dipakai untuk membela iman Kristen dan untuk memikirkan iman Kristen secara mendalam.

Menurut Klemens, filsafat pada dirinya memang dapat memimpin orang kepada pengetahuan tentang Allah. Sebab filsafat dapat memimpin kepada pengetahuan, bahwa Allah adalah sebab segala sesuatu. Di sini tampak pengaruh filsafat Plato. Pangkal pemikiran Klemens adalah iman. Iman (pistis) dapat diperlukan bagi tiap orang Kristen. Akan tetapi, di samping iman masih ada hal yang lbih tinggi yaitu pengetahuan (gnosis). Jikalau iman berlaku bagi tiap orang Kristen, maka pengetahuan (gnosis) perlu bagi orang Kristen yangd apat berpikir secara lebih mendalam. Pengetahuan atau gnosis ini bukan meniadakan iman, tetapi menerangi iman. Iman adalah awal pengetahuan, oleh karena itu iman harus berkembang atau tumbuh hingga menjadi pengetahuan atau gnosis. Pengetahuan harus diusahakan sedemikian rupa, hingga menjadi suatu kecakapan merenung yang terus-menerus dan tak terubahkan lagi.

Walaupun Klemens mengajarkan hal gnosis, akan tetapi ia menentang Gnostik. Ajaran tentang gnosis justru dipakai untuk menentang Gnostik. Menurut ajaran Gnostik, seorang yang telah memiliki gnosis harus mematikan hawa nafsunya dan kembali kepada Allah dalam suatu kasih yang telah dibersihkan dari segala hawa nafsu. Tetapi bagi Klemens gnosis tidak mempunyai arti yang demikian. Baginya, gnosis harus mengandaikan adanya iman. Tanpa iman tiada gnosis. Sebaliknya, bagi kaum Gnostik, gnosis meniadakan iman. Bagi Klemens, gnosis adalah imu sejati, suatu pengetahuan yang pasti beradasarkan penguraian yang benar dan pasti. Orang dianggap berpengetahuan, berhikmat atau berilmu, jikalau akalnya meneguhkan pengetahuannya dengan uraian-uraian yang mempunyai bukti yang kuat. Demikianlah menurut Klemens, pengetahuan atau gnosis adalah aktivitas akal.

Origenes


 
Sumber Gambar: The Forerunner
Origenes adalah orang pertama yang memberikan suatu uraian sistematis tentang teologi. Persoalan penting yang menjadi pergumulan pada waktu itu adalah bagaimana hubungan iman dan pengetahuan. Menurut aliran Gnostik, iman daus dinaikkan menajadi pengetahuan (gnosis), sehingga iman tidak diperlukan lagi. Menurut Klemens, iman adalah awal pengetahuan yang harus berkembang menjadi pengetahuan. Tetapi pengetahuan tidak tidak meniadakan iman. Seklaipun demikian, sebenarnya dalam ajaran Klemens, iman tidak mempunyai tempat yang pusat.

Origenes mengajarkan bahwa iman kurang berguna lagi bagi orang yang telah “berpengetahuan”, artinya, orang yang telah memiliki pemahaman yang mendalam. Sebab iman hanya perlu bagi orang-orang yang sederhana, orang yang tidak mengerti isi Kitab Suci secara rohani. Menurut Origenes, Kitab Suci mempunyai tiga (3) macam arti, yaitu: arti yang harafiah atau yang somatis, yang historis, yang berlaku bagi orang yang sederhana; arti yang etis atau psikis, seperti yang diuraikan di dalam khotbah, yang diperuntukkan bagi orang yang psikis. Yang terakhir, arti pneumatis atau rohani, yang lebih mendalam, yang diperoleh dengan tafsiran allegoris atau kiasan, yang diperuntukkan bagi apra teolog dan para filsuf. Kitab Suci harus ditafsirkan dengan cara demikian, karena manusia terdiri dari tubuh (soma), jiwa (psukhe) dan roh (pneuma). 

