Home » , , , » Severinus Boethius: Filsuf Pencari Kebahagiaan

Severinus Boethius: Filsuf Pencari Kebahagiaan

Sumber Gambar: Great Thoughts Treasury
Oleh: Galih Rio Pratama

Boethius yang dikenal sebagai filsuf pencari penghiburan karena dengan semangat ia telah berfilsafat tentang makna kehidupan manusia memiliki nama lengkap Anicius Manlius Severinus Boethius (480-535) . Ia lahir di Italia pada tahun 480, sekota dengan st. Benediktus. Ia lahir dari keluarga bangsawan.

Ayahnya bernama Flavius Malius Boethius yang adalah seorang pejabat tinggi dalam kekaisaran Roma. Dua orang dari keturunannya pernah menjadi Paus. Boethius menikah dengan anak perempuan Symmachus yang bernama Rusticiana dan kemudian menikah lagi dengan Elphis anak dari Paus Yohanes II.

Pada tahun 523, ketika sudah memegang jabatan tinggi dalam kekaisaran Roma, ia bersama senator Albius dituduh berkonspirasi dengan maharaja Byzantine yang bernama Justin I. Kemudian ia dipenjara di Pavia. Pada tahun 524, atas arahan Raja Theodorik, ia dihukum mati. Dan juga pada tahun 525, Paus John II dan Symmachus, kedua mertuanya itu ikut dihukum mati. Boethius kemudian digelar kudus dan diperingati setiap tanggal 23 Oktober.

Karya-karyanya

Kata orang, “kalau kamu ingin pintar, sering-seringlah berdialog dengan orang mati”. Yang dimaksud “berdialog dengan orang mati” di sini bukanlah satu bentuk sinkretis atau upaya menyekutukan Tuhan. Mengobservasi, menggali, mengkritisi, menginterpretasi dan jika memungkinkan juga turut memberikan jalan tengah atau solusi inilah yang harus kita lakukan tatkala berdiskusi dengan “orang mati”.

Hal seperti ini juga yang telah dilakukan Boethius, seorang yang mengabdikan dirinya pada dunia filsafat. Filsuf yang berasal dari keluarga bangsawan Roma ini, sejak kecil sudah terbiasa mandiri dalam segala hal.

Sepeninggal ayahnya, Boethius kemudian diasuh dan dibesarkan oleh Symmachus. Didikan yang sangat baik dari keluarga ini, membuat Boethius menjadi semakin terbentuk baik dari segi mental maupun pemahamannya. Bahkan dia juga mahir sekali dalam bahasa Yunani, satu hal yang sangat jarang di dunia Barat masa itu.

Boethius melihat dirinya sebagai “guru dunia Barat”. Boethius menggali dan menginterpretasi karya Aristoteles maupun Plato, lalu memberikan sedikit konklusi, penjelasan, atau mencoba mengharmonisasi karya dua tokoh besar filsafat itu dalam bahasa Latin. Tujuannya tak lain dan tak bukan adalah demi “mendaratkan” pikiran Plato dan Aristoteles tadi kepada konteks sosial bangsa Latin yang ada di dunia Barat.

Selain itu, mereka juga memiliki tujuan dan keinginan lainnya yaitu, untuk menunjukkan pada dunia bahwa filsafat di antara Aristoteles dan Plato itu harmonis dan berdampingan, tak seperti tuduhan banyak orang itu. Ide keharmonisan antara kedua filsafat besar itu didapatnya dari neoplatonisme. Karya Boethius nyatanya tak hanya berada dalam area filsafat yang begitu luas.

Dalam karyanya yang ketiga sampai kelima ini Boethius justru mengkhususkan diri menyoroti “teologi”. Dalam buku yang ketiga ini Boethius kembali berdiskusi dengan “sosok“ perempuan yang dinamakan filsafat, membicarakan kebahagiaan sejati. Mereka (Boethius dan filsafat) sadar bahwa hanya Allah yang dapat memberikan kebahagiaan yang sejati: selanjutnya dalam bukunya yang keempat, diskusi di antara mereka semakin seru saja. Di buku ini secara khusus dibahas soal takdir.

