Home » , , » Selayang Pandang Filsafat Nusantara: Suatu Pengantar Filsafat Nusantara Pra-Modern

Selayang Pandang Filsafat Nusantara: Suatu Pengantar Filsafat Nusantara Pra-Modern


Oleh: Gusti Aditya

Apakah itu Filsafat Nusantara?

Terdapat dua definisi filsafat nusantara. Pertama adalah sekumpulan filsafat lokal yang terletak pada wilayah Indonesia pada masa lampau. Kedua adalah sintesis dari sekumpulan filsafat lokal tersebut. Dalam perkembangannya, filsafat nusantara mencoba untuk mengumpulkan terlebih dahulu filsafat lokal dan tujuan akhirnya adalah sintesis dari filsafat lokal yang telah dikumpulkan secara komprehensif.

Pada awal perumusan filsafat nusantara, terdapat perdebatan dalam penamaannya. Pihak pertama menamai filsafat Indonesia, dengan argumentasi bahwa filsafat lokal yang dikaji terdapat dalam wilayah Indonesia pada masa kini. Kemudian pihak kedua mengkritik hal tersebut karena filsafat lokal sudah ada sebelum Indonesia eksis, sehingga kata Indonesia tidaklah cocok.

Akhirnya pihak kedua memberi alternatif pilihan yaitu filsafat nusantara dengan argumentasi filsafat lokal eksis sebelum Indonesia eksis yaitu masih bernama nusantara. Dengan perdebatan yang panjang, muncullah suatu sintesis yaitu memakai nama filsafat nusantara namun dengan batasan wilayah Indonesia sekarang, sehingga maksud nusantara disini hanya sebagai penanda mencakup filsafat lokal yang eksis sebelum Indonesia eksis.

Ciri Khas Filsafat Nusantara

Pertama, berkaitan erat dengan hal adi kodrati,  dzat yang ghaib atau supernatural. Contohnya adalah sebagai permisalan dalam filsafat Batak ada konsep Mulajadi na Bolon atau konsep asal mula kejadian yang berasal dari Suku Batak. Ada pula di Minangkabau terdapat pepatah yang mengandung makna Filsafat Adat basandi syara', syara' basandi kitabullah. Lain pula di Jawa terdapat pemikiran tentang Allah, yaitu Hyang Widi, Bathara Gung, Hyang Wisesa, Hyang Manon, Hyang Suksma, dan sebagainya.

Kedua, berkaitan dengan alam semesta atau lingkaran alam. Misal pemikiran di Jawa yang mengacu pada Hamemayu Hayuning Bawono artinya memperindah lingkungan dunia. Di Bugis misalnya Panngaderreng yang berisi pemikiran-pemikiran filosofis bagaimana manusia berhubungan dengan pencipta, sesama dan alam semesta yang terkandung dalam aturan adat dan norma-norma.

Ketiga adalah memiliki orientasi kepada tujuan akhir. Artinya kefilsafatan tidak hanya memiliki tujuan yang praktis duniawi semata, tetapi lebih memiliki makna pada tujuan yang lebih kekal. Bisa dilihat di sini seperti istilah Jawa; urip iku mung mampir ngombe yang berarti hidup ini hanya sekedar singgah memuaskan dahaga, bukan memuaskan hal-hal rohani dan terdapat yang lebih indah di akhir nanti.

Keempat, terikat kepada kehidupan bersama. Di Batak misalnya ada Dahlian na Tolu yang menggambarkan makna hubungan harmonis antara golongan laki-laki, kerabat laki-laki semarga, golongan perempuan. Dalam Serat Wedhatama untuk menjaga kebersamaan dan harmoni sosial ada konsep wirya, arta, tri winasis. Di Minangkabau terdapat konsep nan tuo dimuliakan, nan mudo dikasihi, sama gadang hormat menghormati.

Sumber dan Bahan Filsafat Nusantara

Dapat diibaratkan mempelajari filsafat nusantara sebagai usaha menggali atau menambang pasir di pesisir pantai Indonesia. Namun, atas banyak sumbernya tersebut, dapat diklasifikasikan menjadi dua hal pokok, yakni; filsafat secara implisit melekat di dalam kebudayaan dan secara eksplisit terdapat dalam pemikiran tokoh.

Pertama, secara implisit terdapat dalam 7 unsur kebudayaan universal yang mengandung pemikiran filsafat nusantara baik metafisika, epistemologi, aksiologi maupun persoalan filsafat lainnya. Ketujuh unsur tersebut adalah sistem religi, sistem organisasi, sistem pengetahuan, bahasa, kesenian, pencaharian dan teknologi (Koentjaraningrat, 1974: 12). Kedua adalah pemikiran eksplisit terdapat dalam pemikiran para tokoh.