Berdasarkan pandangan di atas, selanjutnya ajaran Origenes menyatakan bahwa Allah adalah transenden, Allah yang tidak dapat dimengerti. Ia tidak bertubuh, esa serta tidak berubah. Allahlah yang menjadi pencipta segala sesuatu baik yang bersifat rohani maupun bersifat bendawi. Origenes mengajarkan penciptaan yang kekal abadi. Allah tidak penah menganggur. Sebelum dunia diciptakan, Allah telah bekerja, menciptakan dunia yang lain yang mendahului dunia tempat kita berdiam. Sesudah zaman dunia kita ini akan ada dunia yang baru. Demikianlah ada penciptaan yang kekal abadi.

Allah menciptakan dengan perantaraan Putera, yang adalah suatu pribadi yang berdiri sendiri di dalam sifat ilahi. Sejak kekal, Putera diperanakkan oleh Bapa, sedang Roh Kudus keluar dari Puetra. Putera Allah adalah Logis, Idea segala idea, yang gambarNya ada pada setiap makhluk. Hubungan antara Allah Bapa, Putera dan Roh Kudus oleh Origenes digambarkan secara subordinasi, artinya: yang satu di bawah yang lain, yang satu lebih rendah daipada yang lain.

Segala roh juga diciptakan oleh Allah. Akan tetapi, para roh itu kemudian tidak setia terhadap Allah sehingga dibelenggu dalam tubuh. Demikianlah seluruh jagat raya yang tampak ini disebabkan oleh dosa. Segala yang bersifat badani adalah akibat dosa. Akibat ketidaksetiaan tidak semuanya sama, melainkan bertingkat. Ada roh yang memiliki tubuh halus, ada roh yang memiliki tubuh kasar, ada malaikat dan ada manusia. Jiwa manusia dapat juga naik tingkat menjadi malaikat.

Pada akhirnya semua roh akan dapat kembali kpeda Allah lagi, yaitu setelah banyak kelahiran. Origenes mengajarkan bahwa pada akhirnya semua makhluk, yang baik maupun yang jahat akan selamat. Origenes dipengaruhi oleh dualisme Plato mengenai jiwa dan tubuh, dan mengenai perpindahan jiwa dalam hidup yang lain.

Eusebius dari Caesarea

Sumber Gambar: Minz's Canvas
Eusebius lahir kira-kira di Caesarea sekitar tahun 260 M. Origenes pernah mengungsi ke Caesarea dan mendirikan sebuah sekolah dengan perpusatakaan yang besar. Beberapa puluh tahun kemudian, Eusebius yang masih mudamendapat pendidikan dari buku-uku yang ada di perpustakaan itu. Dalam tahun 325 M, sebagai uskup Caesarea, ia memainkan peranan penting dalam Konsili Nicea. Ia turut menandatangani Credo dan pernyataan menganai keallahan penuh Putera Allah, yang didefenisikan sebagai “sehakikat dengan Bapa.” 

Konstantinus yang telah memberikan perdamaian kepada Gereja, dikagumi Eusebius dengan tulus hati. Demikian pula Eusebius dihargai dan dihormati oleh Konstantinus. Konstantinus oleh Eusebius dihormati melalui karya-karyanya juga melalui khotbah yang diucapkannya pada ulang tahun ke-20 dan ke-30 penobatan Konstantinus dan juga ketika Konstantinus wafat pada tahun 337. 

Eusebius adalah seorang sarjana yang tak kenal lelah. Dalam banyak karyanya, ia mau merefleksikan dan melaporkan tiga abad Kristianitas, tiga abad dalam penaganiayaan. Secara luas dimanfaatkannya sember-sumber baik Kristiani maupun kafir, yang terpelihara terutama dalam perpustakaan Caesarea. Dengan demikian, meskipun secara objkektif karya-karayanya di bidang apologi, eksegese dan pengajaran penting juga, kemasyuran Eusebius tetap dikaitkan pertama-pertama dengan Historis Ecclesiasticas, Sejarah Gereja yang telah ditulisnya. Dialah orang pertama yang pernah menulis sejarah gereja dan sejarah yang ditulisnya ini tetap amat penting. Berkat sumber-sumber yang telah disediakan Eusebius, saat ini sangat mudah mengerti akan sejarah gereja.