Filsafat dihadapkan pada keberatan yang diutarakan oleh Boethius. “Semua nasib, apakah dia baik atau buruk dimaksudkan untuk memberi ganjaran atau menertibkan orang baik dan menghukum atau mengoreksi orang yang jahat. Oleh sebab itu kita setuju bahwa nasib itu adil dan berguna. Jadi semua nasib itu baik (Hiburan 4: 7)”. Menurut filsafat bagaimana mungkin kejahatan terjadi terus-menerus tanpa ada hukuman di dalam dunia yang dikuasai oleh Allah yang baik, mahatahu dan mahakuasa.

Seolah hendak melengkapi bukunya yang keempat, dalam bukunya yang ke-5, Boethius mengarahkan diri pada penjelasan dan dialog tentang apa itu kehendak bebas. Dalam buku ini filsafat mencoba menyelaraskan pengetahuan awal Allah dengan kehendak bebas manusia. Pengetahuan Allah “bukanlah semacam pengetahuan awal mengenai masa depan, tetapi pengetahuan awal mengenai masa kini yang tak berkesudahan”.

Allah melihat segala sesuatu dalam masa kini yang kekal mengenai segala tindakanku tidak bertolak belakang dengan kehendak bebasku. Meski ketiga bukunya ini membahas siapa Allah dan bagaimana hubungannya dengan umat yang diciptakanNya, namun buru-buru menyimpulkan karyanya ini dalam ranah teologi adalah tidak bijak.

Sebab karya Boethius memang tak ditujukan sebagai karya teologis meskipun ditinjau dari “objek” secara fisik memang sama, tapi sudut pandangnyalah yang berbeda. Pengaruh Boethius terhadap abad pertengahan sangat mendalam. Doa yang menjadi penghubung anatar filsafat klasik dengan pemikiran pada abad-abad mendatang. Hal ini terbukti dari abadinya karya Boethius yang masih dapat ditemui hingga abad ke-13.

Sosok Berpengaruh bagi Pemikirannya


Aristoteles adalah filosof pertama yang merumuskan dengan jelas bahwa kebahagiaan adalah apa yang dicari semua orang. Karena itu etikanya disebut “eudemonisme”, dari kata Yunani eudaimonia yang berarti bahagia. manusia harus menata kehidupannya sedemikian rupa hingga ia menjadi semakin bahagia.

Dengan demikian Aristoteles memberikan tolak ukur yang jelas, yang dapat mendasari semua petunjuk dan aturan etika. Pandangan ini dinilai masuk akal karena jelaslah bahwa kebahagiaan merupakan tujuan terakhir manusia. Kita semua meminatinya, dan apabila tidak menghasilkan kebahagiaan, belum memuaskan.

Jadi, menurut Aristoteles aturan-aturan moralitas bukan sesuatu yang tidak dapat dimengerti, sesuatu yang diharuskan dari luar, melainkan sesuatu yang sangat masuk akal, yang perlu kita perhatikan agar dapat mencapai kebahagiaan. Kita hendaknya hidup secara bermoral karena itulah jalan ke kebahagiaan karena tujuan moralitas adalah menghantar manusia pada kebahagiaan. Kebahagiaan yang dicapai dengan jalan yang tidak bermoral sebenarnya telah mendehumanisasikan manusia.

Kebahagiaan dan Tujuan Manusia

Etika Nikomacheia mulai dengan kalimat termasyur: “Setiap keterampilan dan ajaran, begitu pula tindakan dan keputusan tampaknya mengejar salah satu nilai.” Apabila manusia melakukan sesuatu, ia selalu melakukannya karena ada tujuannya, sebuah nilai. Apabila manusia mau mengatur kehidupannya secara nalar, maka apakah tujuan manusia?

Menurut Aristoteles, setiap tindakan yang mengarah ke pencapaian tujuan itu masuk akal, dan setiap tindakan yang tidak menunjang tercapainya tujuan manusia tidak masuk akal. Ia mengungkapkan bahwa ada tujuan akhir dari manusia di mana tidak ada lagi yang masih dituju ketika tujuan itu telah dicapai. Aristoles menjawab tujuan akhir dari manusia adalah kebahagiaan.

Kalau manusia bahagia tidak ada yang masih diinginkan selebihnya. Dan sebaliknya, selama ia belum bahagia, apa pun yang diperolehnya tidak akan membuatnya puas. Jadi, kebahagiaan merupakan tujuan akhir manusia di mana pada saat itu mencapai kesempurnaannya sebagai manusia.