Corak Filsafat Nusantara

Menurut Nasroen (1971: 38), ada 3 macam corak pemikiran filsafat. Pertama, objektif mutlak yang mendasarkan diri kepada ketentuan agama atau ketentuan hukum-hukum mutlak. Kedua, objektif terselubung, bermula kepada filsafat yang mendasarkan diri kepada ketentuan alam kemudian dilembagakan dalam adat-istiadat. Bersifat objektif karena bersifat dalam ketentuan Tuhan dan terselubung karena pemahamannya memerlukan interpretasi dari otak manusia. Ketiga adalah subjektif relatif karena bagaimana pun juga manusia mengalami keterbatasan dalam berpikir.

Wujud Filsafat Nusantara
Menurut Koentjaraningrat, kebudayaan terdiri dari 3 wujud. 3 wujud inilah yang merupakan wujud filsafat nusantara. Yakni;
1. Wujud kompleks dari ide-ide, gagasa-gagasan, nilai-nilai, norma-norma dan peraturan-peraturan.
2. Wujud kompleks aktivitas kelakuan berpola dari manusia dalam masyarakat
3. Wujud benda-benda fisik hasil karya manusia.

Pertama wujud ideal normatif atau juga disebut adat tata kelakuan. Berfungsi untuk mengatur, pengendali dan pemberi arah bagi sikap dan kelakuan manusia dalam masyarakat. Sesungguhnya wujud ini merupakan suatu kompleks gagasan, konsep, dan pikiran manusia. Misalkan pamali-pamali di Jawa dan pepatah-pepatah di Minangkabau.

Kedua wujud sikap kelakuan atau disebut kelakuan berpola dari manusia itu sendiri. Sistem sosial terdiri dari aktivitas-aktivitas manusia yang berinteraksi, berhubungan sehingga terlihat pola sikap dan tingkah laku hubungan manusia yang satu dengan yang lain. Wujud ini ditemui dalam aktivitas, upacara, ritus di berbagai budaya.

Ketiga adalah wujud fisik. Wujud ini merupakan hasil aktivitas, sikap, kelakuan dan perbuatan manusia. Sifat ini wujudnya paling konkret karena dapat dilihat, diraba dan didokumentasikan. Sebagai contoh bisa berupa bangunan; adat, candi dan kraton, kemudian ada tata kota, peralatan rumah tangga, pakaian dan masih banyak lagi.

Metode Penelitian Filsafat Nusantara

Terdapat tiga metode maupun pendekatan dalam penelitian filsafat nusantara yaitu pendekatan sistematika filsafat, pendekatan unsur budaya daerah, dan pendekatan campuran.

Pendekatan sistematika filsafat adalah pendekatan dengan mempersempit objek formal penelitian seperti "Etika Indonesia" atau "Etika Minangkabau". Kelemahan dari pendekatan ini adalah objek material yang terlalu luas sehingga kita harus meneliti satu persatu setiap unsur yang terdapat di dalamnya.

Pendekatan unsur budaya daerah adalah pendekatan dengan mempersempit objek material yang akan dikaji seperti "Filsafat Sistem Religi Suku Madura" atau lebih spesifik lagi seperti "Filsafat Tari Arjuna Wiwaha dari Jogja". Kelemahan dari pendekatan ini adalah objek formal yang terlalu luas sehingga kita harus menggunakan semua kacamata filsafat dalam menganalisis objek material.

Pendekatan campuran adalah sintesis dari pendekatan sistematika filsafat dan pendekatan unsur budaya daerah. Pendekatan ini adalah pendekatan dengan cara mempersempit objek formal dan objek material dalam penelitian seperti "Etika Tari Arjuna Wiwaha". Kelemahan dari pendekatan ini adalah penelitian yang terlalu sempit sehingga tidak menemukan secara komprehensif tentang objek material yang dikaji.

___________________________________________________

Referensi:

Koentjaraningrat. 1974. Kebudayaan, Mentalitet dan Pembangunan. Jakarta: PT. Gramedia.

Modul Filsafat Nusantara Modern Kontemporer oleh Drs. Budisutrisna, M. Hum.

Nasroen, M. 1971. Dasar Falsafah Adat Minangkabau. Jakarta: Bulan Bintang

http://neutronmaxi.blogspot.co.id/2016/04/filsafat-nusantara.html?m=1

Mybllshtprspctv®

0 komentar:

Post a Comment