Dengan sejarah ini, ia telah berhasil menyelamatkan sejumlah peristiwa, tokoh-tokoh penting dan karya literer dari Gereja awal. Maka karyanya merupakan suayu sumber utama untuk pengetahuan tentang abad-abad pertama Kristianitas. Pada bukunya yang pertama, Eusebius menyebut secara mendetail daftar pokok-pokok yang akan dia bahas dalam bukunya.

“Niatku adalah menulis suatu laporan tentang para pengganti Rasul-Rasul suci, juga tentang zaman yang telah berlalu sejak hari Penyelamat kita sampai hari ini. Aku juga mau menulis semua peristiwa besar yang menurut berita telah terjadi dalam sejarah Gereja; dan menyebut orang-orang yang telah memimpin Gereja dalam keuskupan-keuskupan yang telah terkemuka dan mereka yang ada dalam setiap angkatan telah mewartakan Sabda Ilahi, entah secara lisan maupun melalui tulisan-tulisan. Niatku ialah menyebut nama, jumlah dan waktu mereka yang terdorong oleh keinginan memperbarui, telah jatuh dalam kesesatan-kesesatan yang ekstrem, dan telah menjadi pewarta yang memasukkan suatu pengajaran salah dan seperti serigala ganas telah menghancurkan kawanan Kristus dengan tidak kenal ampun... dan aku hendak mencatat bagaimana dan kapan sabda ilahi telah diserang oleh orang-orang kafir, melukiskan watak orang-orang besar yang pada saat berbeda telah membelanya walaupun harus menghadapi banyak siksaan... juga kemartiran yang telah terjadi pada zaman kita serta belas kasihan dan kebaikan yang telah ditunjukkan kepada kita semua oleh Penyelamat kita.”

Dengan demikian, Eusebius merangkum beberapa hal: penggantian para Rasul sebagai tulang punggung Gereja, penyebaran Injil, kesesatan dan penaganiayaan dari pihak orang-orang kafir, serta kesaksian-kesaksian penting yang merupakan terang yang bersinar dalam sejarah ini. Eusebius seakan-akan mebuka secara resmi penulisan sejarah Gereja dan meneruskan catatannya sampai tahun 324, tahun di mana Konstantinus diakui sebagai kaisar Roma satu-satunya setelah mengalahkan Licinus. Itulah setahun sebelum Konsili Nicea yang menyajikan “summa”, keseluruhan, segala sesuatu yang telah dipelajari oleh Gereja selama 300 tahun sebelumnya di bidang doktrin, moral, dan juga hukum.

Gregorius dari Nyssa 

Sumber Gambar: Lent Madness
Gregorius dari Nyssa adalah bapa gereja yang mempunyai jiwa filsafat yang paling menonjol. Jalan pikirannya menunjukkan kaitan dengan gagasan Origenes, akan tetapi ia mencoba menjaga supaya kebenaran Kristinai tidak dikorbankan demi pemikiran Platonis seperti yang dilakukan oleh Origenes. Walalupun demikian, ada juga pengaruh Neoplatonisme.

Gregorius menjabarkan perbedaan antara iman dan pengetahuan. Menurutnya sumber dan isi iman berbeda dengan sumber dan isi pengetahuan. Kepastian iman tidak dapat dijelaskan dengan akal karena hakekatnya lebih tinggi dibanding dengan kepastian pengetahuan dengan akal. Dengan iman orang menerima kebenaran-kebenaran yang diwahyukan Allah. Kebenaran-kebenaran ini pada dirinya tidak dapat dimengerti. Pengetahuan dengan akal berkaitan dengan kebenaran-kebenaran yang dapat dimengerti karena pengetahuan ini mengenai hal-hal yang alamiah. Walaupun demikian, pengetahuan dengan akal dapat dipakai untuk membela iman, untuk menjabarkan iman dan untuk menghubungkan isis iman yang satu dengan yang lain. Pengetahuan ini dapat dipakai untuk memperindah rahasia kebenaran-kebenaran ilahi dengan kekayaan akal, dapat dipakai untuk memberi kepastian terhadap adanya Allah yang menjadi dasar iman, dapat dipakai untuk menyusun isi iman dalam suatu sistem.