Konsep Kebahagiaan Sejati

Boethius sangat bersemangat untuk berfilsafat tentang makna kehidupan manusia, terutama tentang kebahagiaan dan kemungkinan ultimo manusia. Ketika dipenjara di tempat pembuangan, ia hidup melarat, jauh dari keluarga serta tanah airnya, dan mulai berpikir tentang nasibnya, tentang liku-liku kehidupan yang sukar diramalkan, dan petanyaan entah suatu Penyelenggaraan Ilahi atau suatu takdir yang buta serta tingkah mengatur segala-galanya. Permenungan filosofis ini dituliskannya dalam bukunya yang termasyur dan ditulis dalam bahasa Latin berjudul De consolation Philosophiae dengan konsep utama Wheel of  Fortune atau Roda Untung Nasib.

Philosophia, sahabatnya sejak dulu, datang menjenguk Boethius dalam penderitaanya di tempat pengasingan. Ia mencoba menghibur dia dengan mengingatkan kembali cintanya dahulu akan kebijaksanaan. Pertama-tama ia harus menemukan kembali dirinya sendiri, lalu ia harus mendapat lagi suatu pandangan sehat tentang pengaturan dunia.

Sebab, Boethius bahkan mulai meragukan Penyelenggaraan Ilahi dan keyakinan dulu bahwa orang jahat tidak mungkin berbahagia. Janganlah ia mengandalkan “Fortuna” karena dewi keuntungan ini berubah-ubah dan tidak bisa diperhitungkan. Ia menulis, dewi Fortuna itu sendiri menegaskan: “Saya memutarkan roda yang cepat dan kesukaan saya yang paling besar ialah menjungkirbalikkan yang di bawah ke atas dan yang di atas kebawah”.

Anugerah-anugerah Fortuna terletak di pinggiran saja, seperti kekayaan, kedudukan tinggi, kekuasaan, dan kehormatan. Terlalu sembrono bila orang mencari kebahagiaan dan makna kehidupan dalam hal ini. Sri Paduka Philosophia, yang berhubungan keluarga dengan Plato, Stoa, dan Plotinos mengantar dia ke batinnya sendiri. Kebahagiaan yang benar tidak pernah terdiri dari barang milik, tetapi terletak di dalam batin. Janganlah kita mencari kebahagiaan di luar, melainkan di dalam diri kita sendiri. Hal inilah yang ditemukan Boethius dalam dialognya dengan Philosophia.

Kebahagiaan yang sejati tidak boleh cepat berlalu dan tidak sempurna. Kemudian dari hasil permenungannya bersama filsafat ia memberi semacam definisi tentang kebahagiaan sejatiyang telah menjadi klasik: “Keadaan di mana segala sesuatu yang terintegrasi dengan sempurna” (Status bonorum omnium congregatione perfecta).

Dapat dikatakan bahwa kebahagiaan sejati tidak mungkin disertai ketidakpuasan dan ketakutan akan kehilangan. Kebahagiaan adalah kepuasan sempurna dan tetap dari keinginan-keinginan hati kita yang paling mendalam dan paling jujur. Di mana dapat ditemukan kebahagiaan sedemikian? Di dalam uang dan harta milik? Di dalam makanan dan minuman? Di dalam kenikmatan indra? Ataukah di dalam kekuasaan serta gengsi? Tidak. Karena semuanya itu terlalu rapuh dan fana. Kebahagiaan sejati harus membuat kita menjadi “sungguh-sungguh puas, berkuasa, terhormat, terpuji, dan bergembira ria”.

Kehendak Bebas dan Determinisme


Boethius selanjutnya membahas masalah perenial tentang kehendak bebas dan determinisme. Masalah itu muncul baginya karena paradoks antara manusia yang bebas untuk memilih apakah akan menjadi baik atau jahat, dan mahatahu Tuhan tentang segala sesuatu yang akan terjadi.

Jika Tuhan tahu bahwa Anda ingin melakukan sesuatu sebelum Anda melakukannya, Anda hampir tidak dapat melakukan yang sebaliknya. Tetapi jika Anda tidak dapat melakukan yang sebaliknya maka berarti Anda tidak punya kehendak bebas. Solusi Boethius adalah kompromi yang kurang memuaskan yang memungkinkan perantaraan manusia bebas berkenaan dengan pilihan moral.

Namun demikian, tidak dapat disangkal bahwa karya Boethius, yang ditulis di bawah ancaman eksekusi, merupakan mahakarya ketulusan filosofis yang setara dengan The Last Days of Socrates.

Mendalami Kebahagiaan Sejati, Meraih Kebaikan Sempurna

Pengenalan yang benar akan makna kebahagiaan telah disebutkan sebelumnya bukan berasaldari kebahagiaan yang material. Kebahagiaan sejati, secara lebih lanjut dalam De Consolatione Philosophiae bisa dialami dengan mencari sesuatu yang sifatnya lebih tinggi, sempurna, tetap, dan sepenuh-penuhnya. Kebahagiaan sejati haruslah nilai (bonum) yang tak berhingga karena dialahsumber segala yang baik. Dengan kata lain, kebahagiaan ini tercakup dalam kebaikan sempurna dantertinggi. Pada tahap ini Yang Mulia Philosophia menunjukkan Boethius alasan kuatnya:

“Karena memperoleh kebahagiaan membuat manusia bahagia dan karena kebahagiaan adalahKetuhanan itu sendiri, maka kiranya sudah jelas bahwa mengambil bagian dalam Ketuhananharus lah menjadikan manusia bahagia…dengan penalaran yang sama, mereka yang mengambil bagian dalam Ketuhanan adalah ilahi."

Meraih kebaikan sempurna menjadi jalan utama untuk mengalami kebahagiaan sejati.Upaya ini mengantar manusia akan makna terdalam yang membahagiakan. Istilah teknis menyebut proses menapaki jalan tersebut adalah pengilahian/ theosis. Dalam terang dari Yang Mulia philosophia , Boethius menyadari bahwa keyakinan akan fortuna secara filosofis tidak berguna. Fortuna hanyalah suatu keharusan tanpa harapan, akar penderitaan yang menjauhkan padakebahagiaan sejati dalam kebaikan sempurna. Jalan partisipasi pada Keilahian sebagai upayamenuju kebaikan sempurna berarti memenuhi keutamaan hidup sebagaimana hakikatnya baik. Inilah konsekuensi logis bagi manusia berkeutamaan bahwa ia mencapai kebaikan absolut dalam Tuhan dan hidup bahagia yang sejati, terlepas dari keinginan/kuasa hawa nafsu.

Inti Kebahagiaan Sejati: Berada Dalam Kebaikan Sempurna yang Adalah Tuhan

Kebahagiaan sejati ternyata bersumber pada kebaikan absolut (aummum bonum). Inilah hakikat dan cara pengenalan yang benar bahwa kebaikan sempurna berada dalam persatuan denganTuhan. Dalam De Consolatione Philosophiae, Tuhan didefinisikan sebagai Yang Baik di manasemua manusia mengakui bahwa dalam diri-Nya terdapat kebaikan sempurna. Tuhan itu abadi (eternity), artinya “Ia memiliki kehidupan tak berhingga dengan cara menyeluruh, sempurna dan serentak" (interminabilis vitae tota simul et perfecta possesio).

Lantas, apa maksudnya berada dalam persatuan dengan Tuhan (communion with God)? Menurut Boethius, persatuan dengan Tuhan menekankan pada upaya manusia untuk meraihkeutamaan yang terinternalisasi. Implementasinya dalam hidup berarti mengenyampingkan hal-halduniawi seperti uang dan kekuasaan. Akar kejahatan tersebut memiliki tujuan, untuk membantumanusia agar berubah menuju kebaikan.

Sedangkan menderita kejahatan dipandang sebagai berbudiluhur. Menjadi bahagia dalam persatuan dengan Tuhan merupakan visi luhur di mana setiap manusia diundang pada cara hidup secara rasional, manusiawi, berkeutamaan dan saleh. Mengapa? Karena dengan begitu seseorang berpartisipasi pada Yang Baik, yaitu Tuhan.

___________________________________________________


Referensi:



Battista. 1991. A History of Mediaeval Philosophy. Roma: Urbaniana University Press



De Consolatione Philosophiae (The Consolation of Philosophy). Translated fromLatin by W.F. Cooper. London: The Classics Temple, 2009.COPLESTON,

Frederick. 1962. A History of Philosophy: Volume 2. Mediaeval Philosophy part I. Maryland: The Newman Press. .

Hadiwijono, Harun, Sari Sejarah Filsafat Barat 2, (Yogyakarta: Kanisius, 1980).

Van der Weij, P.A., Filsuf-Filsuf Besar Tentang Manusia, (Yogyakarta: Kanisiu, 2000).

Mybllshtprspctv®

0 komentar:

Post a Comment

close
Banner iklan disini