Jiwa manusia diciptakan bersamaan dengan penciptaan tubuh. Jiwa memberi hidup kepada tubuh. Jiwa memberi hidup kepada tubuh dan menjadikan tubuh dapat menjadi alat untuk mengamati. Keadaannya tidak berjasad dan bersifat akali, serta memiliki kebebasan. Selanjutnya, jiwa tidak dapat mari karena mendapat bagian dari sifat kekal Allah. Setelah manusia mati, jiwanya tetap dikaitkan dengan unsur-unsur tubuhnya, sehingga setelah hari kebangkitan tubuh dan jiwa akan bersama-sama mendapatkan kebahagiaan kekal. Gregorius dari Nyssa tidak mengajarkan pra-eksistensi jiwa dan juga tidak mengajarkan perpindahan jiwa ke tubuh yang lain.

Pada dirinya, tubuh bukanlah hal yang jahat. Kejahatan bersumber pada kebebasan kehendak manusia. Allah telah memberikan kepada manusia kecakapan untuk berbuat menurut kehendaknya sendiri dan kemudian Allah menetapkan nasib manusia sesuai dengan pemakaian bakat itu. Kejahatan itu ada bila manusia tidak memilih apa yang seharusnya. Kekuasan kejahatan bukan tanpa batas. Akan ada waktunya kejahatan berakhir yaitu kelak jika Allah mempersatukan seluruh penciptaan ini. Kejahatan tidak memiliki kenyataan dalam dirinya sendiri sebab di mana tiada kebaikan di situlah ada kejahatan.

Gregorius dari Nyssa sama dengan Gregorius Nazianze yang mengajarkan bahwa akal dapat mengenal Allah dengan mempelajari hasil penciptaan. Akan tetapi, pengetahuan ini  tidak menyelamatkan. Orang diselamatkan karena kasih karunia semata-mata. Untuk itu diperlukan iman. Puncak pengetahuan tentang Allah ialah “memandang Allah sendiri”.

Ambrosius dari Milan

Sumber Gambar: Katakombe.Net
Ambrosius lahir di kota Trier, di Jerman bagian barat, yang pada zaman itu termasuk kerajaan Roma, sekitar  tahun 339 sebagai yang bungsu dari tiga bersaudara. Ayahnya, Gallia Narbonesis seorang gubernur dan ibunya, Marcellina seorang wanita yang saleh dan berintelek tinggi. Setelah ayahnya meninggal ibunya kembali ke Roma. Ambrosius yang pada waktu itu berusia dua belas tahun, dan kakaknya, Satirus mulai dengan studi persiapan membangun karir sebagai ahli hukum, seperti ayah mereka yang terkenal.  Ambrosius juga akan direncanakan mengikuti jejak karier ayahnya, dan oleh karena itu ia disekolahkan di Roma. Di sana ia belajar sastra, hukum dan retorika. Preator Anicus Probus awalnya memberikan Ambrosius tempat di dewan kota dan sekitar tahun 372 menjadikannya kepala dewan kota Liguria dan Emilia, dengan markas di Milano. Saat itu Milano adalah ibu kota kedua Italia selain Roma.

Ketika Auxentius, Uskup kota Milan meninggal dunia, terjadilah pertikaian antara kelompok Kristen dan kelompok penganut ajaran sesat Arianisme.   Mereka berselisih tentang siapa yang akan menjadi uskup yang sekaligus menjadi pemimpin dan pengawas kota dan keuskupan Milano. Para Arian berusaha melibatkan Kaisar Valentianianus untuk menentukan bagi mereka calon uskup yang tepat. Kaisar menolak permohonan itu dan meminta supaya pemilihan itu dilangsungkan sesuai dengan kebiasaan yang sudah lazim yaitu pemilihan dilakukan oleh para imam bersama seluruh umat. Ketika mereka berkumpul untuk memilih uskup baru, Ambrosius dalam kedudukannya sebagai gubernur datang ke basilika itu untuk meredakan perselisihan antara mereka. Ia memberikan pidato pembukaan yang berisi uraian tentang tata tertib yang harus diikuti. Tiba-tiba terdengar teriakan seorang anak kecil: “Uskup Ambrosius, Uskup Ambrosius!”. Tiba-tiba anak kecil itu serta-merta meredakan ketegangan mereka lalu mereka secara aklamasi memilih Ambrosius menjadi Uskup Milano.

Ambrosius adalah seorang calon kuat dalam keadaan ini, karena ia dikenal bersimpati kepada kaum Trinitarian, dan juga diterima oleh kaum Arianis karena posisinya sebagai seorang politikus dianggal secara teologis netral. Ambrosius terkejut dan memprotes. Dia tidak berkeinginan untuk menjadi uskup, karena ia belum dibaptis, walaupun ia sudah katekumen. Sebuah laporan yang dikatakan bahwa untuk menyakinkan orang supaya tidak memilihnya, ia berpura-pura berkelakuan tidak layak sehingga, ia dikenai tahanan rumah. Kaisar berkonsultasi dan itu dengan sepenuh hati kaisar setuju dengan pemilihan Ambrosius sebagai uskup Milano. Delapan hari kemudian, pada umur tiga puluh empat tahun, Ambrosius dibaptis, serta menerima semua sakramen dan akhirnya ditahbiskan untuk menjadi Uskup di Milano.

Ambrosius mendapat pendidikan kebudayaan yang baik, tetapi di lain pihak ia tidak mempunyai pengetahuan apa-apa tentang Kitab Suci sebab sebelum menjadi Uskup, ia masih seorang katekumen. Namun, hal itu tidak menjadi penghalang bagi Ambrosius. Ia penuh semangat mulai mempelajari Kitab Suci. Dari karya-karya Origenes, ia belajar Kitab Suci untuk meneganl dan mengomentarinya. Dengan demikian, Ambrosius menagalihkan renungan tentang Kitab Suci yang telah dimulai oleh Origenes ke lingkungan yang berbahsa Latin dan memperkenalkan di Barat praktek lectio divina. Metode lectio divina menjadi penuntun semua khotbah dan tulisan Ambrosius yang dengan jelas mengalir dari mendengaran Sabda Allah sambil berdoa. 

Pewartaan Ambrosius mulai dengan membaca Kitab Suci (Para Bapa bangsa atau Kitab Sejarah dan Kitab Amsal, Kitab Kebijaksanaan) untuk hidup sesuai dengan wahyu ilahi. Lesaksian pribadi pewarta dan tingkat keteladan komunitas Kristiani menentukan hasil pewartaan. Diandang dari segi ini, suatu bagian dari Confessines Pengakuan) Agustinus sangatlah relevan. Agustinus datang ke Milano sebagai guru etorika. Ia orang skeptik, bukan orang Kristiani. 

Gregorius Nazianze

Sumber Gambar: www.imconstantias.org.cy
Gregorius Nazianze hidup sekitar tahun 390 M. Ia menyebarkan ajaran bahwa akal manusia pada dirinya sendiri dapat mengenal Allah. Tema ini pada abad ke-2 memang telah muncul. Dengan mempelajari hasil penciptaan Allah manusia dengan aklnya dapat mengetahui bahwa Allah ada, walaupun hakekat atau zatNya tetap tersembunyi bagi manusia. Mengenai hakekat atau zat Allah, manusia hanya dapat mengungkapkannya secara negative, misalnya, Allah tidal bertubuh, tidak dialhirkan, tanpa awal, tidak berubah, tidak dapat binasa, dan lain-lain.

___________________________________________________

Referensi:

Copleston, Frederick. A History of Philosophy (vol 2). London: Burns, Oates & Washbourne, 1950.

Hadiwijono, Harun. Sari Sejarah Filsafat Barat 1. Yogyakarta: Kanisius, 1980.

Mclynn, Neil B. Ambrose of Milan. London, [tanpa penerbit], 1994.

Newland, Mary Reed. Riwayat Hidup Para Kudus. (judul asli: The Saint Book), diterjemahkan oleh J. Waskito  SJ. Medan: Bina Media, 2002.

Paus Benediktus XVI. Bapa-Bapa Gereja (judul asli: The Fathers), diterjemahkan oleh J. Waskito SJ. Malang: Dioma, 2010.

Mybllshtprspctv®

0 komentar:

Post a Comment